Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Taksi yang membawa Evan perlahan menghilang di balik gerbang mansion yang megah.
Tepat saat Amira hendak berbalik untuk masuk ke dalam rumah demi menghindari kecanggungan, suara deru mobil lain terdengar mendekat.
Sebuah sedan hitam metalik mewah berhenti tepat di lobi.Pintu kemudi terbuka, dan sesosok pria berjas rapi melangkah keluar. Pria itu adalah Kevin. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah tablet dan beberapa map dokumen penting.
"Selamat pagi, Pak Zian. Selamat pagi, Mbak Amira," sapa Kevin sambil mengangguk hormat begitu tiba di hadapan mereka.
Zian mengangguk samar, wajahnya langsung kembali datar dan dingin—ekspresi profesional yang selalu ia tunjukkan pada dunia luar.
"Ada apa Kevin?"
Kevin melirik Amira sekilas sebelum kembali menatap bosnya, memberikan kode bahwa informasi yang ia bawa sangat sensitif. Namun, Zian justru bergeser setengah langkah, berdiri tepat di samping Amira seolah menegaskan bahwa istrinya berhak tahu segalanya.
"Laporkan saja di sini. Amira harus tahu," perintah Zian tegas.Kevin berdeham pelan, lalu membuka map dokumennya.
"Baik, Pak. Sesuai perintah Pak Zian semalam, saya sudah memblokir semua akses publikasi Armeta. Ayahnya panik karena sejak subuh tadi, tiga investor utama mereka menarik saham secara mendadak akibat tekanan finansial yang kita lakukan. Tapi... ada satu hal yang harus Pak Zian waspadai."
Kevin menjeda kalimatnya sejenak, lalu menunjukkan layar tabletnya yang berisi rekaman CCTV area parkir kantor pusat.
"Satu jam yang lalu, Armeta terlihat mendatangi kantor Pak Zian di Sudirman. Dia mengamuk karena tidak diizinkan masuk oleh tim keamanan. Dia bersikeras ingin bertemu Pak Zian."
"Masih pagi seperti ini, ada saja yang membuat kepala pusing," gumam Zian pelan sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Pak Zian," Kevin kembali membuka suara dengan nada yang jauh lebih berhati."Ada satu hal lagi. Pak Rian... saat ini sedang menuju kantor pusat Sudirman. Beliau berniat memberikan kejutan dan sedang bersiap untuk menemui Mbak Amira di sana."
Bagai dihantam badai di siang bolong, wajah Zian menegang sempurna. Jantung Rian tidak boleh menerima kejutan yang terlalu ekstrem atau berita yang memicu stres berat. Jika Rian sampai di kantor dan mendapati Armeta sedang mengamuk, lalu tidak sengaja mengetahui bahwa kakak kandungnya sendiri telah menikahi wanita pujaan hatinya demi sebuah tanggung jawab atas kesalahan mantan tunangannya... Zian tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada kesehatan adiknya.
"Kevin,amankan Rian dari Armeta sekarang juga. Jangan sampai mereka berdua berpapasan di kantor. Saya dan Amira akan langsung ke kantor sekarang."
Zian kemudian menoleh ke arah Amira.
"Amira... ikut saya ke kantor. Rian sudah kembali."
Amira mengernyitkan dahinya, menatap Zian dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bingung. Nama Rian tentu saja tidak asing bagi telinganya. Dia tahu betul bahwa Rian adalah adik kandung Zian yang tiga tahun lalu pergi ke luar negeri untuk berobat. Dulu, saat Amira baru mulai bekerja di perusahaan, Rian adalah sosok yang sangat baik dan ramah kepadanya.
"Tapi yang saya tidak mengerti...Kenapa Mas Zian kelihatan khawatir sekali kalau Rian bertemu dengan Armeta?"
Zian terdiam. Dia menatap lekat-lekat mata bening Amira yang menuntut penjelasan. Bagaimana mungkin dia bisa jujur mengatakan bahwa adiknya yang punya penyakit jantung lemah itu sangat mencintai Amira? Bagaimana bisa dia menjelaskan bahwa dia takut Rian akan hancur jika tahu wanita impiannya kini telah menjadi kakak iparnya sendiri?
"Rian baru saja sembuh, Amira. Jantungnya tidak boleh menerima tekanan atau berita mengejutkan," jawab Zian akhirnya, memilih alasan yang paling aman.
"Di kantor sedang ada Armeta yang mengamuk. Jika Rian melihat kekacauan itu dan salah paham, itu bisa membahayakan nyawanya. Sudah, jangan banyak bertanya lagi. Kita harus ke kantor sekarang."
Zian langsung berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya, meninggalkan Amira yang masih berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di kepalanya.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care