Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN MENDADAK DI MENARA EIFFEL
Setelah berbulan-bulan menikmati kedamaian domestik di ruko Palmerah yang penuh dengan kehangatan masakan lokal dan tawa sederhana, takdir dunia bawah tanah seolah menolak untuk membiarkan klan De Calvi melupakan asal-usul mereka begitu saja. Manifestasi dari paket misterius yang berisi jam saku perak lima belas tahun lalu akhirnya memuncak pada sebuah instruksi taktis mendesak: sisa-sisa faksi pengkhianat Marseille yang bersekutu dengan jaringan ekstremis klan Valois terdeteksi sedang melakukan konsolidasi aset di jantung kota Paris.
Mau tidak mau, dinasti De Calvi harus pulang ke tanah Prancis untuk memotong kepala ular tersebut sebelum racunnya sampai ke tanah Jawa.
Namun, kepulangan mereka kali ini sangat berbeda. Mereka tidak lagi bergerak sebagai empat bayangan dingin yang kesepian. Di dalam kabin kelas utama pesawat jet pribadi milik klan, ada sosok Alya Putri yang duduk dengan daster batik motif mega mendung warna biru lautnya yang nyaman, dilapisi oleh sebuah trench coat wol tebal berwarna krem untuk menghalau hawa dingin Eropa Barat yang mulai menusuk tulang.
"Bang Lucien, ini kita beneran harus ke Menara Eiffel?" tanya Alya sambil mengunyah keripik tempe bawaannya dari Jakarta, memandangi pemandangan kota Paris dari jendela kaca saat mobil limosin baja mereka membelah jalanan Avenue Gustave Eiffel. "Perasaan aura taktisnya beda banget sama Palmerah. Di sini gedungnya estetik semua, tapi kok rasanya bikin merinding ya?"
Lucien yang duduk di samping Alya, mengenakan setelan jas tiga lapis ( three-piece suit ) hitamnya yang berwibawa, mengulurkan tangan kekarnya untuk merapikan kerah trench coat istrinya. Sepasang mata abu-abunya memancarkan siaga level satu.
"Ini adalah wilayah netral yang sengaja dipilih oleh musuh untuk memancing kita keluar, Alya," jawab Lucien, suaranya berat dan bariton, bergetar penuh otoritas mutlak seorang penguasa Eropa. "Menara Eiffel dikelilingi oleh ruang terbuka yang luas ( Champ de Mars ), menjadikannya perimeter yang sangat sulit untuk diamankan secara total. Tapi jangan takut. Kau berada di dalam lingkaran perlindungan terdalam klan De Calvi."
Di kursi depan, Marc sedang menatap layar laptop militernya dengan kecepatan ketikan yang luar biasa, memantau jaringan satelit taktis rahasia yang telah dia retas semenjak mereka mendarat di Bandara Charles de Gaulle.
"Sistem pertahanan siber Aegis telah mengambil alih seluruh kamera pengawas CCTV di sekitar Menara Eiffel dalam radius dua kilometer," lapor Marc tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Kacamatanya memantulkan baris kode enkripsi berwarna hijau yang bergerak cepat. "Deteksi anomali thermal: ada dua belas titik panas bergerak dengan pola formasi taktis militer di lantai dua menara. Mereka mengenakan samaran sebagai staf kebersihan teknik. Probabilitas jebakan: sembilan puluh sembilan koma empat persen."
Julien, yang duduk di sudut seberang, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia sibuk memeriksa mekanisme pegas di pergelangan tangannya, memastikan sepasang belati titanium berspesifikasi militer ( sub-MOA accuracy jika dilempar) tersembunyi dengan sempurna di balik lengan jas abu-abu gelapnya. Aura predator berdarah dingin yang sempat melunak di Jakarta kini kembali memancar dari tubuh kekarnya dengan intensitas yang mengerikan.
Sementara itu, Etienne yang duduk di samping Marc justru sedang sibuk menata rambut pirang gelapnya menggunakan cermin kecil. Meskipun wajah ketampanannya memancarkan senyuman kardus menawannya yang biasa, matanya yang abu-abu tajam terus melirik ke arah luar jendela, menghitung jarak operasional garis tembak.
"Ah, Paris... kota penuh cinta yang selalu merindukan kehadiranku," gumam Etienne teatrikal, lalu mengedipkan matanya pada Alya. "Alya manisku, setelah kita menyelesaikan tikus-tikus pengkhianat ini, aku berjanji akan membawamu ke butik haute couture terbaik di Champs-Élysées untuk membelikanmu daster versi Prancis yang terbuat dari sutra murni."
"Nggak usah aneh-aneh, Bang Etienne! Yang penting kita pulang dengan selamat ke Jakarta, daster Palmerah harganya dua puluh lima rebu udah paling top!" sahut Alya gemas, mencoba meredakan ketegangan psikologis yang mulai mencekam di dalam kabin mobil.
Limosin baja itu berhenti tepat di area drop-off platform utama Menara Eiffel. Sore itu, langit Paris berwarna abu-abu keperakan, dengan angin musim gugur yang bertiup kencang, menggoyang struktur besi raksasa setinggi tiga ratus meter di atas mereka. Karena informasi ancaman telah dibocorkan secara sengaja oleh Marc ke pihak berwenang setempat, area wisata publik di bawah menara telah dikosongkan secara rahasia dengan dalih "pemeliharaan teknis darurat," menyisakan keheningan yang sangat tidak wajar di salah satu tempat paling ramai di dunia tersebut.
Klan De Calvi melangkah keluar dari mobil. Lucien memimpin di depan, merangkul pinggang Alya secara protektif dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya selalu berada di dekat posisi kancing jas tempat senjata laras pendeknya berada. Marc, Julien, dan Etienne menyebar membentuk formasi berlian ( diamond formation ) dengan Alya sebagai pusat poros inti yang tidak boleh tersentuh.
Mereka menaiki lift kaca khusus menuju lantai dua menara. Pemandangan kota Paris yang indah perlahan terhampar di bawah mereka, namun tidak ada satu pun dari mereka yang menikmatinya.
TING.
Pintu lift terbuka di lantai dua. Suasana di platform terbuka itu sangat sunyi, hanya ada suara deru angin yang menghantam tiang-tiang baja menara.
"Mereka ada di sini," bisik Julien pendek. Insting pembunuhnya sudah mendeteksi distorsi udara di balik pilar besi nomor empat.
Seketika itu juga, dari balik bayang-bayang struktur baja, enam orang pria bersenjata serbu dengan pakaian taktis hitam tanpa logo klan melompat keluar. Tanpa peringatan verbal, mereka langsung mengarahkan moncong senjata ke arah Lucien.
DOR! DOR! DOR!
"Tiarap, Alya!" teriak Lucien. Dengan kecepatan refleks yang luar biasa, Lucien memutar tubuhnya, menjadikan punggung bidangnya yang dilapisi mantel antipeluru sebagai perisai manusia pertama untuk melindungi Alya, sambil menarik tubuh mungil istrinya ke balik sebuah kotak panel listrik baja yang tebal.
Di saat yang sama, tiga kembar lainnya bergerak bagai badai destruktif yang meledak bersamaan.
Julien melesat maju seperti bayangan hantu. Sebelum penembak pertama sempat menarik pelatuk untuk kedua kalinya, Julien sudah berada di dalam jarak jangkau taktisnya. Tangan kanannya bergerak dengan efisiensi mesin pembunuh—sebuah sabetan dingin dari belati titaniumnya secara instan memotong jalur arteri di pergelangan tangan musuh, membuat senjata serbu itu jatuh berdebam ke lantai beton. Dengan satu putaran tubuh yang anggun namun mematikan, Julien menendang dada musuh tersebut hingga terlempar melewati pagar pembatas platform, jatuh bebas menuju jaring pengaman bawah.
Di sisi lain platform, Marc membuktikan bahwa seorang dewa siber juga mampu melakukan eksekusi fisik yang brutal jika permaisurinya diancam. Menggunakan tablet militer baja miliknya sebagai senjata hantam, Marc menghindar dari kepungan peluru dengan perhitungan sudut kemiringan geometris yang presisi.
BRAK!
Marc menghantamkan sudut tajam tablet bajanya tepat ke arah rahang penembak kedua, memecahkan tulang pelipis musuh dengan akurasi gaya kinetik yang telah dia hitung sebelumnya. "Analisis taktis: akurasi tembakanmu berada di bawah standar operasional militer. Kau tidak layak berada di perimeter ini," ucap Marc dingin, lalu menembakkan pistol peredam suara dari balik saku jasnya untuk melumpuhkan dua musuh berikutnya yang mencoba mendekati posisi Marc.
Etienne tidak mau kalah. Menggunakan pesona teatrikalnya yang manipulatif, dia berpura-pura mengangkat tangan sebagai tanda menyerah di depan dua penembak klan Valois.
"Oh, tolong jangan tembak wajah tampanku yang berharga ini," rintih Etienne dengan ekspresi ketakutan yang sangat meyakinkan.
Saat kedua musuh itu lengah dan menurunkan kewaspadaan selama setengah detik, Etienne tersenyum kardus dengan kilatan mata abu-abu yang sangat kejam. Dari balik lengan jas kirinya, sebuah perangkat mekanis melontarkan jarum mikro berisi racun neurotoksin pelumpuh saraf ( earpiece komunikasinya mengonfirmasi detak jantung musuh yang langsung drop ke angka nol dalam waktu tiga detik). Etienne melompat maju, menangkap tubuh kedua musuh yang ambruk itu sebelum mereka sempat menyentuh lantai, lalu menyandarkan mereka di kursi turis seolah-olah mereka sedang tertidur santai.
"Eksekusi psikologis yang bersih," gumam Etienne, merapikan kembali dasinya yang sedikit miring akibat gerakan melompat tadi.
Namun, sisa faksi pengkhianat Marseille ternyata memiliki rencana cadangan yang lebih licik. Dari arah tangga darurat atas, seorang pria bertubuh raksasa dengan pelindung tubuh lapis baja penuh ( heavy armor ) muncul sambil membawa senapan mesin berat. Dia tidak mengarahkan senjatanya pada para kembar, melainkan langsung membidik ke arah kotak panel listrik tempat Alya sedang bersembunyi.
"Alya! Awas!" teriak Lucien yang saat itu sedang tertahan oleh dua musuh di sisi barat platform.
Dalam kondisi kritis yang mampu menghentikan detak jantung siapa pun tersebut, insting taktis daster Palmerah milik Alya Putri mendadak mengambil alih kendali tubuhnya sepenuhnya. Alya tidak menangis atau membeku ketakutan karena trauma. Mengingat kembali latihan parkour ekstrem yang sempat dia lakukan di atap ruko Palmerah seminggu yang lalu, Alya melihat sebuah peluang taktis di antara struktur tiang baja menara.
Alya melepas trench coat wolnya yang berat, menyisakan daster batik mega mendungnya yang longgar dan memberikan ruang gerak maksimum pada kakinya.
DOR! BANG!
Tepat saat pria raksasa itu menarik pelatuk senapan mesinnya, menghancurkan kotak panel listrik tempat Alya bersembunyi hingga memercikkan bunga api listrik, Alya sudah melompat keluar dengan gerakan safety roll yang sangat anggun di atas lantai beton. Menggunakan momentum gulingannya, Alya melentingkan tubuhnya ke udara, melompat menuju ke arah pipa besi struktur penopang lift di dinding menara.
Tangan mungil Alya mencengkeram pipa besi tersebut dengan akurasi precision landing yang luar biasa. Dengan satu ayunan tubuh 360 derajat ( lache ) yang memanfaatkan gaya gravitasi Paris, Alya melepaskan cengkeramannya pada waktu yang tepat, meluncur terbang di udara melewati kepala pria raksasa berbaju besi tersebut.
Saat tubuhnya berada di udara tepat di atas pundak musuh, Alya menarik kipas sate anyaman bambu tradisional dari dalam saku dasternya—kipas yang sengaja dia bawa dari Jakarta sebagai jimat keberuntungan rumah tangga—dan dengan kekuatan penuh, dia menusukkan gagang bambu yang runcing dan tajam itu tepat ke dalam celah kecil lubang ventilasi helm taktis sang raksasa.
JLEB!
"Merasakan nih, tusukan sate Palmerah!" teriak Alya lantang.
Gagang bambu itu merusak sistem optik digital di dalam helm musuh, membuat pria raksasa itu seketika buta dan kehilangan arah. Dia berteriak kesakitan, melepaskan tembakan acak ke langit-langit menara sambil berjalan sempoyongan ke belakang.
Julien yang melihat peluang emas tersebut tidak menyia-nyiakan waktu selama satu milidetik pun. Dia melompat dengan kecepatan supersonik, mengayunkan kaki boots taktisnya dalam sebuah tendangan berputar ( tornado kick ) yang menghantam dada lapis baja musuh dengan kekuatan setara hantaman truk kontainer pelabuhan.
BOOM!
Tubuh raksasa itu terlempar menembus pagar kawat pembatas lantai dua Menara Eiffel, jatuh terhempas ke bawah dan mendarat di atas bantalan jaring darurat dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan gagang kipas sate masih tertancap di helmnya.
Pertempuran maut di Menara Eiffel berakhir secepat badai itu datang. Dua belas musuh dari faksi pengkhianat Marseille dan klan Valois telah dilumpuhkan secara total tanpa sisa. Keheningan kembali menguasai platform lantai dua, menyisakan deru angin Paris yang dingin dan napas terengah-engah dari kelima anggota keluarga tersebut.
Lucien langsung berlari kencang mendekati Alya, mengabaikan seluruh protokol keamanan klan untuk langsung memeluk tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan pelukannya yang paling erat. Tubuh sang Raja mafia yang biasanya sekeras baja itu kini bergetar hebat karena rasa lega yang tak terbatas.
"Kau selamat... demi Tuhan, Alya, kau benar-benar permaisuriku yang paling gila dan paling luar biasa," bisik Lucien di telinga Alya, suaranya serak dipenuhi oleh rasa kagum dan cinta yang mendalam.
Alya menyandarkan kepalanya di dada Lucien, menyengir kuda meskipun tangannya agak sedikit lecet karena mencengkeram pipa besi menara. "Kan saya udah bilang, Bang Lucien... teknik parkour Prancis dikombinasikan sama peralatan domestik Palmerah itu nggak bakal bisa dikalahin sama baju besi mereka!"
Etienne, Marc, dan Julien berkumpul mengelilingi mereka berdua. Etienne mengambil trench coat Alya yang terjatuh di lantai, membersihkannya dari debu dengan ekspresi ketampanan yang kini dipenuhi oleh senyuman kebanggaan yang luar biasa.
"Alya manisku... aksi melompatmu di atas Menara Eiffel tadi benar-benar seni pertempuran tingkat tinggi yang paling seksi yang pernah kulihat sepanjang hidupku," puji Etienne, matanya berkilat jenaka. "Kurasa para kritikus seni di Paris harus merevisi definisi keindahan mereka setelah melihat daster mega mendungmu terbang di antara struktur baja Eiffel."
Marc membetulkan letak kacamatanya, menatap sisa-sisa kerusakan panel listrik dengan senyuman tipis yang sangat tulus. "Analisis hasil pertempuran: kontribusi taktis permaisuri daster menyumbang sebesar empat puluh dua persen terhadap kecepatan pelumpuhan target utama. Efisiensi penggunaan kipas sate sebagai senjata penetrasi optik berteknologi tinggi: seratus persen sukses."
Julien hanya berdiri diam di samping mereka, namun dia mengulurkan tangan kanannya yang kasar untuk mengusap helai rambut hitam Alya dengan kelembutan yang sangat dalam, sebuah pengakuan sunyi dari sang mesin pembunuh bahwa istrinya telah sah menjadi bagian dari legenda klan De Calvi.
Sore itu, di atas Menara Eiffel yang megah, klan De Calvi tidak hanya berhasil menghancurkan ancaman masa lalu yang menghantui mereka, tetapi mereka juga membuktikan kepada seluruh dunia bawah tanah Eropa bahwa cadar mafia mereka kini telah digantikan oleh sebuah ikatan keluarga yang tak terpatahkan. Dan dengan adanya seorang permaisuri daster bernama Alya Putri di samping mereka, tidak ada satu pun kekuatan global yang akan mampu menggoyahkan takhta para Raja, baik di atas menara tertinggi di Paris maupun di dalam kehangatan ruko sederhana di kawasan Palmerah, Jakarta.