Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Koordinat yang Bergeser
Malam semakin larut ketika mobil sedan hitam milik Danu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Kirana. Perjalanan pulang dari pameran seni berjalan sangat tenang, diiringi obrolan ringan tentang buku-buku yang mereka lihat tadi. Danu, dengan segala sifat santunnya, turun lebih dulu untuk memastikan Kirana masuk ke dalam pekarangan rumah dengan aman.
"Makasih banyak ya, Kak Danu, buat hari ini. Es krim sama pamerannya seru banget," ujar Kirana tulus sambil memegangi tas kain berisi beberapa pembatas buku baru.
Danu tersenyum hangat, menatap Kirana dengan pandangan yang teduh. "Sama-sama, Ra. Aku yang makasih karena kamu sudah mau meluangkan waktu buat menemani aku. Istirahat yang cukup ya, jangan tidur terlalu malam." After memberikan lambaian tangan yang sopan, Danu kembali ke mobilnya dan perlahan melaju membelah jalanan komplek yang sepi.
Kirana menghela napas panjang, mengunci pagar rumah, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan tas dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Kamarnya terasa sangat sunyi, menyisakan ruang bagi kepalanya untuk memutar kembali kejadian-kejadian sepanjang hari ini.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Begitu layar menyala, tidak ada notifikasi baru. Percakapannya dengan Bima tentang kucing oren di lab Teknik beberapa jam lalu adalah interaksi terakhir mereka. Kirana menatap ruang obrolan itu dengan dahi berkerut pelan. Biasanya, di jam-jam seperti ini, ponselnya akan bergetar berisi rentetan instruksi kaku tentang revisi data atau jadwal kumpul tim. Namun sekarang, setelah lembar pengesahan ditandatangani, ruang obrolan itu mendadak menjadi pasif.
Kirana baru saja akan meletakkan kembali ponselnya ketika sebuah getaran pendek mengejutkannya. Sebuah pesan baru muncul di layar. Dari Bima.
> **Bima Teknik:** *Gue di kedai martabak deket pertigaan kampus. Lo biasanya pesen yang manis apa yang telor?*
Kirana spontan menegakkan posisi duduknya, menatap pesan itu dengan mata membelalak. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Untuk apa seorang Bima yang penuh perhitungan waktu berada di kedai martabak jam segini dan menanyakan seleranya?
> **Kirana:** *Hah? Tiba-tiba banget nanya martabak jam segini? Aku biasanya suka yang martabak manis rasa cokelat kacang, Bim. Kenapa emangnya?*
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh detik bagi Bima untuk membalas.
> **Bima Teknik:** *Gak apa-apa. Tadi abangnya nanya adonan yang bagus, gue inget lo anak Sastra yang banyak teori rasa.*
> **Bima Teknik:** *Gue pesen dua porsi. Kebanyakan kalau buat gue sendiri.*
Kirana menahan senyumnya, menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa geli sekaligus debaran aneh yang mendadak menyerang dadanya. Alasan Bima terasa sangat dipaksakan dan tidak logis—sejak kapan abang penjual martabak meminta saran adonan pada seorang mahasiswa Teknik Mesin?
Sebelum Kirana sempat mengetik jawaban, sebuah pesan lanjutan kembali masuk. Kali ini, kalimatnya terasa sedikit lebih pendek, seolah-olah pengirimnya sedang mengetik dengan penuh keraguan di balik jemari kakunya.
> **Bima Teknik:** *Besok jam makan siang lo di kantin Sastra? Anak-anak lab katanya mau nyoba soto di deket fakultas lo. Gue males jalan sendiri.*
Kirana menatap layar ponselnya dengan binar mata yang tidak bisa berbohong. Di balik rangkaian kalimatnya yang tetap kaku dan terkesan cuek, Kirana bisa menangkap sinyal yang sangat jelas. Bima sedang mencoba membuat janji temu, mencari alasan di luar urusan akademis untuk tetap berada di dalam radius aktivitasnya. Tanpa adanya embel-embel dokumen atau jadwal asistensi, cowok Teknik itu ternyata tetap berusaha keras untuk menarik perhatiannya.
Jemari Kirana dengan cepat bergerak di atas keyboard, mengetik balasan dengan perasaan yang mendadak membubung tinggi.
> **Kirana:** *Iya, besok jam dua belas Gue emang mau ke kantin bareng Maya sama Sari. Kalau lo males jalan sendiri, tar kabari aja pas lo udah di jalan ke arah Sastra.*
Pesan itu langsung berstatus terbaca, namun Bima tidak membalas lagi dengan kata-kata. Ia hanya mengirimkan sebuah stiker jempol sederhana khas bapak-bapak, yang justru membuat Kirana tertawa kecil di dalam kamarnya yang sunyi.
Malam itu, Kirana mematikan lampu kamarnya dengan perasaan yang benar-benar campur aduk. Di satu sisi, kelembutan dan perlakuan manis Danu sepanjang sore tadi masih meninggalkan rasa hangat yang nyaman di hatinya.
Namun di sisi lain, usaha-usaha canggung dari Bima yang terbungkus di balik obrolan martabak dan alasan soto kampus, sukses membuat detak jantung Kirana bekerja dua kali lebih cepat. Kirana menarik selimutnya tinggi-tinggi, menyadari bahwa hari esok di koridor kampus akan menjadi jauh lebih rumit dan menarik untuk dijalani.