NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Lantai khusus ICU rumah sakit utama dikosongkan dan dijaga ketat oleh sisa tim keamanan Pratama Group.

Suara gesekan roda kursi roda di atas lantai koridor yang sunyi terdengar ritmis, mengiringi detak jantung Diandra yang kian berpacu liar.

Tuan Bayu dengan hati-hati mendorong kursi roda putrinya, menembus pintu kaca tebal ruang perawatan intensif tempat Pratama terbaring.

Di dalam ruangan itu, aroma antiseptik terasa begitu pekat, berbaur dengan bunyi bip... bip... bip... dari berbagai mesin penopang hidup yang terpasang di tubuh tegap sang CEO.

Begitu melihat sosok suaminya, Diandra langsung menahan napas.

Pratama terbaring lemah dengan perban baru yang membungkus rapi tubuh bagian atasnya, menyembunyikan luka bakar yang parah.

Wajah yang biasanya memancarkan aura ketegasan itu kini tampak begitu pucat dan tenang dalam komanya.

Diandra memajukan kursi rodanya, lalu meraih tangan Pratama yang terbebas dari selang medis.

Tangan itu masih terasa dingin, sangat berbeda dengan genggaman hangat yang selalu melindunginya.

"M-mas... ini aku," bisik Diandra, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya luruh, menetes tepat di atas punggung tangan Pratama.

"Bangun, Mas... Aku sudah kembali ke tubuhku sendiri. Aku ada di sini, di depanmu. Bangun, Mas, aku sangat merindukanmu."

Namun, tidak ada pergerakan. Pratama tetap bergeming dalam tidur panjangnya, hanya dada pria itu yang tampak naik-turun secara mekanis dibantu alat pernapasan.

Melihat kesedihan mendalam di wajah Diandra, dokter spesialis yang memimpin perawatan Pratama melangkah mendekat dengan ekspresi penuh simpati sekaligus kekaguman atas keajaiban bangunnya sang nyonya besar.

"Nyonya Diandra, kondisi Pak Pratama saat ini sudah stabil setelah melewati masa kritisnya di ambulans, namun tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk pulih dari syok neurogenik," ucap dokter itu dengan nada lembut.

Kemudian ia menatap kaki Diandra yang tampak kaku di atas pijakan kursi roda.

"Selain memikirkan Pak Pratama, ada hal penting lain yang harus Anda perhatikan. Anda juga harus segera melakukan terapi fisik secara intensif. Karena Anda sempat jatuh dari lantai delapan lima tahun lalu, otot-otot kaki Anda mengalami atrofi yang cukup parah dan struktur tulangnya memerlukan rehabilitasi total agar Anda bisa berjalan kembali."

Diandra mengalihkan tatapannya dari Pratama, lalu menatap kakinya sendiri yang lunglai.

Ia tahu perjuangannya untuk membalas dendam dan melindungi keluarganya masih panjang. Ia membutuhkan kekuatan fisik yang sempurna untuk menghancurkan Mita dan Ferdian hingga ke akar-akarnya.

Diandra menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Saya mengerti, Dok. Saya akan melakukan terapi apa pun demi bisa berdiri lagi di samping suami saya."

Setelah kunjungan emosional yang singkat namun menguras tenaga itu, Tuan Bayu memegang kembali kemudi kursi roda.

"Kamu harus istirahat, Nak. Tubuhmu baru saja terbangun setelah lima tahun."

Setelah itu, Papa mengajaknya ke ruang perawatan privat yang telah disiapkan tepat di sebelah ruang ICU Pratama, memudahkan Diandra untuk memantau kondisi suaminya kapan saja.

Dengan bantuan Tuan Bayu, Diandra perlahan dipindahkan ke atas ranjang perawatan yang jauh lebih nyaman.

Tidak lama kemudian, seorang perawat masuk dengan nampan medis.

Dengan gerakan yang cekatan dan hati-hati, perawat kembali memasang selang infus ke pergelangan tangan Diandra untuk menyalurkan cairan nutrisi dan vitamin guna mempercepat pemulihan fisiknya.

Begitu perawat meninggalkan ruangan dan menyisakan mereka berdua, Diandra menatap sang ayah yang duduk di kursi samping ranjangnya dengan gurat kelelahan yang nyata.

Diandra teringat akan wasiat dan salam perpisahan terakhir dari jiwa gadis malang yang sempat meminjamkan tubuhnya.

Gadis yang telah menjadi jembatan baginya untuk menyelamatkan Pratama.

"Pa..." panggil Diandra, suaranya kini terdengar lebih jernih meskipun masih ada sisa serak.

Tuan Bayu mendongak.

"Iya, Sayang? Ada apa?"

"Pa, tolong makamkan jasad Gia dengan layak di pemakaman keluarga kita," pinta Diandra dengan tatapan mata yang penuh rasa hormat dan ketulusan.

"Gia adalah gadis yang baik, Pa. Tanpa raganya, aku tidak akan pernah bisa kembali memeluk Papa dan menjaga Mas Pratama malam ini. Dia pantas mendapatkan tempat peristirahatan terbaik sebagai bagian dari keluarga kita."

Mendengar permintaan mulia putrinya, Tuan Bayu merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa haru.

Ia tidak tahu secara detail apa yang telah dilalui Diandra selama ini, namun ia tahu putrinya telah kembali sebagai wanita yang jauh lebih bijaksana dan kuat.

Papa menganggukkan kepalanya dengan mantap, menggenggam lembut tangan Diandra yang bebas dari infus.

"Jangan khawatir, Diandra. Papa sendiri yang akan mengurus pemakamannya besok pagi. Gia akan beristirahat dengan damai di tanah keluarga kita."

Diandra menyandarkan kepalanya ke bantal, menatap langit-langit kamar rawatnya.Satu utang budi kepada Gia telah ia tunaikan.

Kini, fokusnya adalah memulihkan tubuh aslinya, menunggu Pratama membuka mata, dan mempersiapkan jaring pembalasan yang sesungguhnya untuk Mita yang kini sedang mencoba melarikan diri ke luar negeri.

Pagi itu, langit di atas kota Jakarta diselimuti awan kelabu yang teduh, seolah alam ikut berduka melepas kepergian sebuah jiwa yang telah menyelesaikan tugas mulianya di dunia.

Prosesi pemakaman Gia digelar secara sangat khidmat dan privat di area pemakaman eksklusif milik keluarga Pratama dan sebuah kawasan perbukitan hijau yang sunyi, dikelilingi pohon-pohon besar yang rimbun.

Hanya ada beberapa orang yang menghadiri pemakaman tersebut: Tuan Bayu, Diko, dan beberapa pengawal setia.

Tidak ada hiruk-piruk media, tidak ada keramaian yang tidak perlu. Semuanya berjalan dengan penuh penghormatan.

Diandra menghadiri prosesi itu dengan kursi roda yang didorong perlahan oleh Diko.

Ia mengenakan pakaian hitam polos formal dengan selendang tipis yang menutupi rambutnya.

Meskipun tubuh aslinya masih terasa sangat kaku dan pergelangan tangannya masih dibalut plester bekas infus, Diandra menolak untuk melewatkan momen ini. Ia harus berada di sana untuk mengantarkan Gia.

Peti mati kayu berpahat indah perlahan diturunkan ke liang lahat.

Suara lantunan doa yang syahdu menggema di udara yang dingin, membuat suasana semakin diliputi rasa haru yang mendalam.

Saat tanah perlahan menutupi seluruh permukaan peti, pertahanan Diandra runtuh.

Air matanya mengalir perlahan melewati pipinya yang pucat.

Ia menatap gundukan tanah baru yang kini mulai ditaburi bunga-bunga segar beraroma harum. sebuah papan nisan berbahan marmer hitam telah tertancap rapi di sana, mengukir nama Gia sebagai bagian terhormat dari keluarga mereka.

Diandra memajukan sendiri roda kursi rodanya hingga berhenti tepat di sisi makam.

Ia membungkukkan tubuhnya yang ringkih, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh permukaan tanah makam yang masih basah.

"Gia..." bisik Diandra, suaranya bergetar hebat menahan gejolak emosi di dalam dada.

"Terima kasih karena raga mungilmu telah menampung jiwaku yang penuh amarah ini. Terima kasih karena kamu telah mengizinkanku menggunakannya untuk menyelamatkan pria

yang kucintai."

Diandra memejamkan matanya, membayangkan kembali senyuman tulus Gia saat melambaikan tangan di alam bawah sadar mereka kemarin.

"Waktumu di dunia ini memang telah dirampas dengan keji oleh Ferdian. Tapi aku berjanji kepadamu, di atas tanah suci keluarga kami ini, namamu tidak akan pernah dilupakan. Dan setiap tetes darah serta rasa sakit yang kamu rasakan sebelum dibuang ke sungai malam itu, akan kubuat Ferdian membayarnya seribu kali lipat," lanjut Diandra, nadanya bergeser dari kepedihan menjadi sebuah sumpah yang dingin dan mematikan.

Ia mengambil segenggam bunga melati putih dari keranjang di pangkuannya, lalu menaburkannya dengan lembut di atas makam.

"Istirahatlah dengan damai di rumah barumu, Gia. Jiwamu sudah bebas sekarang. Biarkan aku yang menyelesaikan sisa badai ini."

Tuan Bayu melangkah maju, menaruh tangannya di pundak Diandra untuk memberikan kekuatan pada putrinya.

Diandra mendongak, menghapus sisa air mata di pipinya.

Saat ia memutar kembali kursi rodanya untuk meninggalkan area pemakaman, sorot mata Diandra yang asli telah kembali sepenuhnya—tajam, fokus, dan tak tergoyahkan.

Penghormatan terakhir secara emosional kepada jiwa yang telah menyelamatkannya kini telah usai.

Utang budi masa lalu telah dikubur bersama kedamaian Gia.

Mulai detik ini, fokus Diandra beralih sepenuhnya pada pemulihan fisiknya dan memulai perburuan berdarah dingin terhadap Mita dan Ferdian yang masih mencoba melarikan diri dari takdir kematian karier mereka.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!