NovelToon NovelToon
Jiwa Ditubuh Maya

Jiwa Ditubuh Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Teen Angst
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.

Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"

Apa yang terjadi pada Maya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Tanggung Jawab

Jamie melangkah menuju pintu depan dengan langkah cepat. Bel rumah yang baru saja berbunyi masih terngiang di telinganya. Beberapa detik kemudian, bunyi itu terdengar sekali lagi sebelum akhirnya berhenti. Suasana rumah yang tadinya hanya dipenuhi percakapan dan ketegangan kecil kini berubah menjadi rasa penasaran. Jamie mengernyit sambil terus berjalan menuju pintu.

“Ck, malam-malam begini siapa sih...” gumamnya kesal. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang berdiri di balik pintu akan menjadi awal dari kekacauan yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.

Begitu pintu dibuka, wajah Jamie langsung berubah.

Di depan rumah berdiri seorang gadis muda dengan kondisi yang jauh dari baik. Rambutnya tampak berantakan, seolah sudah berulang kali diusap dengan tangan karena gelisah. Kedua matanya sembab dan memerah akibat terlalu lama menangis. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya memegangi perut dengan erat seakan sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

“Mira?” suara Jamie langsung menegang.

Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan. Begitu melihat Jamie berdiri di hadapannya, air mata yang sebelumnya mulai mereda justru kembali mengalir deras.

“Jamie...”

Wajah Jamie seketika kehilangan warna. “Apa yang kamu lakukan di sini?” desisnya pelan dengan nada penuh kepanikan.

Mira menggeleng pelan. “Aku harus ketemu kamu.”

“Tidak sekarang!”

“Aku harus ngomong!"

Jamie langsung melirik ke belakang dengan gugup. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Dari ruang keluarga, Norma, Ziva, dan Maya sudah memperhatikan ke arah pintu. Jarak mereka memang cukup jauh, tetapi jelas terlihat ada seseorang yang datang menemui Jamie.

“Pergi dulu sana! Nanti kita bicara lagi!” bisiknya cepat.

“Aku nggak mau!"

“Mira!”

“Aku nggak mau pergi!” Kali ini suara Mira terdengar jauh lebih keras. Tangis dan emosinya bercampur menjadi satu sehingga suaranya menggema hingga ke ruang keluarga.

Norma yang mendengar keributan itu langsung berdiri. “Jamie? Siapa itu?”

Jamie memejamkan mata sesaat. Sementara itu, Maya yang sejak tadi duduk santai di sofa langsung menunjukkan ketertarikan. Ia meletakkan gelas minumannya di meja dengan gerakan tenang.

“Oho...”

Tatapan matanya berbinar..Ini terdengar menjanjikan.

Norma akhirnya berjalan mendekat. Langkahnya cepat karena firasat buruk mulai muncul di dalam dadanya. Begitu sampai di dekat pintu dan melihat Mira berdiri sambil menangis, wajahnya berubah bingung.

“Mira? Ada apa?”

Mira menatap Norma. Lalu air matanya kembali jatuh. “Maaf Tante...”

Perasaan tidak enak langsung muncul dalam dada Norma. “Ada apa?”

Mira menoleh ke arah Jamie. Tatapannya dipenuhi rasa kecewa, sakit hati, dan keputusasaan yang sudah terlalu lama dipendam.

“Aku hamil..."

Hening menyelimuti suasana seketika. Seolah waktu berhenti bergerak selama beberapa detik.

Norma membeku. Ziva yang baru berjalan mendekat langsung melongo. Bahkan Jamie terlihat seperti baru saja disambar petir.

“Hah?” suara Ziva menjadi yang pertama memecah keheningan.

Mira kembali menangis. “Aku hamil..."

Norma perlahan menoleh ke arah Jamie. Tatapan matanya mulai berubah. Jika sebelumnya ada kebingungan, kini perlahan berubah menjadi keterkejutan dan kemarahan.

“Jamie...”

Jamie langsung menggeleng. “Tidak.”

“Tidak apa?” timpal Norma.

“Aku nggak tahu.”

“KAMU NGGAK TAHU?!” Bentakan Norma menggema di ruang tamu hingga membuat suasana menjadi semakin tegang.

Maya yang sejak tadi hanya mengamati harus berusaha keras menahan senyum. Dalam hati dia hampir bertepuk tangan. Jujur saja, dia tidak terlalu terkejut dengan situasi ini. Selama mengenal Jamie, dia tidak pernah melihat sosok lelaki itu sebagai orang yang benar-benar bisa dipercaya. Cepat atau lambat, seseorang pasti akan datang membawa masalah yang selama ini disembunyikan. Malam ini, orang itu bernama Mira.

“Tante...” isak Mira.

Norma langsung memegang dahinya. “Ya Tuhan...”

Jamie mulai panik. “Mama, dengar dulu.”

“Dengar apa?!”

“Mungkin dia bohong.”

Kalimat itu langsung membuat Mira menatap Jamie dengan ekspresi tak percaya. “Aku bohong?”

“Mira, jangan sekarang!”

“JANGAN SEKARANG KATAMU?!” Tangisan Mira perlahan berubah menjadi kemarahan.

“Aku cari kamu berkali-kali!”

“Mira...”

“Kamu nggak pernah angkat telepon!”

Norma langsung menoleh tajam ke arah putranya. “Kamu menghindarinya?”

Jamie tidak menjawab. Namun diamnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab semuanya.

Ziva yang biasanya selalu berada di pihak kakaknya kini juga mulai terlihat kesal. “Ini serius, Kak?"

Jamie mengepalkan tangannya. Situasi semakin buruk setiap detiknya. Semakin banyak orang yang memandangnya dengan kekecewaan, semakin sulit baginya mencari jalan keluar.

Di tengah semua kekacauan itu, ada satu orang yang justru menikmati semuanya. Siapa lagi kalau bukan Maya. Gadis itu bersandar santai di sofa sambil memperhatikan keributan di depan pintu seperti seseorang yang sedang menonton film favoritnya. “Lanjutkan,” gumamnya.

Norma mulai memarahi Jamie. “Apa yang sudah kamu lakukan?”

“Mama, aku bisa jelasin.”

“Jelaskan!”

Jamie terlihat frustrasi. “Ini nggak sesederhana itu.”

Maya akhirnya ikut bicara. “Oh, menurut gue sederhana sih.”

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Maya mengangkat bahu santai. “Kalau bikin masalah ya tanggung jawab.”

Jamie langsung menatapnya tajam. Tatapan itu penuh peringatan. Namun Maya pura-pura tidak melihatnya.

“Bener nggak?”

“Maya...” desis Jamie.

“Apa?”

“Jangan ikut campur!”

“Loh kenapa?”

Maya berdiri perlahan dari sofa. Gerakannya santai, tetapi kata-katanya terasa semakin tajam. “Kasihan ceweknya.”

Mira tanpa sadar menoleh ke arah Maya. Maya melanjutkan dengan ekspresi polos. “Dia datang malam-malam sambil nangis.”

“Lalu?”

“Ya jangan mau enaknya doang.”

Deg.

Wajah Jamie langsung mengeras.

Norma semakin marah. “Dia benar.”

Jamie memejamkan mata sesaat. “Ma...”

“Kamu harus bertanggung jawab!"

“Belum tentu itu anak aku!”

Kalimat itu membuat Mira langsung menangis lebih keras. Maya hampir berdecak kagum. Semakin Jamie berbicara, semakin dalam dia menggali lubangnya sendiri.

“Hebat,” komentar Maya santai.

Jamie langsung menoleh. “Apa lagi?”

“Gue nggak sabar lihat lo jadi bapak.”

“Maya!” Rahang Jamie mengencang semakin kuat. Emosinya mulai mencapai batas yang berbahaya.

Sedangkan Maya tampaknya belum berniat berhenti. “Gue kira cuma pengecut.”

“Tutup mulut lo.”

“Eh ternyata lebih parah.” Mata Jamie mulai memerah menahan amarah.

Norma mencoba menenangkan keadaan. “Cukup semuanya!"

Namun Maya justru melangkah semakin dekat. Tatapannya berubah dingin. “Kalau laki-laki berani melakukan sesuatu, harusnya berani tanggung jawab.”

“Maya...”

“Bukan malah sembunyi.”

Jamie mengepalkan kedua tangannya. “Maya.”

“Bukan malah nyalahin korban.”

“MAYA!”

Suara Jamie menggema di seluruh ruangan. Hening sejenak. Semua orang terdiam.bNamun Maya tidak mundur sedikit pun. Justru dia menatap lurus ke mata Jamie.

“Dengar ya.”

Nada suaranya berubah jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. “Sampah tetap sampah.”

Deg.

Kalimat itu menjadi titik terakhir. Sesuatu dalam diri Jamie akhirnya putus. Semua tekanan yang selama ini ia tahan. Masalah warisan yang belum selesai. Ancaman penjara yang terus menghantuinya. Ketakutan karena Mira datang tiba-tiba. Kemarahan terhadap Maya yang selalu menyerangnya tanpa henti. Semuanya meledak bersamaan.

“DIAM LO!”

Bruk!

Jamie mendorong Maya sangat keras. Begitu tangannya menyentuh tubuh Maya, mata Jamie langsung melebar. Tetapi semuanya sudah terlambat.

Maya yang tidak siap kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Kakinya gagal menemukan pijakan yang tepat.

Norma langsung menjerit. “MAYA!”

Namun tidak ada yang bisa menghentikan semuanya.

Buk!

Kepala Maya membentur tiang dekorasi yang berdiri di dekat ruang tamu. Suara benturan itu terdengar sangat jelas. Tubuh Maya langsung jatuh ke lantai.

Seluruh orang ruangan seakan membeku. Wajah semua orang langsung pucat.

“Ya Tuhan...” bisik Ziva.

Jamie membeku di tempat. Tangannya masih sedikit terangkat. Dia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Maya?”

Tidak ada jawaban.

“Maya!”

Norma berlari menghampiri. Tubuh Maya terbaring di lantai dengan posisi tidak bergerak. Matanya tertutup rapat. Di dekat pelipisnya mulai terlihat garis darah tipis yang perlahan mengalir.

Wajah Norma langsung kehilangan warna. “Jamie...”

Suara wanita itu bergetar. “Apa yang kamu lakukan?”

Jamie mundur satu langkah. “Aku... aku nggak sengaja.”

Mira menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air matanya masih mengalir, tetapi kini bercampur dengan ketakutan.

Ziva langsung berjongkok di samping Maya. “Maya! Bangun!”

Tidak ada respons. Sama sekali tidak ada. Maya tetap terbaring diam di lantai. Jantung Jamie mulai berdegup liar.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mungkin krn kebiasaan aja tor. novel2mu biasanya kan ttg pria handsome yang seksoy 🤣🤣. lah tetiba karakter utama mu wanita ya readersmu juga mungkin ga excited.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: memang pu mu harus pria plus2 ,plus ganteng, plus seksoy, plus hot 🤣🤣
total 2 replies
Rommy Wasini Khumaidi
ayok takutin mereka,dengan menyamar sebagai hantu👻👻
Rommy Wasini Khumaidi
bukane ditusuk Yasmin thor?
Rommy Wasini Khumaidi
ayolah thor,jangan bikin penasaran.mau rapat apa mereka berdua ini?apa Maya mau nitipin balas dendamnya ke Priska?
Rommy Wasini Khumaidi
ya ampun Maya,jangan mati dong
W I 2 K
fix penjara siap menantimu jemmy......
mery harwati
Bobby kah itu? Yang pura² datang menemui Jomie
W I 2 K
cerdas nya Priska.... 🤭 maya mksdnya
Orbadi Sianturi
lam2
Orbadi Sianturi
ok
Auraliv
mantaps
Nia Juniawati
sangat sangat bagus baguuuusss baaaagguuuss banget ceritanya kak /Heart//Heart//Heart//Heart/
W I 2 K
bacanya kyk realita...
Rommy Wasini Khumaidi
boleh ketawa nggak thor🤣🤣lucu banget aktingnya Bobby
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq benci dan trauma dengan nama norma. blh dng aq maki2 si norma ini.
Ass Yfa
woo yg dikasih obat pak Darto kiraib kasih ke Jamie
Rommy Wasini Khumaidi
pasti obatnya dikasih pak Darto,kirain mau dikasih ke Jamie tuh obat
Ass Yfa
Weh ..Rangga muncul gaesss....Polisi ganteng
W I 2 K
cicak masuk perangkap.. 🤣🤣🤣, g usah kasih ampun pedofil Darto
Auraliv
lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!