Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK BISA
Pertengkaran pun tak terelakkan di antara kami. Bahkan hampir saja aku melayangkan tamparan padanya. Hatinya sangat keras, benar-benar keras.
Tak kutemukan lagi sosok Armila yang lembut dan mudah minta maaf maupun memaafkan. Dia berubah menjadi ganas dan membahayakan.
Dia bukan Armila yang dulu. Bukan wanita patuh dan selalu berusaha menyenangkan hati suami. Entah siapa yang membuatnya jadi begini?
Sepertinya keputusan Armila untuk berpisah sudah bulat. Dengan cara apapun, aku tidak bisa lagi membalikkan hatinya. Entah hanya karena persoalan ini atau ada hal lain yang membuatnya begitu kukuh dengan pendirian itu.
"Apa kau benar-benar ingin berpisah, Armila?"
Keluar juga kalimat yang selama ini aku jaga dengan sekuat tenaga. Meski lahir dari dorongan emosi, tapi logika masih bermain di sini. Kenyataannya memang tak mungkin mempertahankan ikatan yang pernah kami ikrarkan. Aku berjuang menggenggam, ia berontak untuk melepaskan.
"Baik akan aku penuhi keinginanmu!"
Sesungguhnya kata-kata itu teramat menyakiti hati. Aku seperti didorong ke dalam jurang yang didalamnya terdapat kobaran api. Aku dipaksa untuk menceburkan diri ke sana oleh keadaan.
Untuk sekian menit aku dan Armila saling diam. Kami sedang memberi jeda bagi akal dan hati untuk merenungkan ulang. Apakah perpisahan memang harus dilakukan?
"Aku, aku tak sanggup, Armila! Aku tak bisa mengucap kata itu! Kau boleh pergi untuk menenangkan diri sesuka hatimu. Kau bisa kembali jika hatimu telah lapang!"
Agar hati tak goyah lagi, aku meninggalkan tempat ini. Ke mana saja terserah yang penting menjauh dari bujukan setan.. Tidak, aku tak bisa menceraikan Armila.
"Aku akan melayangkan gugatan cerai, Mas! Kita selesaikan di pengadilan jika kau tak mampu bersikap!"
Langkahku terhenti oleh teriakannya.
Aku membalikkan badan dan menatung di sini.
Armila, sekuat itukah kau ingin berpisah dariku?
"Ucapkan saja, Mas talak itu agar aku bisa pergi dan tak menganggu hidupmu lagi. Inilah takdir kita, jodohnya pendek. Sampai kapanpun, aku tak bisa bersatu dengan Resti, aku takut, Mas, takut!"
Aku membalikkan badan dan kembali melanjutkan langkah. Aku tak menggubris teriakannya yang terus minta bercerai.
"Kak Reiga, aku punya hubungan asmara dengannya. Aku dan dia saling cinta. Itulah alasanku ingin cerai!"
Aku tetap membuka pintu mobil. Sebelum masuk, kupatahkan dulu segala argumennya hingga ia paham bahwa aku sungguh-sungguh dalam hal ini.
"Jangan berbohong terus Armila! Aku tahu kau bukan wanita seperti itu. Sudah, diam, aku takkan menceraikanmu!"
Aku masuk mobil dan langsung melesatkan tanpa menengok lagi ke belakang. Aku takut goyah saat mendengar rajukan Armila.
*
Aku tak lagi mengunjungi Armila untuk menghindari rajukannya. Aku harus bertahan tidak melemparkan kata cerai. Kalau sampai terpeleset, akan terjadi penyesalan tak berujung.
Sebesar apapun kesalahan Armila, aku takkan melepasnya. Sungguh, tak pernah bergeser satu jengkal pun besaran cintaku padanya. Dan, aku yakin, tanpa harus melepas Resti, akan bisa meraih kembali hati Armila.
"Sepertinya mba Armila sangat membenciku, Mas. Aku mundur saja biar kalian bisa harmonis lagi."
Mendengar keluhan Resti hatiku terenyuh. Aku sangat tak tega melihat raut wajah yang tengah diliputi kesedihan. Sungguh, beban di hatinya pastilah amat berat.
Tak terbayangkan jika aku menceraikannya. Bisa-bisa Resti depresi bahkan gila. Tidakkah Armila paham hal ini? Bukankah dia juga wanita yang tentu tahu lebih jauh tentang perasaan wanita lain.
"Apapun yang terjadi, aku takkan menceraikanmu. Kita akan saling dukung untuk menyelesaikan masalah ini. Mas, yakin, Armila hanya sedang terbawa emosi. Dia akan kembali membaik di kemudian hari."
Aku mendekap Resti dengan erat. Rasa sayangku pada nya makin besar setelah kejadian ini. Apalagi ia telah berubah menjadi sangat baik. Maka tak ada alasanku untuk melepasnya.
Lebih baik kubiarkan dulu Armila dalam amarah. Suatu saat nanti, akan reda dan kami akan rukun bersama.
"Pak, ada bu Armila di luar!"
Aku dan Resti sama-sama terperanjat mendengar ucapan bi Mimin. Tentu saja ini adalah hal yang tak disangka. Informasi yang amat mengejutkan pasti.
"Biar aku dulu yang menemuinya. Kamu diam saja di kamar, takut Armila jadi emosi!"
Aku bergegas menemui Armila yang kata bi Mimin belum dipersilakan masuk. Aku melotot pada pembantu itu sebab sudah berlaku tak sopan pada Armila.
"Dia itu majikan kamu, sopanlah!"
Bi Mimin malah tertawa dihardik begitu. Kesal sebenarnya dengan tingkah ganjen dan kadang tak sopannya. Ingin kupecat, tapi Resti menolak ide pemecatan itu.
"Sayang, masuklah!"
"Tak usah, Mas, aku hanya mau menyampaikan ini!"
Armila menyodorkan sebuah surat padaku. Sebelum kuterima, perasaanku sudah tak enak. Dugaan bahwa itu hal yang tak menyenangkan amatlah besar.
"Aku sudah melayangkan gugatan cerai dan ini surat panggilan sidang pertama kita. Oke, Mas aku langsung pergi, ya kasihan Affan takut nunggu lama!"
Kata-kata Armila seperti petir sambar menyambar di telingaku. Surat yang kini telah ada di genggaman hampir-hampir terlepas saking kerasnya getaran.
Sungguh, berita darinya lebih menakutkan daripada disuruh lompat ke jurang.
Armila, sudah tertutup kah pintu hatimu untukku?