NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah itu kembali dipenuhi tawa

Matahari menyingsing perlahan, cahayanya menembus celah-celah dinding kayu yang tidak rapat. Garis-garis cahaya jatuh di lantai semen yang dingin, membuat ruangan sederhana itu terasa hangat dan hidup.

Udara pagi masih begitu segar. Aroma tanah basah bercampur dengan harus kayu bakar dari dapur belakang. Dati luar rumah, suara ayam, burung dan percakapan warga desa mulai terdengar samar-samar.

Di dapur, suara dentingan piring saling bersahutan. Siti sedang sibuk menuangkan teh hangat ke beberapa gelas, sementara Mira membantu menata sarapan di atas nampan.

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan pagi seperti ini," ucap Mira pelan sambil tersenyum kecil.

Siti menoleh sekilas, "Sering-sering lah mampir ke sini, Bu. Memang di Desa tidak banyak kemewahan, tapi suasananya selalu membuat hati tenang."

Mira tersenyum kecil, "Tentu. Jika kau mengizinkanku."

Siti menatap Mira, kali ini cukup lama. Ia sadar bahwa wanita itu sangat berbeda dari saat pertama mereka bertemu.

"Bu Mira... kita sekarang sudah menjadi satu keluarga, jadi tanpa menunggu izin dariku pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian," sahut Siti seraya meyakinkan.

Mira mengangguk setuju, " Kau benar. Keluarga kita sudah bersatu. Bahkan sebelum Xena dan Rasti menikah."

Siti mengangguk, wajahnya terlihat sangat cerah. Sementara itu, di ruang tamu, Xena baru saja selesai mencuci wajah di sumur samping rumah.Kemeja yang ia kenakan sedikit tergulung di lengan. Rambutnya masih basah terkena percikan air. Ia berdiri beberapa saat di halaman, memikirkan hamparan sawah yang berkilau cahaya pagi.

"Kakak ipar!"

Suara Rani tiba-tiba terdengar dari belakang membuat Xena menoleh. Rani berdiri di ambang pintu sambil menyeringai lebar.

"Kenapa?" tanya Xena datar.

Rani berjalan mendekat sambil memperhatikan Xena dari atas sampai bawah.

"Hmm..." gumamnya sengaja.

"Apa lagi?" tanya Xena.

"Ternyata Kakak ipar tidak kalah tampan," ucap Rani pelan.

Xena menyeringai, "Maksudmu?."

"Iya. Kakak ipar sama tampannya seperti kak Darma," sahut Rani, sambil menahan tawa.

Xena yang tadinya menyeringai perlahan mengangkat satu alisnya, "Sama tampannya?"

Rani mengangguk mantap tanpa sedikit pun merasa bersalah.

"Iya. Kak Darma itu tinggi, putih, ramah, suka membantu orang. Tapi Kakak ipar juga tinggi, tampan dan..."

"Dan apa?" tanya Xena.

Rani menahan tawanya, "Dan sekarang mulai kelihatan manusia."

Xena langsung menatap tajam ke arah Rani, "Apa maksudmu?"

Rani mundur selangkah sambil tertawa kecil, "Dulu wajah Kakak ipar seperti orang yang mai memecat semua karyawan setiap hari."

"Rani," ucap Xena.

"Tapi sekarang beda," sambung Rani.

Xena mendengus pelan.

"Tapi...," Rani sengaja menggantung kalimatnya.

"Apa lagi," ucap Xena.

"Masih galak sih...cuma lebih enak dilihat."

"Terus," ucap Xena.

"Lebih cocok untuk Kak Rasti."

Kali ini Xena benar-benar kehabisan kata-kata. Di ambang pintu, Rasti yang baru keluar dari dalam rumah langsung mendengar kalimat terakhir iti. Pipinya seketika memerah.

"Rani!" tegurnya.

Rani malah tertawa lebar, "Apa Kak? Aku cuma jujur."

"Kalau tidak ada kerjaan, bantu Ibu di dapur sana!" titah Rasti.

"Baik, Bumil cantik," sahut Rani sambil memberi tanda love di tangannya.

Namun sebelum pergi, Rani kembali menoleh Xena.

"Oh iya, Kakak ipar."

"Apa lagi?" tanya Xena pasrah.

Rani menyipitkan matanya penuh selidik, "Kalau sekarang...Kakak ipar lebih tampan dari Kak Darma."

Xena menghela nafas, "Lalu?"

Rani menunjuk Rasti dengan dagunya sambil berkata, "Jangan sampai Kak Rasti direbut orang."

Rani langsung berlari masak ke rumah sebelum sandal yang diangkat Xena benar-benar melayang ke arahnya.

"RANIII!"

Suara tawa Rani terdengar dari dalam rumah. Sementara itu, Rasti menunduk malu sambil menahan senyum. Xena akhirnya menggeleng pelan, lalu melirik sekilas istrinya dati samping.

"Adikmu memang selalu seperti itu?"

Rasti tertawa kecil, "Percayalah, hari ini dia masih sangat menahan diri."

Xena membelalakkan mata, "Ini masih menahan diri?"

Rasti mengangguk mantap. Mendengar itu, Xena langsung menatap ke arah pintu rumah tempat Rani menghilang beberapa detik lalu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seseorang yang membuatnya tidak berkutik hanya dengan kata-kata.

Sedangkan di balik jendela dapur, Mira, Siti dan Budi yang diam-diam memperhatikan hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Suasana rumah itu yang selama bertahun-tahun terasa sepi kini perlahan dipenuhi tawa lagi. Dan tanpa disadari siapa pun, senyum di wajah Rasti pagi itu adalah senyum paling tulus yang pernah terlihat sejak ia menikah.

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!