NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11. Dinding Es

Malam merayap lambat di kamar utama mansion Dirgantara. Bunyi detak jam dinding seolah menjadi satu-satunya denyut kehidupan di ruangan yang luas itu. Arka masih duduk di kursi kayu di samping ranjang, matanya tak lepas dari sosok Alya yang terbaring lemah di balik selimut tebal. Wajah gadis itu tampak kontras dengan bantal sutra putih—pipi kirinya yang lebam kini berubah warna menjadi ungu gelap, sementara napasnya terdengar pendek dan berat akibat demam yang belum juga turun.

Dokter keluarga baru saja pergi setengah jam yang lalu setelah memberikan suntikan penurun panas dan mengobati luka-luka di tubuh Alya. Kata-kata dokter itu masih terngiang di telinga Arka, tajam dan menghakimi.

"Tuan Arka, istri Anda mengalami dehidrasi hebat, kelelahan fisik yang ekstrem, dan trauma pada jaringan lunak di wajahnya. Jika suhu tubuhnya tidak turun dalam empat jam ke depan, kita harus membawanya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Dan... tolong, pastikan dia mendapatkan ketenangan psikis."

Arka meremas jemarinya sendiri. Ketenangan psikis? Ia adalah sumber dari segala badai yang menghancurkan ketenangan itu.

Ia menatap tangannya yang besar. Tangan yang selama ini ia banggakan karena mampu membangun kembali imperium bisnis keluarganya, kini terlihat menjijikkan di matanya sendiri karena telah meninggalkan bekas biru di wajah seorang wanita yang tidak berdaya. Amarah yang semalam terasa begitu benar dan beralasan, kini menguap menyisakan rasa malu yang menyesakkan dada.

"Eungh..." Alya melenguh pelan. Kepalanya bergerak gelisah di atas bantal.

Arka segera meraih handuk kompres yang mulai mengering di dahi Alya, mencelupkannya kembali ke air hangat, dan memerasnya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Saat ia hendak meletakkan kembali kain itu, mata Alya terbuka sedikit.

Mata itu layu, tidak ada lagi binar kehidupan di sana. Namun, saat mata itu menangkap sosok Arka yang berada begitu dekat, reaksi Alya seketika membuat jantung Arka seolah berhenti berdetak.

Alya tersentak, mencoba menarik tubuhnya menjauh hingga ia nyaris terjatuh dari sisi ranjang yang lain. Tangannya terangkat secara refleks menutupi wajahnya, sebuah gerakan defensif yang murni lahir dari rasa takut yang mendalam.

"Jangan... jangan pukul lagi... maaf, Arka... aku akan bersihkan gudangnya... aku janji..." suara Alya parau, nyaris habis, diselingi isak tangis yang tertahan.

Arka terpaku di tempatnya. Tangannya yang memegang handuk membeku di udara. "Alya... ini aku. Aku tidak akan memukulmu. Tenanglah."

"Maaf... jangan marahi Ayah... aku salah, aku yang salah..." Alya terus mengigau, matanya menatap Arka dengan tatapan horor, seolah pria itu adalah monster yang siap menerkamnya kembali.

"Alya, lihat aku!" Arka sedikit menaikkan nadanya, mencoba menembus kabut demam yang menyelimuti pikiran istrinya. "Lihat aku. Kau aman. Tidak ada yang akan memukulmu lagi. Aku bersumpah."

Mendengar kata "bersumpah", perlahan tubuh Alya berhenti bergetar, meski matanya masih dipenuhi kecurigaan. Ia menatap Arka dengan napas yang memburu. "Kenapa... kenapa kau di sini?"

Arka tidak bisa menjawab. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia merasa bersalah? Bahwa ia tidak tahan melihat istrinya sekarat karena perbuatannya? Ia hanya bisa diam dan mencoba meletakkan kompres itu kembali ke dahi Alya. Kali ini, Alya tidak menghindar, namun ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi kain kompres tersebut.

Di luar kamar, Nyonya Ratna berdiri dengan wajah masam. Ia baru saja hendak masuk untuk memastikan Arka tidak "melemah", namun pintu yang tertutup rapat itu menjadi penghalangnya. Dari dalam, ia sempat mendengar suara Arka yang membentaknya tadi sore di kolam renang.

"Anak itu mulai kehilangan kendali," gumam Ratna. Ia melirik Sisil yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang tak kalah kesal.

"Tante, kita tidak bisa membiarkan ini. Jika Arka mulai jatuh cinta pada gadis itu, posisi kita terancam. Arka bisa saja memberikan semua asetnya pada Alya jika dia merasa bersalah," bisik Sisil kompor.

Ratna mendengus. "Arka tidak akan jatuh cinta pada anak pencuri itu. Dia hanya merasa bertanggung jawab karena tidak ingin ada masalah hukum jika Alya mati di rumah ini. Tapi kau benar, Sisil. Kita harus mengingatkannya kembali pada apa yang dilakukan Prasetyo. Dendam adalah satu-satunya hal yang menyatukan aku dan Arka selama ini."

Sisil tersenyum licik. "Aku punya ide. Besok adalah hari di mana ayah Alya akan menelepon untuk menanyakan kabar istrinya. Bagaimana jika kita pastikan Arka mendengar percakapan yang 'salah'?"

Ratna menatap Sisil dengan penuh minat. "Katakan rencanamu."

Di dalam kamar, Arka akhirnya tertidur di kursi, kepalanya bersandar di pinggir ranjang sambil tangannya masih menggenggam ujung selimut Alya. Ia terbangun saat fajar mulai menyingsing. Suhu tubuh Alya sudah mulai turun, meski wajahnya masih tampak sangat pucat.

Arka bangkit, merasa seluruh tulang punggungnya kaku. Ia menatap Alya sebentar, lalu memutuskan untuk turun ke bawah untuk mengambilkan air minum yang baru.

Saat melewati ruang tengah, ia mendengar suara telepon rumah berdering. Karena tidak ada pelayan yang terlihat, Arka mengangkatnya.

"Halo?" suara Arka berat khas orang bangun tidur.

"Halo? Oh, Arka? Ini Ayah, Nak," suara Prasetyo terdengar dari seberang sana. Nada suaranya terdengar sangat ceria, berbeda dengan beban yang biasanya ia bawa.

"Ya, Yah. Ada apa menelepon sepagi ini?" tanya Arka, mencoba bersikap normal meski hatinya sedang kacau.

"Ayah hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi. Uang yang kau kirim kemarin ke rekening pribadi Ayah... itu sangat membantu. Ayah tidak menyangka kau akan memberikan 'bonus' sebesar itu di luar biaya rumah sakit Ibu. Alya benar, kau memang sangat murah hati."

Dahi Arka berkerut. Uang? Bonus? Ia memang membayar semua biaya rumah sakit, tapi ia tidak pernah mengirimkan uang tambahan ke rekening pribadi Prasetyo.

"Apa maksud Ayah? Uang apa?"

"Lho? Bukankah Alya yang bilang padamu? Dia bilang dia butuh uang tambahan untuk 'keperluan keluarga' dan kau langsung menyetujuinya. Ayah baru saja mengecek saldo, dan ada kiriman 500 juta rupiah atas nama perusahaanmu. Terima kasih ya, Arka. Ayah jadi bisa membayar sisa-sisa utang lama Ayah pada rekan-rekan bisnis."

Darah Arka mendadak mendidih. Rasa hangat yang sempat muncul di hatinya semalam seketika berubah menjadi es yang tajam.

Jadi, saat dia sedang sakit, dia masih sempat memikirkan cara untuk memeras uangku? pikir Arka.

"Ah... ya, Yah. Sama-sama. Saya harus segera bersiap ke kantor," jawab Arka dingin, lalu menutup telepon dengan kasar.

Arka tidak tahu bahwa di lantai atas, Sisil sedang memegang telepon paralel dengan senyum kemenangan. Ia baru saja melakukan transfer dari akun perusahaan Arka menggunakan akses yang ia curi dari laptop Arka beberapa hari lalu, dan ia sudah memberikan instruksi pada Prasetyo (lewat pesan singkat anonim sebelumnya) agar berterima kasih pada Arka pagi ini.

Arka berjalan kembali ke atas dengan langkah yang menghentak. Rasa bersalah yang tadi malam menyiksanya kini berganti dengan amarah yang lebih besar. Ia merasa dimanipulasi. Ia merasa bahwa sakitnya Alya mungkin hanya sandiwara untuk memicu rasa ibanya agar ia tidak memeriksa pengeluaran perusahaan.

Ia membanting pintu kamar utama. Alya yang baru saja bangun dan mencoba duduk, tersentak kaget.

"Berapa harga air matamu, Alya?" tanya Arka dengan suara yang menggelegar, membuat vas bunga di meja samping tempat tidur bergetar.

Alya menatapnya bingung, tangannya masih memegang dahi yang pening. "Arka... apa maksudmu?"

"Jangan berlagak pening! Kau sakit, kau pingsan, kau merintih seperti orang mau mati... dan di saat yang sama kau merampok uangku untuk ayahmu?" Arka mendekat, menjambak rambut Alya agar gadis itu menatapnya.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Uang apa? Aku bahkan tidak memegang ponselku!" teriak Alya ketakutan.

"Ayahmu baru saja berterima kasih untuk 500 juta rupiah! Kau menggunakan akses apa? Siapa yang membantumu?" Arka tidak peduli lagi pada lebam di wajah Alya. Baginya, kebohongan adalah pengkhianatan yang tak termaafkan.

"Aku tidak melakukannya, Arka! Demi Allah, aku tidak tahu!"

"Cukup dengan sumpahmu!" Arka melepaskan jambakannya dengan kasar. "Aku sempat berpikir untuk memaafkanmu semalam. Aku sempat berpikir bahwa kau berbeda dari ayahmu. Ternyata aku salah. Kau jauh lebih licik. Kau menggunakan tubuhmu yang sakit sebagai senjata untuk menguras hartaku."

Arka berjalan menuju lemari, mengambil kemeja bersih dan memakainya dengan kasar.

"Mulai hari ini, prosedur operasi ibumu aku batalkan sampai kau mengaku dari mana uang itu berasal!"

"JANGAN! Arka, tolong! Ibu tidak bersalah!" Alya turun dari ranjang, bersimpuh di kaki Arka, memeluk kaki pria itu dengan tangis yang menyayat hati. "Aku tidak melakukannya, Arka! Tolong jangan hukum Ibuku!"

Arka menendang kaki Alya agar pegangannya terlepas. Ia menatap istrinya yang tergeletak di lantai dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya. "Darah pencuri akan tetap menjadi darah pencuri. Kau dan ayahmu... kalian benar-benar membuatku muak."

Arka melangkah keluar, mengunci pintu dari luar, meninggalkan Alya yang meraung histeris di lantai kamar. Sandiwara yang disusun Sisil dan Ratna berhasil dengan sempurna. Retakan di dinding es Arka kini tidak hanya menutup kembali, tapi membeku jauh lebih keras dari sebelumnya.

Di dalam kamar yang sunyi, Alya memukul-mukul lantai dengan tangan kosong. Ia tidak hanya kehilangan perlindungan suaminya, tapi ia baru saja kehilangan harapan terakhir untuk menyelamatkan nyawa ibunya.

"Kenapa dunia sejahat ini padaku..." rintihnya di tengah kesunyian yang membunuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!