NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Isak tangis Zara perlahan memelan, berubah menjadi helaan napas yang pendek dan terputus-putus. Kedua tangan kecilnya yang semula mencengkeram erat jas Benedict perlahan melemas, terjatuh tak berdaya disisi tubuhnya. Zara pingsan.

“Zara?” Benedict melonggarkan dekapannya, menepuk pipi gadis itu dengan ujung jarinya pelan.

Tidak ada respons. Wajah Zara pucat pasi, dan tubuhnya benar-benar lemas dalam rengkuhan Benedict. Melihat gadis itu kehilangan kesadaran dengan noda darah yang mulai mengering di lehernya, Benedict langsung mengangkat tubuh ringkih itu ke dalam gendongannya.

“Luca! ke rumah sakit sekarang!” perintah benedidt.

“Baik, Tuan,” Luca dengan sigap berlari mendahului, membukakan pintu mobil.

Benedict melangkah lebar, lalu masuk ke dalam mobil sambil tetap mendekap tubuh Zara yang tak sadarkan diri. Luca langsung menutup pintu, melompat ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin. Mobil itu melesat dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Di belakang meraka, tim alfa mengawal ketat.

Di kursi belakang, suasana terasa begitu menegangkan. Benedict bersandar pada kursi, namun kedua lengannya mendekap erat tubuh Zara. Satu tangan besarnya menopang kepala Zara, mengarahkan wajah pucat gadis itu agar tetap bersandar aman di dadanya, sementara jemarinya yang lain meraba pergelangan tangan Zara, memastikan denyut nadinya tetap berdetak.

“Lebih cepat, Luca!” ucap Benedict dingin.

“Dua menit lagi kita sampai, Tuan,” jawab Luca fokus menembus kepadatan jalan raya.

Bendict merasa dadanya berdenyut nyeri. Ia terus menatap wajah Zara. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap noda darah kering di sekitar leher jenjang Zara dengan pelan.

Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi unit rumah sakit, Luca langsung turun dan membukakan pintu belakang. Beberapa petugas medis langsung menghampiri mereka. Benedict keluar dari mobil sambil menggendong Zara, lalu membaringkannya di atas brankar dengan sangat hati-hati. Ia berjalan cepat di samping brankar tersebut, mengabaikan tatapan bingung dan tegang orang-orang disekitar koridor rumah sakit yang mengenali sosoknya.

Seorang dokter senior yang memimpin tim medis langsung menghadang Benedict di depan pintu ruang tindakan.

“Mr. Franklin, Anda harus menunggu diluar. Kami akan segera memeriksa—“

Benedict langsung mencengkeram kerah jubah putih dokter itu dengan satu tangan yang sarat akan ancaman, membuat sang dokter meneguk ludah dengan susah payah.

“Tangani dia semaksimal mungkin. Jika ada satu saja kesalahan, atau jika di lehernya meninggalkan cacat sekecil apa pun itu….” Benedict menjeda kalimatnya, suaranya merendah hingga ke titik paling dingin.

“….. aku pastikan rumah sakit ini ditutup besok pagi. Mengerti?.”

“B-baik, Mr. Franklin. Kami akan melakukan yang terbaik, saja jamin,” jawab dokter itu dengan suara bergetar.

Benedict perlahan melepaskan cengkeramannya, dokter segera pergi dari hadapannya. Pintu ruang tindakan pun tertutup rapat. Benedict berdiri mematung, bersandar lada dinding tepat disamping ruang tindakan.

Luca berjalan mendekat setelah beberapa menit menjauh untuk menerima sebuah panggilan.

“Tuan,” panggil Luca.

Benedict sedikit menoleh, mempersilakan Luca melanjutkan kalimatnya.

“Semua preman, baik yang masih hidup atau yang sudah mati, sudah ada di Veto,” lapor Luca.

“Apa langkah kita selanjutnya, Tuan? Apakah anda ingin tim alfa mulai menginterogasi mereka sekarang untuk mencari tahu siapa dalangnya?” tanya Luca.

“Biarkan saja dulu,” jawab benedict datar, tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mengerikan.

“Aku yang akak menginterogasi mereka dengan tanganku sendiri nanti,” lanjut benedict.

Benedict menatap Luca tajam. “Jangan beri mereka makan atau minum setetes pun. Rantai mereka. Jika mereka ingin buang air kecil atas besar, biarkan mereka melakukannya di tempat mereka berdiri.”

“Baik, Tuan. Perintah dilaksanakan,” jawab Luca tegas.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di dalam ruang tindakan, dokter menarik napas dalam-dalam di balik masker bedahnya. Tangannya sempat bergetar selama beberapa detik. Ancaman Benedict Franklin bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh, pria itu punya kekuatan untuk meruntuhkan karir rumah sakit ini dalam semalam.

“Fokus, semuanya,” ujar dokter. “Pasien ini adalah prioritas tertinggi kita. Jangan ada kesalahan sekecil apa pun.”

Dokter membungkuk, mengamati guratan merah yang melintang di leher Zara dengan sangat teliti. Detik berikutnya, sang dokter mengembuskan napas lega.

“Bagaimana, Dok?” tanya perawat yang bersiap dengan peralatan jahit.

“Tuhan masih melindunginya, dan melindungi kita semua,” ucap dokter. “Sayatannya sangat dangkal. Hanya merobek epidermal layer dan sedikit dermis atas. Beruntung pisau itu tidak sampai menyentuh arteri karotis. Meleset satu milimeter saja ke dalam, ceritanya akan berbeda.”

“Apakah perlu tindakan sururing kosmetik, dok?”

*Dokter mengekang. “Tidak perlu. Luka seperti ini jika di jahit justru berisiko meninggalkan bekas. Mengingat permintaan Mr. Franklin agar tidak ada cacat sekecil apa pun, kita akan gunakan skin glue* khusus kosmetik dan steril strip. Itu akan menutup luka dengan sempurna.”

“Baik, dok.”

“Bersihkan sekarang. Gunakan cairan saline, lakukan dengan pelan. Jangan sampai memicu pendarahan baru,” instruksi dokter. “Dan periksa tanda vitalnya.

Seorang perawat yang memperhatikan layar monitor menyahut. “Tekanan darahnya sedikit rendah, dok, 90/60. Denyut nadinya cepat tapi melemah”

Dokter menganggut paham sambil mulai mengaplikasikan cairan antri septum disekitar leher Zara.

“Pasang infus cairan dan berikan obat penenang dosis ringan melalui IV. Biarkan di tertentu sampai kondisinya bener-benar stabil.”

Setelah memastikan perban menempel rapi di leher Zara dan grafik monitor menunjukkan angka yang mulai normal, dokter akhirnya mundur selangkah. Ia melepas sarung tangan kateter dan membuangkan ke tempat sampah, lalu menyeka peluh dingin di dahinya.

“Pindahkan pasien ke ruang VIP di lantai teratas. Pastikan semuanya steril,” ujar dokter kepada perawat.

Dokter merapihkan jubah putihnya, mengumpulkan keberanian sebelum berjalan menunduk pintu.

“Mr. Franklin,” panggil dokter. “Nona Zara dalam kondisi stabil. Anda bisa bernapas lega.”

Benedict tidak menyahut. Ia menatap dokter tajam, menuntut penjelasan yang lebih rinci.

“Tuhan masih melindunginya. Sayatan di lehernya tidak begitu dalam, hanya merobek lapisan kulit luar.”

“Bagaimana dengan bekasnya? aku sudah katakan tidak boleh ada cacat sekecil apa pun,” ucap Benedict dingin.

“Kami tidak melakukan penjahitan, Mr. Franklin” jawab dokter. “Kami menggunakan teknik skin glue. Metode ini akan merapatkan jaringan kulitnya kembali secara natural tanpa meninggalnya bekas atas cacat sedikit punda. Saya jamin.“

Dokter Arthur mengambil napas sejenak. “Namun, ada satu hal yang perlu saya sampaikan sebelum beliau dipindahkan. Nona Zara kemungkinan besar akan tertidur sangat lama, bahkan bisa sampai besok pagi. Kombinasi antara obat dan penenang dosis ringan yang kami suntikkan dan syok psikologis yang teramat ekstrem membuat otaknya memaksa tubuh untuk tidur sementara waktu,” dokter menjeda kalimatnya

“Tubuhnya memilih untuk tidur panjang sebagai mekanisme pertahanan diri untuk meredam trauma hebat yang baru saja dialaminya.”

1
Lalat
lanjutt ka
Lalat
SERIUSS?? WHATTTTTT
Lalat
iyaya, jjr gw ga expect dia ngmng gt
Lalat
fix kekurangan darah
Lalat
lucuuu 😍
Lalat
blh jg tu
Lalat
lucuu
Lalat
Indonesian bisa di beli ga 🤭
lontong sayur
aku suka
lontong sayur
episode ini manis 🌚
lontong sayur
episode ini manis 🌚🌚🌚
lontong sayur
gemes 🐣
Erna Olivia
lanjut min
Nanda
sakit sih aku klo di posisi Zara
Mita Paramita
lanjut Thor 😘😘😘 bikin adegan romantis
Nanda
serem ya Benedict klo lagi mode gitu
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor bikin bennec bucin 🤣
Nanda
cuek tapi perhatian gitu yaa
Nanda
smngt thorr, pls up tiap hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!