Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Inara mengernyit bingung melihat ponsel yang terus mengarah ke wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
Zoya sama sekali tidak menjawab. Wanita itu malah tersenyum sinis ke arah kamera sebelum kembali menyorot Inara dari ujung kepala hingga kaki.
"Nah, lihat sendiri," ujarnya lantang. "Kalian semua lihat bagaimana seorang wanita yang mengaku baik ternyata diam-diam masuk ke rumah suami orang dengan dalih ibu susu dan merebut perhatian anakku satu-satunya."
Rahang Reno langsung mengeras. Ia menyadari Zoya sedang melakukan siaran langsung. Sebagai sosok yang cukup aktif di media sosial, wanita itu memiliki banyak pengikut yang selama ini selalu membelanya. Ditambah lagi, ekspresi memelas yang sengaja ia tampilkan berhasil memancing simpati para penonton.
"Zoya, turunkan ponsel itu."
"Tidak." Zoya mendengus. "Kenapa? Takut kalau orang-orang akhirnya tahu siapa sebenarnya Inara? Mas, kita masih suami istri. Kamu tega membiarkan pelakor ini masuk ke rumah dan bahkan menyiapkan kejutan seperti ini untuknya?"
Inara memejamkan mata sesaat. Kepalanya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan mulai terasa berdenyut. Ia datang ke rumah ini karena mengira Zidan sedang sakit, bukan untuk terlibat dalam keributan yang melelahkan seperti ini.
"Kalau tujuanmu mencari perhatian, aku rasa aku bukan orang yang tepat untuk dilibatkan," ucapnya tenang.
Sayangnya, ketenangan itu justru membuat Zoya semakin kesal.
"Oh, masih bisa bersikap tenang?" tawanya sinis. "Setelah berhasil membuat Reno melayangkan surat perceraian, sekarang kamu juga mau mengambil posisi sebagai ibu bagi anakku?"
"Mama... Bunda..." suara Zidan terdengar pelan.
Entah yang ia panggil Inara atau Zoya, bahkan bocah itu sendiri tampak kebingungan.
Pandangan Inara beralih kepada Zidan. Wajah kecil itu tampak ketakutan. Matanya bergerak gelisah dari dirinya, Reno, lalu ke Zoya yang masih merekam. Pemandangan itu membuat dada Inara terasa sesak.
"Sudah cukup, Zoya," ujar Reno akhirnya. "Kalau marah sama aku, jangan libatkan anak dan Inara. Kamu sangat tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kita."
"Iya, aku tahu." Zoya tertawa keras. "Tapi kamu bilang jangan libatkan anak? Lucu sekali. Bukankah kalian berdua yang memanfaatkan anak supaya wanita ini kembali ke rumah?"
Reno kehilangan kata-kata, sementara Inara langsung mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Untuk pertama kalinya sejak ia datang, Reno tidak mampu membalas tatapan tersebut. Karena apa yang dikatakan Zoya memang benar. Ia telah menggunakan Zidan sebagai alasan agar Inara datang.
Melihat keduanya sama-sama terdiam, raut puas perlahan tergambar di wajah Zoya.
"Nah, kenapa diam?" tanyanya. "Bukankah tadi kalian terlihat sangat kompak?"
Inara hanya mengembuskan napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk terlibat dalam pertengkaran seperti ini, terlebih ketika dirinya seolah menjadi pusat tarik-menarik dua orang yang sama-sama dikuasai ego.
"Aku datang karena khawatir pada Zidan," ucapnya pelan. "Bukan karena Reno. Dan aku juga tidak datang untuk merebut siapa pun."
Tatapan Inara kemudian jatuh pada Zidan yang masih berdiri mematung di tengah ruangan.
"Tapi sekarang aku tahu kalau Zidan baik-baik saja."
Jantung Reno mendadak berdebar tidak nyaman. Ia mengenal nada bicara itu. Nada yang selalu muncul ketika Inara sudah mengambil keputusan.
"Inara..." panggilnya pelan.
Namun wanita itu hanya menggeleng.
"Maaf. Aku rasa aku tidak seharusnya datang ke sini."
Reno seketika menegang. Ada rasa takut yang kembali menghantam dadanya saat membayangkan Inara benar-benar pergi dan tak mau kembali lagi.
Berbeda dengan Reno yang takut kehilangan, Zoya justru tidak rela Inara pergi begitu saja. Wanita itu belum puas. Ia ingin memastikan Inara tidak akan pernah berani kembali mendekati Reno maupun Zidan.
"Benar-benar pelakor kelas kakap. Kalian semua ingat wajah ini!" serunya sambil kembali mengarahkan kamera ke wajah Inara.
Refleks Inara mengangkat tas yang dibawanya untuk menutupi sebagian wajah. Ia sama sekali tidak nyaman menjadi tontonan ribuan orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Sayangnya, tindakan itu justru membuat Zoya semakin bersemangat.
"Nah, lihat kan? Kenapa ditutup? Takut ketahuan?" sindirnya sambil terus mendekat.
Kolom komentar siaran itu dipenuhi pesan yang bermunculan tanpa henti. Ribuan komentar bermunculan silih berganti. Sebagian besar berisi hujatan yang bahkan tidak sempat dibaca satu per satu oleh Inara.
Sementara itu, senyum di wajah Zoya semakin lebar. Ia menikmati setiap detik perhatian yang didapatnya.
Namun rupanya itu masih belum cukup.
"Aku kasihan sama diriku sendiri," lanjutnya dengan nada yang sengaja dibuat bergetar. "Sudah bertahun-tahun mempertahankan rumah tangga, tapi ternyata ada wanita lain yang diam-diam masuk di antara kami."
"Sudah cukup, Zoya!" bentak Reno.
Rahangnya mengeras saat melihat kolom komentar yang terus bergerak cepat. Berkali-kali ia ingin merebut ponsel itu, tetapi niat tersebut urung dilakukan. Ia tahu betul bagaimana sifat Zoya. Jika siaran langsung itu dihentikan secara paksa, wanita tersebut justru akan membuat keributan yang lebih besar dan menyeret nama perusahaannya ke mana-mana.
Sementara itu, Zoya sama sekali tidak peduli. Wanita itu memang sengaja kembali ke rumah setelah teringat bahwa dirinya masih menyimpan kartu akses yang belum pernah dikembalikan. Dengan bantuan para petugas keamanan yang masih menganggapnya sebagai nyonya rumah, tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya masuk.
Tanpa menghiraukan siapa pun, kamera di tangannya kembali tertuju pada Inara.
"Kalian tahu gak?" ujarnya kepada para penonton. "Wanita ini memakai status ibu susu untuk mendekati anakku. Sedikit demi sedikit mengambil perhatian anakku sampai sekarang anakku lebih memilih dia daripada ibu kandungnya sendiri."
Mata Inara langsung membulat tidak percaya.
Tuduhan itu terlalu jauh dan sepenuhnya memutarbalikkan fakta.
Tanpa sadar, mata Inara mencari sosok Reno. Bukan karena mengharapkan pembelaan, melainkan ingin mengetahui apakah kali ini pria itu masih memilih diam seperti dahulu. Namun yang ia temukan hanya wajah penuh kecemasan.
Bibir Reno sempat bergerak seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak satu pun kata keluar. Itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Inara
"Zoya, hentikan," ucapnya akhirnya.
Namun Zoya justru tertawa sinis.
"Kenapa? Sakit mendengarnya?"
"Bukan." Inara menurunkan tas yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya, lalu menatap lurus ke arah wanita itu. "Aku hanya merasa kasihan."
Senyum Zoya perlahan memudar.
"Kasihan?"
"Iya."
Tatapan Inara tetap tenang meski ribuan pasang mata sedang menyaksikannya melalui layar ponsel.
"Karena sampai detik ini kamu masih berpikir kalau kasih sayang seorang anak bisa direbut."
Seisi ruangan seketika terdiam. Bahkan suara notifikasi yang sejak tadi bersahutan dari siaran langsung itu seperti menghilang begitu saja.
"Kalau Zidan menjauh, itu bukan karena ada orang yang merebutnya darimu," lanjut Inara pelan. "Kasih sayang anak tidak hilang begitu saja. Tapi anak bisa terluka karena sikap orang dewasa di sekitarnya."
"Inara, jangan sok bijak!" bentak Zoya. "Kamu tahu sendiri apa yang sudah kamu lakukan. Karena anak ini, kamu juga merebut bapaknya!"
Air mata Zidan semakin deras. Bocah itu memandang mereka satu per satu dengan tatapan bingung, seolah tidak mengerti kenapa orang-orang yang ia sayangi harus saling menyakiti seperti ini.
"Jangan sembarangan bicara. Fitnah yang kamu sebarkan hari ini bisa berbalik menjadi bumerang. Kamu bisa dihukum karena pencemaran nama baik."
Run inara run