"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Batas Sebuah Penebusan
Perubahan itu terjadi dalam semalam, begitu senyap namun dampaknya terasa luar biasa besar. Jika selama berbulan-bulan sejak Aruna kembali ke Jakarta, Baskara selalu bertindak seperti bayangan yang konstan, muncul di teras rumahnya setiap pagi, mengawasi setiap pergerakannya secara sunyi, mengirimkan rentetan pesan penuh proteksi, dan selalu ada di mana pun Aruna menapakkan kaki, kini semua itu mendadak menguap.
Baskara benar-benar berhenti. Tidak ada lagi mobil sedan mewah yang terparkir di ujung jalan kompleks. Tidak ada lagi dering telepon berkali-kali yang sengaja diabaikan Aruna hingga layarnya meredup. Pria itu tidak lagi muncul tanpa diundang, seolah eksistensinya yang mendominasi telah ditarik sepenuhnya dari pusaran hidup Aruna.
Bagi Aruna, hilangnya Baskara secara tiba-tiba justru memicu sebuah sensasi aneh yang tidak familier di dadanya. Selama ini, ia menghabiskan begitu banyak energi hanya untuk marah, menolak, dan membentengi diri dari setiap paksaan Baskara. Namun, saat jeruji tak kasatmata itu mendadak dibuka dan pria itu menghilang, atmosfer di sekeliling Aruna justru terasa terlalu lengang, meninggalkan kebingungan samar yang enggan ia akui.
Apa yang tidak diketahui oleh Aruna adalah bahwa di balik hilangnya eksistensi pria itu, Baskara sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, berperang hebat dengan egonya sendiri di dalam ruang kerjanya yang sunyi. Kalimat tenang yang dilontarkan Vano Brahmanta tempo hari terus bergaung di dalam kepalanya bagai lonceng kematian.
“Hati yang pernah dihancurkan, tidak akan pernah bisa disembuhkan dengan cara dikurung kembali.”
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, sang CEO bertangan dingin itu tersadar akan satu tamparan kenyataan yang teramat pahit, bahwa selama ini, ia selalu mengatasnamakan cinta dan perlindungan untuk setiap tindakan posesifnya pada Aruna. Padahal, ego besarnya hanya sedang memaksakan sebuah proses penebusan dosa sesuai dengan caranya sendiri, tanpa pernah memedulikan apakah cara itu justru kembali mencekik dan menyiksa batin Aruna. Baskara sadar, kehadirannya yang agresif selama ini tidak berbeda dengan monster masa lalu yang terus memburu mangsanya. Maka, dengan sisa-sisa hati yang remuk, Baskara memilih mundur demi memberikan ruang bagi Aruna untuk bernapas bebas.
Satu minggu kemudian, sebuah agenda kegiatan bantuan hukum gratis bagi para petani daerah membawa Aruna pergi ke sebuah wilayah pinggiran kota yang cukup terpencil dan berjarak jauh dari pusat ibu kota. Sialnya, sore itu cuaca buruk melanda kawasan tersebut secara ekstrem. Hujan badai turun dengan intensitas tinggi disertai angin kencang, membuat akses jalanan berlumpur dan suhu udara merosot drastis hingga menusuk tulang.
Aruna, yang sejak pagi memaksakan diri turun ke lapangan tanpa istirahat yang cukup, akhirnya ambruk akibat kelelahan fisik yang luar biasa. Di dalam posko sederhana yang semipermanen, kondisi jantung pascaoperasinya mendadak menurun, membuat wajahnya pias memutih dan napasnya memburu satu-satu karena pasokan udara yang mendingin.
Namun, dalam momen darurat itu, sebuah kejutan terjadi. Sosok yang pertama kali menyeruak masuk menembus tirai hujan dan muncul di depan Aruna bukanlah Baskara Dirgantara.
Melainkan Vano Brahmanta.
Secara kebetulan yang masuk akal, firma arsitektur milik Vano memang sedang memegang proyek pembangunan fasilitas sosial yang lokasinya berada di distrik yang sama dengan kegiatan bantuan hukum Aruna. Begitu mendengar kabar dari relawan bahwa ada seorang aktivis hukum bernama Aruna yang mendadak drop, Vano langsung bergegas menuju posko.
Kedewasaan Vano kembali terlihat dari bagaimana ia memperlakukan Aruna di masa-masa rentan itu. Pria berkacamata itu menolong dengan batas yang sangat wajar dan penuh rasa hormat. Tidak ada aksi heroik yang berlebihan, tidak ada pelukan protektif yang memaksa, dan ia sama sekali tidak mencoba menggendong Aruna guna memamerkan kekuatannya. Vano hanya bergerak tenang mengambilkan secangkir teh jahe hangat, menyerahkan selembar selimut kering, lalu duduk di kursi sebelah dengan jarak aman yang sopan. Ia hanya menemani, mengajak Aruna berbicara ringan demi mengalihkan rasa sakitnya, dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja tanpa merasa terintimidasi.
Di sisi lain kota, Baskara baru mendapatkan kabar mengenai kondisi darurat Aruna dengan sangat terlambat akibat hambatan sinyal dan jadwal rapat pemegang saham yang tidak bisa ditinggalkan. Begitu laporannya masuk, Baskara langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan menembus badai, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri demi bisa mencapai posko daerah terpencil tersebut.
Namun, saat roda mobilnya berhenti di depan posko berlumur lumpur itu, badai sudah mereda, dan semuanya telah berakhir dengan tenang.
Baskara melangkah masuk dengan pakaian yang setengah basah dan napas yang terengah-engah. Dan di sanalah ia membeku, tepat di ambang pintu posko. Ia melihat Aruna sudah duduk dengan tenang, menggenggam cangkir hangat dengan gurat wajah yang berangsur membaik. Di sampingnya, Vano sedang merapikan beberapa dokumen riset milik Aruna dengan gerakan yang teratur dan santun.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Baskara melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih menakutkan daripada deretan makian atau tatapan benci yang biasa Aruna layangkan kepadanya.
Aruna sama sekali tidak terlihat marah berada di dekat Vano. Ia tidak sedang tersenyum lebar, tidak pula sedang menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta yang klise. Wajah Aruna hanya memancarkan sebuah ketenangan. Sebuah ketenangan yang murni dan damai, sesuatu yang tidak pernah bisa Aruna dapatkan atau tunjukkan setiap kali berada di dekat Baskara. Selama ini, kehadiran Baskara selalu memicu gemuruh kemarahan, kepanikan, dan getaran trauma pada diri Aruna. Dan melihat fakta bahwa pria lain mampu memberikan kedamaian sesederhana itu tanpa usaha keras, membuat seluruh sendi tubuh Baskara mendadak lumpuh seketika oleh rasa takut yang luar biasa.
Puncaknya terjadi pada malam itu juga. Baskara kembali ke apartemen mewahnya di kawasan elit Jakarta dalam kondisi jiwa yang hancur berkeping-keping. Di dalam ruang kerjanya yang gelap dan sunyi tanpa suara, pria itu melangkah mendekat ke arah lemari besi tempat ia menyimpan sebuah kotak dokumen rahasia.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Baskara membuka kembali seluruh arsip lama saat mereka masih berada di London. Lembar demi lembar berkas akademik milik Aruna ia bentangkan di atas meja kayu solid.
Ia menatap barisan nilai-nilai rendah yang sengaja ia jatuhkan demi kepuasan egonya yang buta dulu. Ia membaca lembar demi lembar laporan evaluasi yang penuh dengan kalimat kritik tajam dan hinaan tertulis yang pernah ia goreskan dengan tinta hitam. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada tumpukan surat permohonan dispensasi medis dan revisi proposal yang pernah Aruna kirimkan ke mejanya, surat-surat yang dulu ia abaikan dengan angkuh tanpa pernah sudi ia baca hingga tuntas.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Baskara membaca semua untaian kalimat itu bukan lagi sebagai seorang profesor arogan yang merasa paling berkuasa di atas mimbar kuliah. Melainkan sebagai seorang Baskara yang telah jatuh cinta teramat dalam pada sosok Aruna Prawijaya.
Di bawah temaram lampu meja, setiap kata penolakan dan hinaan yang pernah ia lontarkan di masa lalu kini berbalik arah, menjelma menjadi belati tajam yang menusuk dan mencabik-cabik dadanya sendiri. Melalui tulisan-tulisan itu, Baskara baru benar-benar menyadari secara utuh betapa hancurnya hidup Aruna, betapa menderitanya mental gadis itu, dan betapa kejamnya ia telah merenggut masa muda Aruna hingga membuat jantung gadis itu menyerah dalam koma.
Air mata penyesalan yang teramat pekat akhirnya luruh di sudut mata sang CEO yang selama ini terkenal tak punya hati. Konflik terbesar di dalam hidup Baskara saat ini bukanlah tentang bagaimana ia harus menyingkirkan Vano dari sisi Aruna. Melainkan sebuah pertarungan batin yang jauh lebih menyakitkan dan mustahil untuk dimenangkan, Baskara harus berhadapan dengan dosa dan kekejaman masa lalunya sendiri, sebuah kesalahan yang kini telah mengunci rapat pintu maaf di hati wanita yang paling ia cintai.