NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKALI LAGI, AKU CIUM

BAB 29 — SEKALI LAGI, AKU CIUM

Sejak malam Arsen pulang lebih cepat dari biasanya, hati Keisha jadi gelisah tak menentu. Dan ia sama sekali tidak mau mengakui alasannya.

Ia membuka jendela kamar pagi-pagi buta hanya untuk mengintip apakah mobil hitam kesayangannya itu sudah parkir di halaman atau belum.

Tidak ada.

Ia mengecek ponselnya berulang kali setiap lima menit sekali, berharap ada nama yang muncul di layar.

Tidak ada pesan masuk.

Ia kesal pada dirinya sendiri.

Kenapa sekarang justru gilirannya yang menjadi orang yang menunggu?

 

Di ruang tamu, Leo sedang sibuk mencorat-coret kertas dengan krayon.

“Mama.”

“Hm?” jawab Keisha sambil pura-pura membaca majalah.

“Kalau kangen orang... perut rasanya sakit ya?”

Keisha langsung menoleh tajam.

“Siapa bilang begitu?”

“Aku bilang.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang perut Leo sakit... soalnya kangen Papa,” jawab anak itu polos dengan wajah sedih.

Keisha menghela napas panjang, lega sekaligus kesal. Kirain siapa, ternyata sama.

Leo mengangkat alis kecilnya menatap wajah ibunya.

“Mama juga?” tanyanya menyelidik.

“Enggak! Tidak sama sekali!”

“Kok pipi Mama merah?”

“Karena kamu cerewet! Banyak tanya!” gerutu Keisha sambil memalingkan wajah.

 

Menjelang siang, Keisha pergi ke studio desain.

Begitu ia melangkah masuk, Nadia sudah menyeringai lebar melihat wajahnya yang terlihat kusut dan kurang tidur.

“Kamu kurang tidur ya?”

“Banyak kerjaan.”

“Bohong. Kamu lagi nungguin orang kan?”

“Tidak ada!”

“Kalau tidak nungguin orang, kenapa dari tadi kamu lihat ke arah pintu terus? Sudah tiga kali aku lihat!” seru Nadia.

Keisha membeku sempurna. Ketahuan total.

Nadia pun tertawa puas melihat tingkah temannya.

 

Tiba-tiba Rio datang membawa setumpuk berkas revisi.

Ia duduk di sebelah Keisha dan mulai menjelaskan beberapa detail teknis proyek dengan sabar.

“Kamu oke-oke saja? Wajahmu kelihatan capek sekali hari ini.”

“Aku baik-baik saja kok.”

“Kalau capek, nanti meeting sore biar aku yang gantikan saja. Istirahatlah.”

Keisha tersenyum sopan dan berterima kasih.

Rio tampak ragu sejenak, lalu mengumpulkan keberanian.

“Gini Sha... kalau kamu mau, habis kerja kita makan malam bareng yuk? Rayain proyek jalan terus.”

Belum sempat Keisha menjawab atau menolak, Nadia yang ada di meja depan tiba-tiba menatap ke arah pintu masuk dan berbisik dengan nada dramatis,

“Bencana alam datang...”

Keisha menoleh cepat.

Arsen berdiri di sana.

Memakai kemeja warna abu gelap yang membuatnya terlihat sangat gagah dan dewasa, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun aura posesif dan cemburunya terasa sampai ke ubun-ubun sebelum ia sempat berbicara.

 

Arsen berjalan tenang mendekati meja mereka.

Tatapannya tajam menatap Rio sebentar, lalu beralih ke kursi kosong yang ada tepat di samping Keisha.

Tanpa basa-basi, ia menarik kursi itu dan duduk dengan santai seolah itu kursi kehormatan.

“Lanjutkan saja. Aku dengar,” katanya singkat.

Rio tampak menahan napas, suasana jadi canggung sekali.

“Maaf Mas, ini kan pembahasan kerja internal tim...”

“Aku suka belajar hal baru. Silakan,” potong Arsen santai.

Keisha langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Malu. Sangat malu.

 

Rio berusaha tetap profesional dan tenang sekuat tenaga. Ia mulai menjelaskan soal sketsa desain dan material.

Arsen mengangguk-angguk sesekali seolah-olah dia adalah investor utama yang akan menanam modal milyaran.

Tiba-tiba di tengah penjelasan, pria itu bertanya dengan nada datar yang mematikan,

“Kenapa kamu sering sekali mengajak dia makan?”

Rio terdiam kaku.

Keisha langsung menendang pelan kaki Arsen di bawah meja sambil menatap tajam.

“ARSEN!”

Rio menjawab dengan hati-hati,

“Karena kami... teman kerja, Mas.”

Arsen bersandar malas ke kursi, menatap Rio dengan tatapan menantang.

“Aku juga temannya. Tapi aku belum pernah ditolak kalau ngajak.”

UKK!

Nadia di pojokan pura-pura batuk keras untuk menahan tawa yang hampir meledak.

Keisha rasanya ingin pindah negara saja saat itu juga.

 

Begitu Rio akhirnya pergi dengan sejuta alasan dan wajah tak nyaman, Keisha langsung menyeret pergelangan tangan Arsen masuk ke ruang pantry kecil yang kosong.

“Kamu tuh memalukan banget tau nggak sih! Sifatmu keterlaluan!”

“Aku cuma jujur.”

“Kamu ganggu pekerjaanku! Kamu bikin aku tidak profesional!”

“Aku cemburu, Sha.”

Keisha terhenti. “Kamu bangga banget bilang itu?”

“Tidak bangga. Tapi itu kenyataan.”

Keisha memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.

“Kamu ini tidak normal.”

Arsen melangkah maju satu langkah, mendekatkan jarak mereka menjadi sangat dekat.

“Tapi kamu tetap suka kan aku begini?”

Jantung Keisha seakan melonjak keluar dari rongganya.

“Aku tidak suka!” bantahnya keras.

“Kalau tidak suka, kenapa dari dulu kamu tidak pernah suruh security mengeluarkan aku dari tempat mana pun aku datang?”

Keisha terdiam.

Ia tak punya jawaban untuk itu.

Dan ia sangat membenci kenyataan itu.

 

Sore harinya, hujan turun lagi dengan deras disertai angin kencang.

Suasana di studio jadi sepi. Nadia dan yang lain sudah pulang duluan demi menghindari macet.

Keisha masih sibuk merapikan file di komputer ketika tiba-tiba lampu berkedip-kedip dan listrik padam sesaat. Petir menyambar dengan suara yang sangat keras.

Ia refleks kaget dan menjerit kecil.

Arsen yang sejak tadi duduk diam menunggunya langsung berdiri sigap.

“Kamu takut petir?” tanyanya cepat.

“Tidak! Aku tidak takut!” jawabnya cepat.

DERRRR!

Suara petir kembali menggema keras.

Refleks tanpa sadar, tangan Keisha mencengkeram kuat lengan kemeja Arsen untuk mencari pegangan.

Keduanya langsung diam membeku.

Tangan wanita itu masih erat memegang baju pria itu.

Arsen menunduk menatap tangan kecil itu, lalu mendongak menatap wajahnya dengan senyum tipis.

“Katanya tidak takut?”

Keisha buru-buru melepaskan tangannya seolah tersetrum listrik.

“Itu... itu cuma refleks!”

“Aku suka refleksmu kalau begitu,” jawab Arsen pelan, suaranya terdengar sangat menggoda.

 

Mereka akhirnya pulang bersama di tengah hujan.

Di dalam mobil, suasana hening namun penuh dengan makna yang tak terucapkan. Cahaya lampu jalan memantul di kaca mobil yang basah, menciptakan bayangan-bayangan indah.

“Aku serius soal Rio,” kata Arsen tiba-tiba memecah keheningan.

“Apa lagi sih?”

“Jangan dekat-dekat sama dia. Jangan biarkan dia berharap.”

“Kamu tidak berhak mengatur hidupku dan pergaulanku!”

“Aku tahu. Aku sadar aku tidak punya hak.”

“Terus kenapa masih bilang?”

Arsen menatap lurus ke jalan yang basah dan gelap, suaranya terdengar serius dan dalam.

“Aku tetap minta. Karena aku sedang berusaha jadi sabar... tapi aku punya batas kesabaran.”

Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu yang membuat napas Keisha tertahan di tenggorokan. Sesuatu yang berbahaya.

 

Sesampainya di rumah, Leo sudah tertidur pulas di kamarnya karena kelelahan menunggu. Rumah terasa sangat sepi, lampu-lampu sudah sebagian dimatikan. Ibu dan Ayah juga sudah masuk kamar.

Keisha membuka pintu depan dan berhenti sejenak.

“Terima kasih sudah antar.”

Arsen tidak langsung masuk ke mobil. Ia justru berdiri tepat di belakangnya.

“Keisha.”

“Hm?”

“Aku tanya satu kali saja. Jawab jujur.”

“Apa?”

“Kamu suka sama dia? Sama Rio?”

“Rio?”

“Ya.”

Keisha memutar bola matanya malas.

“Tidak lah! Masa iya. Kami cuma teman kerja.”

“Yakin?”

“Kenapa sih kamu sikapnya kayak anak SMA yang lagi kasmaran?!” cibir Keisha.

Arsen melangkah maju mendekat, kini jarak mereka tinggal beberapa senti saja.

“Karena jujur saja... aku belum pernah segugup ini pada wanita mana pun selama hidupku.”

Keisha terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang sekali.

Pria itu kini terlalu dekat. Ia bisa merasakan hangatnya napas pria itu menyentuh wajahnya.

“Dan kamu?” tanya Arsen pelan, suaranya berat dan serak.

“Apa?”

“Kamu juga... segugup ini juga nggak sama aku?”

Keisha mundur setengah langkah sampai punggungnya bersentuhan dengan daun pintu yang tertutup. Ia terjebak.

“Aku mau masuk...”

“Jawab dulu.”

“Tidak!”

“Bohong.”

“Aku benci kamu, Arsen!”

“Bohong lagi.”

Arsen menempelkan satu tangannya di pintu tepat di samping kepala Keisha, mengurungnya di sana. Tatapannya jatuh tepat ke bibir wanita itu, penuh kerinduan yang ditahan bertahun-tahun.

“Keisha...”

“Kalau kamu suruh berhenti sekarang... aku akan mundur dan pergi.”

Keisha membuka mulutnya ingin berkata 'berhenti'.

Tidak ada satu pun suara yang keluar dari bibirnya.

Ia diam.

Detik berikutnya, Arsen menunduk dan menciumnya.

Ciuman itu lembut.

Sangat lembut.

Singkat, namun cukup untuk membuat seluruh kaki Keisha terasa lemas dan dunia seakan berhenti berputar.

Saat Arsen mundur perlahan, keduanya sama-sama terengah-engah, napas mereka memburu tak beraturan.

Keisha menatapnya dengan mata terbelalak syok.

“Kamu...”

Arsen menelan ludah, matanya gelap menatap wanita itu.

“Kalau kamu marah... tampar aku. Aku tidak akan menahan.”

Keisha mengangkat tangannya perlahan.

Arsen diam tak bergerak, siap menerima apapun.

Namun tangan itu tidak mendarat di pipinya.

Tangan itu justru berhenti tepat di dada bidang pria itu.

Keisha bisa merasakan detak jantung Arsen yang berpacu sama kacaunya dengan jantungnya sendiri.

Arsen tersenyum tipis, senyum kemenangan yang sangat tampan.

“Kalau begitu... sekali lagi, aku cium.”

BYUR!

Keisha mendorong dada pria itu dengan panik, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras.

BRUK!

Di balik pintu tebal itu, Keisha bersandar lemas sambil tangan gemetar memegang bibirnya sendiri yang masih terasa hangat.

Sementara di luar sana, di bawah guyuran hujan...

Arsen tertawa pelan. Tawa lega dan bahagia.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hatinya terasa utuh kembali.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
wiwi: makasih kak😄
total 3 replies
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!