Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah menyerahkan handuk, Yudha segera mundur dan tidak berani menoleh lagi. Sejujurnya, ia sempat berharap ada "kecelakaan" kecil seperti saat ia bersama Gisel dulu, di mana ia punya alasan untuk menerobos masuk. Sayangnya, keberuntungan seperti itu tidak datang dua kali.
Yudha kembali ke sofa dan tanpa sadar mengeluarkan Cermin Pusaka miliknya. Ia mendapati bahwa "Poin Keyakinan"-nya telah meningkat pesat hingga mencapai lebih dari 1000 poin. Sebelumnya, ia telah menggunakan 2000 poin untuk mengaktifkan mantra "Cahaya Suci". Selanjutnya, ia akan segera bisa membuka kemampuan untuk melihat masa depan atau prekognisi.
Pada tingkat kedua ini, Yudha sudah membuka kemampuan Terbang dan Cahaya Suci. Hanya tersisa satu kemampuan lagi sebelum ia bisa naik ke tingkat ketiga. Cermin ini memiliki sembilan tingkat kekuatan, dan ia baru di awal tingkat kedua. Ia membayangkan betapa hebatnya kekuatan yang menantinya di tingkat-tingkat selanjutnya.
Malam itu, saat tiba waktunya istirahat, Yudha pergi memeriksa kamar tamu. Namun, ia mendapati kasurnya sangat berdebu dan selimutnya terasa lembap karena sudah lama tidak dipakai. Ia terlalu malas untuk bersih-bersih, tapi ia juga tidak tega membiarkan Hana tidur di sana.
Karena hanya untuk satu malam, Yudha merelakan kamarnya sendiri untuk Hana, sementara ia memutuskan untuk beristirahat di sofa atau membereskan kamar lain seadanya.
Tiba-tiba, ponsel Yudha bergetar. Telepon dari Jevan. Kabar baik: teman pensiunan tentaranya sudah setuju untuk bergabung menjadi pelatih. Yudha merasa sangat gembira. Jika 200 anak buahnya bisa dilatih dengan standar militer, mereka akan menjadi kekuatan tempur yang sangat mengerikan di Kabupaten Bandung.
Jevan juga memberi tahu bahwa ia sudah menemukan penjual senjata api. Yudha segera mencatat nomor kontaknya. Namun, ia tidak langsung menelepon; ia tahu ini bukan waktu yang tepat. Sang penjual dikabarkan sedang berada di area pesisir tapi kesulitan mencari pembeli setelah gudang lamanya digerebek polisi. Yudha memutuskan untuk memantau situasi selama beberapa hari agar bisa menekan harga.
Melihat hari masih belum terlalu larut, Yudha mengenakan pakaian serba hitamnya—identitas "Iblis Hitam"—dan keluar rumah untuk melakukan beberapa "kebajikan" kecil di sekitar kota.
"Jambret! Jambret!"
Baru saja Yudha membatin soal keamanan kota yang terlihat kondusif, teriakan itu memecah kesunyian. Ia melihat dua pemuda di atas motor baru saja merampas kalung emas seorang ibu tua. Sang ibu mencoba mengejar dengan sisa tenaganya, tapi motor itu melesat cepat.
Yudha merasa sangat geram. Merampas milik orang tua di tempat umum benar-benar memicu amarahnya. Tanpa membuang waktu, ia segera mengejar motor tersebut. Kedua jambret itu tampak sangat jemawa, bersiul sombong seolah-olah mereka sudah memenangkan mangsanya.
Namun sesaat kemudian, tatapan mereka berubah ngeri. Mereka melihat seorang pemuda bertopi baseball seolah melayang turun dari langit dan langsung menerjang ke arah mereka. Dengan satu tendangan keras dari Yudha, motor itu oleng dan tersungkur hebat ke aspal.
Kedua pemuda itu bangkit dengan geram, tidak menyangka akan ada orang yang berani menghentikan mereka secara brutal.
"Sialan! Berani sekali kamu cari mati!" bentak salah satu dari mereka sambil menghunuskan senjata tajam.
Salah satu dari mereka menghunus belati. Kilatan perak membelah kegelapan saat ia mencoba menghujamkannya ke arah Yudha. Namun, bagi Yudha yang telah mencapai tingkat kedua teknik Naga Tersembunyi, gerakan itu terasa sangat lambat. Dalam sekejap mata, Yudha mencengkeram pergelangan tangan pria itu dan memutarnya. Si pengendara motor menjerit melengking seperti babi yang disembelih.
Melihat rekannya tumbang, pemuda satu lagi yang memegang barang jarahan meradang. Ia menghantamkan gembok motor yang berat ke arah kepala Yudha.
Yudha menyipitkan mata. Dengan gerakan kilat, ia menangkap lengan pemuda itu, memutar tubuhnya, dan melakukan bantingan judo yang telak ke aspal. Suara berdebam diikuti rintihan kesakitan menggema di jalanan yang sepi. Baru saja Yudha hendak mengeluarkan ponsel untuk melapor, tiba-tiba tiga sepeda motor lain menderu dari arah samping. Masing-masing membawa kayu pemukul, mereka langsung mengepung Yudha dengan formasi melingkar.
"Wah, ternyata mereka punya gerombolan juga," batin Yudha. Tatapannya berubah dingin.
Tiba-tiba, seorang pemuda menyerang dari belakang. Kayu pemukul itu diayunkan keras ke arahnya. Dengan tenang, Yudha menghindar tipis, lalu menangkap ujung kayu tersebut. Dengan sekali sentakan tenaga yang luar biasa, motor itu kehilangan keseimbangan dan penumpangnya terjungkal ke aspal.
Di saat yang sama, motor-motor lain mengayunkan tongkat ke arah Yudha. Wajah Yudha mendingin. Ia melepaskan serangkaian tendangan berputar (spinning back kick). Gerakannya begitu cepat hingga yang terlihat di kegelapan hanyalah bayangan kabur. Sebelum para pengendara itu sempat bereaksi, dada mereka terhantam keras. Motor-motor itu oleng, bahkan salah satu penumpangnya sampai terpental ke udara.
Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
"Sialan, habisi dia!" teriak salah satu dari mereka yang masih bisa berdiri. Meski syok melihat kemampuan Yudha, mereka kembali menyerang dengan membabi buta karena merasa menang jumlah. Yudha tidak memberi ampun. Dua sapuan kaki berturut-turut merobohkan dua orang lagi. Kemudian, ia menangkap tongkat yang mengayun ke arahnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya melayangkan tinju telak ke rusuk lawan. Pemuda itu langsung ambruk menahan napas. Terakhir, ia menyikut pemuda yang mencoba menyergap dari belakang, lalu membantingnya melewati bahu.
Hanya dalam hitungan menit, delapan pemuda itu terkapar tak berdaya. Yudha menepuk-nepuk tangannya dengan bosan; ini bahkan tidak cukup untuk sekadar pemanasan. Ia memutuskan untuk menelepon kantor polisi tempat ibunya bertugas. Meski ibunya sedang tidak piket, prestasi dalam meringkus komplotan begal ini akan tetap menjadi poin tambahan bagi ibunya sebagai Kepala Polsek di wilayah ini.
Yudha tidak menyadari bahwa di balik kegelapan, seorang wartawan televisi tengah merekam seluruh kejadian itu dengan kamera ponselnya.
Reporter itu adalah jurnalis media online yang sedang mencari berita di area tersebut. Naluri jurnalisnya bangkit begitu mendengar teriakan perampokan. Ia mengikuti para pelaku dan justru menyaksikan aksi heroik ini. Hatinya berdegup kencang; ini adalah informasi eksklusif! Apalagi, ia merasa familiar dengan kostum yang dikenakan Yudha—bukankah itu sosok "Iblis Hitam" yang sempat viral beberapa waktu lalu? Jika benar, video ini akan menjadi trending nomor satu!
Melihat ibu tua yang tadi dirampok datang dengan napas terengah-engah, Yudha segera mengembalikan kalung emas miliknya.
"Terima kasih banyak, Nak! Terima kasih sekali!" Ibu itu menerima kalungnya dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Bu," jawab Yudha dengan senyum tipis di balik penyamarannya.