Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Reno saat ini hanya bisa menyesali perbuatannya. Di dalam mobil, ia termenung cukup lama, terlebih setelah menyadari bahwa semua yang selama ini ia yakini ternyata hanyalah kesalahpahaman. Bahkan ucapan Nila masih terus terngiang di kepalanya.
"Asal kamu tahu, Reno. Saat itu aku dan Inara hanya sedang latihan naskah. Memang lelaki sepertimu pantas kehilangan Inara."
Hembusan napasnya terdengar berat. Reno menyandarkan kepala ke kursi, menatap kosong ke depan. "Jadi selama ini hanya egoku saja? Apa benar cintaku ke Inara cuma tentang menerima tanpa pernah benar-benar memberi?"
Kalimatnya terputus saat kenangan demi kenangan bermunculan di benaknya.
Dulu, ia memang perhatian pada Inara. Namun seiring waktu, perhatian itu perlahan memudar, terkikis kesibukan dan beban pekerjaan yang selalu ia jadikan alasan. Sementara Inara tetap bertahan, tetap memberi tanpa menuntut balasan.
Brak!
Reno memukul stir kemudi dengan keras. "Bodoh sekali kamu, Ren."
Ia mengusap wajah kasar, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Penyesalan itu memang terlambat, tetapi setidaknya sekarang ia tahu satu hal. Ia tidak ingin kehilangan Inara. Dan demi mendapatkan wanita itu kembali, ia rela melakukan apa saja.
Mata Reno langsung menajam saat sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Zidan..."
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Inara sangat sayang sama Zidan. Kalau anak itu yang memohon, pasti hati Inara luluh."
Tanpa membuang waktu lagi, Reno segera menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya membelah jalanan. Tak butuh waktu lama hingga mobil itu berhenti di halaman rumah. Namun baru saja Reno keluar dari mobil, suara keributan dari dalam rumah langsung menyambutnya.
"Bunda Oya, Idan ndak mau makan itu!"
"Kamu masih kecil kok pilih-pilih makanan! Kamu tahu gak di luar sana banyak anak yang gak bisa makan? Kamu terlalu dimanja sama Inara!" oceh Zoya dengan nada tinggi.
"Idan gak dimanja! Mama Ala tahu apa yang Idan suka!" bantah Zidan.
"Argh!"
Terdengar suara benda dibanting dari dalam.
"Bisa gila aku kalau terus dengar Inara, Inara, Inara!" bentak Zoya penuh emosi. "Zidan, kamu mau aku bikin mamamu itu gak bisa lihat kamu lagi, hah?!" Ancaman itu langsung membuat tubuh kecil Zidan gemetar.
"Jangan! Bunda Oya jahat!"
Tangisan nyaring bocah itu membuat rahang Reno mengeras seketika. Tanpa pikir panjang, ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
"Zoya!"
Suara Reno menggelegar memenuhi ruangan. Tatapannya memerah menahan amarah, terlebih saat melihat Zidan berlari menghampirinya dalam keadaan gemetar sebelum memeluk erat kakinya.
"Ayah..." lirih bocah itu dengan napas tersengal karena menangis.
Reno spontan menunduk, lalu mengusap kepala Zidan pelan. Namun sorot matanya tetap tertuju tajam pada Zoya.
Wanita itu yang tadi tampak meledak-ledak perlahan mengendurkan ekspresinya. Ia mencoba terlihat tenang sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ren, ini gak seperti yang kamu pikirkan," ucap Zoya cepat. "Aku cuma sedang mengajari Zidan supaya lebih dewasa."
Reno terkekeh pendek, tetapi tidak ada sedikit pun nada lucu di sana.
"Lebih dewasa?" ulangnya pelan penuh penekanan. Ia menatap meja makan yang berantakan, piring yang jatuh, serta wajah Zidan yang masih basah oleh air mata.
"Zoya, kamu pikir aku masih bisa dibohongi lagi?" suara Reno mulai meninggi. "Zidan itu masih kecil, tapi kamu mengancam dia seperti tadi?"
"Aku cuma emosi sesaat!"
"Emosi?" Reno menatap tajam wanita itu. "Kamu sadar gak kalau ucapanmu bisa bikin dia trauma?"
Zoya langsung terdiam.
Reno menarik napas kasar, lalu mengangkat tubuh kecil Zidan ke dalam gendongannya. Bocah itu langsung melingkarkan tangan di leher sang ayah seolah mencari perlindungan.
"Ayah... Idan mau Mama Ala," bisik Zidan lirih.
Reno memejamkan mata sesaat sebelum mengusap punggung putranya pelan.
"Iya," jawabnya rendah. "Kita bakal bikin Mama Ala kembali sama kita."
Kalimat itu membuat wajah Zidan sedikit berbinar di tengah sisa tangisnya. Namun beberapa detik kemudian, tatapan Reno kembali berubah dingin saat mengarah pada Zoya.
"Sekarang sudah gak ada alasan buat kamu tinggal di sini, Zoya." Sudut bibir Reno terangkat tipis, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Surat cerai dan hak asuh anak akan segera kamu terima."
Wajah Zoya langsung pucat. "Ren, kamu gak bisa memperlakukan aku seperti ini. Aku ini—"
"Kamu apa?" potong Reno tajam. "Ibu yang meninggalkan anaknya setelah melahirkan? Atau istri yang pergi saat suaminya jatuh?"
Zoya mengepalkan tangan. "Aku punya alasan kenapa melakukan semua itu."
"Alasan?" Reno tertawa miris. "Gak ada alasan untuk keegoisan, Zoya."
Ia menunjuk pintu keluar dengan tatapan penuh amarah. "Pergi."
Zoya menatap Reno tidak percaya. "Kamu serius mengusir aku?"
"Apa wajahku terlihat bercanda?" balas Reno dingin. "Kalau kamu masih tetap di sini, aku sendiri yang bakal panggil satpam."
Ancaman itu membuat Zoya membisu. Dadanya naik turun menahan emosi dan rasa malu yang mulai menghimpit. Pada akhirnya, ia sadar tidak ada gunanya melawan sekarang.
"Baik." Zoya mengambil tasnya kasar. "Aku akan pergi. Tapi ingat, Ren... apa yang kamu inginkan gak akan semudah itu kamu dapatkan. Aku gak akan diam saja."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Zoya benar-benar pergi meninggalkan rumah.
Pintu yang tertutup keras menyisakan keheningan panjang. Reno mengembuskan napas berat sebelum kembali fokus pada Zidan yang masih berada dalam gendongannya.
"Zidan tenang aja. Ayah gak akan biarin kejadian kayak tadi terulang lagi."
Bocah kecil itu mengusap matanya yang sembab.
"Idan salah, Yah?" tanyanya polos. "Idan gak benci Mama Ala... Idan sayang Mama Ala."
Dada Reno terasa sesak mendengar pengakuan itu. Awalnya ia pikir Zidan akan membenci Inara karena kehadiran Zoya. Namun ternyata tidak. Anak kecil itu justru masih menaruh seluruh kasih sayangnya pada wanita yang telah merawatnya sejak kecil. Kenyataan itu membuat Reno merasa semakin memiliki harapan. Senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya.
"Kalau begitu..." Reno mengusap kepala Zidan lembut. "Ayo, kita jemput Mama Ala kembali."
Run inara run