Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman di Selatan
Shopia bermain di taman menyusuri bunga-bunga bermekaran tanpa beban. Hanya beberapa tempat saja yang tidak boleh di lewati Lucas yang tidak boleh di lewati nya itu pun hanya beberapa saat ketika pria itu ingin lewat. Sebab Lucas tidak ingin melihat kecuali ketika sedang makan, entah mengapa.
Namun, gadis kecil itu tak ambil pusing dan merasa tidak membutuhkan orang tua mungkin karena dia sudah biasa hidup sendiri serta merasakan rasa sakit. Dia sudah terbiasa dengan hidup keras dan bersikap bodoh amet.
Tapi, yang menjadi penasarannya adalah kediaman yang berada di selatan, tidak terlalu jauh dari kediaman utama. Namun, juga nampak terurus, 'jangan-jangan benar pria itu memelihara monster yang tidak boleh aku lihat, jangan dia bisa mengigit, seperti macan 100cc atau reptil yang mengigit bisa langsung pergi ke alam baka,' gumam Shopia dalam hati.
"Aku tidak takut, ayo pergi kesana, aku sudah pernah mati sekali dan aku juga sudah di aniaya berkali-kali, kalau mati sekali lagi tidak masalah," tantang Shopia pada dirinya sendiri.
Shopia berjalan menuju ketempat itu sembari celingak-celinguk melihat ke sekitarnya berharap tidak ada yang mengikutinya. Dia tidak ingin berakhir dilarang oleh para bodyguard ayahnya yang pasti sering berpatroli di sekeliling lingkungan itu.
Tidak berselang lama, akhirnya dia sampai tanpa di ketahui siapapun. Shopia kini menatap rumah yang cukup besar tapi tidak cukup dari rumah utama. Terlihat rumah itu cukup terurus dengan halaman yang bersih tanpa sampah daun.
Dengan batu alami dindingnya dengan cat berwarna biru tua, seperti rumah-rumah di jaman belanda saja, memang sangat klasik namun tetap saja mengerikan bagi Shopia. Namun, Shopia tetap bertekad kuat dengan mengepalkan tangannya, mencoba mengetuk pintu berharap sang pemilik rumah membukakan pintu. Meskipun dia tidak yakin yang berada di dalam adalah manusia.
Selepas dua kali mengetuk Shopia menyadari bahwa pintu ruangan itu tidak terkunci dengan perlahan kaki kecil itu melangkah kakinya memasuki ruangan, "Halo, sepeda?!" panggil Shopia mencoba masih ramah pada pemilik rumah.
Rumah itu nampak bersih dan cukup mengkilap tidak seperti tempat lain yang pernah dia ingat, rumah itu sama bersihnya dengan rumah utama hanya saja gaya saja yang klasik. Namun, sepanjang jalan dia tidak menemukan siapapun.
Langkah kaki kecilnya terhenti di ruang tengah menuju kelantai atas terlihat seorang anak kecil dengan wajah datarnya menuruni tangga ini menatap Shopia penuh selidik.
Begitupun dengan Shopia yang penasaran dengan wajah datar dengan tatapan kosong dan sama sekali tidak punya emosi itu. Shopia melihatnya dia tidak memiliki baju yang bagus seperti orang-orang di rumah utama bahkan pakaiannya pun tidak lebih jelek dari para pelayan di kediaman utama.
Shopia perhatikan lagi lekat-lekat tenyata wajah terlihat kusam dan sepertinya anak laki-laki itu lebih tua tiga tahun dari dirinya. Meskipun di baliknya terlihat jelas wajah tampannya yang mirip... Lucas Alexandro.
"Jangan! Jangan!" pekik Shopia menutup mulutnya.
Dia baru ingat di dalam cerita Love Obsession, ada salah satu tokoh dalam cerita yang di gambarkan sebagai anak dari Lucas, dan Helena yang turut di abaikan. Namun, masih mendapatkan cinta dari ibunya semasa Helena hidup.
"Tenyata, aku yang paling kasihan disini," miris Shopia menurunkan padangannya.
"Kalau tidak salah namanya....Na- Nathaniel William Alexandro, yang dikurung di sayap rumah terpisah dan sama dengan Shopia tidak pernah di anggap oleh ayahnya. Dia kakak kandung Shopia, namun hanya melihat kematiannya sebab Lily yang di anggapnya sebagai motivasinya bertahan hidup," ujar nya tercengang dan bergumam sendiri sembari mengosok bahunya.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di tempat ku?" sinis Nathan dengan tatapan dinginnya seolah akan membuat Shopia menjadi beku di tempat.
"Aku hanya melihat-lihat saja, tempat ini bagus," kilah Shopia menatap sekelilingnya berharap anak laki-laki itu akan membiarkannya.
Namun, bukannya malah meninggalkan Shopia, Nathan makin mendekat. Shopia menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan matanya, 'Amit-amit, balik... balik jangan kesini, pait-pait!' gumamnya dalam hati berharap Nathan mengurungkan niat untuk mendekati Shopia.
"Apakah kau tau aku tidak suka tempatku di usik," gertaknya.
Suara itu kini terdengar jelas di telinga seperti dia sedang berbisik di telinga Shopia, dengan perlahan gadis kecil itu membuka matanya dan ingin memastikan suara itu bukanlah tepat di telinga.
Namun, ternyata ketika Shopia membuka mata, Nathan sudah ada didepan matanya. Jarak mereka kini tidak sampai dari lima jengkal. Jantung Shopia serasa akan copot di buat Nathan. Dia menelan ludah dengan susah payah, menatap mata Nathan yang seperti elang yang sedang mencari mangsanya.
"Mengapa kau bisa ada disini? Heh... Apa pria brengsek itu sudah menyukai anak-anak sehingga membawa mu kesini?" sindir Nathan memalingkan wajahnya.
Suara Nathan terdengar dingin di telinga Shopia menusuk dengan tajam pada gendang telinganya. Jelas panggilan 'pria brengsek' itu pasti di tujukan untuk Lucas Alexandro, ayah kandung mereka.
Nathan terlihat merentangkan tangannya seperti akan melakukan hal buruk padanya. Shopia menjadi tegang, dia ingat jelas cerita itu. Nathan membenci ayahnya sendiri. Meskipun nasib Nathan lebih baik di banding dirinya, tapi perasaan di abaikan dari Lucas membuat hatinya menjadi beku.
"Tidak, dia juga tidak menyukaiku," jawab Shopia menyilangkan tangannya dan melambaikannya.
"Kau pasti bohong, tidak pernah ada orang yang bisa melewati rumah utama dengan aman," sanggah Nathan tidak percaya dengan Shopia.
"Ya, aku hanya beruntung beberapa saat, mungkin di lain waktu aku akan mati," ujar Shopia santai sebab sudah tau jalan cerita dari hidupnya sendiri.
Nathan tertekun melihat gadis kecil itu mengatakan dengan mudah kata kematian yang bahkan dirinya sendiri tidak pernah mau membayangkan. Meskipun hidup dalam keadaan terasing dia ingin tetap hidup lama hingga menua.
Nathan menyentuh leher gadis kecil itu dengan kasar pada akhir, karena ingin mengabulkan keinginan Shopia sebab gadis kecil itu sudah berani memasuki wilayahnya.
Shopia tidak berkutik sama sekali pada Nathan dan membiarkan rasa amarah itu tersalurkan. Toh, yang dia ingat waktu Lily pertama kali bertemu dengan Nathan, anak laki-laki ini melakukan hal yang sama, namun berhasil di lepaskan karena melihat ketulusan Lily padanya.
Akankah Shopia juga mendapatkan keberuntungan kali ini?.
Nathan menjadi heran sebab Shopia tidak menangis atau memberontak, tidak sama seperti para pelayan yang terkadang datang kediaman yang selalu marah dan bereaksi belebihan pada ketika Nathan membuat kejahilan demi mendapatkan perhatian dari ayahnya.
Nathan tak sengaja melihat kearah lengan Shopia, seperti bekas benda tumpul yang menggores tangannya, ada yang menghitam dan ada pula yang berwarna biru menandakan bekas luka itu masih baru.