NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 29

Jason menoleh, matanya langsung menyipit sedikit. “Kamu lagi.”

“Dan kamu masih sama,” balas Leo.

Beberapa langkah di belakang, Niko sudah mendekat, posisinya kini jelas di sisi Ella. Tiga pria. Satu garis. Tegangan di udara berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

Jason melepaskan tangannya perlahan, tapi tidak mundur sepenuhnya. Tatapannya bergantian antara Leo dan Niko, lalu kembali ke Ella. Menilai. Menghitung. Menikmati.

“Menarik,” katanya pelan. “Aku belum pernah lihat perempuan di tempat seperti ini dijaga seketat ini.”

“Dia bukan sesuatu yang bisa kamu sentuh,” kata Niko dingin. Berusaha untuk menggapai Ella.

Leo tidak menambahkan apa-apa. Tapi posisinya cukup jelas. Melindungi. Sekaligus mengklaim bahwa Ella dibawah perlindungannya.

Ella berdiri di tengah-tengah itu semua, napasnya belum sepenuhnya stabil, tapi pikirannya justru semakin jernih. Karena untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu dengan sangat jelas. Tiga pria itu berdiri dengan sikap yang berbeda. Alasan yang berbeda. Tapi arah yang sama. Melindungi dan dalam cara mereka masing-masing ingin menguasai. Dan di titik itu, Ella sadar, permainan ini bukan lagi sekadar tentang mencari kebenaran. Tapi tentang siapa yang akan mengendalikan dirinya.

Suasana di lantai dansa tidak langsung kembali normal setelah itu. Musik masih mengalun, orang-orang masih bergerak seolah tidak terjadi apa-apa, tapi di lingkar kecil mereka, udara terasa lebih berat lebih padat, seolah setiap kata berikutnya bisa memicu sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

Ella berdiri di antara Leo dan Niko, sementara Jason tetap di depannya, tidak mundur, tidak juga menyerang. Hanya menatap, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dari yang ia cari.

“Kamu cepat belajar,” kata Jason akhirnya, matanya tetap pada Ella.

“Belajar apa?” balas Ella, kini suaranya lebih stabil.

“Menempatkan diri di posisi aman,” jawab Jason santai, melirik sekilas ke Leo dan Niko. “Atau setidaknya… terlihat aman.”

Leo menyilangkan tangan, sikapnya tetap tenang tapi jelas tidak bersahabat. “Kalau kamu sudah selesai, dia ikut saya.”

Jason tersenyum tipis. “Lucu. Kamu bicara seperti dia barang bukti.”

“Dan kamu bicara seperti dia milikmu,” balas Leo tanpa jeda.

Ketegangan itu kembali naik, tipis tapi tajam. Niko akhirnya masuk, suaranya lebih rendah tapi tegas. “Cukup. Ini bukan tempatnya.”

Jason menoleh sedikit ke arah Niko, lalu kembali ke Ella. “Dia benar,” katanya pelan. “Tempat ini terlalu ramai untuk percakapan yang sebenarnya.”

Ella tidak menjawab. Tapi matanya tidak lepas dari kalung di leher Jason. Sepatu kaca itu. Sama. Dan Jason menyadarinya. Tentu saja.

Perlahan, Jason menyentuh kalung itu dengan ujung jarinya, mengangkatnya sedikit, cukup untuk memperjelas, seolah itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

“Kamu mengenalinya,” katanya pelan.

Bukan pertanyaan. Pernyataan. Jantung Ella berdetak lebih cepat, tapi kali ini ia tidak menghindar. “Harusnya aku tanya hal yang sama,” balasnya.

Senyum Jason melebar sedikit bukan ramah, tapi puas. “Bagus,” katanya. “Akhirnya kita sampai ke bagian yang menarik.”

Leo memperhatikan itu semua, matanya bergantian antara kalung itu dan reaksi Ella. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi cukup untuk tahu ini bukan kebetulan. “Apa itu?” tanyanya tajam.

Tidak ada yang langsung menjawab. Dan justru diam itu yang memberi jawaban.

Jason terkekeh pelan. “Jaksa tidak tahu? Menarik.”

Leo tidak terpancing, tapi jelas tidak menyukai posisinya sekarang. “Kalau ini ada hubungannya dengan kasus,” katanya dingin, “kamu akan bicara.”

Jason menatapnya, lalu menggeleng kecil. “Masalahnya… ini bukan kasusmu.” Lalu ia kembali ke Ella. “Ini milikmu,” lanjutnya pelan.

Kalimat itu terasa seperti kunci yang baru saja diputar. Niko langsung menoleh ke Ella, sementara Leo kini benar-benar fokus. Ella tidak bergerak. Tapi pikirannya berputar cepat. “Kenapa kamu bilang begitu?” tanyanya akhirnya.

Jason mendekat setengah langkah, tidak cukup untuk mengancam, tapi cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa lebih sempit.

“Karena dari semua orang di ruangan ini,” katanya rendah, “kamu satu-satunya yang tidak seharusnya tahu… tapi tetap datang.”

Sunyi. Detik-detik yang terasa lebih panjang dari sebelumnya.

Lalu Jason menambahkan lebih pelan, lebih dalam, “Dan itu berarti… kamu sudah masuk terlalu jauh.”

Tidak ada yang menyangkal. Tidak ada yang membantah. Karena itu benar. Jason mundur satu langkah, merapikan jasnya seolah percakapan itu sudah selesai. “Kita belum selesai,” katanya pada Ella.

Lalu, dengan satu tatapan terakhir yang sulit dibaca apakah itu ancaman atau undangan ia berbalik dan berjalan pergi, menghilang di antara keramaian yang kembali menelannya tanpa jejak.

Ella tetap diam beberapa detik setelah itu.

Sampai akhirnya, “Sekarang kamu mau jelasin?” suara Leo memecah. Nada itu berbeda sekarang. Lebih tajam. Lebih pribadi.

Niko juga menatapnya, tidak menekan, tapi jelas menunggu. Tante Rosa, yang sejak tadi mengamati dari jarak aman, kini mendekat perlahan. Ella menarik napas. Panjang. Ia tahu momen ini akan datang. Dan ia tidak bisa terus bermain di dua sisi tanpa konsekuensi.

“Aku…” ia mulai, tapi berhenti sejenak. Menimbang. Memilih. Lalu akhirnya berkata “Ini lebih besar dari yang kalian pikir.”

Sunyi. Tapi bukan karena tidak percaya. Melainkan karena semua orang di sana mulai menyadari malam itu bukan sekadar pertemuan. Itu adalah titik di mana semua jalur mulai bertemu. Dan sejak saat itu tidak ada lagi jalan yang benar-benar aman.

***

Pagi itu seharusnya berjalan tenang, udara masih segar, cahaya matahari belum terlalu terik, dan Ella memilih menghabiskan waktunya di taman, merapikan beberapa pot bunga seolah hidupnya tidak sedang berada di tengah pusaran sesuatu yang jauh lebih besar. Tangannya sibuk, tapi pikirannya tetap bekerja, mengulang semua kejadian semalam, mencoba menyusun ulang potongan-potongan yang semakin sulit dipahami.

Sampai ia merasakan sesuatu. Bukan suara. Bukan langkah. Tapi kehadiran. Ella menoleh dan langsung terdiam.

Jason sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya. Terlalu dekat. Tanpa suara. Tanpa pemberitahuan. Jantung Ella langsung berdetak lebih cepat.

Jason terkekeh pelan, menikmati reaksi itu seolah itu adalah sesuatu yang ia tunggu. “Aku senang bisa melihat Cinderella-ku lagi,” katanya santai, seolah mereka bertemu dalam situasi yang jauh lebih normal.

Ella berdiri tegak, berusaha mengembalikan kendali. “Aku tidak tahu kamu bicara apa.”

Jason mengangkat alis tipis. “Kamu selalu bilang begitu di awal.” Ia melangkah mendekat satu langkah. Tidak tergesa. Tapi cukup untuk membuat Ella harus menahan diri agar tidak mundur. “Ayo jalan,” lanjutnya ringan. “Aku lagi tertarik sama kamu.”

Ella menatapnya, tidak langsung bereaksi.

Jason tersenyum. “Bagaimana kalau aku lamar sekarang?” katanya, setengah bercanda, setengah tidak.

Ella benar-benar tidak mengira arah pembicaraan itu. “Aku tidak mau,” jawabnya cepat. Tanpa ragu.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!