NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Pulau Kolektor

Pulau itu muncul dari kegelapan seperti tulang punggung naga yang mencuat dari laut. Vegetasi tropis tumbuh liar di sekelilingnya, tapi di tengah pulau, sebuah vila modern berdinding kaca berkilau diterpa cahaya bulan sabit. Lampu kuning di teras depan adalah satu-satunya penerangan buatan yang terlihat.

Maya mematikan mesin speedboat 300 meter dari pantai. "Dari sini kita berenang. Suara mesin akan memicu sensor."

"Mereka punya sensor?" tanya Aditya.

"Kolektor mungkin kolektor, tapi dia bukan amatir. Informasi dari informanku: pulau ini punya sensor getaran di pantai, kamera infra merah di pepohonan, dan patroli penjaga setiap 15 menit."

Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye, memindai pulau dari kejauhan.

Pulau Kolektor.

Sensor terdeteksi: 12 unit, tipe getaran dan panas.

Kamera: 8 unit, tersebar di jalur menuju vila.

Penjaga: 6 orang, posisi menyebar. Level 4-6.

Kala & Kali: Masih di bawah tanah, tidak bergerak.

"Aku bisa lewati sensor dengan Silent Step," kata Aditya. "Tapi kalian berdua..."

"Aku ada alat pengacau frekuensi," Maya mengeluarkan sebuah kotak hitam seukuran telapak tangan dari ransel tahan airnya. "Ini akan membuat kamera merekam footage kosong selama tiga menit. Tapi hanya bekerja sekali. Setelah itu, sistem keamanan akan restart dan kita terdeteksi."

"Tiga menit," Alesha mengulang. "Cukup untuk mencapai vila?"

"Cukup kalau kita tidak berhenti." Maya menatap Aditya. "Kau duluan. Bersihkan dua penjaga di jalur utama. Kami menyusul setelah kamera mati."

Aditya mengangguk. Ia menyelipkan pedang kayunya di punggung, mengencangkan Jubah Senyap, dan melompat ke air tanpa suara.

Air laut terasa hangat. Aditya berenang dengan gerakan minimal, tiba di pantai berbatu dalam waktu lima menit. Silent Step diaktifkan begitu kakinya menyentuh pasir—85% peredaman suara membuat langkahnya tidak memicu sensor getaran.

Penjaga terdekat: 20 meter ke arah timur laut. Level 4. Sendirian.

Aditya bergerak di antara pohon kelapa. Penjaga pertama berdiri dengan senapan serbu, menatap laut dengan ekspresi bosan. Ia tidak menyadari bayangan yang mendarat di belakangnya.

Satu pukulan dengan sisi tumpul pedang kayu. Penjaga itu terhuyung, lalu ambruk pingsan. Aditya menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah, menurunkannya perlahan.

Penjaga kedua: 35 meter ke arah barat. Level 5. Berpatroli dengan senter.

Yang ini lebih waspada. Senter menyapu kegelapan dengan pola teratur. Aditya menunggu sampai sapuan cahaya melewatinya, lalu melesat.

Duk!

Pukulan telak ke belakang kepala. Penjaga kedua tumbang.

Jalur aman. Memberi isyarat ke Maya.

Aditya menyalakan sinyal inframerah kecil di pergelangan tangannya—dua kedipan, jeda, dua kedipan.

Dari kegelapan pantai, Maya dan Alesha muncul. Mereka bergerak cepat, kaki-kaki mereka tidak bersuara di atas pasir. Tiga menit. Kamera mati.

"Mana yang lain?" bisik Maya.

"Empat penjaga tersisa. Dua di sisi utara, dua di dekat vila. Mereka belum tahu kita di sini."

Mereka berlari melewati jalur setapak yang diapit pohon palem dan semak tropis. Vila semakin dekat—dinding kaca, lantai marmer, kolam renang infinity yang memantulkan bulan.

Tapi Aditya berhenti mendadak.

Peringatan: Target Kala dan Kali mulai bergerak. Mereka meninggalkan ruang bawah tanah.

"Mereka tahu," desisnya. "Kembar itu naik."

---

Pintu kaca vila terbuka. Dua sosok muncul dari dalam, melangkah ke teras dengan gerakan yang sama persis—seperti bayangan cermin.

Kala berdiri di kiri. Tubuhnya tinggi kurus, kulitnya pucat kebiruan seperti mayat yang baru diangkat dari freezer. Udara di sekitarnya berembun, rumput di bawah kakinya membeku.

Kali berdiri di kanan. Posturnya identik, tapi kulitnya abu-abu seperti batu bara. Bayangannya tidak mengikuti gerakannya—melainkan bergerak sendiri, seperti makhluk terpisah yang kebetulan menempel di kakinya.

Kala: Level 12. Kekuatan: 175. Kecepatan: 120. Skill: Pukulan Gletser, Medan Beku, Napas Es.

Kali: Level 12. Kekuatan: 150. Kecepatan: 160. Skill: Cambuk Bayangan, Bayang Ganda, Kegelapan Pekat.

"Tamu malam," suara Kala seperti pecahan kaca—dingin, tajam, tidak ramah.

"Sudah lama tidak ada yang berani datang," Kali menyambung, suaranya lebih rendah, seperti bisikan dari sumur tua. "Kolektor terlalu baik akhir-akhir ini. Sampai lupa memperingatkan kami."

Aditya melangkah maju, satu tangan di gagang pedang. "Kami tidak cari masalah. Hanya Tameng Bumi."

"Mereka tidak cari masalah, katanya," Kala menirukan dengan nada mengejek.

"Mereka hanya Tameng Bumi, katanya," Kali menambahkan, bayangannya melingkar di kakinya seperti ular siap menerkam.

Maya sudah mengokang senapannya. "Kita tidak bisa negosiasi?"

"Sudah kuduga." Maya mengangkat senapannya. "Jadi rencana awal?"

"Rencana awal."

Tembakan pertama dilepaskan—ke arah Kali. Peluru karet berkecepatan tinggi melesat ke dada, tapi bayangan di kaki Kali melompat dan menangkisnya seperti perisai hidup.

"BAGUS!" Kali menyeringai, giginya juga abu-abu. "Yang ini punya semangat!"

Ia melesat ke arah Maya dengan kecepatan 160—hampir empat kali kecepatan Aditya. Cambuk dari bayangan murni muncul di tangannya, menyambar ke arah leher.

Tapi Maya sudah berguling ke samping. Cincin Api di jarinya menyala—ia belum bisa menggunakannya dengan sempurna, tapi api kecil yang muncul cukup untuk membakar ujung cambuk bayangan itu.

"API?!" Kali terkejut.

"Sementara dia urus kau," Aditya berbisik pada dirinya sendiri, "aku harus urus yang satunya."

Ia berbalik. Kala sudah menunggu, kedua telapak tangannya mengeluarkan kabut dingin. Udara di sekitarnya turun drastis. Rumput membeku. Kolam renang di samping mereka mulai membentuk lapisan es tipis.

"Kau pikir level 10 bisa melawan level 12?" tanya Kala datar.

Aditya mengaktifkan Jurus Surya. Energi matahari mengalir dari liontin, menghangatkan tubuhnya, menangkal hawa dingin yang mulai menyerang.

"Aku sudah melawan level 11 dan selamat," jawabnya. "Level 12 hanya satu angka lebih tinggi."

"Angka yang salah, bocah."

Kala menghilang. Bukan dengan kecepatan—tapi dengan kabut. Seluruh area berubah menjadi ruangan beku, jarak pandang turun drastis. Aditya tidak bisa melihat apa-apa.

All-Seeing Eye: Target bergerak di dalam kabut. Posisi: 8 meter ke depan, menyiapkan Pukulan Gletser.

Aditya melompat ke kanan tepat saat tinju berlapis es menghantam tanah di tempat ia berdiri. Tanah retak, batu-batu kecil membeku dan pecah.

Itu hampir mengenai.

"Refleks bagus," suara Kala bergema dari segala arah. "Tapi bertahan tidak akan membunuhku."

Aditya memejamkan mata. Ia tidak bisa mengandalkan penglihatan. Tapi All-Seeing Eye memberinya koordinat.

Target: 5 meter ke kiri. 2 meter ke depan. Menyiapkan serangan kedua.

Kali ini ia tidak menghindar. Ia menyerang.

Pedang Kayu Matahari diayunkan ke arah yang ditunjukkan sistem. Bilah jingga bertemu dengan lengan es Kala—dan untuk pertama kalinya, es itu retak.

"Apa?!" Kala mundur selangkah.

"Pedangku bukan pedang biasa," Aditya menirukan kata-kata yang sudah terlalu sering ia ucapkan. "Dan aku bukan level 10 biasa."

---

Di sisi lain taman, pertempuran Maya dan Kali berlangsung lebih cepat. Maya terus bergerak, tidak pernah diam lebih dari dua detik. Senapannya menyalak terus, setiap tembakan dipaksa ditangkis oleh bayangan Kali.

"Aku mulai bosan!" Kali melesat, kali ini dengan tiga bayangan sekaligus—semuanya menyerang dari arah berbeda.

Maya tidak bisa menghindari semuanya. Satu cambuk mengenai bahunya, merobek jaket dan kulit. Darah menetes.

"Cincin Api!" teriaknya frustasi. "Apa gunamu selain untuk deteksi kebohongan?!"

Seolah menjawab, cincin itu menyala terang. Api tidak hanya muncul di jari Maya—tapi menyelimuti seluruh tinjunya.

Skill baru terbuka: Tinju Api (Level 1)—Serangan jarak dekat dengan energi api murni.

Maya menatap tinjunya yang menyala. Lalu menatap Kali yang mulai ragu.

"Oke," bisiknya. "Ini lebih baik."

Ia menyerang.

Dari atas speedboat yang tertambat di kegelapan, Alesha menyaksikan kilatan api dan es dari pulau. Tangannya mencengkeram Belati Surya.

"Belum lima menit," bisiknya pada diri sendiri. "Mereka masih hidup."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!