NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:79.3k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Marsha hanya tersenyum misterius, lalu berdiri. "Aku sudah selesai makan. Daddy, Mami, ayo pulang? Aku butuh tidur sebelum operasi besar besok pagi. Papah Andreas, terima kasih makan malamnya. Tuan Theodore, sampaikan pada Liam, kurangi kopi jika tidak ingin jahitan kepalanya berdenyut."

Tanpa menunggu jawaban, Marsha mencium pipi Erlan dan Shafira, lalu memberikan anggukan sopan pada Andreas dan Theodore, meninggalkan para pria berkuasa itu dengan sejuta rasa penasaran.

Andreas menyipitkan matanya, mencoba menggali memori atau mungkin sekadar mencari celah dalam informasi yang baru saja ia dengar. "Damian... Bedah saraf, ya?" gumamnya.

Erlan mengangguk, ia menyesap tehnya dengan tenang, sama sekali tidak merasa perlu ada yang dikhawatirkan. "Benar. Dia anak yang sangat baik dan cerdas. Sejak kecil, dia adalah orang yang paling bisa mengerti ambisi Marsha. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Kalau Marsha sedang stres karena ujian, Damian yang selalu tahu cara menenangkannya."

Shafira menimpali dengan senyuman hangat, "Bahkan saat Damian berangkat ke Amerika, Marsha sempat merasa kehilangan arah selama beberapa minggu. Mereka punya ikatan yang kuat, Andreas. Tipe hubungan yang tumbuh karena saling mendukung dalam masa-masa sulit pendidikan kedokteran."

"Seberapa kuat?" tanya Archio tiba-tiba, nada suaranya terdengar seperti seorang kakak yang sedang menginterogasi tersangka. "Maksudku, apakah dia hanya sahabat, atau... ada sesuatu yang lebih?"

Erlan tertawa melihat reaksi protektif Archio. "Itu hanya Marsha dan Damian yang tahu. Tapi yang pasti, Damian adalah pria pertama yang mendapatkan kepercayaan penuh dari Marsha. Bagi Marsha, kepercayaan adalah hal yang mahal."

Andreas terdiam sejenak. Ia melirik Theodore yang sejak tadi menyimak dengan wajah penuh ketertarikan. Ada rasa cemburu kecil di hati Andreas; ia sadar bahwa pria bernama Damian ini memiliki sejarah dua puluh tahun dengan putrinya, sesuatu yang ia lewatkan begitu saja.

"Jadi dia sudah kembali ke London," Andreas bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan dia seorang bedah saraf terbaik dari Amerika. Menarik."

Theodore yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara beratnya. "Sepertinya Liam punya saingan berat. Bukan sekadar anak pemilik rumah sakit, tapi seseorang yang sudah memiliki 'kunci' ke hati Dokter Marsha sejak lama. Persaingan antar dokter... ini akan lebih menarik daripada perang tarif logistik, bukan?"

"Ini bukan persaingan, Theodore," potong Andreas tegas. "Ini soal siapa yang pantas untuk putriku. Dan jika Damian itu sudah kembali, aku ingin tahu di rumah sakit mana dia akan bertugas. Archio, cari tahu."

"Ayah, ayolah..." Marsha yang ternyata masih berdiri di dekat pintu penghuni ruang makan kembali masuk sebentar hanya untuk mengambil tasnya. "Berhenti menyelidiki teman-temanku. Damian itu sahabatku. Dan Daddy Erlan benar, dia pria yang baik. Jangan sampai kalian membuatnya takut untuk datang berkunjung."

Marsha memberikan tatapan peringatan pada Andreas dan Archio, lalu menarik lengan Erlan dan Shafira. "Ayo Daddy, Mami, kita pulang sekarang sebelum mereka mulai menyewa detektif swasta."

Sambil berjalan keluar, Marsha sempat membisikkan sesuatu pada Erlan yang membuat Erlan terkekeh, sementara Andreas hanya bisa menatap punggung putrinya dengan perasaan campur aduk bangga, posesif, dan sedikit penasaran pada sosok Damian yang berhasil membuat putrinya tersenyum lepas di supermarket tadi.

Mobil melaju pelan meninggalkan rumah mewah itu, membelah jalanan malam di London yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah Marsha yang kini bersandar tenang di kursi belakang. Matanya terpejam, namun pikirannya belum benar-benar beristirahat. Tatapan Andreas tadi masih terbayang, begitu juga nada suara Theodore yang penuh arti, dan satu nama yang kembali disebut setelah sekian lama Damian.

“Capek?” suara lembut Shafira memecah keheningan.

Marsha membuka matanya perlahan dan tersenyum tipis. “Lumayan, Mami. Besok operasi panjang.”

Erlan yang duduk di kursi depan melirik melalui kaca spion, tatapannya hangat namun penuh perhatian. “Kamu tidak perlu memaksakan diri, Sha. Kalau merasa lelah, kamu bisa menunda.”

Marsha menggeleng pelan. “Pasiennya sudah menunggu, Daddy. Aku tidak bisa mundur.” Nada suaranya lembut, tetapi tegas, cukup untuk membuat Erlan tersenyum kecil dan tidak membantah lagi.

Perjalanan kembali hening, namun bukan keheningan yang canggung. Ada rasa tenang yang mengalir di antara mereka, seperti rumah yang selalu menunggu untuk disinggahi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah mereka. Tidak megah, tapi hangat tempat di mana Marsha merasa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Marsha turun lebih dulu, langkahnya pelan namun pasti. Ia hampir masuk ketika tiba-tiba berhenti. Perasaannya mendadak tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang mengawasi. Ia menoleh perlahan, menyapu jalanan yang tampak sepi. Lampu jalan berdiri diam, tidak ada siapa pun di sana. Namun entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

“Marsha?” panggil Erlan dari belakang.

Ia tersadar dan tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Daddy. Mungkin cuma capek.”

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu itu bukan sekadar lelah.

Di sisi lain jalan, sebuah mobil hitam terparkir tanpa menarik perhatian. Dari dalamnya, sepasang mata mengamati dengan tenang. “Target terkonfirmasi. Marsha Zaiva Dominic. Dokter. Saat ini berada di London, dan benar, dia diadopsi oleh pasangan dokter,” ucap seorang pria pelan sambil menatap layar di tangannya.

Di ujung sambungan telepon, suara wanita terdengar tenang, hampir tanpa emosi. “Bagus.”

Di Paris, Selena Ardith berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap gemerlap kota dengan senyum tipis yang dingin. Jemarinya mengetuk gelas wine perlahan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sudah lama ia tunggu. “Jadi kamu hidup dengan sangat baik…” bisiknya pelan. “Marsha Zaiva Dominic.”

Ia mengulang nama itu dengan perlahan, seolah mencicipinya, lalu tatapannya mengeras. “Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat kamu… tanpa masa lalumu.”

Sementara itu, Marsha sudah berada di kamarnya. Ia melepas jasnya dan berdiri sejenak di depan cermin. Pantulan dirinya tampak tenang, kuat, seperti yang selalu ia tunjukkan pada dunia. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ia mengangkat tangan, menyentuh dadanya pelan, merasakan sesak yang belum juga hilang.

“Kenapa ya…” gumamnya lirih.

Ia tidak tahu bahwa di saat ia mencoba memahami perasaannya sendiri, seseorang telah mulai bergerak, perlahan tapi pasti, menariknya kembali ke masa lalu yang selama ini tersembunyi rapi.

1
・゚・ Mitchi ・゚・
udh bbrp bab ngulang² loh kak.. masa ga di cek, aku nunggu lanjutan'y loh 🥲
・゚・ Mitchi ・゚・
kok di ulang thor
Nok Denok
bacaan yg keren👍👍👍,, bawangnya terlalu berton ton😭
Forta Wahyuni
🤣🤣🤣🤣lbh hebat valerina daripada marsha n wanita tangguh. mantap2, critanya antagonis yg unggul n lelakinya bodoh smua.
Anita Rahayu
Tolong thor gagalkan pelariàn si valerinot kasihani marsah yg udah kau buat menderita thor 😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤cukup sudah kedamaian yg dia peroleh dari anak sah😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
Happy Kids
ku rasa selena sakit jiwa
Anita Rahayu
ah kau thor suka kali buat cerita si tersàngka kabur dgn mudah seharusnya di tangkap dgn tragis yaitu gn kecacatan kaki😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡Buat cerita jgn yg ngundang amarah pembaca nanti gk di baca ini cerita😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒
Anita Rahayu
buat anak medusa ini kena sial yaitu dgn kelumpuhan total pada kaki biar gk berni merangkak keluar zona yg dilarang😈😈😈😈😈😈👍👍👍👍👍👍
Anita Rahayu
thor mana ni kabar mamak dan anak demit di sel di arong kan ama tahanan yg jadi korban org jahat biar dia tau sakitnya di aniaya👍👍👍👍👍👍👍👍😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
・゚・ Mitchi ・゚・
good reinhart jangan menjadi obsesi
Adi Sudiro
iblis aja mungkin senang dan gembira kak punya keturunan🤭🤭🤣
Ramdani Radiansyah
Selena pasti selingkuh sudah jadi jalang pastinya
・゚・ Mitchi ・゚・
relakan marsha bersama vincent ya reinhart. mungkin dia memang bukan jodohmu, tabahlah 🤭
Lauren Florin Lesusien
kok aku kurang srek marsa sama vincet thur malah condong ke rinhard thur
ya ikuti alur saja 🤣🤣 lanjut thur
Lucyana H
bukannya Selena di penjara,
MRYSS
jujur di bab pertama gua sedih bngt liat nya wktu di bljr jln trus panggil ibu mlh di usir ke inget trus gimn y kalau ini kisa nyata 🥲
Lucyana H
alasannya apa Selena buang Marsha...
Lucyana H
tega bgt sih Selena sampai anaknya di buang...ga takut karma...tuh
Lucyana H
ya Allah...tega bgt..seorang ibu sm anak kandungnya sendiri,dia jg ga minta di lahirin klo bisa milih,ikut sedih thor aku bacanya...kasian marsha🥺🥲
Anita Rahayu
MARUK ANAK HARAM GK JELAS BAPAKKE SOPO😈😈😈😈😈😈😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!