Kata orang,Usia 30 tahun usia yang matang untuk laki-laki menikah. tapi untuk si Gandi Argam bukannya matang tapi sudah busuk, benjut lagi.
Gandi Argam pria 33 tanun,tengah gusar memikirkan nasibnya. katanya sih, jodoh tak dapat di elak,balak tak dapat ditolak.
Bersembunyi di kolong jembatanpun jika Allah telah menetapkan takdir seseorang, pastilah akan terjadi.Tapi tunggu dulu,apakah inseden yang dialami Gandi termasuk jodoh..??
Entah lah hanya tuhan yang tahu. Entah mimpi apa,Gandi pemuda tajir melintir itu sakit kepala tiba-tiba.Bagai mana tidak, Niat nolong eeh malah ditodong untuk pertanggung jawab menikahi gadis ingusan pembuat onar.
Gandi Argam menelan ludah mendengar fakta yang mengejutkan. Ia,harus menikahi bocah perawan yang masih ingusan, yang buah dadanya saja masih datar seperti papan penggilasan.
Bisakah takdirnya ditukar...? Gandi meminta jodoh yang lain, yang bohai yang sedikit menggiurkan,tapi sayang itu hanya mimpi yang tak pernah terkabul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Asalamualaikum pembaca budiman, ketemu lagi dengan om suami. om suami up lebih banyak, yuk jangan lupa beri dukungan, like,komen n vote ya.biar author senang😘😘
Terkadan tangisan seorang wanita bukan hanya sekedar tangis yang dikarenakan sakitnya fisik, melainkan tangisan yang bermula dari hati yang kecewa.
"Sayang kamu gak papa? apa perutmu sakit"
Gandi menatap hawatir pada istri tercintanya.
"Rara gak papa om. Hanya tangan Rara yang sakit"
"Syukurlah. Ayo kita priksa lagi ke dokter, mas takut ada apa-apa dengan kandunganmu"
Pinta Gandi hawatir.
"Gak perlu om! Rara gak papa. Rara mau pulang!"
Rengeknya manja.
"Baiklah. Kita pulang sekarang"
Ucap Gandi setuju.
Setelah sampai kediaman mereka gadis itu langsung menuju kamarnya. Badannya terasa semakin lemas. Gadis itu ingin cepat-cepat tiduran.
"Ooom"
Panggil Rara lembut. Gandi menoleh menatap manik hitam istrinya. Lalu duduk di pinggiran ranjang mereka.
"Heeem. Ada apa, apa perlu sesuatu?"
Tanya Gandi lembut.
"Bolehkah aku minta sesuatu?"
Gandi menyipitkan matanya tanda tak mengerti.
"Tentu sayang, katakan!"
"Om. Aku mau hari ini om temani aku di rumah"
"Maksudmu. Mas gak ngantor?"
"Heem. Rara mau hari ini kita habiskan waktu berdua di rumah! bisakan om?"
Gandi menahan nafasnya dalam.
"Sayang. Mas ada urusan yang harus mas selesaikan. Tapi mas janji mas akan pulang cepat, untuk kamu"
Mendengar jawaban suaminya, gadis itu terdiam. Kemudian memerengkan tubuhnya memeunggungi om suami.
"Heey, mas mohon sayang sebentar saja. Ini sangat penting"
Gandi mulai bernegosiasi pada sang istri.
"Pergilah, Rara gak papa kok om"
Jawab gadisnya lembut.
"Makasih sayang. Mas janji mas akan segera pulang"
Gandi merunduk mengecup lembut kening halus istrinya.
"Mas tinggal sebentar ya sayang. Kalau ada apa-apa, kamu telpon mas!"
Rara tak menjawab, Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Gandi beranjak mulai melangkah meninggalkan kamar mereka.Rara menatap punggung kekar suaminya.
Setelah kepergian suaminya gadis itu mulai bosan. Ia nyalakan TV untuk sekedar menghilangkan penat yang melanda. Namun siaran TV tak mampu meghilangkan kebosanannya.
Rara keluar dari kamar menuruni anak tangga. Ia cari sesuatu di kulkas sepertinya gadis itu ingin makan sesuatu namun gak ada yang gadis itu selera. Akhirnya gadis itu menyambar henponnya. Menghubungi sahabatnya. Ia tekan nomor Marsya, tak menunggu lama Suara lembut terdengar dari sambungan henpon.
"Halo Ra. Tumben nelpon. Ada apa?"
Ucap Marsya heran.
"Lo lagi sibuk gak, bisa temenin gue bentar?"
Tanya Rara pada sahabatnya.
"Gak sibuk kok.Memang mau kemana Ra?"
"Aku pengen sushi Sya, yang di resto Ichiban itu lo"
Rengek Rara pada sahabatnya.
"Sekarang Ra?"
"Iya dong Sya, kan pengennya sekarang. Masak tahun depan"
"Ya deh bumil, bahaya kalau gak diturutin. Tunggu gue lima menit oke!"
"Makasi Sya"
Setelah sambungan terputus, Rara buru-buru ganti baju. Setelah lima menit akhirnya sahabat yang ditunggu-tunggu muncul di hadapannya. Marsya mulai melajukan mobilnya.
Sampai di resto yang mereka tuju, Rara tak sabar untuk menikmati makanan khas Jepang itu. Dengan semangat gadis itu segera memesan menu yang sedari tadi gadis itu inginkan. Tak butuh waktu lama menu yang mereka pesan datang.
"Silahkan mbak, selamat menikmati"
Ucap pramusaji ramah sembari menyuguhkan sushi dan puding.
"Oke, terima kasih"
Jawab mereka berbarengan. ,Tak menunggu pramusaji itu pergi, Rara dengan rakusnya, melahap sushi di hadapannya hingga tak bersisa. Marsya tercengang melihat kerakusan sahabatnya itu.
"Lo doyan apa laper Ra?, gila malu gue punya teman kayak lo"
Ejek Marsya. Tapi yang diejek malah nyengir kuda"
"Heem. Ini bukan kemauan gue Sya, yang doyan ni dedek bayinya"
Ucap Rara membela diri.
"Preeet, ngeles lo"
Ejek Marsya mencibir.
Disaat Rara tengah asyik menikmati menu yang lainnya. Sejenak kunyahannya ia hentikan, tanpa gadis itu kunyah makanan yang terlanjur masuk mulut langsung ia telan, meski lehernya terasa serat, bibirnya bergumam menyebut nama seseorang.
"Om Gandi?"
Bisik Rara lirih. Marsya ikut menoleh kearah pandangan sahabatnya. Gadis itu juga terkejut melihat suami sahabatnya ada bersama wanita lain di tempat yang sama dengan mereka. Bahkan parahnya wanita itu tengah mengusap saus, yang menempel di sudut bibir Gandi. Dari kejauhan tampak pria itu memegang tangan wanita di hadapannya.
"Ra, gue mohon jangan permalukan diri lo di sini. Ini tempat umu Ra!"
Marsya mencoba memperingati sahabatnya itu.
"Tenang Sya, gue gak sebodoh itu"
Sahut rara pelan.
Seketika tangan Rara merogoh tasnya untuk meraih henpon. Tanpa pikir panjang gadis itu menghubungi nomor suaminya. Setelah tersambung Rara tak sabar menunggu jawaban sang suami.
Tampak dari sebrang kursi pengunjung apa yang dilakukan pria itu. Gandi melihat henponnya sejenak, kemudian pria itu menaruhnya lagi ke atas meja, hingga deringannya terhenti. Gadis itu tak putus asa ia coba lagi menghubungi susaminya hingga berkali-kali namun tetap Gandi tak menjawabnya namun dipanggilan terakhir pria itu akhirnya menerima juga panggilan Rara.
"Halo om, kenapa lama banget angkat telponnya?"
Tanya Rara memastikan. Sembari matanya melirik kearah suaminya.
"maaf sayang mas sibuk tadi, jadi mas baru bisa angkat telpon kamu"
Jelas Gandi pada Rara.
"Sibuk? sibuk ngapain?"
Tanya Rara mulai geram. Gadis itu bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju meja di mana suaminya tengah duduk bersama seseorang.
"Jadi ini yang om bilang sibuk?, Sengaja om gak angkat telpon aku. Demi apa om, demi perempuan ini?"
Gandi terkejut menatap kehadiran sang gadis tepat di hadapannya. Henponnya yang masih menempel di telinganya, seketika Gandi turunkan perlahan.
"Dek, mas bisa jelasin. Ini gak seperti yang kamu pikirkan sayang"
Gandi coba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Jelasin apa om? jelasin kenapa gak angkat telpon aku atau jelasin kenapa om bisa bareng dengan tante ini?
Tunjuk Rara pada wanita yang katanya mantan kekasih suaminya itu. Namun dengan angkuh wanita itu berucap.
"Lihatlah bocah manja, kamu bisa lihat bukan, jika suamimu ini diam-diam masih menemuiku di belakang kamu, itu berarti suamimu masih mencintai saya. Hem. wajar saja kamu itu masih bocah, tau apa kamu tentang penghianatan"
Ejek Maura merasa menang.
"Huh dasar perempuan murah, Merasa bangga kamu menjadi wanita penggoda suami orang, kasihan sekali anda, sampai-sampai tante ngotot untuk dapetin suamiku, silahkan ambil jika suamiku mau!"
Ucap Rara sarkas, setelahnya gadis itu pergi meninggalkan manusia di hadapannya.
"Ayo sya, kita pulang!"
Ajak Rara pada sahabatnya itu.Gadis itu terus berjalan menuju mobilnya sementara Gandi mengikutinya dari belakang.
"Dek kamu pulang bareng mas!"
Cegah Gandi pada istrinya, saat gadis itu hendak memasuki mobil sahabatnya.
"Sya. Biarkan Rara pulang bareng saya!"
pinta Gandi pada sahabat istrinya.
"Ah, iya om. Terserah kalian aja gimana baiknya"
Jawab Marsya sopan.
"Makasih"
Ucap Gandi, Marsya tersenyum. Menanggapi ucapan suami sahabatnya.
Malas ribut, akhirnya Rara turun dari mobil sahabatnya. Dengan muka tak bersahabat, gadis berkulit putih itu memasuki mobil om suami.
Gandi duduk di kursi kemudi. Matanya sekilas melirik istrinya yang terlihat galak. Gandi tau istrinya sedang dalam mode tegangan tingi, jadi pria itu memilih untuk mencari aman.
Begitu juga dengan Rara, gadis itu tak ingin ribut di tengah jalan, ia masih waras untuk bisa menahan diri. Dengan bibir manyun, mata berkaca-kaca gadis itu memilih memandangi jalan yang terlihat sesak. Pikirannya mulai berkelana. Hingga gadis itu tak sadar jika mobil yang ia tumpangi telah terparkir cantik di garasi.
"Dek. Gak mau turun, sudah sampai loh"
Gandi coba memberi tahu. Namun gadis ayu itu melirik sembari melotot. Dengan kasar gadis cantik itu membuka dan menutup pintu mobil mewah suaminya.
Dengan langkah sedikit berlari, Rata memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar, Rara mulai mengeluarkan koper dari dalam lemari, kemudian gadis ayu itu memasukkan bajunya satu persatu.
Sementara Gandi melotot melihat apa yang di lakukan istri muda belianya.
"Dek apa-apaan ini?"
Ucap Gandi sembari mencekal pergelangan tangan istrinya.
"Om gak salah nanya? om bodoh apa pura-pura bodoh. Setelah kebohongan yang om ciptakan."
Cerocos Rara sembari berteriak.
"Mas bisa jelasin dek. Bukannya mas sudah bilang, ini gak seperti yang kamu pikirkan!"
Ucap pria dewasa itu sungguhan.
Mendengar ucapan suaminya, dengan kasar Rara menyentak tangannya dari genggamam Gandi.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan apa yang telah aku lihat om. Dia mantan pacar kamu, kalau om memang masih cinta kenapa om gak tinggalin aku aja, minggir aku mau pulang ke rumah papa"
Sungguh Rara emosi tingkat dewa. Sehingga gadis itu terus meradang.
"Kamu harus percaya sama mas, Mas bertemu dengan dia itu semua demi keselamatanmu dek, Maura ingin mencelakaimu"
Gandi mencoba menjelaskan pokok permasalahan yang sebenarnya. Pria itu tidak mengada-ada dengan penjelasannya.
"Aku bukan anak TK yang bisa om bodohi, Sudah jelas aku lihat dengan mata kepalaku, om sengaja gak angkat telponku, bahkan om sengaja meletakkan henpon om ketika tau itu panggilan dari aku, iya kan?"
Bentak Rara geram.
"Iya memang, tapi apa yang mas lakukan itu ada alasannya dek. Saat kamu telpo, itu mas sedang merekam pembicaraan Maura, yang isinya ada nada ancaman"
Jelas Gandi pada Rara, namun semua perkataan suaminya itu masih mental untuk Rara cerna, gadis itu terlampau cemburu, hingga ia melupakan fakta yang sebenarnya.
"Jadi kalau gitu, bagaimana dengan adegan mesra kalian yang dengan tak tau malunya kekasih om itu mengusap saus yang menempel di bibir om? ooo! atau om memang sudah kangen dengan belaian tangan wanita murahan itu?, Sehingga dengan ikhlas om menerima belaiannya, tanpa menolak, bahkan om menggenggam erat tangannya."
Gandi tersenyum menanggapi kemarahan istrinya itu. Dengan lembut pria itu memeluk istrinya dari belakang.
"Cemburu rupanya istri mas ini"
Ledek Gandi senang.
"Lepasin, aku gak mau dipeluk om"
Gadis ayu itu terus meronta. Namun pria dewasa itu tak habis akal, dengan sigap tangan kekarnya ia gunakan membalik tubuh sintal istrinya. Kemudian bibir mungil itu ia bungkam dengan bibir basahnya. Rara yang tengah ngomel-ngomel, bungkam seketika.
Gadis itu ikut hanyut sejenak akan permainan suaminya. Namun kemudian gadis itu tersadar dari buayan Gandi. Dengan kekesalan hati yang memuncah, Gadis itu akhirnya menggigit lidah suaminya. Gandi menjerit merutuki kelakuan isyrinya.
"Ya Allah dek"
pekik Gandi, sembari menjulurkan lidahnya. Untuk menghilangkan rasa sakit yang teramat.
"Rasain, itu balasan untuk orang yang suka selingkuh. Ucap Rara bahagia.
"Mas gak selingkuh sayang, Mas hanya ingin melindungimu, dari wanita itu,"
Ucap Gandi dengan lidah yang kesakitan.
"Apa buktinya jika omongan om itu benar, bukan hanya kibulan belaka?"
Tantang Rara sengit.
"Coba dengarkan rekaman ini"
Gandi menyerahkan henponya pada Rara. Ragu-Ragu gadis itu mulai memutar rekaman dari henpon suaminya.
Setelah diputar Rara tercengang mendengar rekaman suara tante gila itu.
"Jadi, Wanita itu benar mengancam om, ingin membuat aku keguguran?, jika om tidak menuruti kemauannya.?"
Tanya Rara ketakutan.
"Iya sayang, dia perempuan gila yang tega melukai orang lain demi ambisinua. Di dalam henpon mas juga masih ada SMS dari dia. bawasannya Amora akan menyelakaimu jika mas hari ini tidak menemuinya"
Rara menatap lekat manik hitam suaminya. Disana tidak ada kebohongan, Gadis itu seketika menubruk tubuh suaminua.
"Maafin Rara om, harusnya Rara percaya sama om"
Gandi tersenyum menatap wajah ayu istrinya, dengan lembut tangan besar itu mengusap air mata yang mengalir di pipi putih Rara. Gandi berucap sembari memegang tangan istrinya dengan penuh cinta.
"Kamu gak salah sayang, mas yang belum sempat memberi tahumu, hingga akhirnya membuat istri mas salah paham. Alasan mas juga jelas, karna mas gak mau istri mas hawatir, itu tidak baik untuk kondisi ibu hamil sepertimu"
Ucap Gandi memberi pengertian.
"Makasi om, udah sabar menghadapi polah Rara yang kekanakan. Maaf juga karna udah gigit lidah om"
Gandi tertawa menatap istrinya,
"Oke, mas akan maafin kamu, tapi dengan satu sarat"
Ucap gandi tersenyum. Melihat senyum angker suaminya, Rara mulai waspada, gadis itu sudah bisa mengartikan senyuman om suami "
"Jangan aneh-aneh om!"
Rara mulai memperingati, isi kepala suaminya yang mesum itu.
"Mas gak macem-macem sayang. Mas mau satu macam yang mempunyai sensasi yang bermacem-macem"
Jawab Gandi mulai ngelantur. Rara dengan sigap mengambil ancang-ancag untuk kabur dari pelukan pria dewasa yang tingkat ke mesumannya luar biasa.
"Aduh om perut Rara sakit"
Ucapnya bohong
Seketika om suami melepas pelukannya. Wajah pria itu berubah hawatir.
" Sayang kamu kenapa?"
Tanya Gandi hawatir.
"Sakit perut, Om!"
Rara terus memegangi perutnya, yang masih terlihat rata.
"Ayok ke dokter, dek, mas gak mau terjadi sesuatu pada kamu dan calon anak kita!"
Gandi hawatir dengan istrinya itu.
"Gak usah om, Rara cuma sakit perut karna mau buang angin"
Gandi terbengong mendengar jawaban istrinya.
"Dek, kamu ngerjain mas?"
Mendengar jawaban om suami, Rara buru- buru ngiprit kabur keluar kamar.
"Habis, om mesum"
Ucap Rara sembari menuruni tangga. Dengan gemas akhirnya pria itu ikut keluar mengejar istri manjanya. Sampai lantai bawah terdengar suara mbok jah yang khas.
"Aduh non, hati-hati jangan lari-lari, itu bahaya untuk kandungan non Rara, Den Gandi udah jangan kejar non Rara"
Mbok Jah mengingatkan pada sepasang suami istri itu.
"Oh, ya mbok, terima kasih sudah mengingatkan kami"
Mereka akhirnya sadar, apa yang diucap mbok Jah itu benar. Bahaya rentan mengintai istrinya saat ini.