NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang terpilih

“Xavero…”

Xavero menoleh ke belakang. Seorang pria dengan langkah tenang namun penuh wibawa berjalan mendekat.

“Nathan…” gumamnya pelan.

Nathan berhenti beberapa langkah di depannya. Tatapannya tajam, tapi tidak lagi setegang sebelumnya.

“Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini,” ucap Nathan tenang.

Xavero menghela napas kecil. “Saya juga tidak menyangka.”

Hening sejenak.

Nathan melirik ke arah dalam gereja, lalu kembali menatap Xavero.

“Kamu sering ke sini?” tanyanya ringan, namun tetap dengan aura yang tidak bisa dianggap santai.

Xavero menggeleng pelan. “Tidak terlalu.”

Nathan mengangguk kecil, seolah memahami tanpa perlu penjelasan panjang.

“Kadang… tempat seperti ini memang jadi satu-satunya tempat untuk menenangkan diri,” lanjutnya.

Nada suaranya rendah, terkontrol, seolah setiap kata yang keluar sudah dipikirkan.

Xavero tidak langsung menjawab.

Nathan kembali menatapnya, kali ini sedikit lebih dalam.

“Kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja.”

Kalimat itu bukan pertanyaan.

Lebih seperti pernyataan yang langsung mengenai sasaran.

Xavero tersenyum tipis, samar.

“Masalah biasa,” jawabnya singkat.

Nathan menyipitkan mata sedikit, jelas tidak sepenuhnya percaya.

“Masalah,” ulangnya pelan. “Kadang yang kita anggap ‘biasa’ justru yang paling berat.”

Hening kembali turun di antara mereka.

Nathan memasukkan satu tangannya ke dalam saku jasnya, tetap berdiri tegap di hadapan Xavero.

“Kalau kamu tidak keberatan,” lanjutnya, “saya bisa mendengar.”

Nada suaranya tetap tenang.

Namun ada sesuatu di baliknya, bukan sekadar basa-basi.

Xavero menatap Nathan dalam, teringat ucapan Radit bahwa pria di hadapannya bukan orang sembarangan—serta usulannya tentang kesempatan kedua yang mungkin bisa membuatnya bangkit.

“Anda serius?” tanyanya pelan.

Nathan mengangguk. “Tentu.”

Tanpa memberi waktu bagi Xavero untuk bereaksi lebih jauh, Nathan merangkulnya keluar dari gereja, membawanya ke taman yang berada di depan.

Mereka duduk saling berhadapan.

Nathan menyandarkan punggungnya dengan tenang, satu kakinya disilangkan, sorot matanya tetap terarah pada Xavero—tajam, namun tidak menekan.

“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu hari ini?”

Xavero tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, seolah menimbang apakah ia harus benar-benar membuka semuanya.

Nathan tidak memaksa. Ia hanya menunggu dengan sabar, tapi tetap memberi tekanan tanpa terlihat.

“Pekerjaan saya hilang,” ucap Xavero akhirnya, singkat.

Nathan tidak terlihat terkejut.

“Dipecat?” tanyanya, memastikan.

Xavero mengangguk pelan. “Tanpa alasan yang jelas.”

Nathan mengangguk kecil, seolah itu bukan sesuatu yang asing baginya.

“Dan kamu tidak diberi penjelasan?”

“Tidak,” jawab Xavero datar. “Katanya perintah dari ‘orang besar’.”

Kalimat itu membuat sudut bibir Nathan bergerak tipis, bukan senyum, lebih ke arah pemahaman.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Xavero menatapnya, sedikit heran dengan respons itu.

Nathan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Datang ke kantor saya besok,” ucapnya tenang. “Alamatnya ada di kartu yang saya berikan.”

Xavero sedikit mengernyit. “Kantor Anda?”

Nathan mengangguk singkat. “Jam sembilan pagi.”

Xavero terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada Nathan, mencoba membaca maksud di balik ajakan itu.

“Untuk apa?” tanyanya akhirnya, tetap waspada.

Nathan tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya kembali dengan tenang, sorot matanya tetap tajam namun terkontrol.

“Kamu butuh pekerjaan,” ucapnya singkat. “Dan saya butuh orang yang tepat.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi jelas tidak biasa.

Xavero menyipitkan mata sedikit. “Orang seperti saya?”

Nathan mengangguk tanpa ragu.

“Justru orang seperti kamu,” jawabnya tegas. “Saya tidak tertarik pada orang yang hanya punya latar belakang bagus. Saya lebih tertarik pada orang yang tahu bagaimana bertahan, di kondisi terburuk.”

Xavero akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Nathan tersenyum tipis. Ia berdiri lebih dulu. “Saya tunggu kamu besok,” ucapnya, lalu menepuk bahu Xavero pelan. “Pergunakan kesempatan emas ini. Kamu pasti bisa.”

Setelah mengatakan itu, Nathan meninggalkan Xavero.

Xavero masih diam, tatapannya mengikuti Nathan yang masuk ke dalam mobil sportnya, lalu meninggalkan gereja.

Senyum tipis terbit di bibir Xavero. Ia kemudian menatap ke arah dalam gereja.

“Tuhan, terima kasih. Aku akan bertahan.”

°°

“Kakak dari mana?”

Nathan tersenyum pada Naura yang menyambutnya. Ia merangkul adiknya, lalu duduk di sofa.

“Kakak dari gereja, Nau,” jawabnya. “Bagaimana keadaanmu? Seharusnya kamu istirahat di kamar.”

“Aku sudah baikan, Kak. Aku bosan di kamar terus.” balas Naura.

“Itu demi kesehatan kamu. Kamu mau Kakak dimarahin sama Daddy kalau kamu begini nanti?” ucap Nathan.

Naura hanya terkekeh. “Tapi Naura serius, Kak… Naura sudah sehat.”

Nathan menatap adiknya beberapa detik, seolah memastikan sendiri kondisi Naura.

“Kamu memang terlihat lebih baik,” ucapnya akhirnya, nada suaranya sedikit melunak. “Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya.”

Naura tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Kakak terlalu khawatir,” balasnya ringan.

Nathan menghela napas pelan. Tangannya terangkat, merapikan sedikit rambut Naura yang berantakan.

“Bukan terlalu khawatir,” ujarnya. “Hanya tidak mau mengambil risiko.”

Hening sejenak.

Naura menatap kakaknya, lalu perlahan bertanya—

“Kak, sudah tahu penyebab kecelakaannya?”

Gerakan Nathan terhenti sesaat.

Tatapannya berubah sedikit, lebih dalam… lebih tajam.

“Kenapa kamu tanya itu?” baliknya tenang.

Naura menunduk sedikit, jemarinya saling bertaut.

“Perasaanku nggak enak,” ucapnya pelan. “Seperti ada yang sengaja.”

Nathan terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.

“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu,” katanya tegas, tapi tetap lembut. “Fokus saja untuk pulih.”

Naura mengangkat wajahnya, menatap Nathan.

“Kakak sudah tahu, ya?”

Nathan mengangguk. “Iya, Nau. Tapi kamu tenang saja, Kakak sudah bereskan.” ucapnya dengan nada tegas.

Naura mengangguk-angguk pelan, ia tahu ucapan kakaknya tidak main-main. “Aku percayakan semua ini pada Kakak.”

Nathan mengangguk singkat.

“Oh iya, Kak… Lisa mengundurkan diri dari posisinya sebagai asisten aku. Katanya suaminya melarang dia bekerja,” ucap Naura pelan. “Padahal aku sudah cocok dengan Lisa.”

Nathan menatap adiknya. “Kenapa kamu baru membicarakan ini sekarang?”

“Aku baru dapat informasinya malam ini, Kak,” jawab Naura.

Nathan terdiam sejenak. Lisa, asisten adiknya, telah mengundurkan diri. Naura masih baru di dunia bisnis dan membutuhkan seseorang yang tepat untuk mendampinginya.

Sebuah senyum tipis terangkat di bibir Nathan, seolah sudah menemukan jawaban.

“Kamu tenang saja, Nau. Kakak akan mengurusnya.”

Naura mengangguk, mempercayakan semuanya pada kakaknya.

“Sekarang kamu istirahat. Sudah malam.”

“Baik, Kak. Kakak juga jangan lupa istirahat,” ucap Naura sebelum memeluk sang kakak lalu meninggalkannya.

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!