NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

​Marsha memejamkan mata, bayangan wajah Andreas ayah kandungnya yang pucat saat menolong Xabiru tadi muncul di benaknya, tatapan Andreas yang penuh harap namun tetap menjaga jarak. ​"Lalu aku harus bagaimana, Mom? Aku muak dengan perasaan ini, aku ingin mereka pergi, tapi aku juga, aku juga takut jika besok kursi di rumah sakit itu benar-benar kosong selamanya."

​Shafira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh empati. Ia tahu putrinya sedang berada di titik balik.​ "Jangan dipaksa untuk memaafkan, Marsha. Level sembilan itu ada di sana untuk sebuah alasan, biarkan dia ada, tapi jangan biarkan kebencian itu menutup matamu bahwa ada bagian lain dari dirimu yang sedang haus akan kasih sayang seorang ayah yang sempat hilang.”

"Haus kasih sayang sejak kapan? " Tanya Marsha.

Erlan tertawa renyah. "Lalu ini apa, anak Daddy sudah sebesar ini tapi suka sekali di peluk. “

Erlan tertawa renyah, suara beratnya bergetar di dada tempat Marsha bersandar. Tawanya adalah suara yang selama ini menjadi jangkar bagi hidup Marsha, pengingat bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian.

​"Lalu ini apa? Anak Daddy sudah sebesar ini tapi suka sekali dipeluk," goda Erlan sambil mengeratkan dekapannya, seolah ingin meyakinkan Marsha bahwa tempatnya di sini selalu aman.

​Marsha tertegun sejenak. Ia memaksakan senyum tipis, meski pikirannya masih berkelana ke lorong rumah sakit. "Itu beda, Dad. Manjaku ke Daddy itu hak paten."

​Shafira yang masih memperhatikan dari samping, menimpali dengan nada yang lebih dalam, beralih kembali ke sisi profesionalnya sebagai psikolog namun tetap dengan kelembutan seorang ibu.

​"Sayang, 'haus' itu bukan berarti kamu tidak mendapatkan kasih sayang dari kami," jelas Shafira perlahan. "Kami mencintaimu dengan seluruh nyawa kami, tapi ada satu ruang kecil di hati setiap anak yang hanya bisa diisi oleh potongan puzzle aslinya. Kamu merindukan Andreas ayah kandungmu bukan karena Daddy-mu kurang memberikan cinta, tapi karena jiwamu mengenali detak jantung yang sama dengannya."

​Marsha melepaskan pelukannya, menatap kedua orang tua angkatnya bergantian. "Tapi Valerina... dia juga potongan puzzle asli, kan? Kenapa rasanya seperti melihat duri yang ingin kutandangi?"

​Shafira terdiam sejenak. Ia mengambil napas panjang. "Ada sebuah istilah dalam psikologi, Marsha. Primal Wound. Luka asal. Jika Andreas adalah sosok yang jiwamu ingat sebagai 'pelindung yang gagal menjagamu', maka Valerina mungkin diingat sebagai 'sumber bahaya'. Itulah mengapa level kebencianmu mencapai angka sembilan.”

​"Dia... dia sejahat itu?" suara Marsha mengecil.

​Erlan mengusap kepala Marsha. "Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu keluarga Halvard, tapi satu hal yang Ayah tahu, masa kecilmu sebelum kami temukan bukanlah lembaran yang bersih, ada banyak goresan di sana."

​"Besok..." Marsha menggantung kalimatnya. "Aku akan kembali melihat mereka di sana, kan?"

​"Mereka tidak akan pergi, Marsha," jawab Erlan mantap. "Orang yang sudah kehilangan permata selama bertahun-tahun tidak akan meninggalkan tempat permata itu ditemukan, meskipun sang permata belum mau bersinar untuk mereka."

​Malam itu, saat Marsha berbaring di tempat tidurnya, kata-kata ayahnya terus terngiang. Ia meraih ponselnya, lalu menatap layar yang gelap. Ada keinginan impulsif untuk mencari nama "Andreas Halvard" di internet, tapi jemarinya gemetar.

____

​Di sudut hatinya yang paling gelap, Marsha mulai menyadari satu hal: Kebenciannya pada Valerina mungkin adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan Andreas. Karena jika ia memaafkan sang ayah, ia harus menghadapi kenyataan tentang apa yang dilakukan wanita itu padanya di masa lalu.

"Jika daddy boleh berikan saran, besok menginaplah dirumah ayahmu, bagaimanapun juga ayahmu bahkan membayar sekelompok mafia untuk mencari keberadaanmu, bukan tentang seberapa banyak uang yang dihabiskan, tapi itu bentuk perjuangan seorang ayah yang mencari putrinya yang hilang." Ucap erlan ia mengecup kening putrinya.

"Sama seperti saat pertama kali daddy menemukanmu di panti asuhan, kamu gadis kecil yang sangat berbeda, tapi dari kamu daddy bisa merasakan kehangatan menjadi seorang ayah. "

Mata shafira berkaca-kaca sebab dirinya terlahir tanpa rahim, ia baru mengetahui hal ini setelah 5 tahun pernikahan, tapi Erlan Dominic tidak pernah mempermasalahkan, justru dari Erlan ia belajar banyak, mereka kerap kali mendatangi panti-panti asuhan untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Kehangatan di ruang keluarga itu semakin pekat, namun saran Erlan terasa seperti ledakan kecil di telinga Marsha. Menginap? Di rumah pria yang selama ini hanya ia lihat sebagai sosok asing di koridor rumah sakit?

​Marsha menatap Erlan dengan mata membelalak, mencoba mencari tanda-tanda bahwa ayahnya sedang bercanda. Namun, kecupan di keningnya itu penuh dengan ketulusan yang tak terbantahkan.

​"Mafia?" bisik Marsha, suaranya sedikit serak. "Sampai sejauh itu dia mencariku?"

​Erlan mengangguk pelan. "Dunia gelap pun ia susuri, Marsha. Andreas Halvard bukan pria yang menyerah pada takdir. Dia melawan dunia untuk menemukanmu. Jika dia sehebat itu mencarimu, bukankah dia layak mendapatkan kesempatan meski hanya satu malam untuk menunjukkan rumah yang selama ini ia jaga untukmu?”

​Di sisi lain sofa, Shafira hanya terdiam. Matanya yang berkaca-kaca mencerminkan emosi yang jauh lebih dalam. Bagi Shafira, Marsha bukan sekadar anak angkat, Marsha adalah keajaiban yang melengkapi kekurangan fisiknya.

​Ingatannya melayang ke tahun-tahun awal pernikahannya dengan Erlan. Vonis dokter tentang rahimnya yang tidak ada sempat membuatnya merasa hancur, namun Erlan justru menggenggam tangannya lebih erat, membawanya dari satu panti ke panti lain untuk berbagi kasih sayang sebagai psikolog dan dokter, hingga akhirnya mereka menemukan Marsha.

​"Mommy..." Marsha menyadari perubahan raut wajah ibunya. Ia meraih tangan Shafira. "Mommy tidak keberatan jika aku... pergi ke sana?"

​Shafira tersenyum, meski setetes air mata jatuh ke pipinya. Ia menggeleng cepat sambil menghapus air mata itu.

​"Justru Mami akan merasa gagal jika membiarkanmu memelihara kebencian tanpa mencari tahu kebenarannya, Sayang," suara Shafira lembut namun bergetar. "Kasih sayang kami padamu sudah utuh. Memberikanmu kesempatan untuk mengenal Andreas tidak akan mengurangi sedikit pun posisi kami sebagai orang tuamu. Justru itu akan menyembuhkan bagian dari dirimu yang selama ini kami tidak bisa jangkau.”

​Pergolakan Batin

​Marsha kembali menyandarkan kepalanya di bahu Erlan, menatap kosong ke arah lampu gantung yang berpijar hangat. Pikiran tentang menginap di rumah keluarga Halvard terasa seperti masuk ke dalam gua yang gelap sekaligus sangat ia kenal.

​"Aku takut, Dad," aku Marsha jujur. "Aku takut jika aku masuk ke rumah itu, kebencian 'level sembilan' itu akan meledak saat aku melihat Valerina di sana. Aku takut aku tidak bisa mengontrol diriku sebagai seorang dokter yang terbiasa tenang."

​"Kamu tidak perlu menjadi dokter di sana, Marsha," potong Erlan lembut. "Jadilah putri kecil yang sedang marah. Jadilah remaja yang kecewa. Andreas sudah siap menerima semua kemarahanmu, karena baginya, kemarahanmu jauh lebih baik daripada keheninganmu."

​Marsha memejamkan mata rapat-rapat, bayangan wajah Andreas yang diam mematung di rumah sakit muncul kembali.

​Apakah rumah itu masih memiliki kamar untuknya? Apakah aroma rumah itu juga akan terasa akrab seperti sup yang ia makan semalam?

​"Hanya satu malam?" tanya Marsha, seolah meminta kepastian.

​"Hanya jika kamu siap," jawab Shafira sambil mengusap pipi Marsha. "Tapi ingat, pintu rumah ini tidak akan pernah dikunci untukmu. Kamu selalu bisa pulang kapan pun kamu merasa tempat itu bukan lagi milikmu.”

"Bukan pergi sayang, kamu tetap putri kami selamanya, lagian lihat saja menginap 3 hari 3 malam di rumah sakit, pulang-pulang yang dicari siapa, Mommmyyyy.... Mana daddy... Teriakan siapa itu? " Ucap shafira yang mencoba mencairkan suasana.

Erlan tertawa renyah, melihat pipi Marsha merah merona karena malu. "Ihhh... Mommy... Kan daddy ini hak patennya aku."

"Hak paten ya" Ucap shafira lalu tertawa.

Keharmonisan keluarga yang terjalin selama 20 tahun, karena mereka Marsha tidak kekurangan tangki cinta.

Tawa renyah Erlan pecah kembali, menggema di ruangan yang selama dua dekade ini menjadi saksi bisu pertumbuhan Marsha dari seorang gadis kecil yang rapuh menjadi dokter bedah yang tangguh. Kehangatan ini adalah "tangki cinta" yang selalu penuh, membuat Marsha sebenarnya memiliki fondasi emosional yang sangat stabil untuk menghadapi badai apa pun di luar sana.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!