NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Males!

Sampai jam pulang sekolah sorenya.

Dena masih belum dapat informasi apapun tentang Dyo. Tau, kenapa Dyo hari ini tidak berangkat pun belum. Padahal, Dena ingin bercerita panjang dengannya—tentang Aura yang semalam mendatangi kosnya.

Dan sekarang Dena masih di sana, di dalam area sekolah, di parkiran paling pojokan.

Tempat biasa anak Eagle Sanca pada ngumpul, entah pagi pas baru datang, atau sorenya pas mau pulang.

Berharap ketemu satu aja, Dena mau nanya-nanya soal Dyo.

Tapi, di sana udah sepi. Hampir semua anak geng itu, apalagi yang udah senior-senior nihil. Alias, Dena baru ke sana setelah mereka udah pada pulang.

Ya walaupun, itu memang salah Dena sendiri.

Ia jadi yang nyesel, pas bel terakhir bunyi, bukannya Dena langsung buru-buru nyari mereka. Dena malah nyempetin diri buat beli matcha.

Sementara teman-temannya yang masih nyangkut di kantin, terpaksa Dena tinggalin.

Dan begitu Dena tiba di parkiran.

"Tumben banget mereka udah balik?" gumamnya gigit jari.

Tapi, dari balik tembok penuh grafiti, satu orang tiba-tiba muncul.

Dena menatapnya.

Orang itu ia tau namanya, meski nggak terlalu kenal.

Renal—satu dari empat perpanjangan tangan Dyo di Eagle Sanca, dan menjadi satu-satunya yang masih belum pulang sepertinya.

"Lo nyariin Dyo?" ujar Renal sambil melangkah mendekat. Satu tangannya masuk ke dalam saku jaket kulit warna hitam.

Dena tertohok, cuma beberapa detik. Lalu mengangguk.

Wajahnya pun terukir lega, tapi masih tertinggal sedikit rasa cemas.

"Iya, Ren..."

"Dari tadi gue nyariin dia, lo tau Dyo di mana?" tanyanya.

Renal kemudian duduk di satu motor. Model chopper, yang motornya ceper tapi setangnya menjulang tinggi. Itu motornya sendiri.

Renal ngangguk. "Tau, dan gue nungguin lo di sini, supaya lo juga tau."

Dena naikin satu alis, menatap Renal yang sibuk merogoh saku. Ia penasaran.

Laki-laki itu kemudian membuka ponsel.

Tak lama, satu foto terpampang jelas di layar, sedang berbaring di atas ranjang.

Dena langsung memicing, agak menunduk menatapnya.

Orang di foto itu, rupanya Dyo—wajahnya biru-biru. Tau? Itu karena habis dipukulin.

Ada beberapa perban juga yang ditempelin. Sementara Dena, melihatnya saja udah bikin ngilu ikut ngerasain.

"Astaghfirullahaladzim..." Dena spontan nyebut, lalu buru-buru nyaut ponsel Renal mau merhatiin lebih teliti.

"Dia kenapa astaga?" Dena melirik.

Wajahnya langsung berubah panik.

Laki-laki itu menghela napas, diam sebentar, baru ngomong.

"Semalam gue sama anak-anak kecolongan," ujar Renal terdengar datar, tapi nyaris menyimpan emosi yang sukar disembunyikan.

"Saat Dyo lagi sendiri, ada yang nyariin dia, dua orang..." lanjut Renal seperti sengaja ditahan. Sekarang pun wajahnya mendadak geram, mencengkeram tangkai kopling itu kuat-kuat.

Dena langsung tegang.

"Gue nggak tau masalahnya apa, yang jelas ... semalam Dyo disikat mereka!" tegasnya.

"Dihajar habis-habisan. Lukanya parah! Lo bisa menilainya sendiri dari foto ini," lanjut Renal.

"Di—Dihajar orang, Ren?" Dena gugup, bingung, nggak tau respon seperti apa yang harus ia buat.

Renal mengangguk.

"Siapa?"

"Belum tau..."

"Orang itu masih gue cari. Anak-anak yang lain juga... makanya mereka buru-buru cabut," kata Renal.

Dena tertegun. Pikirannya mendadak berisik. Awangnya berkelana.

Dyo—pacarnya itu terkenal sebagai jagoan. Nyaris, dalam segi berkelahi tak punya sejarah kalah.

Namun, kali ini laki-laki itu tumbang. Bahkan, hanya cukup di tangan dua orang.

Dena yang tertunduk lesu kemudian langsung mikir. Apa mungkin mereka itu lebih jago dari Dyo...

Dan orang macam apa yang mampu mengalahkan Dyo yang seperti binatang buas itu.

"Sekarang Dyo dimana, Ren?" tanya Dena lebih cemas, tapi arahnya jelas, ia mengkhawatirkan keadaan Dyo.

"Sembunyi," jawab Renal.

Sedetik kemudian Dena mengerinyit. Aneh, Dena menatapnya lekat.

"Kenapa sembunyi?"

Renal mengangkat bahu, "Nggak tau juga..."

Dena terdiam.

Renal kemudian berbisik, "Tapi sepertinya, Dyo emang nggak mau ada orang yang tau perkara ini. Semua, bahkan termasuk gue, tau nya juga bukan dari dia, tapi dari orang."

Dena mengerinyit lagi, kali ini mungkin lebih heran, "Memangnya kenapa Dyo nggak mau ada yang tau?"

Renal lagi-lagi mengangkat bahu, tanda apa yang dia ketahui masihlah terbatas.

"Berarti Dyo juga nggak mau gue tau perkara ini?" tanya Dena curiga.

"Mungkin," jawab Renal.

"Kenapa? Apa karena masalah ini menyangkut gue?"

Renal menggeleng, "Gue yakin ini nggak ada sangkut pautnya sama lo," sahutnya.

"Lo tenang aja, nggak usah mikir aneh-aneh, nggak usah juga nyari-nyari Dyo," imbuh Renal.

"Gue khawatir, Ren!"

"Iya gue tau. Tapi pencarian ini biar selesai di tangan anak-anak. Cepat atau lambat kita pasti tau. Siapa pelakunya, dan alasan kenapa Dyo dihajar mereka!" balas Renal sambil memakai helm.

Motor lalu menyala.

"Nanti lo gue kasih tau," tambahnya.

Sebelum laki-laki itu pergi begitu saja, ninggalin Dena yang cuma bisa ngangguk-ngangguk di pojok parkiran, yang sekarang telah benar-benar sepi.

...***...

Setengah jam berlalu, pikiran Dena masih saja menjalar tak tau arah, tapi tujuan berpikirnya jelas.

Masih mikirin Dyo, soal masalah yang terjadi padanya hingga membuat laki-laki itu dihajar orang, dan lagi kenapa Dyo enggak mau ada seorang pun yang tau.

Bahkan, termasuk dirinya.

Dena jadi manyun.

"Ck! Kamu bikin masalah apa lagi sih, Yo!" decaknya sambil mulai bertapak pelan ninggalin parkiran.

Saat sudah waktunya juga bagi Dena untuk pulang, saat mendung tiba-tiba menggantung rendah di langit menjelang petang.

Setibanya di gerbang depan, Dena melirik kanan kiri. Menatap arus lalu lintas yang terbilang sudah mulai ramai seperti biasa.

"Mudah-mudahan masih ada," gumam Dena menunggu setidaknya satu angkot berhenti di halte.

Tapi, di sana masih kosong. Nggak ada satupun angkot yang berhenti. Dena jadi cemas.

"Wah, jangan bilang gue harus pulang jalan kaki!" dengusnya.

Hingga, setelah hampir lima belas menit lamanya Dena menunggu, secercah harapan akhirnya muncul di depan mata.

"Ah itu dia," serunya gembira saat angkot itu datang.

Namun, satu ingatan mendadak terbesit di detik yang sama.

Dena langsung berhenti.

"Lah iya!"

"Jalurnya!" Dena menepuk dahi.

Saat Dena baru ingat. Rute pulangnya sekarang beda dengan yang biasanya.

Rute ke tempat tinggalnya sekarang, Dena tau. Angkot jarang sekali lewat di depan sekolah, bahkan bisa dihitung jari.

Apalagi sore-sore begini, angkot makin sepi.

Dena menoleh belakang, ke arah gerbang sekolah, kosong.

Dena langsung bengong.

Nggak ada harapan buat nebeng.

"Bangke, masa gue beneran harus jalan kaki sih?" Dena mendengus gelisah.

Rumah Alvaro nauzubillah jaraknya. Sejauh itu mustahil bisa Dena lalui hanya dengan jalan kaki.

Dena jadi mecucu, bingung nggak tau harus gimana.

Atau?

"Gue minta jemput Om Varo aja?"

Ide itu muncul sebagai satu-satunya harapan yang tersisa.

Tapi...

"Gengsi ah!" cicitnya.

"Tadi pagi kan gue udah nolak!" gerutunya kali ini lebih ke dirinya sendiri. Agak nyesel juga pagi tadi buru-buru nolak.

Alhasil, sekarang jadi pening sendiri.

"Pesen ojol aja kali ya?" pikiran setelah tak sengaja melihat ada satu ojol lewat.

Namun, belum sempat Dena membuka aplikasi, ponselnya sudah lebih dulu berdenting.

Satu pesan masuk, ternyata dari nomor Alvaro.

"Eh, panjang umur." Segera, Dena langsung membukanya.

Pesan itu di sana tertulis cukup singkat, tapi sangat jelas maksudnya.

Lupa jalan pulang?

Dena membacanya sekilas lalu manyun.

Membacanya lagi dan malah bikin tambah kesal.

"Ngeledek banget sih!" gerutunya pelan.

Sambil jempolnya bergerak-gerak, mengetik balasan.

Iya, butuh dijemput.

Yang daripada pulang jalan kaki, Dena tak lagi peduli gengsi, sambil nyengir ia menekan tombol kirim.

Klik!

Beberapa menit akhirnya terlewati, tapi masih belum ada balasan yang masuk.

Dena tetap menunggu sambil menendang-nendang kerikil kecil, hampir jengkel.

Lalu mendengus pelan.

"Sombong banget sih!"

Namun, baru setelah Dena mengantongi ponsel.

Ting!

Alvaro akhirnya membalas.

Dengan leganya Dena buru-buru membaca.

Isinya, satu kata singkat.

Males!

Tidak ada sedetik, Dena langsung bengong.

1
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak sampe eps 45 😁
dan semangat buatnya 💪
Ppinkykhaenafk_
lanjut dong kak, kalo bisa segera ya udah ga sabar nih 🤭
Ppinkykhaenafk_
keren plotnya tuh dar der dor banget
Ppinkykhaenafk_
aku kasih gift nih 🌹
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!