Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
His Little Secret & Obsession
Claire masih duduk di lorong rumah sakit ketika ponselnya akhirnya bergetar. Sudah hampir pukul empat pagi sekarang. Langit mulai berubah kelabu di balik kaca besar rumah sakit, sementara suara wartawan di luar masih terdengar samar seperti dengungan yang tidak pernah berhenti.
Tubuh Claire terasa mati rasa. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar bernapas dengan normal malam itu. Tangannya masih menggenggam kotak transparan berisi barang barang Julian ketika layar ponselnya menyala.
Damien Knox.
Claire langsung menatap nama itu beberapa detik. Lalu membuka pesannya perlahan.
Claire, aku baru mendengar semuanya saat tiba di Los Angeles.
Aku sungguh minta maaf.
Aku tahu tidak ada kata yang bisa membuat keadaan ini lebih baik sekarang, tetapi kau tidak perlu menghadapi semuanya sendirian. Kalau ada apa pun yang kau butuhkan, hubungi aku.
Julian adalah salah satu orang terbaik yang pernah kukenal.
Aku turut berduka.
— Damien
Claire membaca pesan itu dua kali.
Damien selalu seperti ini. Tenang. Dan entah mengapa, justru itu yang membuat dada Claire semakin sesak. Karena di tengah semua kekacauan malam ini, Damien terdengar terlalu stabil. Terlalu mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Claire menutup matanya pelan sebelum akhirnya menyandarkan kepala ke dinding dingin lorong rumah sakit. Julian mungkin sudah mati. Dan Damien berada ribuan kilometer jauhnya bersama Serena Roe. Entah mengapa, kombinasi itu terasa aneh di kepalanya meski Claire tahu bahwa sahabat kecilnya itu memang menjalin hubungan dengan si model.
Namun Claire terlalu lelah untuk mencoba memahami perasaan tersebut.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, salju turun perlahan di pegunungan San Gabriel. Mobil hitam panjang yang membawa Damien dan Serena melaju membelah jalanan sunyi yang dipenuhi pohon pinus tinggi. Langit Los Angeles masih gelap, hanya diterangi lampu jalan samar dan cahaya bulan pucat yang memantul di hamparan salju.
Serena duduk diam di kursi penumpang sejak tadi. Tubuhnya lelah. Pikirannya bahkan lebih buruk. Julian masih tidak sadar di ambulans yang mengikuti mereka dari belakang menuju mansion Damien. Dokter dan perawat terus memantau kondisi pria itu selama perjalanan, sementara Serena merasa hidupnya berubah terlalu cepat hanya dalam satu malam.
“Aku tidak menyangka Los Angeles seperti ini,” gumam Serena pelan sambil menatap hutan bersalju di luar jendela.
Damien meliriknya sekilas.
“Kau suka?”
“Aneh.”
Sudut bibir Damien naik tipis. “Itu bukan jawaban.”
Serena akhirnya menoleh ke arah pria itu. “Kau punya rumah sebesar apa sebenarnya di sini?”
Damien terkekeh kecil. “Kau akan lihat sendiri.”
Dan ternyata mansion itu jauh lebih besar dibanding bayangan Serena. Gerbang besi hitam terbuka perlahan saat mobil mereka mendekat. Mansion modern berlapis kaca dan batu hitam berdiri megah di tengah hutan pinus, menghadap danau luas yang membeku sebagian karena musim dingin. Lampu lampu hangat menyala dari dalam rumah, memantul indah di salju putih di sekelilingnya.
Cantik. Namun juga terasa sunyi. Seolah tempat itu memang dibangun untuk menyembunyikan sesuatu dari dunia luar.
Serena turun perlahan dari mobil sambil menatap mansion di depannya dengan napas tertahan kecil.
“Kau tinggal di sini setiap kemari?”
“Hm.”
“Mengapa aku tidak pernah tahu?”
Damien berjalan mendekat lalu menyampirkan coat hitamnya ke bahu Serena seperti biasa. “Ada banyak hal yang tidak pernah kutunjukkan padamu.” Tatapan pria itu lembut saat mengatakannya.
Dan Serena mulai sadar betapa sedikitnya ia benar- benar mengenal Damien Knox setelah sepuluh tahun bersama.
Bagian dalam mansion itu hangat dan terlalu mewah untuk disebut rumah liburan biasa. Langit langit tinggi. Perapian marmer hitam besar. Aroma kayu cedar dan wine mahal memenuhi udara.
Namun yang paling aneh adalah, tempat itu terasa hidup. Bukan seperti rumah kosong yang jarang dikunjungi. Seolah Damien memang sering berada di sana sendirian.
“Kamar Julian ada di lantai bawah,” ujar Damien sambil melepaskan sarung tangannya. “Dokter dan perawat akan tinggal di area timur mansion.”
“Kau sudah menyiapkan semuanya bahkan sebelum malam ini.”
Damien tidak langsung menjawab. Pria itu hanya membuka satu kancing kemejanya perlahan sebelum berkata tenang,
“Aku suka bersiap untuk kemungkinan terburuk.”
Jawaban itu kembali membuat Serena merasakan dingin aneh di tengkuknya.
Damien akhirnya berjalan lebih jauh memasuki mansion lalu menoleh sedikit ke arah Serena.
“Ayo. Aku akan menunjukkan sesuatu.”
Serena mengikutinya melewati lorong panjang dengan lampu temaram. Suara langkah mereka menggema pelan di lantai kayu gelap, sementara salju di luar kaca terus turun tanpa suara.
Damien berhenti di depan sebuah pintu besar di ujung lorong lantai dua lalu membukanya perlahan.
Seketika Serena langsung membeku. Ruangan itu dipenuhi lukisan dirinya. Puluhan. Mungkin ratusan. Semua memenuhi dinding besar dari lantai sampai langit langit.
Serena saat tertawa.
Serena tertidur di sofa.
Serena menangis diam diam di balkon mansion-nya.
Serena mengenakan gaun merah dengan tatapan kosong.
Serena setengah telanjang di atas ranjang dengan cahaya lampu malam menyentuh kulit pucatnya.
Serena dalam versi yang bahkan tidak pernah ia sadari pernah dilihat seseorang.
Napas Serena langsung tercekat. Seluruh ruangan dipenuhi dirinya. Dan semuanya dilukis dengan detail yang nyaris obsesif.
“Kau...” suara Serena nyaris hilang. “Kau yang melukis semua ini?”
Damien berdiri diam beberapa langkah di belakang Serena.
“Hm.”
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
Serena berjalan perlahan memasuki ruangan itu dengan jantung berdegup keras. Ada satu lukisan besar di sudut ruangan yang membuat langkahnya berhenti total.
Dirinya sedang tertidur dengan mata sembab di atas dada Damien. Dan cara pria itu melukis tatapan dirinya sendiri ke arah Serena, terlihat sangat mencintai perempuan itu. Sangat dalam. Sangat menyakitkan.
“Setiap kali aku merasa kehilangan kendali...” suara Damien terdengar rendah dari belakangnya, “aku datang ke sini.”
Serena perlahan menoleh. "Sejauh ini?"
Damien berdiri bersandar santai di dekat pintu dengan kedua tangan di saku celana. Lampu hangat ruangan membuat wajah pria itu terlihat lebih lelah dibanding biasanya.
“Aku melukismu sampai pikiranku tenang lagi.”
Dada Serena langsung terasa sesak. Karena tidak ada satu pun laki-laki waras yang melakukan hal seperti ini.
“Kau terlihat sangat mencintaiku,” bisik Serena lirih. Senyum miris menggantung di bibirnya.
Tatapan Damien langsung bertahan lama di wajah perempuan itu. Ada sesuatu yang nyaris terlihat rapuh di mata pria tersebut.
“Aku memang mencintaimu.” Kalimat itu keluar begitu mudah. Begitu jujur.
Namun justru itu yang membuat Serena semakin tidak mengerti.
“Lalu mengapa Claire?” suara Serena mulai bergetar pelan. “Kalau kau mencintaiku sebesar ini, mengapa kau tetap memilih perempuan lain?”
Ruangan itu langsung jatuh sunyi. Salju terus turun di luar jendela besar mansion. Dan Damien tidak mampu menjawab.
...----------------...
...To be continue...