Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bukan Soal Benar atau Salah
Langkah sepatu Steven menggema di atas lantai pualam putih yang mengilap. Ratusan gaun koleksi musim semi tergantung rapi di balik etalase kaca tebal.
Pria itu mengabaikan kemewahan di sekelilingnya. Matanya langsung mengunci sosok perempuan yang duduk di ujung ruangan.
Shanaya memakai setelan jas putih tulang. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang. Dia duduk tenang di balik meja kaca besar.
Dinda berdiri di samping Shanaya. Tangan asisten itu terkepal erat memegang nampan kosong. Ada ketegangan yang kental memenuhi udara. Steven Aditya selalu membawa gravitasi gelap ke mana pun dia pergi. Bos Kanal Satu itu bukan tamu biasa. Dia predator dari hutan beton yang berbeda.
"Tinggalkan kami, Din," perintah Shanaya.
Dinda mengangguk cepat. Perempuan itu melangkah mundur dan menutup rapat pintu kayu mahoni dari luar.
Steven berhenti tepat di depan meja kaca. Dia memakai kemeja biru tua dengan lengan digulung sampai siku. Pria itu menarik kursi tunggal bergaya modern dan duduk berhadapan dengan Shanaya.
"Kamu tidak pernah datang tanpa asisten atau pengawalmu, Steven," kata Shanaya.
"Pesanmu jelas. Datang sendiri." Steven bersandar santai. "Aku benci keramaian. Apalagi di tempat yang memajang pakaian dengan harga tidak masuk akal."
Shanaya tersenyum tipis. Dia mendorong sebuah map hitam tebal melintasi permukaan meja kaca. Map itu berhenti tepat di depan tangan Steven.
"Ini hadiah untuk Kanal Satu," kata Shanaya. "Rekening cangkang milik Clara. Lengkap dengan bukti transfer dari perusahaan fiktif milik Anastasia Lim. Keluarga Lim memakai nama tunangan baru Alvian untuk mencuci uang suap Maison de Blanc. Rilis berita ini malam ini juga. Saham Restu Group akan hancur sebelum bursa saham dibuka besok pagi."
Steven membuka map itu perlahan.
Matanya bergerak cepat membaca deretan angka transfer, nama perusahaan fiktif, dan jejak aliran rekening luar negeri. Tidak ada emosi di wajahnya. Pria itu membaca setiap lembar dengan ketelitian absolut.
Lalu dia menutup kembali map itu.
"Kalau aku merilis ini malam ini, kamu kalah."
Jemari Shanaya berhenti bergerak. Ujung alisnya berkedut pelan. "Kanal Satu menolak berita eksklusif soal korupsi korporasi? Strategiku terlalu kecil untukmu?"
Steven mengetuk meja kaca dengan jari telunjuknya. Dua kali.
"Skandal korupsi korporasi bertahan tiga hari, Shanaya. Video lamaran romantis dengan tangisan palsu bertahan tiga minggu. Begitulah cara kerja publik." Nada suara Steven terdengar berat dan menghakimi. "Begitu beritamu tayang, Anastasia akan mengerahkan pasukan media bayarannya. Clara menyumbang miliaran rupiah ke panti asuhan. Alvian membelikan Clara pulau pribadi. Anastasia merilis koleksi gaun amal. Algoritma akan menelan bukti suap ini dalam hitungan jam. Publik tidak peduli rekening cangkang. Mereka peduli cincin berlian dan foto ciuman."
Suhu ruangan terasa turun drastis. Shanaya menatap lurus ke dalam mata tajam pria di depannya. Otaknya mencerna ucapan Steven.
"Alvian dan Anastasia akan memutar balik cerita ini," lanjut Steven dingin. "Mereka akan menuduh Kesuma Group menyebar fitnah karena sakit hati atas pembatalan pertunanganmu. Kamu membuang peluru emasmu untuk menembak nyamuk."
"Kamu benci manipulasi media kotor," balas Shanaya telak. "Kenapa kamu membiarkan mereka menang?"
"Anastasia menyuap wartawan untuk membeli perhatian publik. Aku tidak membeli, aku membentuknya Shanaya." Mata gelap Steven menatap Shanaya tanpa berkedip. "Media bukan soal benar atau salah. Media soal siapa yang mengendalikan emosi penonton lebih lama."
Shanaya mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh lebar meja.
"Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu tidak datang ke sini hanya untuk menceramahiku."
Steven ikut mencondongkan tubuhnya. Aroma kayu dan tembakau menguar tipis.
"Aku tidak mau satu berita pendek. Aku mau perang narasi." Suara pria itu merendah, nyaris seperti bisikan mematikan. "Aku tidak mau menghancurkan Anastasia dalam satu malam. Aku mau membuat publik jatuh cinta padamu dulu."
Napas Shanaya tertahan sedetik.
Itu pertama kalinya ada seseorang yang menatapnya bukan sebagai pewaris Kesuma Group, bukan mantan tunangan Alvian, melainkan sesuatu yang layak diperebutkan publik.
"Kanal Satu akan memproduksi program dokumenter eksklusif tentang Kesuma Group," ucap Steven presisi. "Kita akan merekam proses kebangkitan divisi desainmu dari nol. Kamera kami akan mengikuti timmu dua puluh empat jam. Rapat, desain, produksi, konflik internal, sampai lobi klien."
"Kamu meminta akses tanpa batas ke perusahaanku."
"Aku menawarkan panggung terbesar di negara ini." Steven tidak mundur seinci pun. "Publik tidak peduli siapa yang benar. Mereka peduli siapa yang mereka kenal."
Shanaya langsung menangkap arah permainan itu.
Steven tidak ingin menyerang Anastasia sekarang. Steven tidak sedang menawarkan bantuan. Pria itu sedang membangun mesin perang.
"Saat publik sudah memihakku..." gumam Shanaya pelan, matanya berkilat terang. "...kita jatuhkan bukti suap Anastasia secara eksklusif lewat episode final."
"Tepat." Steven menarik sudut bibirnya, membentuk senyum predator yang puas.
"Saat itu terjadi, Anastasia tidak akan punya ruang untuk membela diri. Seluruh simpati publik sudah terkunci padamu. Media bayarannya tidak akan berkutik melawan rating stasiun berita nasional."
Shanaya bersandar kembali ke kursinya. Dia bisa melihat kehancuran keluarga Lim dengan jelas di depan matanya. "Alvian dan Anastasia akan terlihat seperti badut yang sibuk mengemis perhatian kamera, sementara aku sibuk membangun karya. Kanal Satu akan mendapat rating tertinggi sepanjang sejarah televisi nasional."
"Itu bahasa bisnis yang aku suka." Steven berdiri. Dia merapikan lengan kemejanya dengan gerakan efisien.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyiapkan tim produksi?" tanya Shanaya.
"Tiga hari. Timku akan memasang kamera di sudut-sudut utama kantormu. Aku sendiri yang akan memimpin penyuntingan akhir setiap episode."
"Setuju. Ini transaksi yang sempurna."
Shanaya mengulurkan tangan kanannya melintasi meja. Sebuah tawaran jabat tangan profesional.
Steven menatap tangan Shanaya yang terulur cukup lama.
Namun pria itu tidak menyambutnya.
"Kamu terlalu sering membuat kesepakatan sambil berdiri di posisi aman, Shanaya."
Kalimat itu langsung menusuk. Terasa terlalu personal untuk sebuah teguran bisnis. Mata gelap pria itu membaca seluruh pertahanan yang Shanaya bangun.
Steven memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah panjang menuju pintu keluar. Tangannya meraih gagang pintu.
"Kirim kontrak kerja samanya ke Dinda besok pagi," seru Shanaya dari belakang meja. Tangan kanannya turun perlahan.
Langkah kaki Steven berhenti. Pria itu berdiri di ambang pintu tanpa menoleh penuh.
"Aku punya satu syarat."
Shanaya menatapnya tajam. "Apa?"
Steven terdiam sesaat. Tatapannya turun ke arah map hitam di atas meja, lalu kembali pada Shanaya.
"Kalau Kanal Satu masuk ke perang ini..." suaranya rendah dan tenang, "...aku tidak bekerja setengah-setengah."
Jemari Shanaya mengetuk pelan meja kaca. "Maksudmu?"
Steven membuka pintu perlahan.
"Begitu aku mulai membangun citramu di depan publik, hidupmu bukan lagi sepenuhnya milikmu sendiri."