Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Nama Baru di Papan Peringkat Teror Baru bagi Musuh
Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah-celah dinding gubuk reyot itu, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Sisa-sisa hujan semalam masih menetes dari atap, namun dinginnya udara sama sekali tidak terasa. Di sudut ruangan, Xue Ying terbangun dari tidur terindah yang pernah ia miliki selama berbulan-bulan terpisah. Ia merasakan kehangatan yang masih melingkari tubuhnya, dan saat ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Ren yang sedang menatapnya lekat-lekat, senyum lembut tak pernah lepas dari bibirnya.
"Pagi, kekasihku," bisik Ren pelan, tangannya mengusap rambut hitam gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Xue Ying tersenyum balik, merasa seluruh kelelahan dan beban berat yang selama ini memikul pundaknya lenyap seketika. Ia bangkit duduk, merapikan pakaiannya, dan menatap pemuda di hadapannya—pemuda yang semalam menempuh ribuan li, menembus hujan, darah, dan bahaya hanya untuk sampai ke sisinya. Luka-luka parah yang ada di tubuh Ren kemarin kini sudah tertutup kulit baru, sembuh sempurna berkat energi penyembuhan gabungan mereka berdua yang mengalir terus-menerus lewat ikatan jiwa.
"Kau sudah pulih sepenuhnya?" tanya Xue Ying, tangannya menyentuh dada bidang kekasihnya dengan cermat.
Ren mengangguk percaya diri, matanya berkilat tajam dan penuh semangat. "Luka fisik bukan apa-apa. Sekarang, energi kita menyatu sempurna. Meridianmu yang terbuka sebagian, ditambah darah Naga dan Hong yang berpadu... kekuatan kita berdua kini melampaui batas nalar. Kita tidak lagi sekadar murid akademi, Ying. Kita adalah kekuatan baru yang tak terduga oleh siapa pun."
Ren berdiri tegak, menarik tangan Xue Ying hingga gadis itu ikut berdiri di sampingnya, berdiri sejajar, bahu menyentuh bahu.
"Dan hari ini... saatnya kita memberi tahu seluruh isi akademi, bahkan seluruh dunia... siapa kita sebenarnya, dan di mana posisi kita berada."
Di puncak gunung utama, di bagian paling megah dan paling suci dari seluruh kompleks Akademi Bintang Utara, berdiri sebuah bangunan menara putih yang menjulang tinggi menembus awan. Di dinding luar menara itu, terukir nama-nama berwarna emas yang berkilauan diterpa sinar matahari. Itulah Papan Peringkat Kekuatan, daftar sakti yang mencatat seratus nama terkuat di antara ribuan murid, guru, dan tetua akademi.
Posisi di papan itu menentukan segalanya: hak istimewa, sumber daya, rasa hormat, dan kekuasaan mutlak. Selama ratusan tahun, nama-nama yang tertulis di sana tidak banyak berubah. Di urutan paling atas, nama yang selalu bersinar paling terang adalah Lan Feng, sang Pangeran, jenius tak tertandingi yang dianggap puncak dari generasi muda.
Pagi ini, seperti biasa, ribuan murid berkumpul di halaman luas di bawah menara itu, mendongak menatap nama-nama emas itu dengan rasa kagum dan ambisi. Di barisan depan, Tetua Zhu, para tetua lainnya, serta Lan Feng sendiri berdiri dengan wajah serius namun tetap berwibawa. Sejak kejadian kemarin, suasana di akademi berubah drastis. Tidak ada lagi yang tertawa, tidak ada lagi yang berani bersuara keras. Semua orang tahu, ada sosok dahsyat yang bangkit di lembah bawah sana, tapi belum ada yang tahu sampai di mana batas kekuatannya.
"Lihat," bisik seorang murid sambil menunjuk ke arah gerbang utama. "Mereka datang..."
Suasana hening seketika. Semua mata tertuju ke jalan raya yang naik dari bawah lembah.
Di sana, hanya ada dua orang yang berjalan.
Seorang pemuda tampan berwajah gagah, memancarkan aura keemasan yang berat dan agung, seolah ia adalah matahari yang berjalan di atas bumi. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda berwajah indah luar biasa, berpakaian sederhana namun bersinar cahaya putih bersih, aura suci yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin berlutut.
Mereka berjalan perlahan, tenang, namun setiap langkah yang mereka ambil membuat tanah sedikit bergetar. Di belakang mereka, mengikuti langkah kecil dengan penuh rasa hormat, ada Xiao An yang kini memancarkan kekuatan setara murid elit.
Itu adalah Ren dan Xue Ying.
Saat mereka sampai di halaman depan, tidak ada satu pun yang berani maju menyambut atau menghalangi. Bahkan Tetua Zhu pun hanya menelan ludah dengan wajah pucat, merasakan tekanan kekuatan yang luar biasa dari kedua sosok itu, kekuatan yang membuatnya merasa seperti anak kecil berdiri di hadapan raksasa.
Ren berhenti tepat di bawah Menara Papan Peringkat. Ia mengangkat wajahnya, menatap deretan nama emas yang tertulis tinggi di atas sana, lalu menatap Lan Feng yang berdiri kaku di depan para tetua.
"Jadi ini ukuran kekuatan kalian ya?" suara Ren terdengar rendah namun bergema ke seluruh penjuru, jelas dan tegas, tanpa ada rasa hormat sedikit pun. "Daftar nama di dinding batu ini menentukan siapa yang kuat dan siapa yang lemah?"
Lan Feng mengerutkan kening, menahan rasa takut yang masih ada dari kejadian kemarin, dan berusaha tetap berwibawa.
"Benar. Di Akademi Bintang Utara, Papan Peringkat adalah hukum mutlak. Nama di atas adalah yang terkuat. Nama di bawah adalah yang lemah. Siapa pun yang ingin namanya terukir di sana... harus membuktikan kekuatannya, mengalahkan mereka yang ada di atasnya."
Ren tersenyum miring, senyum yang dingin dan penuh kepercayaan diri mutlak. Ia menoleh ke arah Xue Ying di sampingnya, gadis itu pun tersenyum balik, senyum yang sama persis—senyum para pemenang yang sudah tahu hasil akhirnya.
"Baiklah kalau begitu," ucap Ren pelan, lalu ia mengangkat tangan kanannya ke atas, telapak tangan terbuka menghadap ke dinding batu raksasa itu.
Seketika itu juga...
WUUUUUSSSSHHH!!!
Gelombang energi emas yang dahsyat meluncur dari telapak tangan Ren, menyapu ke atas, menerpa seluruh permukaan Papan Peringkat itu!
Para murid berteriak kaget, para tetua mundur refleks, Tetua Zhu melotot tak percaya. Energi itu begitu padat, begitu kuat, dan begitu kasar hingga membuat seluruh menara putih itu bergetar hebat seolah mau runtuh!
Dan saat energi emas itu menyentuh dinding batu...
KRRIIUK... KRRAAAK!!!
Suara gesekan batu yang mengerikan terdengar, mengguncang seluruh tempat itu.
Nama-nama emas yang sudah tertulis ratusan tahun itu... nama-nama para jenius, nama-nama para tetua, nama Lan Feng yang selama ini bersinar paling terang... semuanya terhapus! Terhapus seketika seolah ditelan kuasa langit!
Seluruh papan peringkat menjadi kosong melompong!
Jeritan kaget dan kebingungan meledak di kerumunan. Lan Feng mundur terhuyung, wajahnya pucat pasi sampai tidak ada satu pun darah yang tersisa. Tetua Zhu memegangi dadanya, nyaris jatuh pingsan.
"KAU MENGAPA-MENGAPA?! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Guru Meng yang berdiri agak jauh, matanya melotot tak percaya. "Kau menghapus sejarah kami! Kau menghapus kehormatan kami!"
Ren menoleh tajam ke arah lelaki itu, satu pandangan dingin saja sudah cukup membuat Guru Meng terdiam kaku dan jatuh berlutut ketakutan.
"Sejarah? Kehormatan?" Ren tertawa dingin, suaranya penuh ejekan yang mematikan. "Kehormatan yang kalian banggakan itu... hanyalah debu di hadapan kami. Sejarah yang kalian ukir itu... hanyalah masa lalu yang sudah usang. Hari ini... sejarah baru dimulai."
Ren kembali mengangkat kedua tangannya, kali ini bersama-sama dengan Xue Ying di sampingnya.
Energi Emas dan Putih menyatu di udara, membentuk sinar raksasa yang menyilaukan mata, menari-nari di permukaan batu putih itu.
Dan perlahan, di urutan paling atas, di posisi yang paling besar, paling terang, dan paling megah—posisi yang sebelumnya hanya kosong tanpa nama—muncul dua nama baru yang terukir dalam huruf raksasa berwarna emas murni yang berkilauan luar biasa:
REN & XUE YING
Di bawah nama itu, terukir tulisan kecil namun mengerikan:
PENGUASA MUTLAK • TAK TERGANTUNGKAN • DI LUAR SKALA
Dan baru di bawah kedua nama itu, di urutan kedua, nama Lan Feng kembali terukir kecil-kecil, diikuti nama-nama tetua dan murid elit lainnya, semua posisinya turun drastis.
Keheningan mencekam kembali menyelimuti seluruh tempat itu.
Semua orang menatap nama baru di puncak itu dengan mulut menganga lebar. Tidak ada angka tingkat kekuatan di samping nama itu, tidak ada peringkat biasa, hanya tulisan Di Luar Skala. Artinya, kekuatan mereka berdua sudah melampaui batas ukuran apa pun yang dimiliki akademi ini. Melampaui pemahaman siapa pun di sini.
Ren melangkah maju satu langkah, tekanan auranya menindas seluruh isi halaman hingga tidak ada yang berani mengangkat kepala. Xue Ying berdiri di sampingnya, tenang, namun wibawa Burung Hong yang dipancarkannya membuat setiap orang merasa seolah sedang berdiri di bawah kaki dewi.
"Dengar baik-baik kalian semua!" suara Ren lantang, berwibawa, dan mengandung kekuatan jiwa yang membuat siapa pun yang mendengarnya harus mendengarkan dengan hormat.
"Mulai hari ini, aturan di Akademi Bintang Utara berubah total. Nama kami ada di puncak, dan akan tetap di sana selamanya. Tidak ada yang berani menantang, tidak ada yang berani menyaingi."
Ren menatap tajam ke arah Lan Feng yang masih gemetar ketakutan.
"Kalian yang dulu merasa paling hebat, paling berkuasa, dan paling mulia... lihatlah nama kalian sekarang. Kalian hanyalah bayangan di bawah kaki kami."
Ren menunjuk ke arah nama mereka yang bersinar terang di atas sana.
"Dan ingatlah ini baik-baik. Nama Ren dan Xue Ying bukan sekadar nama baru di papan peringkat ini. Nama ini adalah teror baru bagi siapa pun yang berani menjadi musuh kami."
Ren merangkul bahu Xue Ying erat, menatap seluruh kerumunan dengan pandangan yang tajam dan mengerikan.
"Siapa pun yang berani menghina kami, berani menyakiti kami, atau berani menghalangi jalan kami... akan mendapatkan satu nasib: Musnah total."
"Kami tidak mencari masalah. Tapi kalau masalah mencari kami... kami akan memastikan bahwa nama kalian akan dihapus bukan hanya dari papan batu ini, tapi dihapus dari sejarah dunia ini selamanya."
Suara Ren berhenti, namun getaran ancamannya masih bergema di telinga setiap orang.
Tidak ada yang berani membantah. Tidak ada yang berani marah. Karena mereka semua sadar, kekuatan yang dimiliki pasangan itu bukan lagi sekadar tingkat akademi. Itu adalah kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh gunung ini hanya dengan satu jentikan jari.
Xue Ying menatap sekeliling, lalu berbicara dengan suara lembut namun menusuk hati:
"Kalian yang dulu menertawakanku di lembah bawah sana... kalian yang dulu menganggapku sampah... lihatlah sekarang. Posisi kita sudah berubah."
Ia mengangkat wajahnya, matanya bersinar indah namun dingin.
"Kami tidak akan membalas dendam pada penghinaan masa lalu. Karena bagi kami, kalian terlalu kecil untuk kami anggap musuh. Tapi sebagai pelajaran: Jangan pernah menilai seseorang dari apa yang terlihat mata. Dan jangan pernah... pernah lagi... meremehkan kekuatan cinta dan tekad."
Ren dan Xue Ying berbalik badan, berjalan pergi meninggalkan halaman utama itu, meninggalkan ribuan orang yang masih tertunduk diam dalam rasa takut, kagum, dan penyesalan. Di belakang mereka, nama mereka tetap bersinar terang di puncak papan peringkat, menjadi simbol baru kekuasaan mutlak.
Di barisan belakang, Xiao An tersenyum bangga sambil menatap papan itu. Ia tahu, hari ini bukan hanya sejarah akademi yang berubah. Ini adalah awal dari sejarah dunia.
Saat mereka menjauh, Lan Feng perlahan mengangkat kepalanya, menatap nama emas di atas sana dengan rasa cemburu, penyesalan, dan ketakutan yang mendalam. Ia sadar sepenuhnya: Ia bukan hanya kalah dalam kekuatan, ia kalah total dalam segala hal. Ia kalah karena ia tidak memiliki apa yang dimiliki pasangan itu—ikatan jiwa yang abadi dan kekuatan cinta yang tak terhancurkan.
Di kejauhan, Ren dan Xue Ying berjalan berdampingan menuju puncak tertinggi gunung, tempat kediaman para tetua yang kini telah mereka ambil alih haknya.
Ren menoleh ke kekasihnya, tersenyum bangga.
"Sudah selesai, Ying. Nama kita sudah terukir. Teror kita sudah dimulai."
Xue Ying menatap balik, senyum bahagia mengembang di bibirnya. Ia memegang tangan kekasihnya erat-erat.
"Ya. Dan sekarang... tidak ada lagi yang berani mengganggu kita. Tidak ada lagi yang berani memisahkan kita."
Di atas papan peringkat itu, dua nama itu bersinar semakin terang, seolah menyatu dengan matahari di langit. Nama itu menjadi legenda, menjadi ketakutan, dan menjadi harapan. Dan bagi siapa pun yang mendengarnya, nama Ren dan Xue Ying bukan lagi sekadar nama murid akademi. Itu adalah nama dua makhluk yang telah bangkit, siap menaklukkan dunia, dan siap membuat setiap musuh yang berani melawan mereka merasakan teror yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapan pun.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭