Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tidak sengaja, maaf!
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Yun Zhu segera menyisir jalanan Kota Zhiyang untuk mencari tempat beristirahat.
Ia akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan kayu berlantai dua yang tampak tenang.
Meski bangunannya tidak semegah rumah-rumah bangsawan di sekitarnya, tempat itu dirasanya cukup untuk memulihkan energi sebelum pembukaan Makam Abadi.
Yun Zhu melangkah masuk, suara lantai kayu yang berderit menyambut kehadirannya. Ia langsung menghampiri meja resepsionis di mana seorang pria tua dengan kacamata kecil bertengger di hidungnya sedang menghitung pembukuan.
"Bos, satu malam," ucap Yun Zhu pendek.
Pria tua itu menghentikan kegiatannya, mendongak untuk menatap Yun Zhu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Setelah jeda singkat, ia menjawab dengan suara serak.
"Lima koin perak, untuk satu malam."
Tanpa membuang waktu dengan tawar-menawar, Yun Zhu merogoh cincin penyimpanannya. Cahaya perak berkedip, dan lima koin logam langsung ia letakkan di atas meja.
Pria tua itu mengangguk puas, lalu menyerahkan sebuah kunci kuno dan menunjukkan letak kamarnya di lantai atas.
Yun Zhu memasuki kamar yang telah dipesan. Ruangan itu hanya berisi sebuah ranjang kayu, meja kecil, dan satu jendela yang menghadap ke gang sempit.
"Dibandingkan kediaman sebelumnya, ini malah terlihat seperti gudang," gumamnya.
"Tapi sudahlah."
Ia segera mengunci pintu dan memasang formasi perlindungan ringan di sekeliling ruangan agar tidak ada yang bisa mengintip atau masuk tanpa izin.
Setelah merasa aman, ia mengeluarkan kotak hijau zamrud dari cincin penyimpanannya dan meletakkannya dengan hati-hati di atas ranjang.
Tubuh Yun Zhu perlahan berpendar, menyusut menjadi butiran cahaya kecil yang kemudian tersedot masuk ke dalam kotak tersebut.
Seketika, pemandangan berubah. Yun Zhu kini berdiri di tengah padang rumput hijau yang luas di dalam dunia kecil miliknya.
Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan pohon obat langka yang tumbuh subur di sekeliling area tersebut. Aroma herbal yang menenangkan memenuhi indra penciumannya.
Tanpa memedulikan tanaman-tanaman mahal itu, Yun Zhu melangkah mantap menuju satu-satunya rumah kayu sederhana yang berdiri di sana.
Sesampainya di depan pintu, ia secara refleks langsung menggerakkan tangannya untuk mendorong daun pintu.
Krieeett...
Pintu terbuka lebar, dan seketika pandangan Yun Zhu membeku.
Di balik pintu, Yan Chu sedang berdiri mematung.
Tubuhnya yang indah tidak tertutup pakaian sehelai pun, hanya ada selembar kain putih tipis yang ia pegang dengan terburu-buru untuk menutupi bagian depannya.
Kulitnya yang seputih porselen masih dihiasi butiran air yang berkilau, dan rambut hitam panjangnya tampak basah kuyup tersampir di bahunya yang ramping.
Pemandangan tubuh Yan Chu yang masih segar setelah mandi itu benar-benar menghentak kesadaran Yun Zhu.
"Kyaaa!"
Jeritan melengking Yan Chu pecah, bergema kuat di seluruh ruangan. Refleks, Yan Chu memeluk kain tipis itu erat-erat ke dadanya yang naik-turun karena kaget, sementara wajahnya memerah padam hingga ke telinga.
Yun Zhu segera menarik tangannya dan membanting pintu hingga tertutup rapat kembali. Ia berdiri di luar dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Apa yang kau lakukan!" seru Yan Chu dari dalam dengan suara yang bergetar antara malu dan marah. "Kenapa tidak mengetuk lebih dulu! Meski aku istrimu tapi... inikan..."
Di luar, Yun Zhu berdeham pelan untuk menetralkan suasana hatinya yang mendadak kacau.
"Maaf, aku lupa."
Jawaban itu keluar dengan singkat, padat, dan jelas, seolah ia mencoba menyembunyikan rasa canggungnya.
"Hmph, tunggu sebentar."
Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan bunyi kain yang bergesekan dari dalam rumah, menandakan Yan Chu sedang berpakaian secepat mungkin.
Cukup lama waktu berlalu hingga akhirnya suara kunci diputar terdengar dari dalam. Yan Chu membuka pintu itu kembali dengan gerakan pelan.
Ia kini telah mengenakan gaun merah sulamannya yang khas, meskipun beberapa bagian tampak sedikit terburu-buru dipakai sehingga mengekspos lekuk belahan dadanya yang putih.
Wajahnya masih merona kemerahan dengan bibir yang sedikit dikerucutkan cemberut, sementara rambut hitam panjangnya yang masih lembap tersampir basah di bahunya, meninggalkan noda air kecil di kain gaunnya.
Yun Zhu melangkah masuk mengikuti Yan Chu ke dalam ruangan yang kini terasa jauh lebih hangat.
Rumah kayu itu tampak jauh lebih berisi dan tertata rapi, Yan Chu rupanya telah mengubah tata letak perabotan, menambahkan beberapa kain hias dan pernak-pernik yang membuat tempat itu terasa seperti rumah sungguhan, bukan sekadar tempat singgah.
Keduanya duduk bersisian di atas kursi kayu panjang yang terletak tepat di bawah jendela. Semilir angin dari padang rumput di luar berembus masuk, membelai wajah mereka dengan lembut.
"Jadi, bagaimana kota itu?" Yan Chu membuka obrolan, suaranya kini kembali normal meski matanya sesekali masih menghindari tatapan langsung Yun Zhu.
"Harus kuakui, itu sangat besar. Sangat jauh berbeda dengan Kota Peiling."
Cincin penyimpanan di jari manis Yan Chu berkedip samar. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mengeluarkan satu set teko dan cangkir porselen putih yang cantik.
Ia menuangkan air teh yang masih mengepulkan aroma harum ke dalam cangkir, lalu menyodorkannya pada Yun Zhu dengan ujung jemarinya yang lentik.
"Makasih."
Yun Zhu menerima cangkir itu, merasakan kehangatan porselen di telapak tangannya sebelum meminumnya perlahan. Rasa hangat itu seolah mengalir ke seluruh meridiannya yang sempat tegang.
"Sekarang... jalan menuju Makam Abadi satu-satunya adalah mengikuti empat keluarga besar. Mereka biasanya akan mengirim beberapa jenius pilihan, lalu para jenius itu memilih orang yang ingin ia bawa untuk membantunya."
Yan Chu menjelaskan dengan nada lembut, tubuhnya sedikit condong ke arah Yun Zhu seiring ia bercerita. Ia tampak sangat menguasai informasi mengenai konstelasi kekuatan di wilayah ini.
"Jika tidak terpilih, maka bisa mengambil jalan lain yaitu mengisi tempat sisa. Dari empat keluarga yang ada, keluarga Sheng telah lama menghilang. Jadi tempat untuk mereka selalu diganti dengan orang lain. Untuk mendapatkannya tentu saja harus membuktikan kemampuan."
Yun Zhu mengembalikan cangkir kosong itu pada Yan Chu. Dengan gerakan hati-hati, Yan Chu menerima kembali cangkir tersebut dan meletakkannya di atas meja kayu di samping mereka.
"Kalau begitu akan kucoba keduanya. Semoga saja bisa berhasil. Setelah membentuk inti masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan seseorang."
Yan Chu sedikit mendekat, ia memiringkan kepalanya sehingga beberapa helai rambutnya yang lembap jatuh menyentuh lengan Yun Zhu. Matanya yang emas menatap dalam ke arah mata Yun Zhu.
"Seseorang? Balas dendam?"
"Ya."
Yun Zhu kemudian mulai bercerita.
Suaranya terdengar berat saat ia menceritakan tentang dirinya yang dulu, bagaimana ia dikenal sebagai sampah sekte yang tak berguna, bagaimana ia dihina, diludahi, hingga ditindas secara kejam oleh Wang Chen dan mereka yang merasa lebih kuat darinya.
Ia membeberkan kepahitan hidupnya di sekte asal, namun tetap menyimpan rapat rahasia tentang Tianqiong di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Be-begitu..." Yan Chu menatap Yun Zhu dengan pandangan yang melunak, penuh dengan rasa simpati. "Perjalananmu benar-benar menyakitkan."
Secara perlahan, Yan Chu meraih telapak tangan Yun Zhu yang kasar karena latihan keras. Ia menggenggamnya dengan kedua tangannya, memberikan kehangatan yang tulus dari jemarinya yang mungil.
"Wang Chen itu, aku pasti akan menghancurkan seluruh keluarganya."
Mendengar tekad yang dingin namun membara dari mulut Yun Zhu, Yan Chu hanya mengangguk pelan.
Setelah mendengar betapa menderitanya Yun Zhu di masa lalu, ia merasa pria bernama Wang Chen itu memang layak untuk disingkirkan.
"Aku akan mendukungmu, apa pun yang terjadi."
Yan Chu mengeratkan genggamannya, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Yun Zhu, menunjukkan bahwa mulai sekarang, pemuda itu tidak lagi sendirian dalam memikul dendamnya.