Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Puing-Puing yang Berserakan
Aisha tidak tahu persis kapan ia tertidur di lorong itu. Yang ia ingat hanyalah suara pintu kamar terbuka dan kaki kecil Baskara melangkah melewati tubuhnya tanpa sepatah kata pun.
Ia membuka mata. Langit-langit rumahnya tampak asing, padahal ia telah tinggal di sini selama sepuluh tahun.
Pagi telah tiba. Cahaya matahari menyusup melalui jendela di ujung lorong, menerangi debu-debu yang beterbangan. Aisha bangun dengan tubuh kaku. Lehernya sakit karena posisi tidur yang salah. Matanya sembab, kepalanya berdenyut.
Baskara sudah tidak ada di kamar. Aisha melihat ke dalam—kamar yang selalu ia tata rapi setiap pagi itu kini berantakan. Bantal terguling, selimut menyembul, dan di atas meja belajar, sebuah pigura foto keluarga terbalik.
Aisha meraih pigura itu. Foto mereka bertiga di pantai saat Baskara berusia tujuh tahun. Arka tersenyum lebar, Baskara tertawa, dan ia sendiri tampak bahagia. Bahagia yang sekarang terasa seperti kebohongan.
Ia meletakkan pigura itu kembali, namun kali ini menghadap ke bawah. Mungkin itu yang terbaik. Mengingat-ingat hanya akan menyiksa.
Di lantai bawah, Aisha mendengar suara-suara. Bukan suara Arka atau Baskara. Suara orang asing.
Ia bergegas turun. Di ruang tamu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi sedang berbicara dengan Baskara. Wanita itu menunduk, berusaha menyamakan tinggi badannya dengan Baskara yang duduk di sofa dengan wajah datar.
“Selamat pagi,” sapa wanita itu ketika melihat Aisha. “Ibu Aisha Prameswari?”
Aisha mengangguk, bingung.
“Saya Mira, tim konselor dari sekolah Baskara. Pihak sekolah menghubungi kami karena Baskara datang pagi ini dengan kondisi... kurang baik.”
Aisha menatap Baskara. Anak itu bahkan tidak menoleh. Seragamnya tidak rapi, rambutnya acak-acakan, dan matanya—Aisha tersentak melihat mata Baskara. Mata yang dulu selalu berbinar ketika melihatnya, kini kosong. Seperti dua lubang gelap yang tidak lagi bisa memantulkan cahaya.
“Baskara, nak, kamu baik-baik saja?” Aisha mendekat.
“Jangan sentuh aku.” Baskara bergeser menjauh. Suaranya datar. Membeku.
Mira sang konselor tampak canggung. “Bu Aisha, Baskara datang ke sekolah sangat pagi. Belum ada guru yang datang. Beliau menangis dan... bicara hal-hal yang mengkhawatirkan. Kami pikir ada baiknya saya datang untuk... memastikan keadaan di rumah.”
Aisha menutup matanya. Jadi ini sudah mulai merembet ke mana-mana. Dalam waktu kurang dari dua belas jam, kehancuran keluarganya sudah mulai tercium oleh dunia luar.
“Terima kasih sudah datang,” kata Aisha sebisanya. “Kami baik-baik saja. Hanya ada sedikit... kesalahpahaman.”
“BUKAN KESALAHPAHAMAN!”
Baskara tiba-tiba berdiri. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya. Ia menatap Aisha dengan api kebencian yang terlalu besar untuk anak seusianya.
“IBU SELINGKUH! IBU SELINGKUH DENGAN OM REN! AKU LIAT SENDIRI!”
Mira terbelalak. Ia menoleh pada Aisha dengan ekspresi campuran antara kaget dan iba.
Aisha merasa dunia kembali berputar. Wajahnya terasa panas, lalu dingin, lalu panas lagi. Ia ingin membantah, tapi bagaimana caranya membantah kebenaran?
“Baskara,” suaranya bergetar. “Kita bicarakan ini berempat, sama Ayah—”
“AYAH PERGI! IBU BUAT AYAH PERGI!” Baskara berteriak, dan kali ini air matanya jatuh. Ia tidak lagi bisa menahannya. “AYAH TIDAK MAU LAGI SAMA IBU! AKU JUGA TIDAK MAU! IBU BUKAN SIAPA-SIAPA BUAT AKU!”
Anak itu berlari keluar rumah. Aisha sempat mengejar beberapa langkah, namun kakinya terhenti di teras. Baskara naik ke mobil sekolah yang sudah menunggu, membanting pintu dengan keras, dan mobil itu melaju meninggalkan rumah.
Aisha berdiri di teras dengan tangan gemetar, menatap jalanan yang kosong.
Mira mendekatinya dari belakang. “Bu Aisha, saya... saya turut prihatin. Saya tidak bermaksud ikut campur, tapi sebagai konselor, saya melihat Baskara mengalami trauma yang cukup berat. Saya sarankan untuk membawanya ke psikolog anak.”
Aisha hanya mengangguk, tak sanggup berkata-kata.
“Dan... maaf jika saya terlalu lancang,” Mira melanjutkan dengan hati-hati. “Anak seusia Baskara sedang dalam masa pembentukan identitas. Melihat orang tua, terutama figur ibu, melakukan hal seperti ini bisa mempengaruhi cara pandangnya terhadap perempuan, terhadap kepercayaan, terhadap... banyak hal.”
Aisha menunduk. “Saya tahu.”
“Saya akan memantau Baskara di sekolah. Tapi di rumah, Ibu harus sabar. Jangan memaksanya. Beri ia ruang, tapi tunjukkan bahwa Ibu tetap ada.”
Setelah Mira pergi, Aisha masuk ke rumah dan menutup semua pintu. Ia duduk di tengah ruang tamu, di antara sofa yang rapi, meja yang bersih, dan segala kesempurnaan yang kini terasa seperti setan.
Rumah ini tidak lagi menjadi rumah. Ini hanya bangunan dengan puing-puing kenangan.
Tiga hari berlalu.
Arka belum kembali. Aisha menerima pesan dari kuasa hukum Arka bahwa proses perceraian telah dimulai. Ia diminta untuk tidak tinggal di rumah utama selama proses berlangsung.
Aisha membacanya berkali-kali, berharap ada kata-kata lain di antara baris-baris itu. Mungkin Arka mengatakan ini hanya bercanda. Mungkin ini hanya ujian.
Tapi tidak. Surat itu resmi, dingin, profesional. Seperti kontrak bisnis yang berakhir.
Arka juga telah mengirim pesan singkat tentang Baskara: “Baskara akan tinggal denganku. Aku sudah menyiapkan apartemen untuk sementara. Kau bisa menemuinya di akhir pekan sesuai jadwal dari pengadilan.”
Aisha menekan tombol panggil. Arka tidak mengangkat. Ia coba sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Ia lalu menekan nomor Baskara. Panggilan diteruskan ke pesan suara.
“Baskara, ini Ibu. Ibu...”
Aisha tak tahu harus berkata apa. Ribuan kata ada di kepalanya, namun semuanya terasa tidak cukup.
“Ibu sayang kamu. Ibu akan... Ibu akan datang menjemput kamu akhir pekan, ya? Ibu janji.”
Panggilan berakhir. Tidak ada balasan.
Aisha mulai mengemasi barang-barangnya. Ini adalah rumah pertama yang benar-benar ia miliki. Bukan kontrakan, bukan rumah mertua. Rumah yang ia dekorasi sendiri, yang ia isi dengan perabot pilihan sendiri, yang setiap sudutnya menyimpan cerita.
Di kamar utama, ia membuka lemari pakaian. Gaun-gaun yang Arka belikan untuknya. Pakaian-pakaian yang ia kenakan untuk makan malam romantis, untuk acara perusahaan, untuk liburan keluarga.
Ia tidak membawa semuanya. Hanya pakaian-pakaian biasa. Seolah dengan meninggalkan gaun-gaun itu, ia juga meninggalkan versi dirinya yang dulu.
Di kamar Baskara, ia duduk di tepi tempat tidur anak itu. Masih tercium aroma sabun mandi yang biasa Baskara gunakan. Aisha memeluk bantal Baskara, menekan wajahnya ke kain itu, berharap bisa mencuri sedikit kehangatan yang dulu selalu ada.
Di meja belajar, ia melihat buku harian Baskara. Buku bermata kunci dengan sampul biru laut. Aisha tidak pernah membacanya. Ia selalu menghormati privasi anaknya.
Tapi hari ini, ia membuka kunci itu. Jari-jarinya gemetar saat membalik halaman demi halaman.
Tanggal 3 Maret – dua bulan sebelum semuanya hancur.
“Ibu masak ayam goreng kesukaanku hari ini. Ibu bilang dia belajar resep baru dari YouTube biar lebih renyah. Aku bilang enak banget. Ibu senyum, matanya berbinar kayak bulan. Aku sayang Ibu.”
Tanggal 15 Maret.
“Ayah pergi lagi ke Bali. Ibu kelihatan sedih tapi Ibu bilang tidak apa-apa. Aku peluk Ibu lama-lama. Ibu nangis tapi Ibu bilang itu karena bahagia. Aku harus jaga Ibu pas Ayah pergi.”
Tanggal 7 April.
“Om Ren datang ke rumah. Ibu dan Om Ren bicara lama di ruang tamu. Ibu kelihatan seneng banget. Aku juga seneng karena Ibu jadi gak sedih lagi. Om Ren bawain kue kesukaan Ibu.”
Aisha menutup buku itu. Tangannya gemetar hebat.
Baskara melihat. Baskara mencatat. Baskara tahu ibunya senang dengan kedatangan Ren. Dan ia, dengan kepolosan seorang anak, mengira itu hanya pertemanan biasa.
Aisha ingat hari itu. Ren datang dengan dalih membicarakan kejutan ulang tahun untuk Arka. Tapi mereka berakhir minum teh bersama, tertawa, dan Aisha merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: diperhatikan.
Arka memang pria yang baik. Tapi Arka adalah pria yang sibuk, yang komunikasinya terbatas pada pesan singkat di sela-sela rapat. Sedangkan Ren selalu punya waktu. Ren mendengarkan. Ren membuatnya merasa masih menarik, masih diinginkan.
Dan itu, Aisha tahu, adalah kelemahannya yang paling mematikan.
Di sore hari, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Ren Aldebaran turun dengan setelan kasual namun tetap rapi. Pria itu berjalan masuk tanpa mengetuk—ia masih memiliki kunci rumah ini.
“Aisha.”
Aisha yang sedang duduk di teras belakang tidak menoleh. “Sebaiknya kau pergi.”
Ren berjalan mendekat, duduk di kursi di sampingnya. Aroma parfum Ren yang khas menyengat. Aisha dulu menyukai aroma itu. Sekarang ia muak.
“Aku dengar Arka sudah mengajukan perceraian,” kata Ren. Suaranya lembut, penuh perhatian. “Aku bisa membantu. Aku punya tim pengacara yang—”
“Aku tidak butuh bantuanmu.”
Ren terdiam sejenak. “Aisha, aku tahu ini berat. Tapi aku di sini untukmu. Aku selalu di sini.”
Aisha akhirnya menoleh. Matanya merah, sembab, namun ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ada api kecil di sana.
“Kau,” katanya pelan. “Kau yang memulai semua ini.”
Ren mengernyit. “Kita berdua yang memulai ini.”
“Kau yang datang ke rumahku, menggodaku, membuatku merasa kesepian, membuatku percaya bahwa kau peduli! Padahal kau hanya... kau hanya...”
“Apa?” Ren mencondongkan tubuh. “Katakan saja.”
“Kau hanya ingin menghancurkan Arka.” Aisha akhirnya mengucapkan kata-kata yang selama ini ia hindari. “Kau iri padanya. Kau selalu iri padanya.”
Wajah Ren berubah. Senyum lembutnya menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih keras. Lebih gelap.
“Kau tahu, Aisha,” Ren bersandar, menyilangkan kaki. “Dulu aku yang lebih dulu menyukaimu. Saat kuliah, aku yang ingin mendekatimu. Tapi kau memilih Arka. Arka yang pendiam, Arka yang ‘stabil’, Arka yang sempurna.”
“Itu bertahun-tahun lalu.”
“Dan aku tidak pernah melupakannya. Melihat kalian bahagia, membangun rumah ini, memiliki Baskara... itu menyiksaku, Aisha. Dan ketika kau mulai merasa kesepian karena Arka terlalu sibuk, aku melihat celah itu.”
Aisha merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. “Jadi kau memang sengaja?”
Ren tersenyum. Tidak ada kehangatan di senyum itu. “Aku tidak memaksamu, Aisha. Kau sendiri yang memilih untuk berbaring di sampingku. Kau sendiri yang memilih untuk membiarkannya terjadi berulang kali. Jangan salahkan aku hanya karena kau tidak bisa mengendalikan diri.”
Aisha menamparnya.
Suara tamparan itu keras, memecah kesunyian sore. Wajah Ren menoleh ke samping, pipinya memerah. Namun alih-alih marah, ia tertawa. Tertawa kecil yang membuat bulu kuduk Aisha berdiri.
“Bagus,” kata Ren sambil menyentuh pipinya. “Ini baru Aisha yang aku kenal. Berapi-api.”
“Keluar dari rumahku.”
Ren berdiri. Ia memperbaiki kerah bajunya, lalu menatap Aisha dengan mata yang tak bisa Aisha baca.
“Kau tahu, ketika semua ini selesai, ketika Arka benar-benar meninggalkanmu dan Baskara membencimu selamanya, aku akan tetap di sini. Karena kau dan aku, Aisha, kita sama. Kita berdua egois. Kita berdua mengambil apa yang kita inginkan tanpa memikirkan orang lain.”
“Aku tidak sama sepertimu.”
“Kau mengkhianati suami yang mencintaimu dan anak yang memujamu hanya karena kau merasa ‘kesepian’. Katakan padaku, apa bedanya?”
Ren berjalan meninggalkannya. Suara mobilnya menghilang di ujung jalan.
Aisha duduk di teras hingga matahari terbenam. Warna jingga di langit perlahan berganti biru gelap, lalu hitam. Bintang-bintang mulai bermunculan, sama seperti malam-malam sebelumnya, seolah tak ada yang berubah.
Tapi semuanya telah berubah.
Teleponnya berdering. Arka.
Aisha mengangkat dengan tangan gemetar.
“Aisha,” suara Arka di seberang sana terdengar lelah. “Aku baru tahu Ren datang ke rumah. Apa yang dia mau?”
“Dia menawarkan bantuan.”
“Kau terima?”
“Tidak.”
Arka diam lama. Aisha bisa mendengar napasnya yang berat.
“Aisha, aku tidak tahu bagaimana kita bisa sampai di sini. Aku masih tidak percaya ini terjadi. Tapi yang aku tahu, aku tidak bisa lagi mempercayaimu. Dan tanpa kepercayaan, tidak ada pernikahan.”
“Arka, aku mau melakukan apa pun untuk memperbaiki ini.”
“Kau tidak bisa memperbaiki yang sudah rusak, Aisha. Kau hanya bisa membangun yang baru dari puing-puingnya. Dan aku tidak yakin aku ingin membangun apa pun lagi bersamamu.”
Panggilan terputus.
Aisha memegang ponselnya, membaca nama Arka yang menghilang dari layar. Ia menekan nomor Baskara sekali lagi. Pesan suara.
“Nak, ini Ibu. Ibu hanya ingin... Ibu hanya ingin mendengar suaramu. Tolong telepon Ibu, ya? Ibu tidak akan minta maaf lagi karena Ibu tahu maaf saja tidak cukup. Tapi Ibu di sini. Ibu akan selalu di sini.”
Pesan suara berakhir.
Aisha menatap langit malam. Di kejauhan, ia bisa melihat lampu-lampu apartemen mewah di pusat kota. Di salah satu apartemen itu, Arka dan Baskara mungkin sedang makan malam bersama. Mungkin Arka memasak telur dadar kesukaan Baskara. Mungkin mereka menonton televisi bersama, mencoba mengisi kekosongan yang Aisha tinggalkan.
Dan di sini, di rumah yang dulu hangat, Aisha duduk sendirian dengan koper-koper di sampingnya, menunggu keesokan harinya untuk meninggalkan rumah ini selamanya.
Ia tidak tahu bahwa malam itu, di apartemen yang jauh di pusat kota, Baskara duduk di dekat jendela, memandang ke arah rumah lamanya yang lampunya masih menyala.
Anak itu menggenggam ponselnya, membaca pesan suara dari ibunya berkali-kali. Air matanya jatuh, tapi ia tidak membalas.
Karena di dalam hatinya yang masih polos, telah tertanam sebuah keputusan: bahwa membenci ibunya adalah satu-satunya cara untuk tidak hancur.
Dan ia tidak tahu bahwa keputusan itu akan membawanya pada perjalanan panjang penuh luka, pengampunan, dan pertanyaan yang tak pernah ia duga akan ia tanyakan pada dirinya sendiri di masa depan:
Apakah cinta sejati bisa mati hanya karena satu kesalahan?