Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Luka di Balik Tawa Palsu
Setelah aksi heroik di sekolah, Gisel membawa Alya ke sebuah kafe estetik yang sepi. Aroma white tea dari tubuh Gisel yang bercampur dengan aroma kopi di ruangan itu menciptakan suasana yang sangat rileks.
Alya (16 thn) duduk di depan Gisel, mengaduk minumannya dengan pandangan kosong. Wajah juteknya sudah hilang, digantikan oleh gurat kesedihan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Makasih ya, kak Gisel. Udah belain aku tadi," bisik Alya pelan.
Gisel tersenyum manis, ia meraih tangan Alya dan menggenggamnya erat. "Sama-sama, Sayang. Itu gunanya keluarga, kan? Saling jaga."
Alya terdiam sejenak, lalu air matanya mulai menetes satu per satu. "Mbak tahu nggak? Sebenarnya aku benci banget sama diriku sendiri. Setiap kali aku liat cermin, aku liat wajah Mama Arumi. Dan itu bikin aku ngerasa bersalah."
Gisel mengernyit bingung. "Kenapa harus merasa bersalah, Al?"
"Karena... di hari kecelakaan itu, Mama pergi buat beliin aku hadiah ulang tahun yang aku paksa mau hari itu juga," suara Alya bergetar hebat. "Kalau aja aku nggak egois, kalau aja aku nggak minta hadiah itu, Mama pasti masih ada di sini. Papa jadi dingin, Raka jadi pemberontak, semuanya karena aku."
Gisel tertegun. Jadi ini beban yang selama ini dipikul Alya sendirian? Rasa bersalah yang membunuh keceriaannya?
Gisel berpindah duduk ke samping Alya, menarik kepala gadis itu ke bahunya. "Dengerin Mbak, Alya. Mama kamu pergi bukan karena kamu. Itu takdir. Dan kalau Mama ada di sini sekarang, dia pasti bakal sedih banget liat kamu nyalahin diri sendiri terus-menerus."
"Papa juga pasti benci aku, kan? Makanya dia cuek banget sama aku," isak Alya lagi.
"Nggak, Al. Papa kamu itu cuma... bodoh. Dia nggak tahu cara ngungkapin rasa sayangnya. Dia juga hancur, sama kayak kamu. Tapi liat deh, pelan-pelan dia mulai berubah, kan?" Gisel mengusap rambut Alya dengan penuh kasih sayang.
Alya memeluk Gisel dengan sangat erat, seolah menemukan pegangan yang selama ini ia cari. Aroma segar dari Gisel benar-benar membuatnya merasa tenang. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Alya merasa bebannya sedikit terangkat.
Tanpa mereka sadari, di meja pojok kafe, Hadi (mata-mata Dewa) sedang merekam momen itu. Ia segera mengirimkan videonya kepada Dewa.
Di kantornya, Dewa (35 thn) menonton video itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melepaskan kacamata bacanya, dadanya terasa sesak melihat betapa menderitanya putri kecilnya selama ini, dan betapa luar biasanya Gisel merangkul luka itu. Dewa memberi pesan pada gisel kalo dirinya sudah pulang dan sedang di kantor, gisel yang tidak mau kehilangan momen membuat kejutan untuk keluarga Atala.
Gisel menata piring terakhir di meja makan panjang itu. Ia tampil segar dengan daster satin tipis berwarna maroon yang menonjolkan lekuk tubuhnya, rambutnya dicepol asal yang justru membuatnya terlihat sangat manis.
"Ayo semuanya! Mas Dewa, Raka, Alya, Digo! Meja makan sudah siap!" seru Gisel dengan suara cemprengnya yang ceria.
Dewa (35 thn) turun pertama, matanya masih sedikit sembab sehabis memeluk Alya. Di belakangnya, Alya (16 thn) mengekor dengan wajah yang jauh lebih tenang, meskipun masih ada sisa tangis di matanya. Raka (17 thn) muncul dari arah taman belakang, sementara Digo (4 thn) sudah duduk paling duluan sambil memegang sendok.
Suasana meja makan yang biasanya sunyi seperti perpustakaan, kini berubah. Gisel sengaja mematikan AC yang terlalu dingin dan menyalakan lampu kuning yang hangat.