Mohon Dukungannya ya Para Reader🥰😉
.
Untuk like+Rate+Vote+Favo😉💖. (Dukungan kalian berharga banget buat author 🥰)
.
Go Follow Ig : @Regin.rosee
.
.
(Area 18+)
*******
.
Zanna Kirania Zein, seorang wanita cantik, berusia 24 tahun, yang baru saja di terima bekerja di perusahaan konstruksi yang terkenal di Negara X, Wijaya Kontruksi. Karena perusahaan tersebut sangat jauh dari kota asalnya, Zanna terpaksa harus tinggal di sebuah unit apartemen milik tantenya yang sudah tidak di tempati, karena sang Tante harus mengikuti suaminya tinggal di luar Negeri.
Nasib buruk terus menimpa Zanna, ketika dia tahu jika tetangga sebelah nya itu adalah Direktur Utama di tempat ia bekerja.
Bertetangga dengan boss, membuat Zanna merasa stres, apalagi bossnya itu terkenal kejam di tempat kerja.
Tapi siapa sangka.. di antara mereka mulai tumbuh benih-benih cinta.
bagaimana kisah selanjutnya?. yuk pantengin terus cerita Tetanggaku adalah Bossku 😊🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon regin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Gimana ini...
Ruangan Direktur Utama
"Gimana.. udah dapet isi potongan dari cctvnya?" ucap Daffin pada sambungan telepon.
"Eum, iya.. udah pak, "
"Oke, kalau kaya gitu. Nanti, kamu keruangan saya, Ri. Saya juga pengen lihat isi potongan cctv itu."
"Iya.. baik, pak."
Daffin pun segera menutup sambungan telepon dari sekertaris Ri tersebut.
"Terimakasih, pak. Sudah mau membantu saya, untuk mengetahui siapa pelakunya." ucap Bagas yang sedari tadi sudah menunggu di dalam ruangan Daffin.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Iya, sama-sama." ucap Daffin dingin.
"Kamu sekarang bisa pergi dari ruangan saya. Nanti kamu bisa ke ruangan saya lagi sebelum pulang kerja, untuk lihat isi cctv itu." jelas Daffin dengan nada bicara yang datar.
"Baik, terimakasih Pak." Bagas pun segera beranjak pergi meninggalkan ruangan Daffin.
Beberapa menit kemudian, Sekertaris Ri datang menghampiri ruangan Daffin.
"Ini, pak." Sekertaris Ri menunjukan isi potongan cctv tersebut.
Daffin tersentak ketika melihat isi potongan cctv tersebut.
"Apa?! jadi dia pelakunya.." pekik Daffin yang tidak menyangka.
****
Tepat pukul 16.55. Zanna meregangkan tubuhnya. "Huwaaaa.. akhirnya beres juga.., waktunya pulang!." pekik Zanna bahagia.
Setelah itu, Zanna segera merapikan meja kerjanya.
Ketika sedang merapikan meja kerjanya, tiba-tiba Sekertaris Ri datang menghampiri Zanna.
"Permisi, Zan. Pak Daffin suruh kamu untuk segera keruangan nya sekarang." ucap Sekertaris Ri yang membuat Zanna tersentak.
"Hmm, ada apa ya.. Pak Daffin nyuruh aku buat ke ruangan nya... kok perasaan aku, tiba-tiba nggak enak gini ya.." ucap Zanna dalam hati.
Tanpa Zanna sadari, bahwa sekertaris Ri masih menunggu nya. Sekertaris Ri terus menatap Zanna, dengan dingin.
"Khemm.." Sekertaris Ri berdeham, dan membuat Zanna tersadar dari lamunannya.
Zanna menoleh ke belakang, dan Zanna sangat terkejut, ketika melihat Sekertaris Ri masih menunggu nya.
"Ayok.. Pak Daffin pasti sudah menunggu." ucap Sekertaris Ri lagi.
Tak berselang lama Sekertaris Ri, dan Zanna segera menghampiri ruangan Daffin.
Setibanya di ruangan Daffin, Zanna sangat tersentak, ketika melihat Bagas ada di dalam ruangan Daffin.
Bagas menatap Zanna dengan tajam. Sedangkan Zanna mengalihkan pandangannya. Dan menelan ludahnya berulangkali. "Apa jangan-jangan.. kak Bagas udah tau kalau aku.."
"Hei, Zanna. Kenapa kamu masih berdiri di situ.. cepet sini, duduk." pekik Daffin yang membuat Zanna tersentak.
"Ah.. i..iiya, pak." Zanna pun duduk di atas sofa, di dalam ruangan Daffin.
Tak berselang lama. Daffin, menunjukkan isi potongan cctv kepada Zanna.
"Bisa, jelasin.. maksudnya ini apa?." tanya Daffin.
Zanna sangat tercengang ketika melihat isi potongan cctv tersebut.
Di dalam isi cctv tersebut, terlihat jelas. Jika Zanna tengah mencoret mobil mewah Bagas dengan spidol permanen.
"Aish, kenapa aku nggak sadar sih kalau ada cctv di sana.." gumam Zanna yang sedikit menyesal.
Daffin mengerutkan dahinya, ketika melihat Zanna hanya terdiam.
"Hei, Zanna.. kenapa diem.. coba jelasin.. kenapa kamu lakuin itu.."pekik Daffin lagi, yang membuat Zanna semakin tersentak.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Saya lakuin itu.. karena, kak Bagas udah.."
Tiba-tiba ucapan Zanna itu terpotong oleh ucapan Daffin. "Udah langsung minta maaf aja.. karena sudah terbukti jelas di dalam cctv itu, kalau kamu udah nyoret-nyoret mobil Bagas." perintah Daffin.
Perintah Daffin itu membuat Zanna semakin tercengang. "Ish, kenapa harus minta maaf.. males banget.." ucap Zanna dalam hati.
Daffin menatap Zanna serius. "Hei, Zanna. Cepet kamu minta maaf sekarang sama Bagas.. itu udah terbukti loh kalau kamu udah lakuin itu. Denger ya, saya paling nggak suka kalau ada salah satu karyawan Wijaya Kontruksi lakuin kejahatan di tempat kerja. Termasuk perbuatan kamu itu.. udah termasuk dalam kategori kejahatan di tempat kerja." jelas Daffin lagi.
Ucapan Daffin itu membuat Zanna terdiam, kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Iya, udah.. kak Bagas, saya minta maaf." permintaan maaf Zanna yang sedikit tidak ikhlas.
Daffin mengerutkan dahinya. "Hei, ulangi.. minta maaf nya jangan kaya gitu.. kaya nggak ikhlas aja." ucap Daffin, yang membuat Zanna semakin geram.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian ia menghadap ke arah Bagas.
"Kak Bagas, saya minta maaf.. karena udah corat-coret mobil mewah kakak." ucap Zanna sambil menundukkan pandangan nya.
Bagas menatap serius Zanna. Kemudian ia menghela nafasnya dengan kasar. "Hmm, iya saya maafkan." balas Bagas dengan nada datar.
"Oke, tapi buat kamu Zanna. Gaji kamu bulan depan, terpaksa harus saya potong.. buat gantiin biaya memperbaiki body mobil Bagas yang udah kamu corat-coret." ucap Daffin, yang membuat Zanna semakin tercengang.
"Apa?!" pekik Zanna dalam hati sambil mengerutkan bibirnya.
"Ehmm, udah.. nggak usah, Pak. Nggak apa-apa nggak usah di potong gajih Zanna. kalau masalah body mobil biar saya yang urus, yang penting saya udah tau siapa pelakunya, itu udah cukup buat saya." lanjut Bagas.
Daffin mengangguk kan kepalanya dengan pelan. "Oke, kalau gitu." balas Daffin mengerti.
"Ya, udah sekertaris Ri, sama Bagas bisa pergi dari ruangan saya. Kalau Zanna tunggu di sini, kamu jangan pulang dulu saya mau bicara empat mata sama kamu." perintah Daffin, yang membuat Zanna merasa malas.
"Ish, apaan lagi sih." gumam Zanna dalam hati.
Tak berselang lama, Bagas dan Sekertaris Ri segera pergi meninggalkan ruangan Daffin.
Sedangkan di dalam ruangan Daffin, kini hanya ada Zanna dan Daffin.
Daffin menatap Zanna dengan serius. Sedangan Zanna menatap ke arah lain.
Daffin menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. "Hei, Zanna.. coba jelasin ke saya yang sebenarnya.. kenapa kamu lakuin ini.. kamu masih punya dendam sama Bagas?" tanya Daffin.
Zanna menoleh menatap Daffin. "Enggak, saya nggak punya dendam sama Kak Bagas.."
"Masa? terus kenapa kamu lakuin ini?" tanya Daffin lagi.
Zanna membuang mukanya ke arah lain. "Saya cuman iseng.. aja Pak." jawab Zanna.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Hei, Zan kamu jangan main-main.." lanjut Daffin.
"Iya udah kalau, Bapak nggak percaya.." Balas Zanna.
"Hei, Zan.. saya tau apa yang Bagas lakuin ke kamu itu menyakitkan, buat kamu. Dan pasti di hati kamu masih tersimpan dendam. Tapi, jangan kamu luapkan rasa dendam itu dengan melakukan hal yang buruk..." jelas Daffin yang membuat Zanna terdiam.
"Kamu denger kan kata-kata saya?" tanya Daffin lagi.
"I..iiya Pak. Saya tau.. saya salah.." balas Zanna.
Tiba-tiba Daffin tersadar jika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30.
"Ya, udah sekarang kita pulang, kamu bisa ikut pulang bareng saya.." Ajak Daffin.
Zanna menganggukkan kepalanya dengan pelan. "I..iya udah Pak." balas Zanna yang setuju.
Zanna dan Daffin pun beranjak dari sofa. Lalu mereka berdua segera keluar dari ruangan Daffin.
Zanna tersentak ketika pintu ruangan Daffin tidak bisa di buka. "Pak.. ini pintu nya nggak bisa kebuka.." pekik Zanna.
"Ah, yang bener?!." balas Daffin yang tak percaya.
Daffin pun segera menghampiri pintu, dan mencoba membukanya. Namun, Daffin tak berhasil membuka pintu ruangannya.
"Ish, kita kekunci Zan, pasti pak Edo (petugas keamanan) pikir saya udah pulang, dan lupa ngunci ruangan. Makannya pak Edo ngunci ruangan saya." jelas Daffin.
"Ya udah, Bapak pasti punya kuncinya juga kan." Balas Zanna.
"Oh, iya.. bentar saya ambil dulu di dalam tas saya." Daffin segera menghampiri tasnya.
Beberapa menit lamanya, Daffin mengobrak-abrik isi tasnya. Lalu lemari di meja kerja nya. Namun, kunci ruangan Daffin tidak berhasil ditemukan.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Zan, kayanya kuncinya tertinggal di unit Apartemen.." jelas Daffin.
Penjelasan Daffin itu membuat Zanna tercengang. "Yah, terus gimana dong pak.."
"Bentar, saya telepon dulu pak Edo.. barangkali dia belum pulang." Daffin segera mengambil ponsel nya yang ada di atas meja.
Ketika akan menelepon, Pak Edo. Petugas keamanan. Tiba-tiba ponsel Daffin mati.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Yah, Zan.. Hp saya mati.." pekik Daffin.
"Ish, terus gimana dong pak." balas Zanna.
"Coba telpon pake Hp kamu, saya lupa nggak bawa chargeran lagi." lanjut Daffin.
Zanna tersentak, ketika ingat jika tasnya tertinggal di dalam ruangan divisi keuangan.
"Pak, saya lupa.. tas saya.. ada di ruangan divisi keuangan, saya lupa.. tadi saya kesini nggak bawa tas." ucap Zanna.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Ish, kenapa kamu bisa lupa nggak bawa tas?" tanya Daffin yang sedikit membuat Zanna tersentak.
"Ya gimana, saya mau inget pak.. orang tadi sekertaris Ri nungguin saya.. gitu. dikiranya saya mau kabur kali." jawab Zanna, sambil mengerucutkan bibirnya.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar.
"Hmm, ya terpaksa.. kita harus bermalam di sini Zan.." lanjut Daffin.
Zanna menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. "Ya udah deh pak.. mau gimana lagi.." balas Zanna dengan pasrah.
"Aish, mimpi apa sih aku semalam.. sekarang aku ke kunci bareng pak Daffin.. mana sekarang aku laper banget lagi.." gumam Zanna dalam hati.
Zanna dan Daffin pun segera menghampiri sofa. Dan mereka duduk bersebelahan di atas sofa.
Tak berselang lama, tiba-tiba ruangan Daffin menjadi gelap.
Sontak hal itu membuat Zanna berteriak. "Ahhhhhhh." Zanna pun reflek memeluk Daffin.
Hal itu membuat Daffin terkejut, sekaligus senang.
"Pak.. Daffin, kenapa ini gelap banget." pekik Zanna.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Iya.. kalau udah malam gini.. lampu yang di dalam kantor otomatis mati, Zan. Kecuali lampu yang ada di luar.." jelas Daffin.
"Ish, saya takut banget..pak.." pekik Zanna dengan nada lirih.
"Tenang... Zan.. ada saya di sini.." Daffin segera membalas pelukan Zanna. Lalu memeluknya dengan erat.
.
.
.
.
🌸🌸🌸🌸🌸 Bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸🌸
sukses
semangat
mksh