Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Kalian Sebenarnya?
Di tempat lain, sore harinya suasana di A2 Group jauh lebih mencekam. Lucas yang sedang memimpin rapat dewan direksi tiba-tiba menghentikan bicaranya saat Johan tiba-tiba mendekat dan berbisik padanya.
"Tuan, Nyonya Keysa keluar dari gerbang sejak jam 10 pagi dan saat ini berada di Toko Roti yang ada di pusat. Nyonya pergi tidak menggunakan mobil, Nyonya menaiki angkutan umum," bisik Johan.
Wajah Lucas seketika mengeras, ia menutup tabletnya dengan bunyi dentum yang keras hingga membuat seluruh direktur di ruangan itu terlonjak kaget.
"Rapat selesai, keputusannya saya kirim lewat email," ucap Lucas dingin lalu ia melangkah keluar ruangan tanpa memedulikan tatapan bingung bawahannya.
Johan segera menyusul di belakang, "Tuan, apa kita akan menjemput Nyonya?" tanya Johan.
"Siapkan mobil! Dan Johan... cari tahu siapa pemilik toko roti itu, aku ingin semua datanya ada di tanganku sebelum aku sampai di sana dan kaalu bisa beli toko itu," perintah Lucas dengan nada yang mengandung ancaman mematikan.
Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan toko roti yang tampak mungil dibandingkan kemegahan kendaraan tersebut, Lucas keluar dengan aura yang begitu gelap dan membuat orang-orang yang melintas di trotoar menepi ketakutan.
Di dalam toko, Bu Jihan sedang memarahi Keysa karena salah menghitung kembalian akibat rasa sakit di pinggangnya yang semakin tak tertahankan.
"Kamu benar-benar tidak berguna ya! Sudah bolos, sekarang mau merugi...," Bu Jihan menghentikan ucapannya saat suara bantingan pintu yang keras terdengar di tokonya.
Brak!
Pintu kaca toko itu didorong terbuka dengan kasar hingga membentur dinding dan Lucas melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada Keysa yang wajahnya pucat pasi dan sedang memegangi pinggangnya.
"Lu...Lucas?" gumam Keysa gugup.
Bu Jihan yang tidak mengenal Lucas langsung berkacak pinggang, "Hei! Siapa kamu main masuk-masuk saja? Kalau mau beli, datang besok aja, sekarang toko udah tutup!" bentak Bu Jihan.
Lucas tidak menjawab, ia berjalan lurus ke arah Keysa dan mengabaikan Bu Jihan. Begitu sampai di depan Keysa, Lucas melihat wajah istrinya yang berkeringat dingin dan noda tepung di sweater mahalnya.
"Aku bilang... diam di rumah," suara Lucas rendah, namun bergetar karena kemarahan yang tertahan.
"A-aku hanya ingin bekerja, Lucas. Aku nggak mau jadi beban...," Belum sempat Keysa menyelesaikan perkataannya, Lucas sudah bersuara.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh istriku?" tanya Lucas tiba-tiba sambil menoleh pada Bu Jihan dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.
Bu Jihan mulai merasa ada yang salah, namun harga dirinya terlalu tinggi. "Istri? Dia ini pelayan saya! Dia banyak hutang jam kerja karena bolos...," Kali ini, Bu Jihan tidak bisa menyelesaikan perkataannya, karena Lucas kembali bersuara.
"Johan," panggil Lucas tenang.
Johan maju ke depan sambil membawa sebuah map, "Tuan, Dapur Bakery memiliki tunggakan pajak selama dua tahun dan beberapa bahan baku yang digunakan tidak memiliki izin edar resmi. Selain itu, bangunan ini berdiri di atas lahan milik The J Group yang merupakan anak cabang dari A2 Group," ucap Johan.
Wajah Bu Jihan berubah pucat pasi, "A-apa? Siapa kalian sebenarnya?" tanya Bu Jihan.
Lucas mendekati Bu Jihan dan menatap wanita itu dengan tatapan meremehkan, "Aku adalah pria yang bisa menghancurkan masa depanmu kapan saja aku mau, karena kau telah berani menyentuh milikku," ucap Lucas.
Lucas kemudian berbalik, ia melihat Keysa yang meringis menahan sakit. Tanpa berkata-kata lagi, ia mengangkat tubuh Keysa ke dalam gendongannya.
"Lucas... turunin aku, banyak orang," rintih Keysa malu.
"Diamlah, Keysa. Atau aku akan meratakan toko ini dengan tanah sekarang juga," ancam Lucas.
Saat Lucas menggendong Keysa melewati Bu Jihan, ia berhenti sejenak. "Johan, pastikan toko ini disegel sore ini. Dan pastikan wanita ini tidak akan pernah bisa membuka bisnis apa pun lagi di negara ini," perintah Lucas.
"Baik, Tuan," jawab Johan.
Begitu masuk ke dalam mobil, Lucas meletakkan Keysa di pangkuannya dengan sangat hati-hati, ia menyadari tangan Keysa terus memegang pinggang bagian belakang.
"Di mana yang sakit?" tanya Lucas, suaranya kini berubah menjadi lembut namun penuh kekhawatiran.
Tanpa menunggu jawaban, Lucas mengangkat sedikit sweater Keysa dan ia terbelalak melihat memar merah kebiruan yang cukup besar di pinggang istrinya akibat benturan meja tadi.
Rahang Lucas mengeras, ia memeluk Keysa dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu. "Maafkan aku... aku seharusnya tidak membiarkanmu keluar sendirian," gumam Lucas yang masih dapat di dengar Keysa.
"Ini bukan salahmu, Lucas... aku yang keras kepala," jawab Keysa.
"Jangan pernah melakukannya lagi, Keysa," ucap Lucas sambil mengecup memar di pinggang Keysa dengan penuh perasaan hingga membuat Keysa terkejut.
Lucas tidak melepaskan Keysa dari pangkuannya, tangannya yang besar melingkar di pinggang Keysa dengan protektif, namun sangat berhati-hati agar tidak menekan bagian yang memar bahkan Keysa bisa merasakan napas Lucas yang berat di puncak kepalanya.
"Lucas... maafin aku," gumam Keysa lirih, air matanya mulai menetes mengenai kemeja Lucas.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan pekerjaanku, aku takut jika suatu saat aku tidak memiliki apa-apa lagi...," Keysa tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena menahan tangisnya.
Lucas tidak membalas dengan kata-kata, ia justru meraih tangan Keysa yang mungil dan kasar akibat sabun cuci piring lalu mengecup telapak tangan itu satu per satu dengan penuh pemujaan, tindakan itu begitu kontras dengan reputasinya sebagai iblis dalam dunia bisnis.
"Kamu tidak akan pernah kehilangan apa-apa lagi, Keysa. Karena aku adalah milikmu dan semua yang aku miliki adalah milikmu," ucap Lucas sambil mengeratkan pelukannya.
Sesampainya di mansion, Lucas tidak membiarkan kaki Keysa menyentuh lantai sedikit pun. Ia menggendongnya langsung menuju lantai tiga dan melewati para pelayan yang menunduk dalam, para pelayan sendiri hanya diam dan menyadari bahwa sang tuan sedang dalam mode bahaya.
Begitu sampai di kamar utama, Lucas meletakkan Keysa di atas tempat tidur king size, ia segera mengambil kotak kompres hangat dan obat.
"Biar aku aja... aku bisa sendiri," ucap Keysa saat melihat Lucas hendak membuka kancing sweaternya untuk mengobati memarnya.
"Diam, Keysa. Mulai detik ini, setiap inci dari tubuhmu adalah urusanku, aku tidak akan membiarkanmu kesakitan sendirian lagi," ucap Lucas.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Lucas mengangkat bagian belakang sweater Keysa. Matanya berkilat marah saat melihat memar biru yang kini tampak semakin jelas di kulit putih istrinya, ia menempelkan kompres hangat itu dengan perlahan dan sesekali meniup kulit Keysa.
Sentuhan tangan Lucas yang biasanya dingin dan tegas kini terasa begitu hangat dan penuh kehati-hatian, Keysa menggigit bibir bawahnya dan mencoba menahan erangan saat rasa nyeri di pinggangnya perlahan-lahan mereda tergantikan oleh sensasi hangat dari kompres yang ditempelkan Lucas.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...