Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 TAMAT: Tinggal Hidup
26 MEI 1997. RUMAH DINA. PAGI.
Matahari udah tinggi. Bau gosong jagung bakar semalem masih nempel di teras.
Gue kebangun pertama. Di tikar, Fajar masih ngorok. Posisi tidurnya kayak mayat. Pantes dulu demit takut sama dia.
Rendi ngiler. Bayu meluk guling. Dina sama Sari udah di dapur, bunyi wajan berisik.
"Tinggal... hidup," gumam gue. Ngulang kalimat semalem.
Ternyata "tinggal hidup" itu rasanya begini. Berisik. Normal. Bau nasi goreng.
"Ndan, tangi!" Gue goyang kaki Fajar. "Dinas, Ndan. Nanti copetnya keburu pensiun."
Fajar ngigau. "Siap... grak! Lapor... komandan... demit... sudah... ngorok..."
Kami semua ngakak. Dina nongol dari dapur bawa teko. "Udah siang. Pada mandi sana. Bau asem."
Satu-satu pada bangun. Ritual bapak-bapak dimulai. Rebutan kamar mandi. Debat siapa yg ngabisin odol. Rendi nyari-nyari sempaknya yg ilang.
Normal. Berisik. Manusiawi.
Selesai sarapan nasi goreng + telur ceplok, kami duduk di teras. Ngeteh. Ngobrolin hal paling horor di tahun 1997:
"Harga cabai naik, Din," keluh Bayu. "Nasabah gue pada ngeluh kredit macet gara-gara cabai."
"Bengkel sepi, Yu," timpal Rendi. "Orang lebih milih beli cabai daripada servis motor."
"Pasar juga sama," Fajar nyeruput teh. "Tadi pagi ada ibu-ibu berantem rebutan cabai rawit. Nyaris gue borgol."
Gue sama Dina sama Sari cuma diem. Nahan tawa. 18 tahun lalu kami rebutan nyawa. Sekarang rebutan cabai.
"Tapi enak gini ya," Dina senyum. "Ributnya... normal."
Sari ngangguk. "Iya. Dulu denger 'ting' dari lonceng langsung keringet dingin. Sekarang denger 'ting' dari gerobak sayur malah laper."
HP jadul Bayu bunyi. Nokia. Keras banget.
"Halo? Iya, Pak Dirut... Siap, Pak... Saya otw kantor." Bayu nutup telpon. "Waduh, dirut nyari. Utang... kerjaan numpuk."
Fajar berdiri, benerin seragam. "Gue juga. Ada apel siang. Ngatur parkir acara sunatan massal."
Rendi ngambil kunci mobil. "Bengkel, Cuy. Ada Asu Kober yg nunggu dijogo."
Satu-satu pamit. Salaman. Tos. Kayak abis rapat RT.
Di depan pager, Bayu nepuk pundak gue. "Min, utangmu... kata. Tinggal dikit. Tulis terus."
"Siap, Ndan," jawab gue. "Tinggal... hidup. Tinggal... nulis."
Fajar naik motor dinasnya. Noleh. "Min, nulis yg lucu-lucu aja. Yg serem-serem udah... lunas."
Rendi ngacungin jempol dari mobil bak-nya. "Asu Kober nitip salam!"
Mereka pergi. Jalanan depan rumah Dina rame. Ada tukang bakso lewat. Ada bocah main kelereng. Ada kucing kawin.
Gue balik ke teras. Dina sama Sari lagi nyuci piring. Kiran lagi ngelap lukisan "Larasati Penutup Lonceng"-nya.
"Om Min," panggil Kiran. "Horornya udah selesai ya?"
Gue ngangguk. "Udah, Ran. Udah lunas. Udah jadi dongeng."
"Berarti sekarang... tinggal apa, Om?"
Gue nunjuk ke langit. Purnama semalem udah ganti jadi matahari terik.
"Tinggal hidup, Ran. Sekolah yg bener. Jangan kayak Om mu dulu... KKN malah ketemu demit."
Kiran ngakak. Dina sama Sari ikut ketawa dari dapur.
Siang itu gue pulang naik bus. Di jalan, gue buka buku catatan kecil. Coret-coret.
Judul: `KKN Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama`
Di bawahnya gue tulis: `TAMAT`
Terus gue tambah lagi: `Tapi hidup... lanjut.`
Bus ngerem mendadak. Kenek teriak: "Pasar Gede! Pasar Gede!"
Gue turun. Di depan polsek, gue liat Fajar lagi sempritin angkot ngetem sembarangan. Wibawa. Topinya masih miring dikit.
Dia liat gue. Dadah. Gue bales dadah.
18 tahun lalu dia nembak demit. Sekarang dia nilang angkot.
Lunas. Semua lunas.
Gue jalan ke arah rumah. Di dompet ada KTP, SIM, sama kartu perpus. Ga ada jimat. Ga ada lonceng.
Di saku ada pulpen. Buat nulis utang... kata.
Karena ternyata, setelah semua utang nyawa lunas...
Tinggal... hidup.
TAMAT