NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Tamat
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mobil terus melaju, meninggalkan sosok Prabu yang kian mengecil di kejauhan.

Xena memutar tubuhnya, menatap melalui kaca belakang, melihat pria berseragam pilot itu berjalan sendirian di trotoar di bawah terik matahari Bali yang menyengat.

Tangan Xena bergerak naik, menggenggam erat bandul sayap perak yang melingkar di lehernya. Logam itu terasa dingin, namun hatinya jauh lebih beku.

"Maaf, Pra. Aku belum bisa memaafkan kamu soal kejadian itu," gumam Xena lirih. Suaranya tenggelam dalam deru AC mobil.

Bayangan saat tangan Prabu menghantam wajahnya seolah kembali terputar secara otomatis di benaknya.

Rasa takut itu masih ada, bersarang di bawah kulitnya, membuat setiap perhatian Prabu justru terasa seperti ancaman yang tersembunyi.

Tak berselang lama, sopir menghentikan mobilnya tepat di depan lobi sebuah hotel mewah.

Xena segera turun, mengurus proses check-in dengan langkah yang terburu-buru.

Ia hanya ingin segera bersembunyi dari dunia luar.

Sesampainya di kamar, Xena menaruh kopernya begitu saja di sudut ruangan.

Ia tidak sempat merapikan pakaian atau sekadar membasuh wajahnya yang sembab.

Ia menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya, lalu merapikan kemeja kerjanya di depan cermin.

Setelah merasa cukup tenang, ia segera melangkah keluar menuju sebuah ballroom besar tempat seminar kedokteran jiwa itu dilangsungkan.

Suara riuh rendah para praktisi medis dan aroma kopi dari stan coffee break menyambut kedatangannya.

Xena mencoba fokus, menenggelamkan dirinya dalam tumpukan materi ilmiah dan diskusi kasus, berharap dengan menyibukkan logikanya sebagai dokter, luka di hatinya sebagai seorang istri bisa sedikit terlupakan. Namun, setiap kali tangannya tanpa sengaja menyentuh kalung perak di lehernya, ingatan tentang tatapan hampa Prabu di pinggir jalan tadi kembali mengusik ketenangannya.

Seminar berlangsung dengan padat, namun pikiran Xena seolah tertinggal di pinggir jalan raya tadi bersama sosok Prabu.

Di tengah riuhnya diskusi mengenai trauma dan pemulihan jiwa di dalam ballroom, Xena justru merasa jiwanya sendiri sedang berada di titik paling rapuh.

Ia berdiri menyendiri di sudut ruangan saat sesi istirahat, menatap kosong ke arah deretan kursi peserta yang mulai kosong.

"Sedang melamun apa, Dok?"

Suara bariton yang hangat itu memecah lamunan Xena.

Ia tersentak kecil dan mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang lelaki tampan dengan perawakan atletis dan brewok tipis yang tertata rapi, memberikan kesan maskulin namun ramah.

"Dokter Nathan..." ucap Xena, sedikit terkejut melihat rekan sejawatnya dari rumah sakit pusat itu ada di sini.

Nathan tersenyum tipis, sorot matanya yang cerdas tampak menyadari ada gurat kesedihan di wajah Xena yang coba ditutupi dengan riasan tipis.

Tanpa banyak bertanya, Nathan memberikan secangkir susu cokelat hangat yang masih mengepulkan uap ke tangan Xena.

"Aku perhatikan dari tadi kamu hanya memutar-mutar bolpoin tanpa mencatat satu kata pun. Sepertinya kamu lebih butuh ini daripada asupan materi seminar," ujar Nathan santai sambil berdiri di samping Xena.

Xena menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya yang dingin.

"Terima kasih, Nath. Kamu benar, kepalaku sepertinya sedang penuh."

"Tentang kasus pasien, atau, tentang dirimu sendiri?" tanya Nathan hati-hati.

Sebagai sesama psikiater, Nathan tahu betul bagaimana membaca bahasa tubuh seseorang.

Xena menyesap susu cokelat itu perlahan, membiarkan rasa manisnya sedikit menenangkan sarafnya yang tegang.

Ia tidak menjawab, namun jemarinya tanpa sadar kembali meraba bandul sayap perak di lehernya.

Nathan melirik kalung itu sejenak, lalu kembali menatap Xena.

"Apa pun itu, Xen, jangan biarkan pikiranmu mengonsumsi dirimu sendiri. Kita di sini untuk belajar cara menyembuhkan orang, bukan untuk ikut hancur bersama kenangan yang seharusnya sudah selesai."

Xena tersenyum getir. Nasehat Nathan tepat sasaran, namun ia tahu, memberikan diagnosa pada diri sendiri jauh lebih sulit daripada menyembuhkan seribu pasien di ruang praktik.

Seminar berlanjut dengan sesi-sesi diskusi yang mendalam hingga matahari Bali tenggelam sepenuhnya.

Xena mencoba sekuat tenaga untuk profesional, meski sesekali konsentrasinya buyar saat meraba kalung pemberian Prabu di balik kerah kemejanya.

Malam mulai larut ketika rangkaian acara hari itu akhirnya ditutup.

Xena melangkah keluar dari ballroom dengan bahu yang terasa berat karena kelelahan emosional yang bertubi-tubi sejak pagi tadi.

Nathan tetap berjalan di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk memastikan rekannya itu baik-baik saja.

"Xena, kamu di kamar mana?" tanya Nathan saat mereka sampai di depan jajaran lift hotel.

"202," jawab Xena pendek.

Nathan sedikit menaikkan alisnya, lalu tersenyum tipis.

"Kebetulan sekali. Aku 203. Di depan kamarmu."

Kemudian mereka masuk ke dalam lift yang berdinding kaca.

Di dalam pantulan cermin lift, Xena melihat wajahnya sendiri yang tampak pucat.

Ia merasa sangat rapuh, dan kehadiran Nathan sedikit banyak memberikan rasa aman yang tidak menuntut.

Pintu lift berdenting terbuka di lantai dua. Mereka berjalan menyusuri koridor yang sunyi dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki.

Sesampainya di depan pintu kamar 202, Nathan berhenti dan menoleh ke arah Xena.

"Lekas mandi, setelah itu kita makan malam," ajak Nathan dengan nada yang hangat namun tegas, seolah ia tidak menerima penolakan karena tahu Xena belum menyentuh makanan berat sejak mendarat.

Xena terdiam sejenak, memikirkan tawaran itu. Di satu sisi ia ingin mengurung diri, namun di sisi lain, ia takut jika sendirian, bayangan Prabu yang turun di pinggir jalan tadi akan kembali menghantuinya.

Xena akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah, Nath. Beri aku waktu tiga puluh menit."

"Aku tunggu di depan pintu ini," balas Nathan sambil tersenyum, lalu ia melangkah masuk ke kamarnya sendiri yang tepat berada di seberang kamar Xena.

Xena masuk ke kamarnya, menyandarkan tubuh di balik pintu yang tertutup, dan menghela napas panjang.

Ia harus bertahan, setidaknya untuk malam ini, demi martabatnya yang sedang ia bangun kembali.

Di sisi lain Pulau Dewata, deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk wisatawan di Bandara Ngurah Rai seolah tak mampu menembus keheningan yang menyelimuti benak Prabu.

Ia berdiri di area keberangkatan, menatap langit Bali yang mulai pekat dengan gurat-gurat jingga yang memudar.

Prabu mengenakan kembali seragam pilotnya yang sempat sedikit kusut.

Ia harus kembali ke Jakarta malam ini, memenuhi jadwal penerbangan lanjutannya.

Sambil melangkah menyusuri lorong bandara, tangannya berkali-kali merogoh saku, menyentuh ponselnya yang terasa sangat berat.

Ia sangat ingin mengirimkan pesan. Hanya satu kalimat singkat untuk menanyakan apakah Xena sudah sampai di hotel, apakah seminar itu berjalan lancar, atau apakah Xena sudah makan malam.

Jemarinya sudah menari di atas layar, mengetik nama istrinya, namun ia segera mengunci kembali ponsel itu dengan napas berat.

"Tidak, Pra. Jangan sekarang," gumamnya pada diri sendiri.

Ia teringat jelas sorot mata Xena di dalam mobil tadi—sorot mata yang penuh ketakutan dan luka yang menganga. Ia menyadari bahwa setiap pesan yang ia kirim saat ini mungkin tidak akan terasa sebagai bentuk perhatian bagi Xena, melainkan sebagai bentuk teror baru yang menyesakkan.

Prabu mencoba untuk tidak menghubungi Xena dan menghargai keputusan istrinya.

Ia ingin memberikan udara bagi Xena untuk bernapas, memberikan ruang yang bersih dari bayang-bayangnya, meski itu berarti ia harus menanggung rindu dan rasa bersalah yang mencekik sendirian di atas awan nanti.

Ia teringat kalung sayap yang kini melingkar di leher Xena. Setidaknya, ia merasa sedikit tenang karena ada sesuatu darinya yang menjaga wanita itu.

"Biarkan dia tenang dulu, Pra. Kamu sudah cukup menyakitinya," bisiknya perih sambil melangkah masuk ke dalam kokpit pesawat yang akan membawanya menjauh dari bumi tempat Xena berpijak.

Malam itu, sang Kapten terbang menembus kegelapan, belajar untuk mencintai dengan cara yang paling sulit: melepaskan ego dan memberikan jarak.

1
Elly Setia Ningsih
female leadnya terlalu lemah dan bodoh
Elly Setia Ningsih
gomblok
Honey
Suka banget sama ceritanya… 😍👍
anju hernawati
bagus ceritanya author menyatukan dengan istilah medis yang awam buat kita para penikmat cerita.Tetap semangat dengan cerita yang lain y kami tunggu
my name is pho: Terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
terimakasih Thor,, terimakasih sdah menuliskan cerita yg indah, yg menguras air mata, mengajarkan bnyak hal, tentang cinta perjuangan kesetiaan kesabaran keikhlasan melebur menjadi satu menjadi penguat sebuah hubungan 🥰🥰🥰
dtunggu cerita* berikutnya Thor
request dong Tentang remaja 🤭
heheheheheh
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰🙏
total 1 replies
Alex
bawangnya ini keterlaluan membuat mataku perih, ujian cintamu begitu hebat pra,😭
Amalia Siswati
coba dech tor perhatikan flot waktu dan kejadian..Di awal bab kejadian kecelakaan 3 bulan lalu,terus bukan karena kecelakaan pesawat.tapi saya temukan di beberapa bab kejadiannya bertahun2 lalu,terus kenapa troumanya sama pesawat.
my name is pho: terima kasih atas koreksinya kak 🙏🙏
total 1 replies
Amalia Siswati
dokter harusnya lebih tau donk jika saat itu kondisi prabu memang sedang tidak sehat (tidak terkendali).masa itu di jadikan alasan utama..sa
Amalia Siswati
setelah di perhatikan banyak alur yang loncat2 salah satu ini,tadi di atas ada flot sudah memakai seragam ech ketemu lagi.
anju hernawati
kehidupan dan kematian selalu berjalan beriringan .....
Alex
selamat dokter Xena dan kapten prabu, kalian hebat 🥰
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
😭😭😭😭
sakitnya tembus sampe ulu hati thor
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Xena tanggung resiko dari keputusanmu itu
Orang tua Prabu egois mengorbankan orang lsin untuk kesembuhan ansknya ysng kejam
Anonim
kalau melihat penolakan Prabu dimasa lalu
gak usahlah Zena kamu bukan idola dia
ntar kegidupanmu akan sengsara
Anonim: Makasih Thor🙏
total 1 replies
Alex
murahan bgts air mataku, baca gini aja sdah kayak air terjun, kmu tanggung jawab Thor, dg cara semngat menulisnya🥰
my name is pho: 🤭🙏 terima kasih kak
total 1 replies
Alex
kebahagiaan yg belum sepenuhnya datang sdah di hadapkan dg ketakutan dan kegelisahan,😭
Dew666
🍭🍭🍭🍭
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
pembaca juga memnnti kalian bahagia Xena prabu🥳🥳
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!