Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Sang Bayangan
Hening yang mematikan menyelimuti ruang rapat utama Menara Neovault. Arlan Valeska masih terduduk kaku di kursinya, matanya yang membelalak tidak lepas dari sosok wanita di hadapannya. Udara di dalam ruangan itu terasa mendingin secara drastis, seolah mesin pendingin ruangan telah berubah menjadi penyedot nyawa.
"Asha? Tidak, itu tidak mungkin. Aku sendiri yang memastikan tubuhmu tenggelam ke dalam arus sungai yang deras!" teriak Arlan dengan suara yang pecah oleh ketakutan.
Asha melangkah mendekat, bunyi tumit sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian. Ia menatap Arlan dengan tatapan yang kosong namun menusuk, sebuah ekspresi yang jauh lebih mengerikan daripada amarah yang meledak-ledak. Ia membiarkan keheningan itu menyiksa Arlan selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Arus sungai Rust memang sangat deras dan kotor, Arlan. Tapi dendam memiliki daya apung yang jauh lebih kuat daripada yang kau duga," jawab Asha dengan suara rendah yang bergetar karena kedinginan yang stabil.
"Kau seharusnya sudah menjadi bangkai yang membusuk di sana! Bagaimana kau bisa kembali dengan wajah seperti ini?" Arlan menunjuk wajah Asha dengan tangan yang gemetar hebat.
Asha mengusap pipinya sendiri yang kini tampak begitu halus dan sempurna, hasil dari rasa sakit yang tak terlukiskan di meja operasi. "Setiap sayatan pisau bedah yang kurasakan adalah bayaran untuk momen ini. Wajahku mungkin baru, tapi ingatan di balik mataku tetaplah sama."
Elena, yang sejak tadi hanya bisa mematung di samping Arlan, tiba-tiba mencoba berteriak memanggil keamanan kembali melalui ponselnya. Namun, Asha hanya meliriknya dengan sudut mata yang menghina, seolah Elena hanyalah serangga yang tidak berarti. Tak ada satu pun sinyal yang tertangkap oleh perangkat canggih di tangan wanita itu.
"Hentikan usahamu yang sia-sia itu, Elena. Gedung ini sudah berada dalam mode isolasi total di bawah kendaliku," ujar Asha tenang.
"Apa yang kau inginkan dari kami? Kau sudah mengambil alih aset perusahaan kami! Bukankah itu sudah cukup?" Elena bertanya dengan nada histeris.
Asha tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat gersang dan tanpa emosi di telinga siapa pun yang mendengarnya. "Mengambil perusahaan hanyalah langkah teknis untuk memastikan kalian tidak punya tempat untuk lari. Kehancuran yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Arlan mencoba berdiri, ia mencengkeram pinggiran meja mahoni untuk menopang kakinya yang terasa seperti jeli. Aroma wiski yang tadi memberikan rasa percaya diri kini justru membuatnya merasa mual dan pusing. Ia menatap Asha, mencoba mencari sisa-sisa wanita lembut yang dulu pernah ia manipulasi dengan janji cinta palsu.
"Kau ingin aku berlutut dan minta maaf? Baiklah! Aku minta maaf! Itu hanyalah bisnis, Asha!" teriak Arlan dengan nada putus asa.
"Bisnis? Mendorong tunanganmu sendiri ke jurang kematian demi saham dan posisi adalah bisnis bagimu?" tanya Asha dengan nada yang mulai meninggi namun tetap terkontrol.
"Aku terpaksa melakukannya! Dewan direksi menuntut hasil, dan kau menghalangi jalanku dengan idealismemu yang konyol tentang lingkungan!" Arlan membela diri dengan logika yang bengkok.
Asha menggelengkan kepala, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api kecil yang terbuat dari perak murni. Ia menyalakannya, memandangi api kecil yang menari-nari di depannya, merefleksikan kobaran dendam di matanya. Bau gas pemantik yang khas mulai memenuhi jarak di antara mereka.
"Kau tidak pernah terpaksa, Arlan. Kau memilih untuk menjadi monster, dan sekarang monster itu datang untuk menagih setiap napas yang kau curi," bisik Asha.
"Apa yang akan kau lakukan? Membunuhku? Jika kau membunuhku, kau tidak akan mendapatkan apa-apa!" Arlan mencoba menggertak meski suaranya bergetar.
Asha mematikan pemantik api itu dengan gerakan yang sangat pelan, lalu menatap Arlan dengan senyuman yang paling menyeramkan yang pernah ia tunjukkan. "Membunuhmu sekarang akan menjadi sebuah tindakan belas kasihan. Aku ingin kau melihat bagaimana duniamu runtuh, satu per satu, sampai tidak ada yang tersisa selain debu."
Ia menekan sebuah tombol di tabletnya, dan seketika itu juga, semua layar besar di ruang rapat menampilkan berita utama secara serentak. Wajah Arlan dan Elena muncul di sana, diiringi dengan bukti-bukti transfer gelap dan skandal limbah yang kini telah terverifikasi secara hukum. Seluruh kota sedang menyaksikan bagaimana kejatuhan sang raja Neovault secara langsung.
"Lihatlah, Arlan. Itu adalah warisan yang kau tinggalkan untuk dunia. Nama yang dulu kau agung-agungkan kini menjadi sinonim bagi sampah," ujar Asha.
"Hentikan! Matikan itu! Aku akan memberikanmu apa pun! Uang, perhiasan, properti di luar negeri, ambil semuanya!" Elena memohon sambil bersimpuh di lantai.
Asha melirik Elena dengan jijik, ia teringat bagaimana wanita ini menghabiskan dana perusahaan untuk aset yang tidak berguna karena manipulasi agen palsunya. "Properti di luar negeri yang kau maksud sudah menjadi milik yayasan tunawisma di distrik Rust. Kau tidak punya apa-apa lagi, Elena."
Elena ternganga, ia tidak percaya bahwa kekayaan yang ia puja-puja telah menguap begitu saja di tangan wanita yang dulu ia remehkan. Ia menangis tersedu-sedu, namun Asha tidak merasakan sedikit pun empati yang tersisa di dalam hatinya. Empati adalah kelemahan yang sudah ia buang jauh-jauh di pinggiran sungai.
"Sekarang, Arlan, ada satu hal lagi yang harus kau selesaikan sebelum kau pergi dari gedung ini," kata Asha sambil meletakkan sebuah dokumen di atas meja.
Arlan menatap dokumen itu dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca karena tekanan mental yang luar biasa berat. Dokumen itu berisi pengakuan dosa secara tertulis atas percobaan pembunuhan terhadap Asha di sungai Rust beberapa bulan yang lalu. Ia tahu jika ia menandatanganinya, penjara seumur hidup sudah menantinya di ujung jalan.
"Aku tidak akan menandatangani ini! Kau tidak punya bukti fisik yang cukup kuat untuk membawaku ke pengadilan!" Arlan menolak dengan sisa keberaniannya.
Asha mendekatkan wajahnya ke wajah Arlan, hingga Arlan bisa mencium aroma kayu cendana yang dingin dan mencekam dari tubuh wanita itu. "Kau lupa bahwa sekretaris pribadimu telah merekam semua pembicaraan rahasiamu selama berminggu-minggu ini?"
Arlan terkesiap, ia teringat bagaimana sekretarisnya selalu berada di dekatnya selama ia merencanakan pelarian dan pembersihan jejak. Ia baru menyadari bahwa ia telah memelihara ular di dalam rumahnya sendiri, ular yang dikendalikan oleh tangan Asha yang tersembunyi. Kekuatan hukum yang selama ini ia beli kini telah berbalik melawannya.
"Kau benar-benar merencanakan ini dengan sangat detail, Asha. Kau bukan lagi manusia," gumam Arlan dengan nada pasrah.
"Aku adalah produk dari pengkhianatanmu, Arlan. Kau yang menciptakan 'V', jadi jangan salahkan penciptaanmu sendiri jika dia tidak memiliki hati," jawab Asha.
Arlan meraih pulpen emas di atas meja dengan tangan yang masih gemetar, ia menatap Elena yang sudah tidak berdaya di lantai, lalu menatap dokumen itu. Dengan napas yang berat, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih tersebut, menyerahkan sisa kebebasannya demi sebuah pengakuan yang terlambat.
"Sudah. Sekarang biarkan kami pergi. Kau sudah mendapatkan segalanya!" seru Arlan sambil melemparkan pulpen itu ke arah Asha.
Asha mengambil dokumen itu dengan tenang, meniup tintanya sejenak sebelum melipatnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kulitnya. "Kalian boleh pergi dari gedung ini. Tapi jangan harap ada hotel atau rumah yang akan menerima kalian malam ini."
Asha berjalan menuju pintu besar ruang rapat, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang, membiarkan Arlan dan Elena meratapi nasib mereka di sana. "Satu hal lagi, Arlan. Air sungai Rust sangat dingin di malam hari. Aku harap kau terbiasa dengan rasa dingin itu di dalam selmu nanti."
Ia melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi dengan suara isak tangis Elena dan kemarahan Arlan yang sia-sia. Di lorong, para petugas keamanan yang sudah ia suap berdiri tegak, memberikan jalan bagi sang pemilik baru Menara Neovault. Asha melangkah menuju lift pribadi, merasakan beban di bahunya sedikit berkurang, namun api di matanya belum padam.
"Paman, semuanya sudah selesai di sini. Panggil pihak kepolisian untuk menjemput sampah-sampah itu di ruang rapat," perintah Asha melalui alat komunikasinya.
"Dimengerti, V. Bagaimana perasaanmu sekarang?" suara nelayan tua terdengar dari seberang sana.
Asha berdiri di dalam lift kaca, menatap matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, memberikan warna kemerahan pada seluruh kota Neovault. Ia melihat bayangan dirinya di kaca, wajah cantik yang dingin dan tanpa ekspresi, sosok yang sudah tidak bisa lagi mengenal arti kebahagiaan sederhana.
"Aku tidak merasakan apa pun, Paman. Hanya sebuah ruang kosong yang luas di dalam sini," jawab Asha dengan jujur.
Lift meluncur turun dengan cepat, membawa Asha kembali ke lantai dasar di mana dunia luar sudah menunggu dengan penuh guncangan. Konfrontasi ini telah berakhir dengan kemenangan telak baginya, namun ia tahu bahwa hidupnya sebagai V baru saja dimulai. Ia bukan lagi Asha yang mencintai Arlan, ia adalah sang bayangan yang kini memegang kendali penuh atas cahaya kota ini.
"Selamat tinggal, Arlan. Selamat menikmati neraka yang kau bangun sendiri dengan tanganmu," batin Asha saat ia melangkah keluar dari lift.
Di luar gedung, ribuan orang bersorak saat melihat layar besar mengumumkan perubahan kepemilikan Neovault dan penangkapan Arlan Valeska. Asha berjalan menembus kerumunan itu dengan kepala tegak, tidak ada yang mengenalinya sebagai wanita yang pernah dibuang ke sungai. Ia menghilang ke dalam mobil hitamnya, meninggalkan Menara Neovault yang kini telah berganti tuan.
"Arahkan ke distrik Rust, Paman. Aku ingin melihat sungai itu sekali lagi sebelum malam tiba," ujar Asha.
Mobil itu melaju perlahan meninggalkan pusat kota, membelah keramaian yang sedang merayakan kejatuhan sang tiran. Di dalam kesunyian mobil, Asha hanya menatap telapak tangannya yang kini bersih dari segala noda, namun ia tahu bahwa jiwanya tidak akan pernah benar-benar bersih lagi. Permainan dendam ini telah ia menangkan, namun harganya adalah kemanusiaannya sendiri yang tak akan pernah kembali.