NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsep dan Keputusan

Keesokan harinya.

Menjelang bel pulang, suasana kelas mulai terasa berbeda.

Entah kenapa, obrolanku dengan Cila semalam masih kepikiran.

Tapi suasana kelas yang mulai ramai perlahan menarik fokusku kembali.

Beberapa siswa sudah tidak fokus. Ada yang bersiap, ada juga yang mulai berbisik-bisik merencanakan sesuatu.

Aku duduk diam, menopang dagu dengan tangan.

Pikiranku bercabang.

Hari ini Jumat.

Dan sejak pengumuman tadi pagi, semua murid laki-laki muslim diwajibkan salat Jumat di sekolah.

“Ren.”

Aku menoleh.

Andi.

Dia menyeringai tipis, lalu mendekat.

“Abis ini cabut yuk. Ke rumah gue,” bisiknya pelan.

Aku mengangkat alis.

“Ngapain?”

“Ya ngapain aja. Santai. Daripada di sini panas-panasan, atau sekalian lu upgrade motor lu di bengkel abang gue,” jawabnya santai.

Aku tidak langsung menjawab.

Mataku sempat melirik ke depan.

Lalu ke arah jendela.

Hening.

“Hei, kalian.”

Suara lain menyela.

Fian.

Aku menoleh ke belakang.

Tatapannya serius. Tidak seperti biasanya.

“Jumat,” katanya singkat.

Aku diam.

Fian melanjutkan, nadanya pelan tapi tegas.

“Salat Jumat itu wajib.”

Tidak panjang.

Tapi cukup.

Aku menunduk, menatap meja beberapa detik.

Dan entah kenapa…

kata-katanya nyangkut.

Tanpa sadar, satu hal terlintas di pikiranku.

Suara abah.

“Jangan pernah ninggalin Jumat. Sekali dua kali mungkin biasa… tapi kalau jadi kebiasaan, itu yang bahaya.”

Aku menghela napas pelan.

Tanganku mengusap wajah sebentar.

Lalu aku menoleh ke Andi.

“Gue ikut Jumat. Nanti setelah itu kita ke rumah lu,” kataku singkat.

Andi mengangkat alis.

“Serius?”

Aku mengangguk kecil.

Andi diam sebentar.

Lalu mengangkat bahu.

“Ya udah… gue ikut,” katanya santai.

Di sampingnya, Bara yang mendengar langsung nimbrung.

“Yaelah… ya udah gue juga ikut, dah.”

Miko yang dari tadi diam ikut melirik.

“Gue juga?” tanyanya datar.

Andi langsung nyengir.

“Ya ikut aja, biar rame.”

Bara langsung menyenggol bahu Miko.

“Lu kan nonis, ngapain ikut?” katanya sambil menahan tawa.

Miko menatapnya datar.

“Gue juga bingung.”

Aku sedikit tersenyum.

“Ya ikut aja. Nunggu juga gapapa, ikut ke rumah Andi,” kataku santai.

Miko mengangkat bahu kecil.

“Ya udah, bosen juga di rumah.”

Bel pulang sekolah berbunyi.

Suasana kelas langsung pecah.

Kursi bergeser, suara langkah kaki, obrolan bercampur jadi satu.

Para perempuan pulang duluan, dan ada juga anak laki-laki yang diam-diam ikut pulang.

Kami ikut berdiri dan berjalan keluar kelas, mengikuti arus menuju masjid sekolah.

Aku berjalan duluan ke kelas Cila.

“Bro, sebentar ya,” kataku pada yang lain sambil sedikit berlari.

Setelah sampai di depan kelasnya—

“Cil, kamu duluan sendiri gapapa kan? Aku jumatan dulu,” ucapku.

“Iya, nggak apa-apa. Aku juga mau main ke rumah Prisia dulu,” jawab Cila.

“Oh, ya udah,” jawabku.

“Duluan ya… daah,” kata Cila.

Aku hanya berdiri, setengah mengangkat tangan, lalu melambaikan dengan senyuman kecil.

Tiba-tiba dari belakang, tangan Andi menepuk bahuku, seperti merangkul.

“Dah, ayo. Keburu selesai.”

Area masjid sudah mulai penuh.

Sepatu berjejer tidak rapi di depan.

Suara obrolan bercampur dengan langkah kaki yang terus berdatangan.

Aku, Andi, dan Bara langsung masuk ke dalam.

Sementara Miko berhenti di luar.

Dia berdiri diam, memperhatikan sekitar.

Matanya bergerak pelan, seperti sedang menganalisis.

“Gue di sini aja,” katanya.

Andi menoleh.

“Gapapa masuk aja, yang penting nggak ngapa-ngapain,” katanya sambil nyengir.

Miko hanya mengangguk kecil.

Aku sempat melirik ke arahnya.

Dia terlihat… canggung.

Tapi tetap tenang.

Kami pun masuk lebih dalam.

Barisan mulai dirapikan.

Suasana perlahan berubah.

Dari ramai…

menjadi tenang.

Beberapa waktu berlalu.

Salat selesai.

Orang-orang mulai keluar.

Aku berjalan santai bersama Andi dan Bara.

Begitu sampai di luar—

Bara langsung melihat ke sekitar.

“Mana tuh anak… bukannya tadi masuk bareng,” gumamnya.

Dan di sana—

Miko.

“Gue duduk di pojokan. Gue ikut-ikutan aja,” jawab Miko sambil sedikit nyengir dan menggaruk kepala.

Tapi jelas terlihat seperti orang yang baru melewati sesuatu yang… membingungkan.

Kami mendekat.

“Gimana?” tanya Andi.

Miko menoleh pelan.

Wajahnya tetap datar.

“Gue paham apa yang dikatakan orang di depan, tapi nggak ngerti ketika semuanya berdiri,” katanya.

Kami langsung diam.

“Hah?” Bara mengernyit.

Miko melanjutkan, masih dengan nada serius.

“Gue lihat semua orang rapi banget. Baris. Diam.”

Dia berhenti sebentar.

“Terus gue mikir… sekarang gimana ya. Tapi akhirnya gue ikutin gerakannya.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

“HAHAHAHA—!”

Bara langsung ngakak paling keras.

Andi ikut ketawa sambil menepuk bahu Miko.

Aku cuma geleng pelan sambil tersenyum.

Miko tetap dengan ekspresi datarnya.

“Tapi gue nggak tiba-tiba jadi muslim, kan,” lanjutnya. “Tapi setelahnya gue ngerasa… lumayan tenang.”

Bara masih ketawa.

Andi nyengir lebar sambil menepuk Bara.

“Berisik, bego.” katanya sambil akhirnya ikutan ngakak.

Kami semua ikutan tertawa karena Bara nggak berhenti tertawa.

Miko yang tadi sempat serius…

sedikit tertawa kecil.

Setelah itu aku menghela napas pelan.

Entah kenapa…

rasanya beda.

Lebih… lega.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam,

pikiranku tentang Cila… terasa lebih ringan.

“Udah, yuk. Pulang yuk,” ajakku.

Kami keluar dari area masjid, berjalan santai menuju parkiran.

Udara siang terasa hangat, tapi entah kenapa… badan terasa lebih ringan.

Baru beberapa langkah—

“Eh,” kata Andi tiba-tiba.

Aku menoleh.

“Ke rumah dulu, tapi bentar aja. Abis itu ke bengkel abang gue, gimana?” katanya santai.

Aku mengangkat alis.

“Sekarang?”

“Iya lah. Santai aja di sana. Ada tempat nongkrong juga,” jawabnya.

Bara langsung nyengir.

“Gas lah.”

Aku sempat diam sebentar.

Bengkel.

Entah kenapa… kata itu langsung bikin pikiranku tertarik.

Aku mengangguk kecil.

“Ya udah.”

Perjalanan ke rumah Andi nggak lama.

Rumahnya terlihat cukup luas, tapi nggak berasa kaku.

Ada mobil double cabin di garasi, sedikit berdebu.

Di sampingnya, beberapa motor terparkir.

Dan di sudut—

beberapa alat bengkel.

Kesan pertama yang muncul di kepalaku:

rumah yang dipakai… bukan cuma ditempati.

“Kuy masuk bentar,” kata Andi sambil membuka pintu.

Kami cuma mampir sebentar.

Ambil minum, lalu langsung keluar lagi.

“Nggak usah lama-lama. Di bengkel lebih enak,” katanya.

Bengkel itu ternyata nggak terlalu jauh.

Dari luar, bangunannya seperti gudang besar.

Pintu terbuka lebar.

Dan begitu kami masuk—

suara langsung menyambut.

Mesin.

Gerinda.

Dan bau khas oli yang cukup kuat.

Langkahku sedikit melambat.

Mataku langsung bergerak ke sana-sini.

Motor.

Banyak motor.

Bukan yang biasa kulihat di jalan.

Beberapa terlihat besar.

Ada yang belum selesai.

Ada yang rangkanya terbuka.

Dan ada juga—

yang sudah jadi.

Mengilap.

Keren.

Aku tanpa sadar berhenti.

“Woi, masuk aja,” suara Andi menarikku kembali.

“Iya…”

Kami berjalan masuk lebih dalam.

Di tengah bengkel, seorang pria berdiri membelakangi kami.

Kaos gelap.

Tangan penuh tato.

Jenggot tipis.

Dia sedang fokus pada sebuah motor.

“Bang,” panggil Andi santai.

Pria itu menoleh.

Tatapannya sempat menilai.

Beberapa detik.

“Tumben,” katanya singkat.

“Biasa. Bawa temen,” jawab Andi santai.

Dia melirik ke arah kami.

Aku sempat merasa sedikit… kaku.

“Ya udah, duduk aja sana,” katanya sambil kembali ke pekerjaannya.

Nada suaranya datar.

Tapi nggak bermusuhan.

Kami menuju sudut bengkel.

Ada sofa lama, meja kecil, dan beberapa botol minuman.

Tempat nongkrong.

Bara langsung duduk santai.

Andi ikut rebahan.

Miko cuma duduk diam, memperhatikan sekitar.

Aku…

nggak langsung duduk.

Mataku masih sibuk.

Aku berdiri, lalu berjalan pelan.

Satu motor.

Dua motor.

Sampai akhirnya—

aku berhenti.

Sebuah motor.

Tangkinya mengilap.

Bentuknya klasik, tapi terlihat modern.

Detailnya rapi.

Nggak berlebihan.

Tapi terasa… niat.

Tanganku hampir menyentuhnya.

Tapi kutahan.

“Bagus, ya.”

Suara dari belakang.

Aku menoleh.

Pria berjenggot tadi.

Dia berdiri santai di belakangku.

Aku mengangguk pelan.

“Iya…”

Dia melirik motor itu.

“Punya Andra.”

Aku sedikit terdiam.

“…serius?”

Dia cuma mengangguk.

“Dia yang ngerjain.”

Aku menatap motor itu lagi.

Entah kenapa…

rasanya beda.

Bukan sekadar keren.

Tapi ada sesuatu di dalamnya.

“Lu ngerti mesin?” tanyanya tiba-tiba.

Aku sedikit menoleh.

“Dikit…”

“Dikit tuh seberapa?” tanyanya lagi.

Aku diam sebentar.

Lalu menjawab pelan.

“Ya… ngerti dasar-dasarnya.”

Dia menatapku sebentar.

Seperti menilai.

Lalu—

“Lumayan.”

Singkat.

Tapi cukup.

Dia kembali ke tempatnya.

Aku masih berdiri di situ beberapa detik.

Lalu akhirnya kembali ke tempat duduk.

Duduk di samping Andi.

Tapi rasanya…

nggak sama.

Tadi aku cuma ikut.

Sekarang—

entah kenapa…

aku jadi pengen ngerti lebih jauh.

Mataku kembali melirik ke arah motor tadi.

Dan tanpa sadar—

aku tersenyum kecil.

Di depanku, Andi dan Bara sedang mengobrol entah apa.

Miko sibuk memperhatikan sekitar, seperti biasa.

Sementara aku…

mataku tidak bisa diam.

Dari tadi, pandanganku terus kembali ke arah motor itu.

Yang tangkinya mengilap.

Yang bentuknya berbeda dari yang lain.

Aku menghela napas pelan.

Entah kenapa…

rasanya mengganggu.

Bukan karena jelek.

Tapi justru karena…

terlalu bagus.

Aku berdiri.

Langkahku pelan, mendekat lagi ke motor itu.

Kali ini lebih dekat.

Lebih lama.

Tanganku akhirnya menyentuh sedikit bagian tangki.

Dingin.

Halus.

“Pengen?”

Suara itu muncul dari belakang.

Aku menoleh.

Pria berjenggot itu lagi.

Aku mengangkat bahu sedikit.

“Bukan pengen sih…”

Aku berhenti sejenak.

Mencari kata yang tepat.

“…cuma kepikiran saja.”

Dia menyender santai di dekat meja kerja.

“Mengubah motor itu gampang,” katanya.

Aku melirik ke arahnya.

“Tapi bikin jadi ‘punyamu’… itu yang susah.”

Aku diam.

Kata-katanya…

terasa tertinggal di kepala.

Mataku turun ke arah motorku sendiri di luar.

Motor standar.

Tidak jelek.

Tapi…

tidak ada yang benar-benar menonjol.

Aku kembali melihat motor di depanku.

Dan untuk pertama kalinya—

pikiran itu muncul dengan jelas.

Kalau motorku…

bisa jadi seperti ini nggak, ya?

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Hanya berdiri beberapa detik.

Lalu menarik napas pelan.

Dan kembali ke tempat duduk.

Tapi kali ini…

rasanya berbeda.

Aku tidak hanya melihat.

Aku mulai memikirkan.

Dan pikiranku… masih tertinggal di motor tadi.

“Abang lu yang mana sih?” tanyaku akhirnya, menoleh ke Andi.

Andi yang lagi rebahan langsung jawab santai, “Oh, dia masih kerja. Belum balik.”

Aku mengernyit sedikit.

“Yang tadi dibilang… Andra itu?”

“Iya, itu abang gue,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk pelan.

Mataku kembali melirik ke arah motor tadi.

“Oh…” gumamku. “Berarti yang itu… hasil karya abang lu?”

Aku sedikit mengangguk ke arah motor yang tangkinya mengilap.

Andi ikut melirik.

“Iya,” jawabnya. “Kalau lu tertarik ubah motor, mending langsung ke dia. Dia yang biasanya ambil keputusan.”

Aku diam sebentar.

Kata “ambil keputusan” itu… entah kenapa terasa berat.

Bukan sekadar modif.

Seperti… ada konsep di baliknya.

“Lu nggak ada rencana modif motor, Mik?” tanya Bara tiba-tiba, nada suaranya iseng.

Miko yang dari tadi diam langsung menoleh.

“Motor gue matic. Emang bisa?” tanyanya datar.

Bara langsung nyengir.

“Bisa aja,” jawabnya cepat.

Lalu dia nengok ke Andi.

“Bisa kan?” lanjutnya, setengah serius, setengah nahan ketawa.

Andi ikut nyengir kecil.

“Bisa sih… tapi ya liat dulu mau diapain,” katanya santai.

Miko cuma mengangguk kecil.

“Ribet,” gumamnya.

Bara langsung ketawa.

“Lu mah apa-apa ribet.”

Aku cuma tersenyum tipis melihat mereka.

Tapi pikiranku…

tidak di situ.

Perlahan, pandanganku kembali ke arah motor itu.

Kalau memang…

harus “dipikirin” dulu—

berarti…

bukan sekadar ganti part.

Aku menatap tanganku sendiri sejenak.

Lalu kembali ke arah motor di ujung sana.

Entah kenapa…

rasanya seperti ada sesuatu yang mulai terbentuk.

Pelan.

Belum jelas.

Tapi… ada.

Dan untuk pertama kalinya—

aku mulai benar-benar ingin mencobanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!