NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerbuan Benteng Lumpur

Episode 22

Bau busuk rawa semakin menyengat saat Reno dan Elara mendekati pusat Sektor Utara. Di depan mereka, sebuah struktur bangunan darurat berdiri kokoh di atas gundukan tanah yang dikelilingi oleh parit lumpur yang dalam. Bangunan itu terbuat dari batang-batang pohon rawa yang diikat kuat dengan akar sihir, membentuk semacam benteng pertahanan kecil.

"Itu dia," bisik Elara sambil menunjuk ke arah benteng. "Mereka menyebutnya Benteng Lumpur. Bagas berada di dalam sana bersama belasan murid lainnya. Lihat di atas menara itu, ada penjaga dengan binatang kontrak tipe pemanah."

Reno menyipitkan mata, mengamati setiap detail pertahanan tersebut. Sebagai mantan CEO, ia terbiasa menganalisis struktur organisasi lawan sebelum melakukan akuisisi paksa. Di matanya, benteng ini memiliki satu kelemahan fatal: mereka terlalu percaya diri karena jumlah personel yang banyak.

"Elara, lepaskan Elang Sayap Perak mu sekarang. Jangan biarkan dia mendekat, cukup pantau dari ketinggian kabut. Aku butuh tahu di mana mereka menyimpan lencana-lencana itu," perintah Reno.

"Baik, Reno." Elara membisikkan sesuatu pada elangnya, dan burung kecil itu terbang menghilang ke dalam kabut dengan gerakan yang sangat sunyi.

"Reno, aku bisa merasakan ada sekitar dua puluh inti energi di dalam sana," Nidhogg merayap ke telinga Reno. "Kebanyakan adalah Tingkat Perunggu tahap menengah. Tapi ada satu yang menonjol... auranya sedikit aneh, seperti energi yang dipaksakan."

"Itu pasti Bagas," jawab Reno pelan. "Dia pasti menggunakan ramuan terlarang untuk memperkuat binatangnya secara instan demi turnamen ini."

Beberapa menit kemudian, Elara kembali memberikan laporan. "Elangku melihat sebuah peti besar di tengah benteng. Bagas duduk di atasnya. Ada sekitar sepuluh orang yang berjaga di sekelilingnya, sementara sisanya berpatroli di luar parit."

Reno tersenyum tipis. "Strategi yang klasik. Menaruh semua telur dalam satu keranjang. Mereka pikir dengan berkumpul di satu tempat, mereka aman. Padahal, mereka justru memudahkan aku untuk mengambil semuanya sekaligus."

"Tapi bagaimana cara kita masuk?" Elara tampak ragu. "Parit lumpur itu penuh dengan Ikan Gigi Gergaji yang mereka lepaskan. Jika kita menyentuh air, kita akan habis dikeroyok."

"Kita tidak akan masuk lewat bawah," ucap Reno. Ia melirik ke arah pohon-pohon besar yang dahan-dahannya menjulur hingga ke atas benteng. "Kita akan menggunakan cara yang sedikit... kotor."

Reno mulai bergerak. Ia menyelinap dari satu pohon ke pohon lain dengan teknik Vibrasi Tanah, membuat langkah kakinya sama sekali tidak terdengar. Elara mengikuti dari belakang, terpukau dengan betapa efisiennya setiap gerakan Reno. Pemuda ini tidak membuang energi sedikit pun.

Saat mereka sampai di dahan pohon yang tepat berada di atas parit, Reno mengeluarkan beberapa butir buah rawa yang berbau sangat amis buah yang ia petik saat perjalanan tadi.

"Untuk apa buah itu, Reno?" bisik Elara.

"Kau akan lihat," jawab Reno.

Reno melemparkan buah-buah itu ke arah yang berlawanan dari posisi mereka, tepat di area patroli luar benteng. Bau amis buah itu seketika memancing Ikan Gigi Gergaji di parit untuk melompat-lompat dengan ganas ke arah tersebut, menciptakan kegaduhan yang luar biasa.

"Ada apa itu?!" teriak salah satu penjaga di menara.

"Ikan ikannya mengamuk! Sepertinya ada mangsa yang jatuh di sana!" sahut penjaga lainnya.

Seluruh perhatian penjaga beralih ke arah kegaduhan tersebut. Di saat itulah, Reno memberikan isyarat pada Nidhogg.

"Nidhogg, gunakan Shadow Path (Jalur Bayangan)."

Nidhogg mengeluarkan aura hitamnya yang kini lebih padat berkat evolusi Cacing Armor Hitam. Aura itu membentuk jembatan tipis yang terbuat dari bayangan padat, menghubungkan dahan pohon langsung ke atap benteng.

"Jalan di atas aura ini, jangan bersuara," perintah Reno pada Elara.

Mereka berdua meluncur dengan sangat cepat dan mendarat di atas atap benteng yang terbuat dari rumbia. Dari sana, mereka bisa melihat Bagas yang sedang tertawa sombong di bawah, memamerkan lencana-lencana kristal yang ia rampas dari murid lain.

"Hahaha! Lihat ini! Kita sudah punya tiga puluh lencana! Dengan ini, kelompok kita pasti akan mendominasi babak final!" seru Bagas sambil mengangkat sebuah lencana emas.

"Tapi Bagas, bagaimana jika Instruktur Raka tahu kita menggunakan cara ini?" tanya salah satu pengikutnya.

"Jangan bodoh! Raka sendiri yang bilang tidak ada aturan di hutan ini! Yang kuat yang menang, dan kita adalah yang terkuat!" Bagas meludah ke tanah. "Aku hanya berharap si Reno sampah itu lewat sini. Aku ingin melihat cacingnya dimakan oleh ikan-ikan di parit itu."

Reno yang mendengar hal itu hanya menggelengkan kepala. Bagas, kau benar-benar tidak belajar dari kesalahanmu.

"Sekarang, Elara. Gunakan sihir angin mu untuk menciptakan pusaran debu di tengah benteng. Aku akan turun dan mengambil petinya," bisik Reno.

"Tapi itu terlalu berbahaya! Kau akan dikepung!" Elara cemas.

"Jangan khawatir. Nidhogg sekarang punya pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh mereka."

Elara menarik napas panjang, lalu merapal kan mantranya. "Angin Puyuh: Tabir Debu!"

Seketika, angin kencang berputar di tengah benteng, menerbangkan debu dan lumpur kering, menciptakan kekacauan penglihatan. Para murid di bawah berteriak kaget, mencoba melindungi mata mereka.

WUSH!

Reno melompat turun dari atap. Ia mendarat tepat di depan Bagas. Sebelum Bagas sempat menyadari apa yang terjadi, Reno sudah memberikan satu tendangan keras ke arah ulu hati Bagas.

BAM!

Bagas terlempar ke belakang, menabrak peti lencana tersebut. "Si-siapa itu?!"

"Seseorang yang kau tunggu-tunggu, Bagas," ucap Reno dingin saat debu mulai menipis.

Bagas terbelalak melihat Reno berdiri dengan tenang di tengah bentengnya. "RENO?! Bagaimana kau bisa masuk?! Penjaga! Tangkap dia! Bunuh cacingnya!"

Sepuluh murid segera mengepung Reno. Binatang kontrak mereka serigala, monyet, dan ular semuanya menyerang Reno secara bersamaan.

"Nidhogg, tunjukkan pada mereka apa itu zirah yang sesungguhnya."

Nidhogg melompat dari bahu Reno. Kali ini, ia tidak menyerang. Ia hanya melingkari Reno dan tiba-tiba tubuhnya bersinar ungu gelap. Sisik-sisik Armor Hitamnya mengembang, menciptakan sebuah kubah pelindung yang sangat keras.

CLANG! CLANG! CLANG!

Semua serangan binatang kontrak itu terpental saat mengenai tubuh Nidhogg. Tidak ada satu pun cakar atau taring yang mampu menggores sisik Nidhogg. Sebaliknya, binatang-binatang itu justru meringis kesakitan karena gigi dan kuku mereka retak saat menghantam Nidhogg.

"Apa apaan cacing itu?! Kenapa dia sekeras intan?!" teriak salah satu murid ketakutan.

Reno bergerak di balik perlindungan Nidhogg. Ia melakukan serangan cepat ke arah para murid tersebut. Setiap pukulan Reno yang sudah diperkuat oleh energi Arus Bumi membuat para murid itu langsung tumbang pingsan.

Hanya dalam waktu dua menit, sepuluh murid sudah terkapar di lantai benteng.

Kini tinggal Reno dan Bagas.

Bagas gemetar, ia segera memanggil Serigala Berduri nya yang tampak jauh lebih besar dan matanya memerah darah akibat pengaruh ramuan. "Jangan mendekat! Serigala, gunakan Ledakan Duri!"

Serigala itu melolong, dan ratusan duri meledak dari tubuhnya ke segala arah. Namun, Reno tidak menghindar. Nidhogg membentuk perisai di depan Reno, menangkis semua duri itu seolah-olah itu hanya butiran hujan.

Reno berjalan perlahan mendekati Bagas. "Bagas, kau membuang-buang waktu. Serahkan lencananya atau aku akan membuatmu merangkak pulang seperti yang kau katakan kemarin."

"Jangan sombong!" Bagas mengeluarkan sebuah belati dari pinggangnya dan mencoba menusuk Reno.

Reno menangkap tangan Bagas dengan sangat mudah. Ia memutar pergelangan tangan Bagas hingga belati itu jatuh. Dengan satu gerakan cepat, Reno menghantamkan lututnya ke perut Bagas, lalu menjatuhkannya ke tanah.

Reno mengambil peti berisi lencana itu. "Terima kasih atas kerja kerasmu mengumpulkan lencana-lencana ini untukku."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah gerbang benteng yang terbuka.

"Luar biasa. Penjinak Cacing ternyata memiliki taring yang sangat tajam."

Reno menoleh dan melihat seorang murid senior dengan jubah biru tua berdiri di sana. Di sampingnya ada seekor Macan Kumbang Bayangan yang auranya jauh lebih kuat dari apa pun yang ada di benteng ini. Itu adalah murid senior yang Reno lihat kemarin anggota Gerhana Hitam.

"Siapa kau?" tanya Reno, matanya menyipit waspada.

"Namaku Kael. Dan lencana-lencana itu... sebenarnya adalah milik organisasi kami untuk membiayai operasi di sini. Kau baru saja mencuri dari orang yang salah, Reno," ucap pemuda itu dengan senyum yang sangat dingin.

Reno menyadari bahwa pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Bagas hanyalah umpan, dan sekarang predator yang sebenarnya telah muncul.

"Reno, orang ini... dia Tingkat Perak Tahap Menengah. Kita harus serius," Nidhogg memperingatkan, sayap kecilnya mulai bergetar.

Reno meletakkan peti lencana itu di tanah. Ia menatap Kael dengan tatapan yang sama sekali tidak gentar. "Gerhana Hitam, ya? Aku sudah bosan mendengar nama itu. Jika kalian ingin lencana ini, kemari lah dan ambil sendiri."

Suasana di benteng lumpur itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya suara angin rawa yang berdesis melewati celah-celah kayu. Dua kekuatan besar akan segera berbenturan, dan nasib turnamen ini mungkin akan ditentukan di sini.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!