NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pintu ruanganku tertutup dengan bunyi klik yang solid, seolah mengunci semua kebisingan dan ketegangan di luar sana. Aku menyandarkan punggungku di daun pintu, memejamkan mata erat-erat. Jantungku masih berpacu liar, memukul-mukul rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun, bukannya oksigen yang memenuhi paru-paruku, justru sisa-sisa parfum Farez yang ikut terhirup. Aroma kayu cendana yang hangat bercampur dengan kesegaran citrus—aroma yang dulu selalu membuatku merasa aman, kini justru terasa mencekik.

Aroma itu seolah tertinggal di blazerku, di kulitku, bahkan di udara yang baru saja kulewati bersamanya.

"Brengsek," umpatku lirih.

Aku melangkah cepat menuju meja kerja, meletakkan laptop dengan kasar. Aku segera menyalakan air purifier di sudut ruangan ke tingkat maksimal, berharap alat itu bisa menyedot habis sisa-sisa keberadaan Farez dari ruangan ini. Aku tidak ingin ada satu pun jejaknya yang tertinggal di zona nyamanku.

Aku membuka laci meja, mengambil sebotol kecil parfum mawar milikku dan menyemprotkannya ke udara dengan membabi buta. Aku ingin aroma manis ini mendominasi, mengubur dalam-dalam wangi maskulin yang barusan mengacaukan fokusku.

Namun, indra penciumanku seolah mengkhianati. Semakin aku mencoba membuangnya, semakin kuat ingatan itu berputar.

Bayangan Farez yang menatapku intens saat presentasi tadi kembali muncul. Bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana dia menekan setiap kata saat menyebut namaku, dan bagaimana tangannya bergetar saat kami bersalaman. Lima tahun aku melarikan diri, membangun dinding beton di sekeliling hatiku, tapi hanya dengan sekali tatap dan aroma yang sama, dinding itu retak di sana-sini.

Tok! Tok!

Aku tersentak. Buru-buru aku duduk dan merapikan rambut. "Masuk."

Sekretarisku, Maya, masuk dengan membawa beberapa dokumen. Ia sempat mengendus udara di ruangan sejenak. "Wah, Mbak Rana tumben semprot parfum banyak banget? Wangi mawar sampai ke depan lobi lho."

Aku berdeham, mencoba terlihat sibuk dengan tumpukan kertas. "Tadi ada bau apek sedikit. Ada apa, May?"

"Ini, Mbak. Pihak Abiwangsa Group baru saja mengirim surel. Mereka meminta jadwal pertemuan rutin setiap minggu untuk memantau progres proyek. Dan... Pak Farez sendiri yang akan turun tangan langsung untuk asistensi."

Pena di tanganku terhenti. "Setiap minggu?"

"Iya, Mbak. Katanya agar komunikasinya lebih cepat. Pak Farez bilang dia ingin memastikan proyek ini berjalan 'tanpa ada celah untuk melarikan diri lagi'. Begitu bunyi pesannya di surel," lanjut Maya tanpa dosa.

Aku mengepalkan tangan di bawah meja.

Celah untuk melarikan diri? Dia benar-benar sedang menantangku.

"Baiklah. Jadwalkan saja," jawabku sesingkat mungkin.

Begitu Maya keluar, aku menyandarkan kepala di meja. Aku tahu ini baru permulaan. Farez Abiwangsa yang sekarang bukan lagi laki-laki pendiam yang hanya menurut padaku. Dia telah berubah menjadi pemburu yang sabar, dan aku adalah target yang sudah lama dia kunci.

Aku harus lebih kuat. Jika dia pikir dia bisa meruntuhkan pertahananku dengan kehadirannya setiap minggu, dia salah besar. Aku bukan lagi Rana yang bisa luluh hanya dengan satu kupasan jeruk.

Malam itu, aku memilih untuk berjalan kaki. Udara dingin Jakarta setelah hujan biasanya bisa mendinginkan kepalaku yang panas akibat pekerjaan, tapi langkahku terhenti di depan sebuah kedai es krim pinggir jalan.

Di sana, di bawah lampu neon yang temaram, aku melihat seorang gadis remaja—mungkin usianya baru lima belas tahun. Dia tertawa lepas, begitu lepasnya sampai matanya menyipit, sementara tangannya sibuk memegang kerucut es krim cokelat. Di sampingnya, seorang pria paruh baya menatapnya dengan binar bangga, sesekali menyeka noda es krim di sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya.

Hanya sebuah pemandangan sederhana. Namun, bagiku, itu adalah pisau yang baru saja diasah.

Ingatanku terseret paksa kembali ke masa itu. Ke masa di mana aku adalah gadis lima belas tahun yang juga merasa menjadi pusat dunia bagi Ayah. Aku ingat bagaimana Ayah selalu membelikanku es krim rasa pistachio kesukaanku setiap kali beliau pulang dari "bisnis luar kota". Aku ingat tawanya yang hangat, pelukannya yang kokoh, dan janji-janjinya bahwa aku akan selalu menjadi putri kecilnya.

“Rana, putri kecil Ayah jangan sedih ya, kan ada Ayah.”

Suara itu terngiang begitu nyata di telingaku, membuat dadaku sesak seketika. Ternyata, di saat aku tertawa menikmati es krim pemberiannya, di kota lain, ada anak laki-laki lain yang mungkin juga sedang menikmati es krim yang sama dari tangan pria yang sama.

Laki-laki yang kupuja sebagai pahlawan, nyatanya adalah aktor paling berbakat yang pernah kukenal. Dia tidak hanya membagi cintanya, tapi dia membagi hidupnya dengan presisi yang mengerikan, menyisakan reruntuhan di hatiku saat kebenaran itu terungkap.

Aku memalingkan wajah, mempercepat langkahku. Air mata yang sejak tadi kutahan kini mulai mendesak keluar. Pemandangan ayah dan anak itu tidak lagi terasa manis, melainkan pengingat bahwa kebahagiaan bisa menjadi topeng paling sempurna untuk sebuah pengkhianatan.

Setiap tawa yang kudengar dari mereka seolah mengejek pertahananku. Aku membenci kenyataan bahwa setelah lima tahun berlalu, pemandangan sekecil itu masih sanggup merobek luka yang kupikir sudah mengering.

Aku sampai di depan rumah dengan napas terengah. Aku berhenti sejenak di depan butik Ibu yang lampunya masih menyala. Aku harus segera masuk, membantu Ibu, dan menenggelamkan diri dalam tumpukan kain. Karena jika aku terus melamun di bawah kegelapan malam ini, bayangan Farez—yang juga memiliki senyum sehangat Ayah—pasti akan kembali datang dan meruntuhkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!