Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sementara di mansion Pratama, Ratu dan Noah sudah siap untuk pergi.
" Ingat ya, jangan pulang terlalu malam" ucap Nadine dengan lembut, sambil mengusap rambut putranya.
" kak...kita hanya ke tukang nasi goreng,bukan nonton bioskop" sahut Ratu memanyunkan bibirnya...
" Aku tahu,kau mau membawa Noah kemana" celetuk Aditya yang sedang menggendong si cantik Alesha yang usianya sudah satu tahun lebih.
" hanya sebentar kak" Ratu mengacungkan dua jarinya...
"Baiklah, tapi hanya melihat sebentar,lalu cepat ke mas Gito" ucap Aditya tegas.
" Siap kak, kalau begitu,kita pergi sekarang...Assalamualaikum " ucap ratu dan Noah serempak.
Mereka masuk ke dalam mobil SUV hitam milik keluarga Pratama.
Ratu sudah berjanji ingin mengajak Noah ke sirkuit, tapi sesuai janjinya pada Aditya,Ia hanya melihat,bukan ikut balapan....
___
Kemacetan Jakarta malam itu benar-benar tidak bergerak. Ardiansyah menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil mewahnya dengan perasaan yang masih hampa setelah makan malam formal bersama Nisya. Namun, saat ia melongok ke arah jendela samping, matanya menangkap sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya berdegup dengan irama yang tak asing.
Di atas tikar yang digelar di depan ruko kosong, tepat di samping lapak Nasi Goreng Gila Mas Gito yang mengepulkan asap aromatik, duduk seorang wanita yang sangat ia kenal.
" Ratu" gumamnya pelan, bahkan Nisya saja tidak mendengar gumaman Ardiansyah.
Ia tidak lagi mengenakan abaya jetblack mahalnya. Ia memakai Hodie dan celana kulot santai berwarna hitam tak lupa pasmina yang senada dengan warna celananya, Ia duduk bersila dengan gaya yang jauh dari kata anggun. Di sampingnya, Noah , si jenius kecil yang kini sudah besar sedang sibuk memisahkan acar dari piring nasi gorengnya.
" kenapa tidak di makan acaranya?" tanya Ratu pelan.
" Gigi Noah baru copot Tante, jadi masih sedikit sakit kalau makan yang keras seperti wortel ini" Noah memberikan acar itu ke piring Ratu.
" baiklah....kesiniin acaranya, Noah makan tomatnya saja, itu tidak keras"
" baik Tante" ucap Noah dengan patuh.
Ratu dengan santai nya memakan acar bekas keponakannya tanpa jijik.
Ardiansyah menurunkan sedikit kaca mobilnya, membiarkan kebisingan jalanan masuk agar ia bisa mendengar sayup-sayup percakapan mereka.
"Tante Ratu, ini kerupukku kenapa Tante ambil terus? Katanya mau diet karena baju Tante kekecilan?" Noah protes karena kerupuknya habis di makan Ratu.
Ratu menyahut sambil mengunyah lahap dengan pipi menggembung "Duh, Noah... kamu harus tahu hukum alam. Makanan di piring orang lain itu rasanya 200% lebih enak. Apalagi kalau kerupuknya gratisan begini."
"Ish, Tante Cantik ini pemimpin perusahaan tapi mentalnya masih mental pemburu diskon. Lihat itu, ada nasi menempel di ujung hidung Tante. Cantiknya hilang, tinggal tantenya saja yang sisa."
Ratu segera mengusap hidungnya dengan punggung tangan, lalu tertawa terbahak-bahak sambil menjitak pelan kepala Noah. Ardiansyah yang melihat itu dari kejauhan tanpa sadar ikut tersenyum. Senyum tulus yang tidak muncul saat ia bersama Nisya tadi. Ia teringat saat Ratu pertama kali memaki-makinya di pinggir jalan karena motor bututnya, lalu berubah menjadi wanita lembut yang memberinya uang servis.
Ratu kemudian terlihat mengambil sebotol air mineral dan membantu Noah mencuci tangan dengan sisa air di gelas plastik. Gestur keibuannya yang muncul secara alami itu membuat Ardiansyah tertegun.
"Noah, habis ini kita harus langsung pulang. Kalau Ayah Aditya tahu kita keluyuran lagi Tante bisa kena omel tujuh hari tujuh malam. apalagi kalau dia tahu kita makan di emperan ruko, bukan di lapak mas Gito" ucap Ratu terkekeh.
" iya..iya, tapi kalau hari libur,kita ke sirkuit lagi ya, Noah pengen lihat orang balapan...tadi sepi" keluh Noah, tidak sesuai ekspektasi, Noah kira ada balapan, ternyata tantenya membawa ke sirkuit sepi.
Ratu tertawa melihat wajah masam keponakannya " maafkan Tante, Tante tadi lupa searching dulu, kalau nanti ada balapan, Tante akan mengajakmu melihatnya.
Noah mengangguk senang "Tenang saja, Tante. Noah nanti akan meretas GPS mobil kita supaya tidak terlihat kalau kita di arena balap, punya Ilmu , harus di manfaatkan bukan?"
Ratu mencubit gemas pipi Noah "Anak pintar! Memang benar, keponakan Tante ini lebih berguna daripada tim IT perusahaan mana pun."
Ardiansyah memperhatikan bagaimana Ratu tetap menjaga kesantunannya, ia tetap menggunakan kerudungnya meskipun dalam suasana santai. Ada keanggunan yang tidak dipaksakan di sana.
Ia ingin sekali turun. Ingin sekali menyapa dan bertanya, "Kenapa kamu menghilang?" Namun, ia teringat statusnya sebagai tunangan Nisya. Ia teringat ponselnya di kursinya yang penuh dengan jadwal persiapan pernikahan.
Agar tidak terlihat mencurigakan di kemacetan, Ardiansyah merogoh pouch di sampingnya dan mengeluarkan antiseptik untuk mengoleskannya di telapak tangannya, sebuah kebiasaan baru untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menghirup aromanya dalam-dalam, mencoba mengalihkan batinnya yang mulai bergejolak.
Tepat saat lampu berubah hijau, mobil Ardiansyah perlahan melaju. Dari kaca spion, ia melihat Ratu berdiri, membantu Noah merapikan sandal, lalu mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju mobil SUV hitam yang menunggu di ujung jalan.
Ardiansyah bergumam lirih "Ratu... jadi kamu benar-benar sudah kembali. Dan kamu jauh lebih nyata daripada bayangan Vanessa yang selama ini aku kejar,serta asisten Vanessa yang tadi siang mengusik hatinya."
Ia kembali melajukan mobilnya ke rumah calon mertuanya.... tidak jauh dari perumahan elit Magnolia yang tadi ratu dan Noah singgah tepat berada di depan perumahan elit tersebut. Di deretan ruko-ruko.
Ardiansyah turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk calon istrinya.
Nisya merasa hangat diperlakukan seperti itu. mereka berjalan menuju rumah sederhana yang ada di depan mata mereka.
"Assalamualaikum....?" ucap Ardiansyah sopan.
"waalaikumsalam....wah nak Ardi, ayo masuk" sahut Siska ,ibu Nisya ramah...
Ardiansyah dan Nisya duduk di ruang tamu, Ardiansyah meletakkan kotak berisi makanan restoran bintang lima.
" maaf Tante, Ardi hanya bawa ini" ucap Ardiansyah sopan.
Siska tersenyum" ah... tidak perlu repot-repot nang Ardi, cukup membawa pulang Putri ibu saja sudah membuat ibu bahagia".
"Bagaimana kabarmu nak Ardi?" tanya Pramuji ,ayah Nisya ramah.
" Alhamdulillah Om.... seperti yang om lihat, Ardi baik-baik, Bagaimana kabar om dan tante?"tanya Ardiansyah sebaliknya.
"seperti apa katamu juga... kami baik"jawab Siska tersenyum.
mereka berbincang sebentar, lalu Ardiansyah pamit untuk pulang karena sudah terlalu malam.
___
Suasana hangat yang terpancar dari senyum Pramuji saat Ardiansyah masih berada di ruang tamu seketika menguap begitu deru mobil mewah itu menjauh dari halaman rumah. Siska, sang ibu, sibuk memindahkan makanan dari bungkusan restoran bintang lima ke piring porselen, namun suaminya justru berdiri mematung dengan tatapan yang menusuk ke arah Nisya.
Nisya yang baru saja hendak melepas jilbabnya tersentak saat melihat bayangan ayahnya yang berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan bersedekap.....
_______________________________
Sesuai yang author janjikan, setelah ada bintang, tambahan bab pun jatuh...
Terimakasih atas dukungan semuanya...
❤️🌹🌹🌹👍🏻👍🏻👍🏻☕☕☕