“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINDIRAN SEFA
BAB 29
Suasana di dalam kamar yang mewah itu seketika menjadi jauh lebih dingin dari pada hembusan AC yang menerpa kulit. Arka merasa seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu tersedot keluar.
Pertanyaan Sefa bukan sekadar pertanyaan biasa,itu adalah sebuah granat yang pinnya sudah ditarik.
Arka berdehem, mencoba menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam di tenggorokannya. Ia harus menjawab, dan ia harus menjawab dengan cepat sebelum jeda ini menjadi pengakuan dosa yang nyata.
"Mungkin... mungkin itu cincin pertunangannya dengan Bayu dulu, Sef," jawab Arka, suaranya sedikit serak.
Ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tampak seperti pria yang sedang bersimpati pada duka sahabatnya.
"Kamu tahu sendiri betapa terpukulnya Vina saat Bayu pergi. Mungkin mengenakan cincin itu adalah caranya untuk merasa tetap dekat dengan mendiang."
Sefa tidak melepaskan pandangannya dari manik mata Arka. Ia mencari getaran, kedipan, atau apapun yang menunjukkan kebohongan.
"Begitukah?" Sefa memiringkan kepalanya sedikit, jemarinya kini menelusuri kain sprei ranjang Arka yang halus.
"Tapi cincin itu terlihat sangat baru, Kak. Sangat berkilau. Dan modelnya... entah kenapa, mengingatkanku pada gaya desain perhiasan yang pernah kamu tunjukkan padaku di majalah bulan lalu."
Jantung Arka berdegup begitu kencang hingga ia takut Sefa bisa mendengarnya.
"Banyak model cincin yang mirip di dunia ini, Sef. Kamu hanya terlalu lelah dan terlalu banyak menonton drama tadi."
Arka kemudian meraih tangan Sefa, mencoba melakukan taktik pengalihan yang biasa ia gunakan,kelembutan.
"Sayang, dengar. Kita di Roma untuk bekerja dan sedikit bersantai. Jangan biarkan imajinasimu merusak suasana. Vina adalah sahabatku, dan aku adalah tunanganmu. Tidak ada rahasia di antara kita."
Sefa tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya.
Kata-kata Arka tentang ‘tidak ada rahasia’terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia teringat bayangan di dapur semalam, bisikan-bisikan yang ia dengar dari balik celah pintu, dan fakta bahwa Vina keluar dari kamar ini saat fajar menyingsing.
"Tentu saja," bisik Sefa lembut. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arka, mendengarkan detak jantung pria itu yang tidak beraturan.
"Tidak ada rahasia yang bisa tersimpan selamanya, kan? Tuhan punya cara unik untuk menyingkap tabir, sekencang apapun kita menutupnya."
Sefa memejamkan mata seraya membatin. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia tidak lagi melihat Arka sebagai pelindungnya. Ia melihat seorang pria yang sedang membangun istana di atas pasir hisap.
"Aku lelah, Kak. Aku ingin tidur sebentar di sini," ucap Sefa tiba-tiba.
"Tidur di sini?" Arka tersentak.
"Kenapa? Ini kan kamar tunanganku. Lagipula, bantalnya sangat wangi," Sefa menghirup dalam-dalam aroma bantal Arka, aroma yang sama yang ia cium pada rambut Vina pagi tadi.
"Wangi yang sangat... familiar."
Arka hanya bisa mematung, membiarkan Sefa berbaring di sampingnya. Ia tahu, mulai saat ini, setiap detik yang mereka lalui di rumah ini bukan lagi tentang liburan atau pekerjaan. Ini adalah medan perang psikologis, di mana satu langkah salah akan menghancurkan segalanya.
Arka hanya bisa terdiam, tubuhnya kaku seperti patung sementara Sefa memejamkan mata di sampingnya.
Detak jantung Arka masih berpacu liar. Ia merasa sedang memeluk bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Sementara itu, di dapur, Vina berdiri gemetar. Ia mencengkeram pinggiran wastafel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Napasnya pendek-pendek. Kata-kata Sefa tentang ‘wanita ketiga’ dan ‘cincin’terus terngiang seperti kutukan.
Satu menit, dua menit... hingga sebuah langkah kaki ringan terdengar mendekat.
Vina tersentak dan menoleh. Sefa sudah berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya yang tadi tampak lesu kini terlihat sangat segar, seolah ia baru saja mendapatkan energi dari ketakutan orang lain.
"Vin, aku buatkan teh hangat ya?. Kamu bilang pusing, kan?" Sefa berjalan mendekat, gerakannya tenang namun penuh intimidasi.
"Ti-tidak usah, Sef. Aku sudah baikan," jawab Vina gugup. Ia refleks menyembunyikan tangan kanannya di balik punggung, mencoba menutupi cincin yang menjadi sumber kecurigaan Sefa.
Sefa tersenyum tipis. Ia meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Vina.
"Kenapa tanganmu disembunyikan? Aku tidak akan memintanya, Vin."
Vina membeku. Sefa meraih paksa tangan Vina, menariknya ke depan hingga cincin emas putih itu berkilau tertimpa cahaya lampu dapur.
"Cantik sekali," bisik Sefa sambil mengusap permukaan cincin itu dengan ibu jarinya.
"Tapi tahu tidak, Vin? Kadang perhiasan yang terlalu indah bisa melukai pemakainya kalau bukan miliknya. Seperti cincin ini... kalau dipaksakan dipakai oleh orang yang salah, jarinya bisa membiru karena aliran darahnya terhenti."
Vina menarik tangannya dengan kasar.
"Apa maksudmu, Sef? Kamu menuduhku mencuri?"
"Mencuri?" Sefa tertawa pendek, suara tawanya terdengar hampa di dapur yang sunyi itu.
"Aku tidak bilang kamu mencuri barang, Vin. Tapi kalau kamu mencuri hati atau milik orang lain... itu beda cerita."
Vina merasa dunianya runtuh. Ia ingin berteriak, ingin mengaku, atau setidaknya lari dari sana. Namun, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Oya," Sefa berbalik, hendak meninggalkan dapur, namun ia berhenti sejenak.
"Aku baru ingat. Besok kita ada janji makan malam dengan produser di pusat kota. Kak Arka bilang dia ingin kita tampil kompak. Aku harap 'cincin duka' itu disimpan saja di kotak perhiasan. Tidak enak dilihat orang kalau sahabat tunangannya memakai cincin nikah sementara dia belum menikah lagi, kan?"
Sefa berlalu, meninggalkan Vina yang jatuh terduduk di lantai dapur.
Tangisnya pecah tanpa suara.
Di lantai atas, dari balik pilar, Arka menyaksikan seluruh interaksi itu.
Ia mengepalkan tangan, bimbang antara harus turun memeluk istrinya yang sah secara rahasia, atau kembali ke kamar untuk memainkan perannya sebagai tunangan Sefa.
Sandiwara ini mulai memakan korban, dan Arka tahu, ia adalah sutradara yang baru saja kehilangan kendali atas naskahnya sendiri.
“Ya tuhan, aku harus bagaimana?”
like dan berikan ulasan.. agar authornya semangat UP setiap bab 🙏😍😍😍