Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Rama Vs Arlan
Bab 28
Kabar kalau Rama sudah menikah, sudah berhembus di kampung tempat tinggalnya. Termasuk pada pekerja baik di rumah, juga tempat usahanya yang lain. Tidak langsung menuju kediaman mertuanya, Rama mampir pulang ke rumah.
“Sendiri, istrimu mana?” tanya Ibu saat Rama mencium tangannya.
“Aku dari SM bu, Gita di rumah.”
“Rama, ya ampun pengantin baru. Mana istrinya, penasaran siapa yang beruntung jadi menantu bu Mira,” seru asisten rumah tangga.
“Ada mpok, nanti gue bawa ke sini.”
“Sarapan dulu Ram. Duduk dulu sini.”
Rama patuh, sambil fokus dengan ponselnya karena semalaman tidak dia buka. Menjawab pesan pribadi juga grup baik urusan pekerjaan juga koordinasi dari para pekerja di usahanya.
“Ibu suapin aja ya, biar cepet. Kasihan istri kamu pasti udah nungguin.”
Rama pasrah. Ibunya memang sesayang itu, mungkin karena dia anak tunggal. Namun, tidak menunjukan sisi manjanya dan ia terlihat dewasa juga mandiri.
“Rencana kamu gimana, Ram. Kalian mau tinggal di mana?”
“Di sini,” sahut Rama masih fokus dengan ponsel sambil menerima suapan dari ibunya.
“Gita setuju? Orangtuanya?”
“Kemarin sempat ngobrol sama Papa Arya, beliau setuju aja. Tapi aku belum ngobrol sama Gita, kayaknya dia mau bu. Kalau weekend kami pulang ke sana, biasanya mereka selalu ada acara.”
“Bakal betah nggak, rumahnya besar banget Ram. Mau apa juga ada. Takutnya dia nggak betah tinggal di sini.”
Rama meneguk air minum. “Tenang bu, itu urusanku. Nanti ada tukang datang, benerin toilet. Aku juga beli pemanas air, dipasang sekalian."
“Kalau cing Ihsan kemari, ibu harus bilang apa?”
“Bilang aja waalaikumsalam, biasanya kalau datang ucap salam ‘kan.”
Mira menepuk lengan Rama, padahal sedang bicara serius malah menjawab dengan candaan.
“Nggak usah pusing bu, tinggal bilang aja udah punya mantu.”
Selesai urusan sarapan, Mira membantu Rama packing meski hanya 1 koper kecil.
“Sepatu nggak bawa?”
“Di loker ada 1, di mobil ada 1. Udahlah, cukup. Lagian aku bakal bolak balik ke sini juga. Jangan kangen ya.” Rama terkekeh sambil mencolek dagu ibunya.
“Kapan ada waktu, ajak Gita belanja. Belikan dia barang yang biasa dibawa untuk hantaran pernikahan.”
“Siap, ibu suri. Aku jalan, bu.” Rama memeluk ibunya, seolah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan dia masih Rama putra kesayangannya.
***
Arya memangku putra Mada bergantian dengan Sarah. Bocah itu sempat tantrum ingin berpindah ke pangkuan ibunya.
“Sama opa aja, ya. Oma belum bisa gendong,” seru Arya sambil menciumi pipi gemoy cucunya dari Mada dan Rindu.
Terdengar teriakan Gita karena keisengan Mada. Dari dulu Mada memang senang menjahili Moza dan Gita.
“Kak Rindu, kok mau sih sama kamu.”
“Karena gue ganteng,” sahut Mada.
“Idih, masih ganteng Bang Rama kemana-mana,” balas Gita kembali berteriak karena Mada memiting lehernya.
Rindu seolah tuli, sudah biasa melihat keseruan itu. Pandangan ketiga orang yang berada di beranda rumah tertuju pada mobil yang baru saja datang dan parkir.
“Itu Rama ya?”
“Iya. Semalam dia kerja, nggak bisa cuti dadakan katanya,” sahut Sarah.
“Gita, suami kamu pulang tuh,” panggil Rindu.
Tidak lama Gita keluar. “Kak, itu suaminya rese.” Mada terkekeh lalu ikut duduk di samping istrinya. Sedangkan Gita menghampiri mobil Rama.
“Hai, sayang,” sapa Rama saat keluar dari mobil dan Gita langsung memeluknya.
“Abang, kok lama?”
“Pulang dulu sebentar, ‘kan semalam udah izin.”
“Bukannya Pak Iwan aja.”
Rama tersenyum sambil mengusap kepala Gita. Agak malu karena tingkah Gita menjadi perhatian mertua dan iparnya.
“Apaan itu nempel aja, kayak cicak,” ejek Mada.
“Ayo,” ajak Rama. Menyapa keluarga Gita lalu ikut bergabung di sofa beranda.
“Sarapan dulu, gih.”
“Sudah mah, tadi mampir ke rumah.”
“KAlau shift malam gitu, berarti kamu melek terus dong,” cetus Rindu.
“Nggak Yang, merem dia. Ya melek-lah, apalagi tugasnya di ruang operasi mana bisa tidur. Iya kali ada orang digaji suruh tidur."
“Ish, aku penasaran.”
Sempat berbincang sebentar, Rama akhirnya pamit untuk istirahat.
“Tidur Git, jangan diajak macam-macam,” ejek Mada.
“Kak Mada apaan sih, mulutnya rese.”
“Mas,” tegur Rindu dan Mada malah tergelak menggoda adiknya.
“Kayaknya yang bakal sering nyos0r si Gita bukan Rama, lihat aja kelakuannya tadi langsung nempel gitu nggak ada malunya,” ejek Mada saat Gita dan Rama sudah ke dalam.
“Makanya papa segerakan mereka menikah, bahaya.”
***
“Rama Purwangga, 29 tahun perawat di RS Sentral Medika,” jelas sahabat Arlan yang ditugaskan mencari tahu siapa pria yang mengaku sebagai kekasih Gita.
“Dari mana lo tahu?” tanya Arlan masih menatap profil Rama di media sosial.
“Ya dari medsos. Jaman sekarang gampang cari orang.” Padahal hanya kebetulan saja ada tayangan mampir ke berandanya di mana Rama ada di tayangan itu.
“Ck, nakes aja song0ng udah pasti miskin. Beraninya main-main sama Arlan karena cewek. Gue kasih Gita kalau udah bekas. Lihat aja, gue bakal kasih pelajaran.” Arlan terkekeh lalu menghubungi seseorang.
“Mau duit nggak? Ada kerjaan untuk kalian!”
Asoka mulut nya bener2 ketularan Rama nih
jangan sampe calon uget uget lagi ini