Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah di Balik Pintu
Liana nyaris memuntahkan isi perutnya saat melompat keluar dari bagasi sesampainya di parkiran bawah tanah mansion. Ia harus bergerak lebih cepat dari kilat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berlari menaiki tangga darurat, masuk melalui pintu dapur, dan segera mengganti pakaiannya kembali menjadi seragam pelayan yang rapi.
Hanya selisih dua menit sebelum pintu depan mansion terbanting terbuka.
"ANA! ANA DI MANA?!"
Suara Arkan menggelegar, memenuhi aula besar yang biasanya sunyi. Suaranya pecah, ada nada kepanikan yang belum pernah Liana dengar sebelumnya.
Liana muncul dari arah dapur dengan tangan gemetar—kali ini gemetarnya bukan sekadar akting.
"Sa-saya di sini, Tuan Arkan. Ada apa?"
Arkan berlari menghampirinya. Pria itu tidak peduli lagi pada harga dirinya. Ia mencengkeram kedua bahu Liana, matanya yang tajam memeriksa setiap inci tubuh gadis itu, mencari luka atau darah. Napas Arkan memburu, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang masuk ke sini? Seseorang menyentuhmu?" tanya Arkan beruntun.
Liana menggeleng pelan, berpura-pura bingung. "Tidak ada, Tuan. Saya hanya di dapur bersama Bibi Martha."
Arkan mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban seberat gunung baru saja terangkat dari dadanya. Ia menyandarkan dahinya di bahu Liana selama beberapa detik—sebuah momen kelemahan yang sangat langka bagi seorang bos mafia.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.
"Tuan! Lihat ini!"
teriak Baron yang baru saja masuk ke kamar utama Arkan di lantai atas.
Arkan dan Liana segera berlari ke atas. Di tengah tempat tidur Arkan yang rapi, tergeletak sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam dengan pita merah darah. Di sampingnya, terdapat sehelai foto tua yang sudah terbakar sebagian.
Liana mematung saat melihat foto itu. Itu adalah foto rumahnya yang terbakar sepuluh tahun lalu, tapi diambil dari sudut pandang yang sangat dekat. Dan di bawahnya, ada tulisan tangan yang rapi namun mengerikan:
"Satu nyawa untuk satu pembangkangan. Jika kau tidak bisa menghancurkan gubuk orang lain, aku yang akan menghancurkan 'properti' kesayanganmu di rumah ini."
Arkan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bajingan tua itu..." desisnya.
Arkan kemudian menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi juga ada rasa bersalah yang amat dalam. Ia menarik Liana keluar dari kamar dan membawanya ke koridor yang sepi.
"Mulai malam ini, kau tidak akan tidur di kamar pelayan," ucap Arkan tegas.
"Tapi Tuan—"
"Ini perintah! Kau akan tidur di kamar tamu tepat di sebelah kamarku. Pintu itu akan dijaga dua orang bersenjata 24 jam," potong Arkan. Ia menatap Liana lurus ke mata.
"Ayahku... dia bukan orang yang main-main dengan ancamannya. Dia pikir kau adalah kelemahanku karena aku membiarkanmu tetap bekerja di sini setelah kau merusak laporanku."
Liana menelan ludah. Rencananya berjalan terlalu mulus, tapi juga terlalu berbahaya. Ia sekarang berada di pusat badai. "Kenapa Tuan begitu peduli pada saya? Saya hanya pelayan."
Arkan terdiam lama. Ia menyentuh bekas luka bakar di dadanya secara tidak sadar melalui kain kemejanya. "Karena kau mengingatkanku pada seseorang yang gagal aku selamatkan sepuluh tahun lalu. Aku tidak akan membiarkan api yang sama membakar orang lain lagi."
Kebohongan! batin Liana menjerit. Kau yang memegang obornya, Arkan!
Malam itu, Liana berbaring di tempat tidur mewah di kamar tamu. Kepalanya berdenyut. Ia baru saja melihat Arkan melawan ayahnya demi warga sipil, tapi ia juga mendengar pengakuan Baskoro bahwa Arkan-lah yang membakar rumahnya.
Apakah Arkan terpaksa? Ataukah dia hanya sedang bermain peran sebagai orang baik di depanku?
Tiba-tiba, pintu kamar tamu terbuka sedikit. Liana berpura-pura tidur. Ia merasakan seseorang masuk dengan langkah sangat pelan. Aroma sandalwood yang akrab memenuhi ruangan.
Arkan berdiri di samping tempat tidurnya. Pria itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap
Liana yang sedang terpejam dalam kegelapan.
"Maafkan aku," bisik Arkan sangat pelan, hampir seperti hembusan angin.
"Andai kau tahu bahwa tanganku ini... selamanya akan berbau hangus."
Setelah Arkan keluar dan menutup pintu, Liana membuka matanya. Air mata yang tidak ia undang jatuh membasahi bantal sutra itu.
"Jika kau minta maaf, apakah keluargaku akan kembali, Arkan?" bisiknya dalam hati. "Aku akan tetap membunuhmu, meski aku harus menghancurkan hatiku sendiri bersamamu."