Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18- MCI 18
Ceklek
"Selamat pagi!" sapa Max dengan penuh semangat.
Diandra membalas sapaan itu dengan senyuman yang begitu tulus.
"Selamat pagi!"
"Seperti biasanya, kamu selalu cantik!" puji Max pada Diandra.
"Terima kasih!"
"Mari nona, kita berangkat sekarang. Ibuku sangat senang mendengar kamu mau jadi sekertaris ku. Dia bahkan mengajak kita makan siang bersama, nanti. Kamu mau kan?" tanya Max.
Diandra menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja!" katanya cepat.
Max mengulurkan tangannya, dia membawa Diandra ke mobilnya. Max bahkan membukakan pintu mobil untuk Diandra. Dan dia begitu antusias, di wajah pria itu, sejak dari rumahnya sampai sekarang. Senyuman sungguh tak luntur sama sekali.
Sementara itu di perusahaan, Raez sudah duduk di kursi kebanggaannya. Tangannya tampak terkepal. Beberapa dokumen di atas meja sama sekali tidak di liriknya. Dia masih sangat emosi karena Diandra tidak mengindahkan ucapannya.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu ruangannya terbuka. Asisten pribadinya Bram masuk ke dalam ruangan dan berjalan mendekati meja kerja Raez.
"Tuan, manager hotel mengantarkan kartu dari kamar president suite!" kata Bram.
Bram meletakkan kartu itu di atas meja. Di depan Raez.
Tangan pria itu makin kuat lagi mengenalnya.
'Dia sudah punya pohon uang baru. Dia pikir Max, bisa memberinya apa saja!' batinnya yang benar-benar seperti sudah sangat terbakar api cemburu dan arogansi yang sangat kuat.
Bukan hanya masalah uang. Raez merasa Diandra benar-benar ingin menantangnya. Dan dia tidak suka itu.
Ketika Raez masih sangat marah dan kesal. Ponsel Bram sudah berdering. Pria itu menerima panggilan telepon di depan Raez.
"Tuan, sekertaris tuan Max itu...!"
"Diandra" geram Raez.
Bram tampak terkejut. Dia bukan tidak tahu tentang hubungan keduanya. Karena Bram memang sedang menyelidiki Diandra, itu diperintahkan sendiri oleh Raez.
"Baiklah, dia yang mau jadi sekertaris Max kan! kalau begitu berikan dia pekerjaan seperti yang dia inginkan itu! Katakan pada dia sekertaris umum di ruangan sekertaris, aku memberikan mereka cuti selama satu hari. Berikan semua pekerjaan mereka pada Diandra!"
Bram sedikit terkejut, masalahnya pekerjaan itu sangat banyak. Tapi, yang namanya dia cuma bawahan, dia pun hanya bisa mengangguk patuh.
"Baik tuan!"
Bram segera berbalik dan berjalan ke arah pintu. Tapi baru memegang gagang pintu, suara Raez terdengar lagi.
"Jangan biarkan siapapun membantunya. Termasuk orang-orang kakak ipar!"
Bram mengangguk patuh lagi.
"Baik tuan!"
Tatapan Raez begitu tajam ke arah depan. Tangannya terkepal kuat.
"Diandra!" geramnya.
Sementara itu, begitu mereka sampai di perusahaan. Max langsung saja mengenalkan Diandra pada semua orang. Dia melakukan semua itu supaya tidak ada yang berani jahat atau mem-bully Diandra.
Sayangnya tidak semua orang bisa berpikir positif. Beberapa orang terlihat sinis, ya beberapa orang yang punya sikap dengki di hati mereka.
"Lihat senyumnya, dia sepertinya senang sekali!"
"Lah iya dong mbak, kan dia masuk jalur orang dalam. Kerjaannya tinggal santai, duduk manis, senyum manis aja dapat gaji. Memangnya kayak kita, harus kerja keras bertahun-tahun!"
"Iya benar, modal cantik doang. Paling juga berapa bulan aja jadi sekertaris!"
"Iya, gak akan lama. Pak Raez mana suka orang genit begitu!"
Padahal Diandra tidak melakukan apapun loh, Diandra juga tidak mengatakan apapun selain kata 'salam kenal, mohon kerja samanya' dia benar-benar hanya bicara itu sejak datang. Tapi semua orang sudah punya pandangan masing-masing tentangnya.
"Aku perlihatkan ruangan kamu!" kata Max yang mengajak Diandra ke ruangan sekertaris yang ada di samping ruangan Max.
Ceklek
Tapi, begitu Max buka pintu, dia cukup terkejut dengan tumpukan dokumen yang ada dua tumpukan itu di atas meja kerja Diandra.
Diandra sendiri juga terkejut. Karena tidak mungkin Max memberinya pekerjaan sebanyak itu, apalagi dia baru masuk hari ini.
"Sebentar Di!"
"Karina!" pekik Max pada asisten pribadinya.
"Iya tuan!" seorang wanita berkacamata segera menghampiri Max dan Diandra.
"Tadi pagi aku suruh kamu menyiapkan meja sekertaris untuk Diandra. Itu apa?" tanya Max menunjuk ke arah tumpukan dokumen di atas meja yang seharusnya menjadi meja kerja Diandra.
Karina tampak gugup.
"Maaf tuan, semua berkas itu dikirimkan dari ruangan sekertaris. Tuan Bram bilang, tuan Raez yang memerintahkannya. Tuan Bram bilang, tidak boleh ada yang membantunya. Tuan Bram juga bilang, tuan Raez berkata 'Kalau dia tidak mampu, dia bisa mengundurkan diri!' begitu tuan!"
Karina bicara dengan gugup. Bukan hanya gugup, dia juga takut.
Max langsung mendengus kesal. Sementara Diandra hanya bisa menahan amarahnya. Dia tahu semua itu Raez sengaja lakukan untuk mempersulitnya.
"Paman, aku akan bicara padanya..."
Tapi ketika Max akan pergi, Diandra menahan tangan Max.
"Jangan Max, nanti pamanmu bisa marah lagi padamu. Tidak masalah, semua pekerjaan itu aku akan coba selesaikan. Tapi bisakah kamu temani aku, jika ada yang tidak aku mengerti..."
Diandra sengaja menggoyangkan tangan Max. Bersikap seperti seseorang yang sangat manja ingin ditemani oleh Max.
Jangan tanya apa tanggapan Max. Pria itu pipinya bahkan sudah memerah.
"Baiklah!"
Max meminta agar Karina pergi dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara dia masuk ke ruangan itu bersama dengan Diandra.
'Mau membuatku mundur? jangan mimpi tuan Raezwell Dave Mahendra. Justru aku aka membuatmu semakin terbakar!' batinnya.
Diandra bahkan sengaja bertanya banyak hal pada Max. Tidak membiarkan pria itu jauh darinya. Dan Max, hatinya sangat berbunga-bunga. Dia jarang sekali bisa duduk sedekat itu dengan Diandra.
"Yang ini, yang ini bagaimana?" Tanya Diandra manja.
"Em..." wajah Max tersipu, "aku akan jelaskan, jadi begini..."
Diandra mendengarkan dengan baik. Selain untuk sengaja mendekati Max, dia memang harus mempelajari dokumen-dokumen itu. Siapa tahu tiba-tiba ada kuis dadakan dari ayahnya Max kan!
Diandra menganggukkan kepalanya.
"Paham, paham. Aku akan kerjakan dulu. Tapi kamu jangan pergi, nanti kalau ada yang tidak aku pahami lagi, aku tanya siapa?"
'Ya ampun, ini menggelikan!' batin Diandra yang merasa sekarang tingkahnya benar-benar menggelikan.
Dia saja merasa geli dengan tingkahnya sendiri.
Tapi Max, justru merasa senang.
"Aku tidak akan kemana-mana. Lagipula yang harus aku tanda tangani masih kamu kerjakan kan?" tanya Max.
Tanpa mereka sadari, di celah pintu seseorang sedang memperhatikan keduanya yang terlihat akrab dengan tangan terkepal.
"Tuan, haruskah aku ketuk pintunya..."
Ucapan Bram terhenti. Karena Raez mengangkat tangannya.
"Tidak perlu, kita pergi dari sini!" katanya dengan rahang yang mengeras.
Sepertinya tuan Raezwell Dave Mahendra kembali terbakar api cemburu, yang sayangnya dia sulut sendiri.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣