NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden Presidential Suite, menyentuh wajah Ambar yang masih terlelap dengan tenang.

Ia menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang asing namun sangat nyaman di sekeliling tubuhnya.

Saat membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang yang tertutup piyama sutra dan lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya.

Ambar mendongak dan mendapati Baskara sudah terjaga, menatapnya dengan binar mata yang jauh lebih cerah dan hidup daripada biasanya.

"Selamat pagi, Ratuku," sapa Baskara dengan suara bariton yang berat dan serak khas bangun tidur. Sebuah senyum tulus tersungging di bibirnya.

Ambar tersipu, menyembunyikan wajahnya sejenak di ceruk leher Baskara.

"Selamat pagi, Bas. Sejak kapan kamu bangun?"

"Cukup lama untuk mengagumi wajah istriku saat tidur," goda Baskara yang membuat pipi Ambar semakin merona.

Baskara kemudian meraba laci nakas di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru hitam.

Ia membukanya, menyingkapkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air yang sangat langka dan berkilau indah.

"Ini hadiah kecil untukmu pagi ini. Sebagai tanda cinta dan terima kasihku karena kau sudah memilih untuk tetap tinggal bersamaku semalam," bisik Baskara.

Ambar terpaku melihat keindahan kalung itu. "Bas, ini terlalu mewah..."

"Tidak ada yang terlalu mewah untuk wanita yang sudah memberikan jiwanya padaku," potong Baskara tegas namun lembut.

Ia membantu Ambar memakai kalung itu. Berlian tersebut jatuh tepat di atas dada Ambar, berkilau kontras dengan kulitnya yang halus.

Namun, kejutan Baskara belum berakhir. Ia mengambil sebuah amplop besar yang juga tersimpan di nakas dan menyerahkannya kepada Ambar.

"Buka ini. Ini adalah hadiah yang sebenarnya."

Ambar membuka amplop itu dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat sertifikat kepemilikan sebuah butik fashion mewah di pusat kota dan sebuah dokumen hukum.

"Butik ini sekarang atas namamu, Ambar. Aku tahu kau punya bakat luar biasa dalam desain yang selama ini ditekan oleh ayahmu," ucap Baskara sambil mengusap rambut Ambar.

"Dan dokumen di bawahnya, itu adalah surat pengalihan kepemilikan rumah lama keluargamu. Pagi ini, petugas sudah berada di sana untuk memastikan Hendra dan Sinta keluar dari sana hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh mereka."

Ambar menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru mulai menggenang.

Bukan karena harta yang diberikan, tapi karena Baskara mengerti setiap inci luka dan impiannya yang terpendam.

"Terima kasih, Bas. Terima kasih sudah mengembalikanku pada diriku sendiri," isak Ambar sambil memeluk suaminya erat.

Baskara membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Ambar dengan penuh kasih.

"Hari ini adalah hari pertama kehidupan barumu, Ambar Mahendra. Dan aku akan pastikan tidak ada lagi air mata kesedihan yang jatuh di pipimu."

Baskara memberikan senyum yang penuh arti, sebuah tatapan yang membuat jantung Ambar kembali berdesir kencang meski malam panjang baru saja mereka lalui.

"Ayo sayang, kita mandi bersama," ajak Baskara dengan suara rendah yang memabukkan.

Ambar tersenyum malu-malu, namun ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Ia menyibak selimut sutra mereka, lalu dengan telaten membantu Baskara berpindah ke kursi roda peraknya.

Di dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer itu, uap air hangat segera memenuhi ruangan, menciptakan suasana privat yang begitu tenang.

Ambar membantu melepaskan piyama Baskara, lalu membantunya masuk ke dalam bathtub luas yang sudah terisi air hangat dengan aroma essential oil lavender.

Tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka; yang ada hanyalah sentuhan lembut penuh kasih sayang.

Ambar membasuh punggung suaminya, menyabuni kulit tegap itu dengan perlahan, sementara Baskara sesekali menarik Ambar ke dalam pelukannya di bawah kucuran air hangat.

Mandi pagi itu bukan sekadar membersihkan diri, melainkan cara mereka merayakan kedekatan baru yang kini telah sah dan utuh.

Beberapa saat kemudian, setelah keduanya tampil segar dengan pakaian santai namun elegan, mereka duduk di meja makan privat di balkon suite mereka.

Di depan mereka, tersaji sarapan pagi yang mewah: aneka pastry hangat, buah-buahan segar, dan tentu saja, semangkuk bubur ayam pesanan khusus Ambar serta Susu jahe untuk Baskara.

Ambar menyuapkan potongan buah ke mulutnya, menatap pemandangan kota dari ketinggian lantai teratas hotel.

"Rasanya seperti baru kemarin aku merasa dunia ini begitu gelap, Bas," gumam Ambar lembut.

Baskara menyesap kopinya, matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya yang kini tampak jauh lebih tenang.

"Gelap itu sudah lewat, Ambar. Sekarang, matahari ini bersinar untukmu."

Tepat saat itu, pintu kamar diketuk pelan. Gabby masuk dengan wajah profesional namun menyimpan sedikit senyum puas.

Ia membawa sebuah tablet digital dan beberapa berkas fisik.

"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Mahendra," sapa Gabby sambil membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu sarapan Anda, tapi ada laporan mendesak. Berita tentang pernikahan kalian dan penyitaan aset keluarga Wijaya telah menguasai seluruh media nasional pagi ini. Saham perusahaan Wijaya telah dinyatakan nol, dan..." Gabby menjeda sejenak, melirik Baskara.

"Hendra Wijaya sedang menunggu di lobi rumah lamanya, menolak untuk keluar sebelum bertemu dengan Anda, Nyonya Ambar."

Baskara menoleh ke arah Ambar, memberikan keputusan sepenuhnya kepada istrinya.

"Apa kamu ingin menemui mereka untuk terakhir kalinya sebelum petugas mengosongkan rumah itu secara paksa, Sayang?"

Ambar meletakkan sendoknya, matanya menatap tajam ke depan.

"Ya, Bas. Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala sendiri, siapa yang sekarang memegang kunci rumah itu."

Sinar matahari pagi menyinari lobi hotel bintang lima yang kini sudah dipenuhi oleh barisan wartawan dan pemburu berita.

Ambar melangkah keluar dengan anggun, mengenakan setelan blazer sutra berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan sempurna.

Di lehernya, kalung berlian hadiah dari Baskara berkilau tertimpa cahaya, menjadi saksi bisu kemewahan hidup barunya.

Ambar berjalan perlahan di belakang kursi roda Baskara.

Begitu pintu otomatis lobi terbuka, puluhan lampu kilat kamera langsung menyambar, menciptakan suasana riuh yang memekakkan telinga.

"Nyonya Mahendra! Nyonya Ambar! Bisa minta waktunya sebentar?" teriak salah satu wartawan dari media nasional.

Ambar menghentikan langkahnya tepat di depan barikade keamanan.

Ia menarik napas panjang, menatap lensa kamera dengan ketenangan yang luar biasa.

Tidak ada lagi ketakutan di matanya, hanya ada martabat seorang istri penguasa bisnis.

"Selamat pagi semuanya," suara Ambar terdengar jernih melalui mikrofon-mikrofon yang disodorkan ke arahnya.

"Hari ini adalah awal dari babak baru dalam hidup saya. Saya ingin menegaskan bahwa mulai detik ini, segala urusan yang berkaitan dengan nama Ambar, adalah urusan keluarga Mahendra. Saya bukan lagi bagian dari masa lalu yang kalian bicarakan."

Pertanyaan demi pertanyaan mulai menghujani mereka.

"Nyonya Ambar, apakah Anda akan segera pergi bulan madu? Destinasi mana yang dipilih oleh Tuan Baskara?" tanya seorang wartawan hiburan dengan antusias.

Ambar tersenyum manis, melirik suaminya sejenak.

"Bulan madu kami adalah setiap hari yang kami lalui bersama. Namun, untuk perjalanan khusus, suami saya sudah menyiapkan destinasi yang sangat privat. Kami hanya ingin menikmati waktu berdua."

Tiba-tiba, seorang wartawan pria dengan nada sedikit menggoda bertanya dengan lantang,

"Tuan Baskara! Bagaimana malam pertama Anda dengan Nyonya Ambar? Mengingat pernikahan ini menjadi headline paling panas tahun ini!"

Mendengar pertanyaan yang cukup pribadi itu, wajah Ambar seketika merona merah.

Ia sedikit menunduk, merasa malu di depan publik.

Namun, Baskara justru bereaksi sebaliknya. Pria itu tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat puas dan penuh kemenangan.

Ia mendongak, menatap Ambar dengan binar mata yang nakal namun posesif, lalu kembali menatap para wartawan.

"Malam pertama kami?" Baskara menjeda kalimatnya, sengaja menggantung suasana.

"Katakan saja, itu adalah malam yang membuktikan bahwa tidak ada kontrak yang lebih kuat daripada ikatan cinta yang sesungguhnya. Dan istriku, dia jauh lebih luar biasa dari yang dunia bayangkan."

Kemudian Baskara meraih tangan Ambar, mengecup punggung tangannya dengan lembut di depan semua kamera yang mengabadikan momen romantis tersebut.

"Cukup untuk hari ini. Istriku butuh istirahat sebelum kami menyelesaikan beberapa urusan 'pembersihan' di rumah lama Wijaya."

Baskara memberikan isyarat kepada pengawalnya.

Dengan sigap, mereka membukakan pintu mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu.

Baskara mengajak Ambar masuk ke dalam mobil dengan perlahan.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, menyisakan kesunyian di dalam kabin yang mewah, Baskara menggenggam erat tangan Ambar.

"Siap untuk melihat kehancuran mereka secara langsung, Sayang?"

Ambar mengangguk mantap. "Sangat siap, Bas. Ayo kita selesaikan ini."

1
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
tiara
ga sabar liat reaksi keluarga Wijaya di hari pernikahan Baskara,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!