Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Pagi datang lebih tenang dari biasanya.
Sinar matahari masuk dari sela tirai ruang tamu, menyisakan suasana hangat yang masih dipenuhi aroma sarapan dari dapur.
Zeya sedang menyusun piring ketika suara langkah kecil berlari terdengar dari arah kamar.
"Mamaa!"
Cici berlari kecil dengan rambut yang masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Langkahnya tidak stabil, namun wajahnya terlihat ceria.
Zeya berjongkok menyambutnya.
"Baru bangun ya?"
Cici mengangguk kecil, matanya bergerak ke kanan dan kiri seolah sedang mencari sesuatu.
Zeya memperhatikan ekspresi kebingungan anakanya.
"Cari apa?"
Cici diam sebentar, lalu dengan polos menunjuk ke luar rumah.
"Papa?"
Tangan Zeya yang sedang merapikan ujung baju Cici langsung berhenti sesaat.
Pikirannya mendadak kosong, tidak menyangka baru beberapa kali bertemu dengan papanya, Cici sudah sedekat itu dengannya. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak semua fakta itu, ingin tetap mempertahankan keyakinan bahwa mereka bisa baik-baik saja tanpa Dewangga. Namun hubungan darah di antara mereka seolah tidak bisa dibohongi.
Zeya menarik napas pelan sebelum tersenyum kecil.
"Papa nggak di sini, sayang."
Wajah Cici langsung berubah. Bibir mungilnya turun pelan, matanya mulai mencari ke segala arah.
"Paa nana?" (Papa mana?)
Belum sempat Zeya menjawab, suara ketukan dari pintu depan mengalihkan perhatian mereka.
Cici langsung menoleh cepat.
Matanya membesar wajahnya yang tadi sendu berubah menjadi ceria kembali.
Tanpa menunggu, ia langsung berlari kecil ke arah pintu sampai langkahnya hampir tersandung.
Zeya yang berjalan mengikuti dari belakang refleks menegang melihat anaknya hampir jatuh, namun Cici hanya tertawa kecil dan kembali berlari dengan semangat.
"Cici sayang, pelan-pelan larinya," tegur Zeya sambil mempercepat langkah mengikuti setiap langkah kecil Cici.
Begitu pintu dibuka. Dewangga berdiri di depan rumah dengan senyum kecil di wajahnya dan sebuah totebag besar di tangannya.
Cici langsung tersenyum cerah.
"APAPAAA!"
Anak kecil itu memeluk kaki Dewangga dengan semangat.
Dewangga refleks berjongkok, lalu beberapa detik kemudian tubuh kecil itu sudah masuk ke dalam pelukannya.
Dewangga terlihat sedikit kaget, tapi perlahan tangannya membalas pelukan itu dengan hati-hati, seolah masih takut salah memperlakukan putrinya sendiri.
Sudut bibirnya terangkat kecil.
"Selamat pagi, princess papa."
Cici memegang kedua pipinya yang mulai memerah karena terlalu semangat. Mata bulatnya membesar memperlihatkan ekspresi lucu yang membuat Dewangga tidak bisa menahan gemas.
Ia mencubit pelan pipi besar putrinya yang besar, seperti bakpao itu.
Dewangga lalu mengeluarkan sesuatu dari totebag yang ia bawa. Satu kotak krayon besar dan beberapa buku gambar.
"Lihat papa bawa apa buat kamu."
Ia menurunkan Cici dari gendongannya."Ini buat kamu semua."
Cici langsung mencoba memeluk semuanya sekaligus, tapi kedua tangannya terlalu kecil.
Kotak krayon hampir jatuh. Buku gambar miring ke samping. Wajah Cici langsung berubah cemberut.
Dewangga terkekeh pelan melihat ekspresi anaknya.
Ia berjongkok di depan Cici lalu mengelus kepalanya dengan gemas. "Aduh, anak papa nggak bisa bawanya ya?"
Cici mengangguk pelan sambil tetap memeluk barang-barangnya.
"Ucah pa, ca" (Susah pa)
Dewangga tertawa kecil. "Mau papa bantuin?"
Cici langsung mengangguk semangat.
Dewangga mengambil kembali semua barang itu, lalu tanpa diduga Cici langsung menggenggam jari kelingkingnya dan menariknya masuk ke rumah.
"Papa, duk ni, Ci tening" (Papa duduk sini, temenin Cici.)
Dewangga sempat diam sesaat, Ia tidak langsung duduk.
Tatapannya beralih ke Zeya, meminta izin.
"Kalau kamu nggak nyaman, saya pulang."
Zeya menatap mereka cukup lama.
Tatapannya berhenti pada tangan kecil Cici yang menggenggam erat jari Dewangga, perlahan ia menggeleng kecil.
"Tidak. Mas bisa di sini temenin Cici."
Tatapannya beralih sebentar ke anaknya yang terlihat jauh lebih bahagia dan bersemangat setelah kehadiran Dewangga.
"Dia kangen banget sama mas sampai tadi malam nangis terus nyariin mas."
Ekspresi Dewangga sedikit berubah. Tatapannya turun pada Cici, ada rasa bersalah yang muncul, tapi juga rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Ia mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Lagi-lagi Zeya hanya menggeleng.
"Itu sudah kesepakatan kita kemarin."
Dewangga tersenyum kecil."Iya."
Zeya kemudian berjongkok di samping Cici, yang sudah sibuk menggambar diatas buku gambar barunya.
"Cici sayang."
Cici menoleh dengan mata bulatnya.
"Kamu di sini sama papa dulu ya, mama mau ke dapur buatin makanan."
Cici langsung tersenyum memperlihatkan giginya yang belum tumbuh sempurna.
Zeya berdiri kembali. "Aku tinggal mas. Nanti aku datang lagi kalau makanannya sudah jadi."
Setelah mengatakan itu, Zeya berjalan ke dapur.
Dewangga memperhatikan punggungnya sebentar sebelum akhirnya ikut duduk di samping Cici yang sudah mulai mencorat-coret buku gambarnya.
Hari itu Dewangga dan Cici benar-benar menikmati waktu bermain mereka, tanpa gangguan dai siapapun.
Mulai dari menggambar rumah yang bentuknya aneh, menyusun balok yang akhirnya roboh sendiri, sampai bermain petak umpet yang bahkan Dewangga sendiri tidak paham aturan mainnya.
Sesekali Cici tertawa sampai tubuh kecilnya hampir jatuh, dan setiap kali itu terjadi, tangan Dewangga selalu lebih cepat menangkapnya.
Awalnya Dewangga terlihat sangat kaku. Cara menggendong yang salah, cara menyisir rambut asal-asalan membuat rambut Cici bukannya tambah bagus malah terlihat tambah berantakan.
Sampai Cici protes dengan wajah kesalnya karena rambutnya terlihat aneh, seluruh rambutnya dibuat berdiri keatas hampir terlihat seperti jambul.
"Butan titu!" (Bukan gitu!)
Ia menggoyangkan jarinya ke kanan dan kiri dengan wajah serius.
Dewangga langsung tertawa melihat ekspresi menggemaskan putrinya yang pipinya sudah memerah dan sebesar bakpao.
"Oke, oke, papa minta maaf. Sini papa ulangi."
Cici makin kesal karena malah ditertawakan, tapi tetap mendekat.
Dewangga akhirnya mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka video tutorial mengikat rambut anak, matanya fokus ke layar sementara tangannya mengikuti instruksi dengan serius seolah sedang mengerjakan proyek besar.
Sesekali ia mengulang, Sesekali gagal, sampai ikatan rambut Cici miring.
Cici menatap pantulan dirinya lalu menoleh ke Dewangga.
"elek. (jellek)" protes Cici yang sudah berwajah cemberut dan kedua tangannya dilipat didepan dada.
Dewangga lagi-lagi tertawa melihat wajah putrinya yang mengemaskan, ditambah rambutnya yang sudah seperti sarang burung itu.
"Oke, papa belajar lagi." ujar Dewangga, mengulangi mengikat rambut Cici dengan lebih serius.
Dari dapur, Zeya diam-diam memperhatikan semua itu, tangannya masih mengaduk masakan, tapi pandangannya sesekali terarah ke ruang tamu.
Entah kenapa perasaan hangat itu perlahan ikut menjalar ke dalam dirinya.
Melihat Dewangga yang dulu selalu terlihat sempurna, sekarang duduk di lantai dengan rambut berantakan, menonton tutorial mengikat rambut demi anaknya sendiri.
Ada rasa tak percaya melihat pemandangan seorang CEO perusahaan yang terkenal sangat galak dan tak berperasaan itu menjadi pengasuh putrinya dan begitu patuh dengan semua perintah putrinya tanpa protes sedikitpun.
Zeya langsung menggeleng kecil dan kembali fokus memasak.
"Zeya sadar," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. "Ayo fokus"