"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Bab 29: Memori yang Tertinggal di Aspal
Matahari pagi di Tanjungbalai tidak pernah berkompromi. Sinarnya yang terik menyengat tengkuk Arka, menembus kain jaket kurir lusuh yang warnanya sudah memudar dimakan cuaca. Arka berdiri di samping motor bebek tua yang mesinnya batuk-batuk, menatap selembar kertas pesanan di tangannya.
"Jalan Veteran, Nomor 8... Toko Kelontong Bu Ida," gumamnya.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Arka merasa seperti aktor yang terbangun di tengah panggung tanpa naskah. Ia tahu cara mengoperasikan kopling, ia tahu rute-rute tikus untuk menghindari kemacetan pasar, tapi ia tidak tahu mengapa hatinya terasa begitu berlubang.
Ia merogoh saku jaketnya. Jarinya menyentuh benda logam kecil yang tepiannya tajam. Sebuah bros perak yang sudah penyok. Setiap kali ia menyentuh benda itu, ada denyut aneh di pangkal otaknya—seperti ribuan baris kode yang mencoba meledak namun terhalang dinding beton.
"Oi, kurir! Malah bengong! Itu pesanannya buruan diantar!" teriak seorang pedagang sayur.
Arka tersentak, memaksakan senyum tipis, lalu memakai helmnya yang kacanya sudah baret. Ia tidak tahu bahwa di seberang jalan, sebuah sedan Mercedes-Benz hitam dengan kaca gelap sedang mengawasinya.
Di dalam mobil, Sarah meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi layar yang menampilkan profil data Sovereign Architect yang kini statis.
"Dia benar-benar tidak ingat, Elina," bisik Sarah. Suaranya pecah, penuh dengan getaran penyesalan yang terlambat. "Dia menatapku kemarin seperti aku hanyalah orang asing yang menanyakan arah jalan. Tidak ada benci, tidak ada kemarahan... dan itu jauh lebih menyakitkan daripada makiannya."
Elina Clarissa, yang duduk di kursi kemudi, hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya yang biasanya sekeras pualam tampak rapuh. Ia mencengkeram kemudi dengan kaku.
"Ini yang dia inginkan, Sarah," sahut Elina dingin, meski matanya berkaca-kaca. "Dia menukar memorinya untuk menyelamatkan ribuan orang di kota ini. Dia memilih menjadi manusia tanpa masa lalu daripada menjadi mesin yang berkuasa. Jika kita mendekatinya sekarang dan memaksanya mengingat, kita hanya akan menghancurkan pengorbanannya."
Sarah menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia teringat bagaimana Arka dulu memberikan bros perak itu padanya dengan tangan gemetar karena malu. Saat itu, ia membuangnya. Kini, saat Arka memegang benda itu tanpa tahu maknanya, Sarah merasa dunianya telah runtuh berkeping-keping.
"Aku yang membuatnya begini," isak Sarah. "Andai aku tidak memaksanya masuk ke dunia Rian..."
"Sudah cukup," potong Elina. "Tugas kita sekarang bukan meratap. Rian memang sudah di penjara, tapi sisa-sisa pengikut Thomas Van Heusen masih berkeliaran. Mereka tahu Arka kehilangan ingatannya. Bagi mereka, Arka yang sekarang adalah sasaran empuk."
Arka memarkir motornya di depan toko Bu Ida. Saat ia menurunkan kardus berisi stok sembako, tiga pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam turun dari sebuah mobil MPV yang tampak sengaja menghalangi motornya.
"Arka Pramudya?" tanya pria di tengah. Wajahnya memiliki bekas luka melintang di pipi. "Atau harus kupanggil... Bos Sovereign?"
Arka mengerutkan kening. Nama itu—Sovereign—memicu sakit kepala yang hebat. Ia memegangi pelipisnya. "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Aku hanya kurir. Ini pesanan Bu Ida."
"Halah, jangan berakting!" Pria itu meludah ke aspal. "Thomas Van Heusen menitipkan salam. Katanya, kalau otakmu sudah kosong, lebih baik nyawamu juga dikosongkan sekalian."
Satu pukulan mentah melayang ke arah rahang Arka.
Duk!
Secara refleks, tubuh Arka bergerak. Tanpa ada bisikan Sistem, tanpa ada tabel analisis yang muncul di matanya, tubuhnya bergeser tepat satu inci. Pukulan itu hanya mengenai angin. Arka menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dengan sudut yang sangat presisi, lalu menghantamkan sikunya ke sendi bahu lawan.
Krak!
"Aaaargh!" pria itu menjerit.
Arka tertegun melihat tangannya sendiri. Bagaimana aku melakukan itu? batinnya. Ia tidak merasa belajar bela diri, tapi tangannya seolah-olah memiliki memorinya sendiri. Logika bisnis, strategi, dan taktik bertarung telah menjadi bagian dari sumsum tulangnya, bukan lagi sekadar data digital.
"Habisi dia!" teriak pria lainnya sambil mencabut pisau lipat.
Di dalam mobil, Sarah hendak membuka pintu, namun Elina menahannya. "Lihat, Sarah. Lihat matanya."
Arka tidak lagi tampak seperti kurir yang kebingungan. Sorot matanya berubah. Tajam, dingin, dan penuh kalkulasi. Ia melihat pergerakan pisau itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai lintasan data. Ia mengambil tutup bak sampah dari besi di sampingnya, menggunakannya sebagai tameng dengan efisiensi yang mengerikan.
Hanya dalam tiga menit, ketiga pria itu tersungkur di aspal pasar yang becek. Arka berdiri di tengah, napasnya memburu, tangannya berdarah karena gesekan besi.
Arka memungut topinya yang jatuh. Ia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Ia menoleh ke arah sedan hitam di seberang jalan. Kaca mobil itu turun perlahan.
Sarah tidak bisa lagi menahan diri. Ia keluar dari mobil, berjalan mendekat dengan langkah ragu. Elina mengikuti di belakang, wajahnya waspada.
Arka menatap wanita cantik yang berjalan ke arahnya dengan mata sembap. Ada rasa nyeri di dadanya yang ia tidak mengerti. Seolah-olah setiap langkah wanita itu menginjak serpihan kaca di dalam hatinya.
"Anda... siapa?" tanya Arka. Suaranya serak.
Sarah berhenti tepat dua langkah di depan Arka. Ia melihat tangan Arka yang terluka. Tanpa berkata-kata, Sarah mengeluarkan sapu tangan dari tasnya, mencoba meraih tangan Arka untuk membalutnya.
Arka menarik tangannya dengan cepat. "Maaf, aku tidak mengenalmu. Aku hanya kurir."
Kata-kata itu menghantam Sarah lebih keras daripada peluru. Ia memaksakan sebuah senyum yang lebih mirip ringisan kesedihan. "Nama saya Sarah. Dan ini Elina. Kami... kami adalah pelanggan setiamu dulu."
Arka menatap mereka bergantian. Elina hanya mengangguk kecil, matanya memancarkan rasa hormat yang mendalam.
"Sovereign," ucap Arka tiba-tiba. "Tadi orang-orang itu menyebut nama itu. Apa itu?"
Elina melangkah maju. "Itu adalah sebuah mimpi, Arka. Mimpi tentang orang-orang kecil yang ingin berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Dan mimpi itu... membutuhkanmu."
Arka tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang terasa sangat familiar bagi Elina. "Lihat aku. Aku hanya kurir dengan motor yang hampir mati. Bagaimana aku bisa mengurus mimpi sebesar itu?"
Arka merogoh sakunya dan mengeluarkan bros perak yang penyok itu. Ia menunjukkannya pada Sarah. "Sejak aku bangun di panti asuhan, aku hanya punya benda ini. Aku merasa... benda ini adalah alasan aku masih hidup. Apakah kau tahu apa ini?"
Sarah menatap bros itu. Air matanya jatuh tepat di atas perak yang kusam tersebut. "Itu adalah sebuah janji, Arka. Janji seorang pria yang tidak akan pernah menyerah, meskipun dunia merobek jantungnya."
Arka terdiam. Ia menatap bros itu, lalu menatap Sarah. Ada kilasan memori yang sangat singkat—sebuah hari kelulusan, hujan yang rintik-rintik, dan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Namun kilasan itu hilang secepat munculnya.
"Aku harus pergi," ucap Arka pelan. "Pesanan Bu Ida belum selesai."
Ia naik ke motornya, menghidupkan mesin yang berisik itu, dan berlalu di tengah debu jalanan Tanjungbalai.
Sarah berdiri di tengah jalan, menatap punggung Arka yang semakin menjauh. Ia tahu, Arka yang dulu mungkin sudah mati bersama Sistem yang ia hapus. Tapi Arka yang sekarang—pria yang bertarung demi harga diri tanpa perlu kekuatan AI—baru saja lahir.
"Dia akan kembali, kan?" tanya Sarah tanpa menoleh pada Elina.
Elina menyandarkan tubuhnya di mobil, menatap langit yang mulai mendung. "Dia tidak perlu kembali ke masa lalu, Sarah. Dia sedang membangun masa depan yang baru. Dan kali ini, dia melakukannya sebagai manusia merdeka."
Di bawah jok motornya, bros perak itu tersimpan rapat. Arka tidak tahu bahwa di dalam bros yang penyok itu, ayahnya telah menyembunyikan sebuah mikrokontroler cadangan yang berisi satu pesan suara terakhir yang belum pernah ia dengar.
Sebuah pesan yang akan mengubah segalanya, sekali lagi.
Arka memacu motornya lebih kencang. Aspal di bawah rodanya terasa seperti rumah. Ia tidak punya memori, tapi ia punya nyali. Dan di Tanjungbalai, itu sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah revolusi.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.