NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Langkah Bayangan di Bawah Bulan

Malam itu, Arga tidak bisa tidur.

Bukan karena rasa sakit di rusuknya—meski setiap tarikan napas masih terasa perih. Tapi karena sesuatu yang berdenyut di dalam benaknya. Sebuah pengetahuan baru yang muncul begitu saja setelah Benang Perak mencapai tiga ruas jari.

Teknik Langkah Bayangan Bulan.

Ia duduk bersila di ranjangnya, memejamkan mata, membiarkan informasi itu mengalir. Teknik ini bukan sekadar ilmu pergerakan biasa. Ia adalah warisan dari Langit Kesepuluh—teknik yang memungkinkan penggunanya bergerak seperti bayangan di bawah cahaya bulan. Cepat. Senyap. Tak terdeteksi.

Tingkat pertama: Jejak Samar.

Arga membuka matanya. Kamarnya yang sempit dan gelap tiba-tiba terasa seperti arena latihan yang sempurna. Ia bangkit, mengabaikan protes dari tulang rusuknya, dan mulai bergerak.

Satu langkah. Dua langkah. Ia mencoba mengikuti pola yang tertanam dalam benaknya. Kakinya harus mendarat dengan sudut tertentu, berat badannya harus bergeser pada momen yang tepat, napasnya harus seirama dengan gerakan.

Gagal.

Ia tersandung kakinya sendiri dan hampir jatuh. Tubuh ini terlalu kaku, terlalu lemah untuk melakukan gerakan serumit itu.

Lagi.

Arga mengulanginya. Lagi dan lagi. Keringat mulai membasahi dahinya. Luka di lengannya yang belum sembuh total kembali perih. Tapi ia tidak berhenti. Tiga ribu tahun pengalaman telah mengajarinya satu hal: tidak ada teknik hebat yang bisa dikuasai dalam semalam.

Menjelang tengah malam, ia akhirnya berhasil melakukan satu langkah sempurna. Satu langkah di mana tubuhnya bergerak tepat seperti yang dijelaskan dalam warisan itu. Rasanya... berbeda. Seolah-olah untuk sepersekian detik, ia bukan lagi Arga si sampah klan, melainkan bayangan yang menyatu dengan kegelapan.

Bagus. Satu langkah sudah cukup untuk malam ini.

Ia kembali ke ranjang dan duduk bersila. Kali ini, ia memeriksa kondisi internalnya dengan Mata Batin Langit. Benang Perak sepanjang tiga ruas jari itu kini berdenyut dengan ritme yang lebih stabil. Retakan di sumbatan meridian pertamanya semakin lebar—kini selebar dua helai rambut.

Qi yang bisa ia serap sudah setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap kedua awal. Sebuah lompatan besar dari sebelumnya.

Dua bulan. Dengan kecepatan ini, aku mungkin bisa mencapai tahap ketiga sebelum festival.

---

Pagi berikutnya, Sari datang dengan wajah berseri-seri.

"Tuan Muda! Aku sudah dapat informasinya!"

Arga yang sedang membersihkan luka di lengannya menoleh. "Festival Perebutan Warisan?"

Sari mengangguk antusias. Ia duduk di lantai dekat ranjang Arga, mengeluarkan secarik kertas lusuh dari sakunya. "Aku dapat dari temanku yang bekerja di aula utama. Festival akan diadakan dua bulan lagi, tepatnya di awal musim gugur. Lokasinya di Lapangan Batu Hitam, di perbatasan wilayah Klan Sanjaya dan Klan Wirya."

"Klan Wirya?"

"Mereka klan saingan kita, Tuan Muda. Setiap tahun mereka selalu mengalahkan kita di festival." Wajah Sari meredup. "Tahun lalu, mereka bahkan mempermalukan perwakilan kita di depan semua orang."

Arga mengangguk pelan. Dalam ingatan tubuh ini, Klan Wirya adalah klan menengah yang jauh lebih kuat dari Klan Sanjaya. Mereka memiliki beberapa kultivator ranah Pondasi dan hubungan dekat dengan sekte-sekte besar di wilayah ini.

"Siapa saja yang akan ikut?" tanya Arga.

"Setiap klan dan sekte afiliasi boleh mengirim maksimal lima perwakilan. Untuk Klan Sanjaya, biasanya yang dikirim adalah murid-murid terbaik dari generasi muda. Tahun ini... aku dengar Ardi akan ikut. Juga Raka dan Darmo dari Sekte Awan Kelabu. Satu lagi mungkin dari keluarga cabang."

"Jadi empat. Siapa yang kelima?"

Sari terdiam. Ia menatap Arga dengan ekspresi ragu. "Aku... aku dengar Tuan Muda juga akan didaftarkan."

Arga mengernyit. "Atas perintah siapa?"

"Paman Tuan Muda. Arman."

Arman. Arga merenung. Pria itu pasti punya motif tersembunyi. Mendaftarkan "sampah klan" ke festival bergengsi seperti itu hanya akan mempermalukan Klan Sanjaya—atau mungkin itulah tujuannya. Ingin melihat Arga dipermalukan di depan umum. Atau lebih buruk lagi... ingin melihatnya mati di arena.

"Aku mengerti." Arga bangkit dari ranjangnya. "Terima kasih, Sari. Informasimu sangat membantu."

Gadis itu tersenyum, tapi matanya masih menyimpan kekhawatiran. "Tuan Muda... apa kau benar-benar akan ikut? Festival itu berbahaya. Setiap tahun selalu ada yang terluka parah. Bahkan ada yang mati."

"Aku tahu." Arga berjalan menuju pintu, menatap langit pagi di luar. "Justru karena itu aku harus ikut."

---

Tiga hari berikutnya, Arga menjalani rutinitas yang semakin intens. Pagi di Hutan Timur, berburu monster-monster level rendah hingga menengah. Sore kembali ke klan, membersihkan lumbung sambil diam-diam melatih Teknik Langkah Bayangan Bulan. Malam bermeditasi dengan liontin giok, memperkuat Benang Perak di Dantian-nya.

Di hari ketiga, ia bertemu Bima lagi.

"Kau semakin kurus," komentar pemuda itu sambil melempar sepotong daging bakar. "Apa kau makan dengan benar?"

Arga menangkap daging itu dan menggigitnya tanpa bicara.

Bima menghela napas. "Aku dengar kau akan ikut Festival Perebutan Warisan. Atas perintah pamanmu sendiri."

"Berita menyebar cepat."

"Tentu saja. Seluruh wilayah ini membicarakannya. 'Sampah Klan Sanjaya akan ikut festival'—itu bahan tertawaan di setiap kedai teh." Bima menatapnya serius. "Tapi aku tahu kau bukan sampah. Kau hanya... berbeda."

Arga menghabiskan dagingnya dan berdiri. "Kau mau membantu latihanku atau tidak?"

Bima menyeringai. "Tentu. Apa yang kau butuhkan?"

"Aku butuh lawan tanding. Seseorang yang bisa memaksaku bergerak lebih cepat."

Mata Bima berkilat. "Kau yakin? Aku kultivator tahap ketiga. Pukulanku bisa melukaimu."

"Itu intinya."

Bima tertawa. "Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kau babak belur."

Mereka mulai berlatih di sebuah lapangan kecil di dalam hutan. Bima menyerang dengan pedang kayunya, sementara Arga hanya menghindar. Tanpa senjata. Hanya mengandalkan Langkah Bayangan Bulan yang masih dalam tahap sangat awal.

Sret! Sret! Sret!

Tiga tebasan Bima meleset semua. Arga bergerak seperti bayangan—selalu berada beberapa senti dari jangkauan pedang. Tapi di tebasan keempat, ia terlambat. Pedang kayu itu mengenai bahunya.

"Aduh!" Arga meringis.

"Kau terlalu lambat di langkah ketiga," komentar Bima. "Ada jeda saat kau memindahkan berat badan. Coba lagi."

Mereka melanjutkan latihan hingga matahari condong ke barat. Tubuh Arga penuh memar, tapi ada kepuasan di dalamnya. Setiap kali ia gagal, ia belajar. Setiap kali ia berhasil menghindar, Langkah Bayangan Bulan-nya menjadi sedikit lebih alami.

Dan setiap kali ia didorong ke batas kemampuannya, Benang Perak di Dantian-nya berdenyut dan tumbuh.

Saat mereka beristirahat di bawah pohon besar, Bima tiba-tiba berkata, "Kau tahu, aku punya teori tentangmu."

Arga meneguk air dari kantung kulitnya. "Oh ya?"

"Kau bukan Arga yang asli."

Arga menghentikan gerakannya.

Bima terkekeh. "Tenang, aku tidak akan memberitahu siapa pun. Tapi aku sudah mengamati orang-orang cukup lama untuk tahu kapan seseorang berubah total dalam semalam." Ia menatap langit senja di atas mereka. "Arga yang dulu—yang kudengar dari cerita-cerita—adalah pemuda pengecut yang bahkan tidak berani menatap mata orang. Tapi kau... kau punya mata seseorang yang sudah melihat banyak hal. Terlalu banyak untuk ukuran pemuda enam belas tahun."

Arga tidak menjawab.

"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa," lanjut Bima. "Setiap orang berhak menyimpan rahasianya. Aku hanya ingin kau tahu... aku menganggapmu teman. Apa pun dirimu yang sebenarnya."

Keheningan melingkupi mereka. Lalu Arga berkata pelan, "Terima kasih."

Itu pertama kalinya ia mengucapkan kata itu dengan tulus sejak terbangun di tubuh ini.

---

Malam harinya, sesuatu terjadi.

Arga sedang bermeditasi dengan liontin giok ketika tiba-tiba ia merasakan tarikan aneh. Bukan dari luar, melainkan dari dalam liontin itu sendiri. Ia membuka mata dan melihat liontin di tangannya berpendar lemah.

Ada apa ini?

Ia menutup mata dan menyelam ke dalam ruang dimensi liontin dengan Peraba Jiwa Kuno. Di sana, gulungan kitab perak kebiruan itu kini terbuka lebih lebar. Bagian kedua kini bisa diakses.

Arga membacanya dengan saksama.

"Tahap Kedua: Benang Emas. Saat Benang Perak mencapai panjang sembilan ruas jari, ia akan bertransformasi. Pemilik harus menyerap 'Inti Monster Tingkat Raja' sebagai katalis transformasi. Tanpa katalis, benang tidak akan berubah."

Inti Monster Tingkat Raja. Arga menghela napas. Itu bukan benda yang mudah didapat. Monster Tingkat Raja setara dengan kultivator ranah Inti Emas—jauh di atas levelnya saat ini.

Tapi kitab itu melanjutkan:

"Sebelum transformasi, Benang Perak akan memberikan tiga teknik warisan. Teknik pertama: Langkah Bayangan Bulan. Teknik kedua: akan terbuka saat benang mencapai panjang enam ruas jari. Teknik ketiga: akan terbuka saat benang mencapai panjang delapan ruas jari."

Jadi aku harus terus bertarung. Terus memicu pertumbuhan benang ini.

Arga membuka mata dan menatap liontin di tangannya. Denyutnya kini seirama dengan jantungnya.

Sembilan ruas jari. Aku akan mencapainya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Dan saat aku mendapat Inti Monster Tingkat Raja... Benang Emas akan lahir.

Di kejauhan, lolongan serigala terdengar dari arah Hutan Timur. Seolah memanggilnya untuk kembali berburu esok hari.

Arga tersenyum tipis.

Besok. Aku akan masuk lebih dalam ke hutan.

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!