Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 (twenty-nine)
Fajar di hutan jati itu tidak membawa harapan, melainkan kesadaran yang pahit. Ratna berdiri diam di atas tubuh kloning v.09 yang baru saja ia lumpuhkan. Tetesan embun jatuh dari daun jati, bercampur dengan bercak merah di atas rompi taktisnya. Sesuai dengan instruksi suara dingin Selina yang masih terngiang di telinganya, Ratna merobek kantong taktis di pinggang kanan kloning tersebut.
Di dalamnya, ia menemukan sebuah perangkat GPS militer yang layarnya masih berkedip redup dan sebuah tabung silinder kecil berisi cairan biru neon yang berpendar secara organik.
"Ibu... kita harus bergerak. Sinyal radio mereka sudah memenuhi udara. Dalam lima menit, tempat ini akan disisir oleh unit udara," Teguh mendekat dengan napas tersengal, senjatanya masih mengarah ke arah semak-semak yang gelap.
Ratna tidak segera bergerak. Ia justru berjongkok, menatap wajah kloning di bawahnya yang kini tak berdaya. Tanpa helm baja itu, wajah sang kloning terlihat sangat damai. Ada sebuah tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya sebuah detail unik yang tidak dimiliki oleh Siska asli maupun Selina.
"Teguh... lihat ini," bisik Ratna, suaranya terdengar sangat rapuh untuk seorang jenderal. "Dia punya tanda lahir. Dia bukan sekadar hasil cetakan laboratorium. Dia pernah punya nama, mungkin seorang mahasiswi atau seorang ibu yang diculik di tengah jalan. Mereka mencuri hidupnya, lalu memasang wajah musuhku di kepalanya."
Teguh terdiam, melihat tangan Ratna yang gemetar saat menyentuh wajah kloning itu. Untuk pertama kalinya, kemanusiaan dalam tubuh "Ratna" mulai memberontak melawan logika dingin "Sang Jenderal".
Hendra bekerja secepat kilat untuk meretas koordinat dari GPS tersebut. Suaranya di earpiece terdengar penuh kecemasan.
"Koordinatnya terkunci ke sebuah kawasan industri tua di Cilegon, Banten, Bu. Lokasinya tersembunyi di balik kilang minyak yang sudah tidak beroperasi. Tapi Ratna, ada yang tidak beres. Saat aku membedah jalur datanya, aku menemukan jejak pengiriman data lokasi kita ke server eksternal yang terenkripsi ganda."
"Identitas servernya?" tanya Ratna sambil memacu truk logistik yang mereka curi menembus jalanan lintas provinsi yang berdebu.
"Server itu menggunakan protokol bernama 'THE ORCHESTRA'. Dan pemilik akun administratifnya berinisial S.L."
Ratna mencengkeram setir truk hingga buku-buku jarinya memutih. S.L. Selina.
Pahit sekali rasanya. Semua pelarian mereka, keberhasilan mereka melompat dari kereta, hingga "kunci" yang ia pegang sekarang, hanyalah bagian dari partitur musik yang disusun oleh Selina. Ratna bukan sedang memenangkan perang; ia sedang "digiring" seperti ternak menuju sebuah pembantaian yang sudah direncanakan.
Malam pun jatuh saat mereka mencapai pinggiran Cilegon. Di hadapan mereka, berdiri sebuah kompleks beton raksasa yang tampak seperti monster purba yang sedang tidur. Gedung itu adalah sisa pabrik semen peninggalan kolonial, namun di bawahnya, terdapat teknologi yang mungkin belum pernah dilihat dunia.
"Kenapa tidak ada penjaga di menara pantau?" Teguh merasa ada yang salah. "Ini terlalu mudah, Bu."
"Karena mereka tidak ingin menghalangi tamu kehormatan mereka," jawab Ratna datar. Ia menatap ke arah kamera CCTV di atas gerbang besi yang berkarat. Lensa kamera itu perlahan berputar, menyesuaikan fokusnya tepat ke mata Ratna.
Tiba-tiba, tablet milik Ratna berdenting. Sebuah pesan video otomatis terputar.
Di sana, di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya dilapisi kaca, terlihat Ibu Sarah sedang memeluk Bagas. Mereka tampak sehat, namun tatapan mereka penuh ketakutan. Di belakang mereka, berdiri tiga sosok wanita berwajah Siska, memegang perangkat kejut listrik di leher mereka.
Lalu, sebuah suara yang sangat halus, hampir seperti bisikan seorang kakak kepada adiknya, terdengar:
"Selamat datang di 'Nest of Phoenix', Jenderal. Kau membawa kunci genetik yang akan menyempurnakan mahakaryaku. Masuklah sendiri. Jika kau membawa prajurit setiamu, aku tidak bisa menjamin detak jantung ibumu akan bertahan hingga hitungan ke sepuluh."
"Ibu!" Teguh hendak melangkah maju, namun Ratna menahan dadanya dengan tangan yang kokoh.
"Tetap di sini, Teguh. Ini perintah terakhirku sebelum aku masuk," ujar Ratna. Matanya kembali berubah menjadi dingin dan tajam mode Jenderal telah aktif sepenuhnya.
"Tapi Bu, ini jebakan! Mereka akan menghancurkan jiwa Ibu di dalam sana!"
"Aku tahu," sahut Ratna pelan. "Tapi seorang prajurit tidak akan pernah membiarkan keluarganya mati saat dia masih punya satu peluru di kantongnya. Jika dalam dua jam aku tidak keluar, hubungi Hendra. Gunakan protokol penghancuran massal pada koordinat ini. Jangan ragu, Teguh. Bakar tempat ini bersama aku di dalamnya."
Ratna melangkah maju, mendorong gerbang besi yang berat itu hingga mengeluarkan suara derit yang menyayat telinga di tengah kesunyian malam. Ia berjalan melintasi lapangan gersang menuju lift besar di tengah gedung.
Begitu ia masuk ke dalam lift, pintu baja tertutup rapat dengan suara dentuman yang berat. Di dalam pantulan dinding krom lift, Ratna menatap wajahnya sendiri wajah wanita polos yang kini harus memikul beban untuk mengakhiri sebuah kutukan kloning yang mengerikan. Lift itu mulai turun, semakin dalam ke perut bumi.
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini thor🤧
Makasih Othor untuk ceritanya yang setiap bab selalu bikin degdegan, tegang dan tertawa pastinya...
makasih buat double upnya thor/Kiss/
gk taunya jdi crita kyak film robot²