Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memecah-Belah
Suasana ruang tamu masih dipenuhi bisik-bisik, ketika Rasmi melontarkan tantangannya dengan nada mencemooh. Tatapan puluhan warga pun tertuju pada Jenara.
Namun alih-alih mundur, Jenara justru melangkah satu tapak ke depan. Wajahnya tenang, meski jantungnya berdegup cepat.
“Saya bersedia,” balasnya mantap. Suara Jenara cukup lantang untuk didengar seluruh ruangan.
Beberapa orang saling pandang.
“Hari ini juga, saya akan menangkap belalang dan memasak," lanjut Jenara tanpa ragu, “Saya akan memakannya sendiri di hadapan Bapak dan Ibu sekalian. Jika terbukti enak dan aman, saya akan menjual hasil masakan itu dengan harga murah. Siapapun boleh mencicipi.”
Gumaman makin keras. Ada yang terperanjat, ada yang justru terlihat tertarik.
Pak Kepala Desa segera maju mendekati Jenara. Wajahnya serius, tetapi sorot matanya memuat kekhawatiran.
“Kau yakin, Jenara? Ini bukan perkara kecil. Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana?”
Jenara menatapnya hormat. “Saya yakin, Pak. Saya tidak akan gegabah. Saya hanya mohon bantuan dua orang bapak perwakilan warga untuk mengajari saya cara menangkap belalang yang benar. Saya ingin belajar langsung dari yang berpengalaman.”
Dua petani yang duduk di sisi kanan ruangan saling menoleh.
Jenara lalu menambahkan dengan tenang, “Dan saya kemari juga ingin mengatakan kepada Bapak Kepala Desa. Saya akan menerima tugas sebagai kepala kelompok memasak untuk penyambutan Gubernur.”
Kali ini bukan hanya warga yang terkejut, Pak Kepala Desa pun terhenyak.
“Bukankah kemarin—” ia terdiam, mengingat penolakan Seran.
Beberapa ibu-ibu di sudut ruangan mulai berkomentar.
“Baiklah, Jenara, sekalian saja kami akan melihat kemampuanmu," ujar salah satu dari mereka. "Apa kau pantas memimpin kami memasak untuk acara sebesar itu?”
“Jangan sampai hanya berani bicara,” sahut yang lain.
Jenara menunduk sedikit, sebelum mengangkat wajahnya kembali. “Saya tidak keberatan dinilai. Justru saya ingin membuktikan diri melalui kerja, bukan kata-kata.”
Rasmi menyilangkan tangan di dada, matanya meneliti Jenara dari atas ke bawah. “Jangan sampai kau menyesal nanti.”
Pak Kepala Desa mengangkat tangan, menenangkan suasana. “Baik. Kita sudah mendengar kesanggupan Jenara. Kalau begitu, siapa yang bersedia menemaninya menangkap belalang?”
Pria tua itu melirik ke luar jendela. Matahari masih rendah, sinarnya belum terlalu terik.
“Lebih baik sekarang saja. Cuaca cerah dan matahari belum tinggi. Biasanya belalang masih banyak bertengger di tanaman sebelum siang," pungkas Kepala Desa.
Sontak, dua bapak petani tadi berdiri.
“Kami bersedia. Kami tahu lokasi sawah yang paling parah terserang belalang."
Beberapa ibu-ibu ikut bangkit. "Kami juga mau menyaksikan."
Tak mau ketinggalan, Rasmi mengangkat dagu. “Tentu saja aku ikut. Aku ingin melihat sendiri apakah benar belalang bisa berubah jadi hidangan lezat.”
Kesepakatan pun dibuat dengan cepat. Suasana yang tadi penuh kecemasan kini berubah menjadi semacam rasa ingin tahu yang bercampur tantangan.
Di tengah keramaian itu, pintu rumah kembali terbuka. Ranisya masuk dengan langkah anggun, matanya langsung mencari sang ibu. Namun, percakapan terakhir yang ia dengar membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
“Apa yang terjadi, Bu?” tanyanya kepada Rasmi, meski ia sudah menangkap inti pembicaraan.
Rasmi menjawab singkat, “Jenara ingin menangkap belalang dan memasaknya. Katanya mau membuktikan diri kalau dia pantas menjadi ketua memasak."
Alis Ranisya terangkat. Ia memandang Jenara dengan senyum miring yang sulit diartikan, antara mengejek dan menunggu kesalahan. Setahunya, kemarin Seran melarang Jenara terlibat dalam penyambutan Gubernur.
Senyum Ranisya makin samar, seperti bayangan tipis yang hanya ia sendiri pahami. Tanpa menarik perhatian, ia melangkah mundur perlahan dari kerumunan.
Saat semua orang sibuk berdiskusi tentang jaring penangkap dan karung yang akan dibawa ke sawah, Ranisya menyelinap keluar dari rumah Kepala Desa. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara.
Di luar, udara pagi terasa hangat. Ranisya menoleh sekilas ke arah sawah yang terbentang jauh, lantas memalingkan wajahnya ke jalan menuju rumah Seran.
“Aku harus memberitahu Kak Seran mengenai kelakuan Jenara,” gumamnya pelan.
Ranisya mengangkat sedikit ujung kainnya agar tidak terseret debu. Tanpa menunda lagi, ia berjalan menyusuri jalan desa.
Pintu rumah Seran terbuka, tepat ketika Ranisya tiba di halaman. Seran baru saja kembali dari pasar. Sebuah keranjang anyaman tergantung di lengannya, berisi bubur hangat, sayuran segar dan sedikit daging. Di belakangnya, tiga bocah kembar berlarian sambil saling berceloteh tentang penjual mainan kayu yang mereka lihat.
“Ayah, tadi ada mainan burung besar!” seru Gatra.
Seran tersenyum tipis. “Itu ayam jago, bukan burung besar.”
Langkahnya berhenti ketika melihat Ranisya berdiri di depan pagar.
“Ranisya, ada keperluan apa?” tanya Seran menaikkan alisnya. "Masuklah dulu."
Akan tetapi, Ranisya tetap berdiri di halaman, menunjukkan kabar yang ia bawa terlalu mendesak untuk ditunda.
"Kak Seran, aku baru saja dari rumah Kepala Desa. Aku pikir Kakak perlu tahu,” kata Ranisya pura-pura khawatir.
“Jenara menerima tugas menjadi kepala kelompok memasak untuk penyambutan Gubernur. Dia menentang keputusan Kak Seran."
Seran menurunkan keranjang ke bangku kayu. Sementara 3G yang masih ribut di belakangnya ikut terdiam, merasakan perubahan suasana.
"Aku sudah berubah pikiran. Jika itu baik untuk Jenara dan desa ini, aku tidak akan menghalangi.”
Ranisya berkedip, tak menyangka jawaban tersebut keluar dari bibir Seran. Rencana kecil yang ia susun untuk membuat Seran dan Jenara bertengkar ternyata gagal.
Ranisya menggigit bibir bagian dalamnya. Meski belum berhasil, ia tidak akan menyerah begitu saja.
“Itu bukan satu-satunya hal, Kak,” imbuh Ranisya merendahkan suara. "Jenara juga membuat masalah baru.”
Sorot mata Seran berubah sedikit lebih tajam. “Masalah apa?”
“Di depan seluruh warga, dia menyombongkan diri bahwa ia akan menangkap belalang dan memasaknya. Jenara bahkan berjanji memakannya sendiri untuk membuktikan itu aman.”
Gita spontan berkata, “Belalang? Yang loncat-loncat itu?”
Ranisya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, ia mulai memprovokasi Seran dengan ekspresi prihatin.
"Kak Seran, aku khawatir jika Jenara malah menjadi bahan tertawaan seluruh desa. Bukankah itu akan mempermalukan Kakak sebagai suaminya?”
Kalimat terakhir itu sengaja ia tekankan, hingga raut wajah Seran berubah tegang.
“Di mana Jenara sekarang?” ulang Seran parau, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Jenara sudah berangkat ke sawah bersama warga untuk menangkap belalang.”
Detik itu juga, rahang Seran mengeras. Ia tahu sawah yang sedang diserang belalang bukan tempat aman. Gerombolan besar belalang bisa membuat orang panik. Belum lagi risiko terpeleset di lumpur, atau keracunan jika salah mengolah.
Tanpa membuang waktu, Seran menoleh pada 3G yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Anak-anak, ikut Ayah.”
3G langsung siaga. Mereka sudah hafal nada tegas sang ayah, nada yang berarti sesuatu serius sedang terjadi.
“Kita ke mana, Ayah?” tanya salah satu.
“Kita susul Ibu.”
Melihat punggung Seran yang bergerak cepat menyusuri jalan desa, Ranisya hanya bisa terpaku. Di dalam hati, ia berharap Seran akan marah. Lalu, terjadi pertengkaran besar yang berujung pada perpisahan antara Jenara dan Seran.
"Rasakan kau, Jenara. Sebentar lagi, kau pasti akan diceraikan," gumam Ranisya senang.
to, bagaimana dgn triplets?