NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:115.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Lucu

Langkah lebar Jake membawa mereka menyusuri sisi luar bangunan yang menuju area belakang. Matahari kini mulai naik, menyebarkan hawa terik yang menyengat kulit. Pria itu kemudian berbelok dengan pasti ke arah sebuah bangunan pondok yang cukup luas, yang dari kejauhan sudah memancarkan aroma khas jerami dan kayu.

Shasha masih setia mengekor di belakang. Berjalan dalam ritme yang lebih lambat karena matanya sibuk berkeliling, mengagumi setiap inci tempat yang baru saja ia masuki. Begitu melangkah ke dalam, suasana terik di luar seketika lenyap, digantikan oleh kesejukan yang merayap dari langit-langit pondok yang tinggi.

Bangunan istal itu didesain dengan sangat terstruktur. Atapnya ditopang oleh balok-balok kayu besar yang tersusun rapi. Lampu-lampu gantung berbentuk kubah perak juga berjejer di sepanjang lorong, memberikan sentuhan mewah pada bangunan yang fungsinya sebenarnya hanyalah sebuah kandang.

Di sisi kiri dan kanan mereka, deretan kuda-kuda dari berbagai jenis dan ras unggul menongolkan kepala dari balik pintu kandang saat sosok Jake melintas. Suasana yang tadinya tenang berubah riuh. Kuda-kuda itu mulai memekik dan meringkik pelan, seolah sedang menyapa sekaligus menunjukkan kepatuhan mereka kepada sang Tuan yang baru saja tiba.

Tepat di tengah lorong yang diterangi cahaya alami dari pintu besar di ujung bangunan, langkah Jake melambat. Di depan mereka, seekor kuda putih sedang berdiri dengan tenang di luar kandangnya. Bulunya yang bersih tampak bersinar tertimpa cahaya. Seekor kuda yang benar-benar anggun, sedang dalam proses dibersihkan dengan telaten oleh salah satu anak buah Jake.

Shasha berdiri mematung di belakang Jake, menatap pemandangan di depannya dengan binar mata yang tidak bisa ia sembunyikan. Ketenangan di sini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan area depan yang penuh dengan mesiu dan peluru.

“Tuan Jake,” sapa anak buahnya dengan nada rendah. Ia menunduk hormat, menyilangkan tangan di depan tubuh, lalu melangkah mundur untuk memberikan ruang pribadi bagi sang majikan.

Jake hanya membalas dengan anggukan singkat yang penuh wibawa. Ia melangkah mendekati kuda putih itu. Tangannya terangkat, mendarat dengan lembut di atas gurat otot badan kuda yang putih bersih. Hewan perkasa itu tidak meringkik gelisah, justru berdiri tenang, dan menyandarkan kepalanya sedikit seolah sedang menyesap kenyamanan dari sentuhan tangan Jake yang familiar.

Jake kemudian menoleh, mendapati Shasha yang masih berdiri mematung beberapa meter dari posisinya, “Mendekatlah.”

Shasha menggeleng pelan, sambil memandang kuda itu dengan ragu, “Apa dia galak?” cicitnya. Suaranya nyaris tenggelam di antara sunyinya istal. Wajar jika ia merasa terintimidasi. Ini adalah pengalaman pertamanya berdiri begitu dekat dengan seekor kuda. Atau lebih tepatnya, dikelilingi oleh puluhan kuda yang terus menatap dirinya.

Jake menyunggingkan senyum miring yang provokatif. Ia kembali menatap kudanya, mengusap leher hewan itu dengan gerakan yang sangat kontras dengan kekejamannya di lapangan tembak tadi, “Lebih galak dirimu,” sahutnya enteng.

Shasha mendengus kesal, bibirnya mengerucut tipis.

Bisa-bisanya pria brengsek itu membandingkanku dengan seekor hewan, batinnya dongkol.

“Kemarilah,” perintah Jake lagi. Kali ini suaranya tidak memberikan ruang untuk bantahan.

Dengan ragu, Shasha mulai melangkah. Ia sengaja menyeret kakinya, membuat langkah-langkah pendek seolah berharap jalan menuju kuda itu tidak akan pernah sampai. Namun akhirnya, ia berdiri tepat di samping Jake. Ia terdiam, terpaku menatap kuda putih itu yang tampak begitu patuh di bawah kendali tangan Jake.

“Cobalah mengelusnya,” ajak Jake, suaranya sedikit merendah.

“Apakah aman?” tanya Shasha lagi. Matanya bergerak gelisah antara tangan Jake dan mata besar sang kuda. Meskipun Jake terlihat begitu santai dan berekspresi seolah semuanya akan baik-baik saja, ia tetap merasa waspada.

“Ada aku di sini.”

Kalimat sederhana itu entah mengapa berdentum di telinga Shasha. Ia menoleh dengan cepat, manik matanya langsung terkunci pada profil samping wajah Jake. Pria itu masih memperhatikan kudanya, membiarkan rahangnya yang tegas terlihat jelas dalam remang cahaya istal.

Sadar Shasha tidak menyahut, Jake akhirnya menoleh.

Dan dengan gerakan kilat yang kikuk, Shasha segera memalingkan wajah ke arah lain, pura-pura tertarik pada tumpukan jerami di kejauhan.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jake, nada suaranya terdengar sedikit menggoda.

“Tidak ada,” jawab Shasha cepat, terlalu cepat bahkan.

Jake kembali tersenyum miring, senyum yang membuat Shasha ingin sekali menghilang dari sana, “Wajahmu sangat mudah dibaca. Kau terpesona padaku, ya?”

Shasha berdecak, memutar bola matanya malas, “Kau terlalu percaya diri,” ketusnya.

Untuk membuktikan bahwa ia tidak terpengaruh, Shasha akhirnya memberanikan diri. Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati, jemarinya mulai menyentuh bagian belakang badan kuda itu. Dinginnya udara istal membuat bulu kuda itu terasa hangat di kulitnya.

“Rasakan kelembutannya dan keluarkan sisi ketulusanmu. Maka dia akan menganggapmu sebagai sahabatnya,” jelas Jake. Ia menurunkan tangannya, kini memutar tubuh sepenuhnya untuk memfokuskan seluruh perhatiannya pada Shasha yang sedang berusaha menjalin ikatan dengan hewan itu.

Senyum bahagia perlahan merekah di wajah Shasha. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya saat merasakan napas tenang sang kuda.

“Berhasil! Dia tidak memberontak,” ucap Shasha antusias. Ia menoleh ke arah Jake dengan mata berbinar-binar, melupakan sejenak bahwa pria di sampingnya adalah orang yang tadi mengancam akan menembaknya.

Jake ikut tersenyum, kali ini sebuah senyum yang lebih tulus, meski sangat tipis, “Bagus.”

“Aku ingin mengajarimu berkuda, tapi sayangnya hal lebih menyenangkan lainnya sudah sampai,” lanjut Jake saat mendengar derap langkah sepatu yang menggema di lantai istal.

Shasha perlahan menurunkan tangannya dari bulu lembut kuda putih itu. Ia membalikkan badan, mengikuti arah pandangan Jake yang kini tertuju pada Kevin yang baru saja masuk ke dalam pondok.

“Tuan. Orang itu sudah datang,” lapor Kevin.

“Lebih cepat dari yang diharapkan,” sahut Jake. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum yang sulit diartikan.

Kevin tersenyum tipis, ada kilat kepuasan di matanya, “Mungkin karena takut.”

Jake tertawa rendah, “Aku akan menikmati pertunjukan nanti.”

Shasha hanya bisa diam, matanya bergerak gelisah menatap Jake dan Kevin bergantian. Ia merasa seperti orang asing yang terjebak dalam teka-teki berbahaya.

“Kau harus ikut aku,” ucap Jake tiba-tiba, beralih menatap Shasha.

“Apa kalian akan melakukan hal yang berbahaya?” tanya Shasha penuh curiga.

Jake terkekeh sinis, lalu melirik asisten kepercayaannya, “Jawab dia, Kevin.”

Kevin berdecak pelan, seolah pertanyaan Shasha adalah hal yang sepele, “Tidak lebih berbahaya dari makanan pedasmu itu.”

“KEVIN!” bentak Jake seketika. Suaranya menggelegar di dalam pondok, membuat beberapa kuda meringkik kaget.

Shasha membelalak. Ia menatap Jake, menuntut penjelasan atas kalimat aneh yang baru saja meluncur dari mulut Kevin.

“Sudahlah, Tuan. Tidak perlu menyembunyikan penderitaan Tuan padanya,” Kevin berkata dengan nada berani, mengabaikan tatapan membunuh dari majikannya, “Tuan bahkan mengajaknya ke tempat rahasia kita ini. Bukankah Tuan terlalu meremehkannya?”

“Pergi dari hadapanku!” perintah Jake tegas. Matanya melotot tajam dengan urat leher yang menonjol, menandakan amarah yang sudah di ubun-ubun.

Meskipun terlihat terpaksa, Kevin akhirnya membungkuk singkat dan pergi meninggalkan pondok itu dengan langkah cepat.

“Makanan pedas?” Shasha akhirnya menyambungkan titik-titik di otaknya. Ia menatap Jake dengan pandangan menuntut, “Kau sebenarnya tidak baik-baik saja setelah makan masakanku?!”

Jake memalingkan wajahnya dengan kasar. Tangannya terangkat, mencoba menutupi sebagian wajahnya yang perlahan memerah. Kali ini bukan karena marah, tapi malu.

Tawa Shasha pecah seketika, “Astaga, kupikir kau memiliki kekuatan super untuk menahan rasa pedas. Ternyata kau hanya memiliki kekuatan untuk menahannya di depanku! Sekarang katakan, berapa kali kau bolak-balik ke toilet?”

“Diam, Shasha!” desis Jake, mencoba mempertahankan wibawanya yang runtuh berkeping-keping.

“Tidak. Aku tidak akan diam,” Shasha berusaha menahan gelak tawanya meski perutnya mulai sakit, “Ini sangat lucu. Pria yang selalu terlihat berbahaya dan tidak tersentuh, justru kalah dengan bubuk cabai. Hahahahaha!”

“Kau!” Jake menunjuk wajah Shasha dengan telunjuknya. Rasa marah, malu, dan gengsi bercampur menjadi satu di wajahnya yang kaku. Namun, melihat tawa lepas Shasha yang tampak begitu tulus, ia hanya bisa membuang napas kasar, “Huh, sudahlah, lupakan saja,” ucapnya ketus lalu melangkah pergi dengan langkah lebar.

Shasha kembali tertawa lebar saat menatap punggung Jake yang menjauh. Namun, tawanya perlahan mereda saat ia menoleh ke arah anak buah Jake yang masih berdiri di sana dengan wajah sedatar tembok, seolah tidak mendengar apa pun. Tampaknya Jake sudah menyetel ekspresi anak buahnya agar tetap kaku.

“Aku akan pergi,” pamit Shasha dengan canggung, lalu segera berlari kecil menyusul Jake.

1
Lovelynzeaa🌷
thor lanjutkan cerita menikahi ayahh pembully dong Thor
Ninik Srikatmini
endingnya kok gitu aja thot..
Ninik Srikatmini
haduuuh thor tega amat bima- shasha dibikin celaka😭😭 knp ga' orang2 jahat itu
Ninik Srikatmini
hasil yg kau tanam jake..
Ninik Srikatmini
wooow bkl ada prahara nih..
Ninik Srikatmini
karma lana..
Ninik Srikatmini
hhhhhhhh apa lg yg dilakuin jake,
Ninik Srikatmini
nikahin shasha jake klu ga' barengin aja ma adikmu lana☺
Ninik Srikatmini
sabar ya nek cucu2 mu emang nakal
Ninik Srikatmini
kasihan bima & shasha mereka jd korban keegoisan lana
Ninik Srikatmini
cucumu sndri yg jahat & licik nek..
Ninik Srikatmini
licik kau lana ini kan tujuanmu... 🙃
Ninik Srikatmini
☺☺
Ninik Srikatmini
untung jake datang menolong shasha..
Ninik Srikatmini
🙃🙃
Ninik Srikatmini
smoga pelarian shasha kali ini berjln mulus & lancak wkwkwk
Ninik Srikatmini
💕💕woow bos mafia gi jth cintroong😃
Ninik Srikatmini
hhhhh kpn shasha bisa kabur dr jake😕
Ninik Srikatmini
kevin judes amat sma sasha jgn2 ada apa2 ya.. naksir sasha ya vin..
Ninik Srikatmini
jake dah mlai luluh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!