Livia hidup dengan satu aturan: jangan pernah jatuh cinta.
Cinta itu rumit, menyakitkan, dan selalu berakhir dengan pengkhianatan — dia sudah belajar itu dengan cara paling pahit.
Malam-malamnya diisi dengan tawa, kebebasan, dan sedikit kekacauan.
Tidak ada aturan, tidak ada ikatan, tidak ada penyesalan.
Sampai seseorang datang dan mengacaukan segalanya — pria yang terlalu tenang, terlalu dewasa, dan terlalu berbahaya untuk didekati.
Dia, Narendra Himawan
Dan yang lebih parah… dia sudah beristri.
Tapi semakin Livia mencoba menjauh, semakin dalam dia terseret.
Dalam permainan rahasia, godaan, dan rasa bersalah yang membuatnya bertanya:
apakah kebebasan seindah itu jika akhirnya membuatnya terjebak dalam dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Livia menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di ujung sofa. Bahunya tampak rileks, tapi jari-jarinya saling bertaut erat, tanda bahwa ia sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sikap santainya.
Reno dan Daffa berdiri berhadapan dengannya. Tidak ada lagi nada tinggi. Yang tersisa hanya kekhawatiran yang belum menemukan jawabannya.
“Dengar,” Livia memulai, suaranya pelan tapi tegas. “Kalian berdua pantas tahu. Dan gue udah capek pura-pura.”
Reno langsung duduk, siku bertumpu di lutut. “Gue dengerin.”
Daffa mengangguk kecil, matanya tak lepas dari wajah Livia.
Livia menatap ke depan, bukan ke mereka. “Gue suka sama Narendra.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa hiasan. Jujur dan nyata. Reno menelan ludah. Daffa menghembuskan napas pelan.
“Gue nggak nyangka,” lanjut Livia, “dan gue nggak nyari. Tapi dia datang di saat gue lagi… kosong. Dia nggak maksa gue berubah. Dia dengerin gue. Dia lihat gue bukan sebagai perempuan rusak yang harus diselamatkan.”
Reno mengangkat kepala. “Tapi dia udah beristri, Liv.”
“Gue tahu,” jawab Livia cepat. “Gue nggak pernah lupa itu. Dan justru karena itu Gue pasang batas.”
Livia akhirnya menatap kedua sahabatnya. Sorot matanya jernih, tidak mabuk perasaan, tidak delusional.
“Gue nggak berharap dia ninggalin istrinya. Gue nggak mimpi jadi istri keduanya. Gue nggak nunggu masa depan sama dia.”
Reno mengernyit. “Terus lo mau apa?”
Livia tersenyum kecil, getir. “Gue cuma mau jujur sama perasaan gue sendiri. Untuk sekali ini.”
Ia berdiri, berjalan pelan ke jendela. Lampu kota berkelip seperti denyut yang tak pernah tidur.
“Gue udah terlalu sering hidup buat bertahan. Sekarang gue pengin hidup buat ngerasain perasaan yang lagi gue rasain.”
Daffa menyilangkan tangan. “Dan lo yakin ini aman?”
Livia tertawa lirih. “Aman itu relatif, Daf. Tapi gue baik-baik aja. Gue sadar resikonya. Gue bukan anak kecil.”
Reno menggeleng pelan. “Gue takut lo jatuh dan sakit lagi.”
Livia berbalik cepat. “Gue udah pernah jatuh berkali-kali. Tapi gue selalu bangun. Dan gue tau kalau gue jatuh, itu karena pilihan gue sendiri, gue nggak nyalahin orang lain.”
Ia mendekat, berdiri tepat di depan Reno. “Dan satu hal lagi. Jangan pikir gue melakukan ini karena dia kaya.”
Nada suaranya mengeras. “Gue nggak pernah kekurangan uang. Gue bisa berdiri sendiri tanpa dia.”
Reno menatapnya lama. “Terus kenapa dia?”
Livia terdiam sejenak. Lalu menjawab jujur, hampir berbisik, “Karena sama dia… Gue merasa jadi wanita di butuhkan.”
Keheningan kembali turun. Kali ini bukan tegang, tapi berat oleh kejujuran.
Daffa akhirnya angkat bicara. “Kalau suatu hari lo terluka—”
“—gue akan pulang ke kalian,” potong Livia cepat. “Seperti biasa.”
Reno menghela napas panjang, lalu bangkit dan menarik Livia ke pelukan singkat. Tidak erat, tidak lama, tapi penuh makna.
“Gue nggak setuju,” katanya pelan. “Tapi gue tetap di sini jagain lo.”
Daffa ikut mendekat, menepuk pundak Livia. “Kita jaga selalu. Tapi jangan bohongin kita lagi.”
Livia mengangguk. Matanya sedikit berkaca, tapi ia tersenyum.
“Thanks...” ucapnya tulus. “Kalian nggak pernah gagal bikin gue merasa punya rumah.”
Malam itu, tidak ada keputusan besar. Tidak ada larangan atau ultimatum. Hanya tiga orang yang saling mengerti bahwa cinta, dalam bentuk apa pun selalu datang membawa resiko.
Dan Livia memilih melangkah, bukan karena buta, melainkan karena ia sadar betul ke mana kakinya berpijak.
Malam semakin larut. Kota di bawah sana tak pernah benar-benar tidur, lampu-lampu berpendar, suara kendaraan samar seperti desah napas yang terus berulang. Di balkon apartemen Livia, tiga gelas kaca berisi beer terletak di lantai, dinginnya sudah mulai berembun.
Livia duduk bersila di lantai balkon, mengenakan sweater tipis. Tangannya cekatan meracik sesha, tembakau beraroma apel dan mint, gerakannya tenang, seperti ritual kecil yang sudah biasa ia lakukan untuk menenangkan diri. Api korek menyala sebentar, bara arang berpijar, lalu asap putih perlahan mengepul ke udara malam.
Reno bersandar di kursi balkon, satu kaki terangkat, satu tangan memegang botol beer. Wajahnya jauh lebih rileks dibandingkan satu jam lalu.
Daffa duduk di sisi lain, punggungnya menempel pagar balkon, matanya menatap langit yang gelap dengan ekspresi damai.
“Udah lama banget ya,” gumam Daffa sambil menerima selang sesha dari Livia.
“Apanya?” tanya Livia sambil menyerahkan.
“Kayak gini. Nongkrong bertiga tanpa drama.”
Reno mendengus kecil. “Padahal sejam yang lalu kita drama.”
Livia terkekeh. “Makanya sekarang kita detoks. Alkohol dan asap.”
Reno menyesap beer-nya. “Kombinasi paling sehat versi kita.”
Mereka tertawa kecil. Tidak keras, tidak berlebihan, tawa yang lahir dari rasa aman. Dari kebiasaan yang sudah terbangun bertahun-tahun.
Asap sesha melayang, berbaur dengan udara malam. Untuk beberapa menit, mereka hanya diam, menikmati keberadaan satu sama lain tanpa perlu kata-kata.
“Ada kalanya gue mikir,” kata Reno tiba-tiba, suaranya lebih pelan, “kalau lo nggak sekuat ini, Liv… entah lo udah jadi apa sekarang.”
Livia menoleh. “Jangan ngomong kayak gitu.”
“Enggak,” sambung Daffa, ikut bicara. “Maksudnya… lo selalu berdiri lagi. Setiap kali.”
Livia mengangkat bahu. “Karena kalian ada.”
Kejujuran itu membuat Reno terdiam. Ia menatap botol di tangannya, lalu mengangkatnya sedikit.
“Cheers buat kita bertiga.”
“Cheers,” jawab Daffa.
Livia mengangkat gelasnya juga. “Dan buat nggak jadi orang munafik sama perasaan sendiri.”
Botol dan gelas beradu pelan.
Setelah itu, obrolan mengalir ringan, tentang proyek Reno yang bikin pusing, tentang klien menyebalkan yang Daffa tangani, tentang kenangan konyol lima tahun lalu ketika mereka tersesat pulang dari club dan tidur di mobil sampai pagi.
“Kalian inget nggak,” Livia tertawa, “Reno muntah di sepatunya sendiri?”
“WOI,” protes Reno. “Itu karena minuman lo dicampur-campur!”
Daffa tertawa keras. “Yang paling parah itu lo masih pakai sepatu itu besoknya.”
“Karena sepatu mahal!” Reno membela diri.
Tawa mereka pecah, menggema pelan di balkon.
Livia menyandarkan punggung ke dinding, memejamkan mata sebentar. Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa ringan. Tidak ada Narendra. Tidak ada Veronica. Tidak ada Naraya.
Hanya mereka.
“Kalian tahu,” kata Livia pelan tanpa membuka mata, “apa pun yang terjadi nanti… gue akan selalu bersyukur punya kalian. Please jangan tinggalin gue, meskipun gue jadi manusia paling berdosa di dunia ini.”
Reno menoleh, ekspresinya melembut. “Lo tau dunia ini jahat Liv, selama lo selalu pulang ke arah kita, gue dan daffa nggak akan ninggalin lo.”
Daffa mengangguk. “Bukan buat dihakimi. Tapi buat dipegangin.”
Livia membuka mata, tersenyum kecil. “Deal ya. Awas aja kalau lo berdua khianatin gue.”
Asap sesha kembali mengepul. Beer tinggal setengah. Malam terus berjalan.
Di balkon kecil itu, di antara tawa, kenangan, dan keheningan nyaman, persahabatan mereka berdiri kokoh, hangat, tak mengikat, namun selalu siap menjadi tempat jatuh yang aman
----
Sementara itu, Di rumah yang terasa terlalu sunyi, Narendra duduk di sofa ruang keluarga dengan ponsel di tangannya. Layar itu sudah beberapa kali menyala, pesan yang sama, dikirim ulang dengan kata berbeda, tapi tetap tanpa balasan.
"Udah tidur.?"
"Istirahat ya."
"Kabarin aku."
Tak satu pun centang berubah menjadi biru.
Narendra menghela napas pelan. Ia melirik jam di dinding. Sudah lewat tengah malam. Biasanya, Livia tidak pernah selama ini menghilang, atau setidaknya memberi satu balasan singkat. Malam ini berbeda.
Ia tak tahu, di balkon apartemen kecil itu, Livia sedang tertawa lepas bersama dua sahabatnya, mengusir lelah dan ketegangan yang akhir-akhir ini terjadi. Ia tak tahu, untuk beberapa jam, dunia Livia tidak berputar di sekelilingnya.
“Naren?” suara Veronica memecah lamunan.
Narendra tersentak kecil. Ia baru sadar Veronica duduk di sebelahnya, kursi rodanya menghadap ke arah televisi yang menyala. Tatapan Veronica tertuju padanya, tajam dan penuh selidik.
“Kamu dari tadi pegang ponsel terus,” kata Veronica datar. “Ada apa?”
Narendra menurunkan ponselnya, meletakkannya terbalik di atas meja. “Nggak ada. Cuma cek kerjaan.”
“Jam segini?” Veronica mengangkat alis. “Biasanya kamu nggak segelisah itu mikirin kerjaan.”
Narendra menyandarkan punggung, mencoba terlihat santai. “Aku capek. Banyak yang harus dipikirin.”
Veronica menatapnya lebih lama. Terlalu lama. Seolah mencari celah di wajah suaminya yang kini terasa asing.
“Kamu belakangan ini sering begitu,” ujarnya pelan, tapi menusuk. “Pulang larut, melamun, sibuk sendiri. Ada yang berubah.”
Narendra menoleh sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Kamu kebanyakan mikir yang nggak-nggak tentang aku.”
Jawaban itu pendek. Dingin. Dan jelas menghindar.
Veronica mengepalkan tangan di pangkuannya. “Aku istrimu, Narendra.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Aku bisa merasakan kalau kamu menjauh.”
Narendra tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak, bukan karena tudingan itu salah, tapi karena ia tak punya energi untuk menyangkal. Ia meraih ponselnya lagi, tanpa sadar menatap layar kosong.
“Jangan mulai lagi malam ini,” katanya akhirnya, nada suaranya lelah. “Aku cuma mau istirahat.”
Veronica menahan napas. Wajahnya mengeras, namun matanya menyimpan sesuatu yang lain, kecurigaan yang belum menemukan nama.
“Oke,” ucapnya singkat. “Kalau itu yang kamu mau.”
Ia memutar kursi rodanya menjauh, menuju kamar. Roda kursi bergesek pelan dengan lantai, meninggalkan suara yang terasa seperti jarak yang semakin melebar.
Narendra tetap duduk di sana, sendirian, menatap ponsel yang kembali ia angkat. Jarinya mengetik satu pesan terakhir, lalu menghapusnya sebelum terkirim.
Di antara dua dunia, rumah yang dingin dan perempuan yang tak menjawab pesannya, Narendra terjebak, semakin sadar bahwa ia menginginkan sesuatu yang tak seharusnya ia miliki. Dan malam itu, ia merasa kehilangan kendali.
...🥂...
...🥂...
...🥂...
...Bersambung......
lanjut dong🙏🙏🙏