Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode on
Kini Rubby sudah berada di loby kantor Iram, beberapa pasang mata menatap Rubby dengan penasaran. karena Rubby jarang, bahkan sama sekali tidak ke kantor Iram.
Rubby tengah duduk di ruang tunggu dengan dinding kaca transparan. maka dari itu, staf karyawan yang melihat Rubby sedikit penasaran.
Rubby yang cuek dengan keadaan sekitar, masa bodo dan dia memilih memainkan ponselnya. mencari inspirasi untuk mengerjai Jenia kembali.
pagi tadi, Aldra memberikan kabar kalo Jenia masuk rumah sakit akibat demam tinggi. dan itu membuat Rubby bahagia, maka dari itu dia
Rubby yang masih setia duduk santai di kursi ruang tunggu dekat meja resepsionis, ponselnya terpaut erat di tangan. Matanya fokus menatap layar aplikasi Tok Tok yang terus bergulir, mencoba mengusir rasa bosan yang menggerogoti sejak lama.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dering telepon dan langkah kaki sesekali dari balik pintu rapat di mana sang papa masih sibuk. Sebenarnya, Rubby sudah diminta untuk menunggu di ruang kerja Iram, tapi rasa malas dan keengganannya untuk sendirian membuatnya memilih tempat ini.
Sesekali ia tersenyum sinis saat membaca pesan dari Aldra yang datang tiba-tiba di ponselnya. “Rasain. Baru gitu udah kena demam. Apa lagi pas lo racunin gue,” tulis Aldra, disertai foto Jenia yang wajahnya memerah dan terbungkus selimut tipis di rumah sakit.
Rubby membalas dengan jari yang cekatan, membiarkan kata-kata sarkastiknya mengalir, seolah ingin menumpahkan sedikit kekesalan sekaligus perhatian yang tersembunyi.
"Gimana rencana kita yang lain?"
Wajah Rubby berubah sedikit serius ketika notifikasi lain masuk, tapi ia segera mengalihkan pandangannya ke layar, berharap waktu cepat berlalu agar Iram, sang papa, segera keluar dari ruang rapat. Dalam heningnya, gelisahnya terselip di balik tawa kecil dan pesan sarkas yang terus ia kirimkan.
"Siapa sih nih orang! Ganggu banget deh."
Ponsel Rubby kembali bergetar, menandakan pesan masuk dari nomor yang sama sekali asing. Ia mengernyitkan dahi, membuka pesan yang hanya berisi kalimat acak tanpa arti jelas. Kesal, ia menekan tombol arsipkan dengan jari yang sedikit gemetar karena terganggu. Setelah itu, Rubby kembali menatap layar, membuka aplikasi Tok Tok yang sudah lama ia buka.
Mata Rubby tertuju pada video viral yang baru saja muncul di linimasa. “Uuh, roti sobeknya ada enam,” gumamnya sambil tersenyum tipis, menirukan gerakan tarian yang energik di layar.
Namun, ekspresinya berubah menjadi sedikit cemberut saat melihat sosok pria bertubuh berotot yang tiba-tiba muncul di feed akun pelajar seperti dirinya.
“Ini apaan, ya? Kok tiba-tiba disuguhi video otot-ototan begini?” pikir Rubby dengan nada setengah bercanda, sambil menepuk dagunya.
“Apa nih aplikasi nyuruh aku nyari pacar yang kayak gini, ya?” Dia membayangkan sosok pria berotot dengan imajinasi yang sedikit nakal, tapi langsung menambahkan syarat di dalam kepalanya,
“Tapi harus kaya kalau bisa tampan. Jangan sampai ada pacarnya. Ngga harus muda, asal matang aja”lanjutnya.
Wajahnya berubah serius sesaat, lalu kembali tersenyum kecil, seolah menganggap semua itu hanya angan kosong yang lucu untuk dipikirkan. Rubby melanjutkan scrolling dengan santai, mencoba mengabaikan pesan misterius itu dan menenggelamkan diri dalam hiruk-pikuk video-video yang tak ada habisnya.
"Apanya yang matang?"
"papa!!" ucap Rubby yang berdiri dan langsung menekan tombol beranda.
Tidak mungkin dia memberitahu jika dirinya tengah melihat sosok berotot di tok tok. bisa kena semprot dirinya, atau bahkan ponselnya akan langsung di sita oleh ayahnya itu.
membayangkan itu Rubby sedikit merinding. tidak. dia tidak bisa hidup tanpa ponsel. bagaimana jika nanti uangnya kurang, jangan sampai di kehidupan ini dia juga akan merasakan namanya Hutang.
karena sebuah hutang adalah janji, dan janji harus di tepati. jika sampai hutang itu di lupakan, pasti suatu hari nanti akan tetap di tagih sampai kita bisa membayarnya.
"ikut papa naik ke ruangan,"
Rubby mengangguk, dia lalu mengambil tasnya dan menggendongnya. langkah kecil Rubby membuatnya harus sedikit berlari mengejar langkah kaki ayahnya yang begitu cepat.
"besok aku kudu beli sepatu roda. enggak bisa di biarin kalo ketinggalan di tengah jalan."
*
*
Rubby menatap ruangan ayahnya dengan kagum, suasana begitu nyaman baginya. cat ruangan dan tatanan dekorasi begitu bagus.
"papa keren buat nyaman ruangan."
karena saat ini, Iram sedang bertemu seseorang yang Rubby tak tahu. dia harus menunggu di dalam ruangan seorang diri.
Rubby melangkah menyusuri ruangan, dia melihat lukisan dan pernak pernik ruangan yang klasik. langkahnya terhenti saat melihat foto keluarga, ada Rubby kecil disana dengan kuncir rambut dua yang di pangku oleh Iram.
"bahagia banget liat foto kamu ini. pasti kamu nggak kekurangan kasih sayang waktu kecil."
Dia membayangkan bagaimana jika di kehidupan sebagai Lisa, dan dia memiliki keluarga pasti dia merasa begitu bahagia karena tak perlu menunggu seseorang yang ingin mengadopsi dirinya.
Ada rasa iri dalam hati, tapi dia bersyukur kini ada di kehidupan Rubby yang baginya sempurna. memiliki orang tua dan kakak yang baik, begitu pula tanpa harus susah payah mencari uang untuk menghidupi dirinya.
Saat asik membayangkan menjadi Rubby kecil, pintu ruang kerja terbuka. Rubby berbalik dan melihat ayahnya masuk dengan raut wajah yang begitu tegang.
"duduk."
Rubby dengan cepat melangkah dan duduk di sofa, Iram duduk di sebrang yang terlihat begitu frustasi.
"kau memiliki hubungan dengan Aaron?" tanya Iram langsung pada intinya.
Rubby menggeleng, "enggak pah. kami cuma temenan."
"kau yakin?" Rubby mengangguk pasti, karena tanpa orang lain tahu keduanya begitu dekat seperti kakak adik adanya perasaan.
Aaron memperlakukan dirinya seperti adiknya, di ingatan Rubby, keduanya akan memberi kode jika ingin bertemu. dan Rubby juga sudah tahu bagaimana dengan tingkah keluarga Aaron yang begitu licik.
"jauhi pemuda itu. papa nggak mau kamu terikat dengan keluarga mereka." titah Iram begitu mutlak tak bisa di ganggu gugat.
"kami hanya berteman."
"pertemanan kalian bisa memicu ayah Aaron untuk memanfaatkan situasi."
Rubby menunduk, dia tahu jika sejak awal pertemanan keduanya sangat rentan dengan namanya selisih. karena jika ada yang mengetahui itu, pasti Bobby akan segera bertindak.
"setelah ini jauhi dia. papa akan menempatkan dua orang di sekitarmu."
"maksud papa apa?"
Rubby tak Terima jika dia harus di awasi saat di luar rumah. dia ingin bebas, jika dalam rumah dia tak akan menolak tapi ini sudah di luar rumah.
"Bobby sedang mengawasi Aaron, pemuda itu menolak untuk bertunangan dengan seseorang yang belum di ketahui oleh orang lain."
"tapi papa tau?"
Spontan Rubby menjawab ucapan Iram, dia juga sedikit gemas karena mulutnya ceplas ceplos.
"bukan rahasia lagi. karena papa sydah mendengar langsung dari anak buah papa yang mengawasi kalian berdua."
Rubby hanya bisa menghela nafasnya sejenak, "sampe aku sama Andra juga terendus. ogah banget sama seumuran. di tok tok banyak yang di sakiti. aku harus cari yang mapan kayak om om ganteng itu."
hayo loh rimba anak orang nangis 💃💃💃💃